
Kehidupan yang sebenar-benarnya adalah ketika kamu sudah menginjakkan kakimu ke dalam jaringan dunia bekerja. Menurut orang-orang, lelahnya saat masih menjadi mahasiswa itu tidak ada apa-apanya ketika sudah memasuki dunia banting tulang ini.
Amarisa Mataram, fresh graduate yang sudah 2 bulan belakangan ini kalang kabut menggumamkan kebosananya kepada seluruh dunia. Hingga pada akhirnya sebuah keajaiban dunia sedang berpihak padanya menurunkan anugerah untuk si pengangguran ini.
Sebenarnya Amarisa tidak tahu harus merasa bersyukur atau meringis dengan kemirisan karna temannya melemparkan pekerjaan padanya karna katanya dia sudah tidak tahan dengan pekerjaanya. Menurut Syakila temannya yang badannya mengalahkan pelatih senam itu, bosnya memang baik hati dan tidak sombong. Tapi istrinya benar-benar kejam, selalu menyindirnya padahal Syakila sendiri tidak pernah berniat untuk merebut bosnya dari istrinya itu. Syakila sendiri saja sudah punya tunangan.
Untuk ukuran manusia kepepet yang butuh uang demi menjalankan hidupnya di Jakarta yang sumpek ini, mau tak mau akhirnya Amarisa mengambil pekerjaan itu. Dia yakin, dia yakin pasti dia bisa. Lagian, wajah Amarisa tidak begitu cantik-cantik amat. Pasti istrinya itu tidak akan cemburu kan? Beda dengan Syakila yang badannya itu euh bagaimana, ya? Walau menurut Syakila dia tidak menggoda tapi ada saja manusia yang berpikiran buruk pada manusia yang semacam Syakila ini. Ya, kita anggap saja mereka iri pada Syakila.
Amarisa mengetuk-etukan kakinya yang dibalut heels ke lantai karna bosan menunggu, tadi dia disuruh menunggu di depan ruangan bosnya itu karna bosnya belum sampai di kantor. Kata lelaki yang berkacamata tadi dengan Andre sih katanya bosnya itu sedang mampir dulu ke sebuah tempat entah apalah namanya Amarisa sendiri tidak peduli. Yang dia pedulikan adalah dia harus segera diberi pekerjaan.
Suara di dalam lantai itu menjadi ramai karna ada seseorang perempuan berambut pendek berbicara seakan mengumumkan sesuatu hal penting, "Pak Algheza bentar lagi sampai. Touch up jangan lupa. Pakaian harus rapi, harus cantik, oke?"
Lalu ada seseorang yang menimpal omongan itu, "mau touch up sampe kaya Selena Gomez juga kayanya Pak Algheza gak bakalan tetep ngelirik gw." Lalu dijawab dengan kekeuhan para manusia disana bagaikan itu adalah lelucon.
"Sssttt... Pak Algheza udah naik ke lantai ini. Jangan berisik. Fokus ke kerjaan masing-masing." Perintah Andre dengan tegas.
Andre ini sekretarisnya Algheza, dia sudah mengabdi selama 3 tahun pada Algheza. Hebat sekali bukan? 3 tahun bekerja disini sudah kebeli apa saja, ya? Apa sudah kebeli mobil sekelas mewah?
"Selamat pagi semuanya." Sapa seseorang dengan ramah sekaligus tegas dan diselingi senyuman tipis yang mencerminkan sifat hangat.
Proposal tubuh yang tinggi pas dengan jasnya yang berwarna biru tua itu. Ditambah jam tangannya yang melingkar pada pergelangan tangannya bak mengklaim bahwasannya itu memang sudah menjadi tempatnya.
Dan ngomong-ngomong, pagi darimana? Amarisa melirik jam tangannya. Ini sudah jam setengah sebelas! Amarisa menghabiskan waktunya menunggu dari jam 7 pagi hingga jam 11 siang begini.
"Pagi, Pak." Serontak seluruh manusia disana menyapa kembali tidak kalah ramah.
"Cerah banget nih hari ini, Pak. Kalo sarapannya dibikinin istri emang gitu, ya? Jadi seger." Sahut lelaki dengan kumis tipis memakai kemeja kotak-kotak hitam coklat.
__ADS_1
Algheza terkekeuh pelan, "kamu bisa saja. Lanjutkan pekerjaanya."
Lalu Algheza menuju ruangannya melihat kepada Amarisa yang berdiri di samping Andre yang senyumam manisnya, menyambut bos barunya itu.
"Selamat pagi, Pak. Ini Amarisa Mataram PA baru, Bapak." Ucap Andre memperkenalkan Amarisa yang lebih pendek di sampingnya itu.
Amarisa tersenyum ramah mengulurkan tangannya berniat untuk berjabat tangan, "Selamat siang, Pak. Saya Amarisa Mataram."
Lengan Algheza membalas jabat tangan itu, "ah, iya sudah siang. Selamat siang Amarisa dan juga selamat datang. Kamu biasa di panggil dengan sebutan apa?"
"Ama, Pak. Panggil saya Ama aja." Jawab Amarisa sambil melepaskan jabat tangannya itu.
"Baik, kalau gitu. Kamu sudah tahu bagaimana pekerjaanya, kan? Syakila temanmu? Jadi pasti dia sudah memberi tahu apa saja jadwalnya dan sesuaikan saja dengan Andre." Jelasnya memberi arahan.
Kalau dia melimpahkan semuanya pada Andre, mengapa tadi Ama disuruh menunggu bosnya dong? Ama kira makanya dia disuruh menunggu karna Algheza yang akan mengarahkan segalanya pekerjaan walau memag Syakila telah memberikan serentetan rincian pekerjaanya sehari-hari itu.
"Iya, Pak. Terima kasih."
Dan benar apa kata Syakila, Algheza tampan. Bahkan lebih tampan jika dibandingkan dengan Nicholas Saputra.
...****************...
Amarisa tidak pernah mengira kalau hari pertamanya bekerja akan selelah ini, jika ada loker yang mengharuskan Amai memilih antara menjadi sekretaris atau personal asisten jelas sepertinya dia akan lebih memilih menjadi sekretaris yang tidak gencar kemana-mana dan fokus pada satu pihak pekerjaan perusahaan, sedangkan menjadi personal asisten membuat kakinya gencar kemana-mana mengikuti langkah atasannya yang jenjang panjang itu.
Jarinya mengetik apa yang dia tangkap dalam presentasi yang dilakukan dalam meeting malam itu. Ini sudah mulai menunjukan pukul 9 malam. Bayangkan, sehari-hari Ama biasanya hanya berleha-leha di atas kasurnya. Ama yakin kasurnya pasti merindukannya untuk dia tiduri dan juga gulingnya yang selalu dia peluk hangat itu pasti sedang menunggunya di apartemennya yang sunyi.
"Sekian meeting pada malam ini. Terimakasih atas kerja sama-nya." Ucap seorang wanita berambut pendek menutup meeting pada malam itu.
__ADS_1
Semuanya langsung bergegas membereskan berkas-berkas dan juga yang masih melanjutkan perbincangan rencana kerja sama bisnis mereka. Contohnya; seperti yang dilakukan bosnya itu sedang mengobrol bersama rekannya sambil menunggu Ama membereskan barang-barang.
"Iya, lain kali saja kita kopi bareng, Ga. Malam ini saya harus pulang cepat." Ucap Algheza menolak dengan halus.
"Kalau udah berumah tangga memang harus cepat-cepat pulang ya, Mas? Dulu Mas Ghege jarang pulang. Malah kaya kantor jadi rumah." Kekeuh Dion dengan celetukannya.
Sebenarnya kalau dipikir-pikir ini bukan soal dia sudah beristri atau bukan. Ini soal sudah malam. Yakali jam segini masih saja harus mengurusi urusan pekerjaan walau katanya hanya mengajak ngopi tapi Ama yakin pasti obrolan mereka tidak jauh-jauh soal kerja sama mereka.
"Makanya, Yon. Cari istri sana, jangan main-main terus kamu." Sindir seseorang pria yang lebih tua dari mereka.
"Santai dulu ajalah, Om. Saya masih mau ngabisin masa muda." Jawabnya masih kekeuhan.
"Umur sudah mau 30, muda darimana?" Sindirnya kembali namun masih dalam konteks bercanda.
"Ama, kamu sudah selesai?" Tanya Algheza melirik ke belakangnya terdapat Ama mematung berdiri menunggu atasannya selesai mengobrol.
"Udah, Pak." Sahut Ama pelan.
Setelah itu Algheza berpamitan pada orang-orang disana karna ingin segera pergi juga dari ruangan yang membuat kepalanya pening itu.
Jalan mereka beriringan, sebenarnya kaki Ama ingin melambatkan langkahnya agar berjalan di belakang Algheza. Namun, entah dengan sengaja atau tidak Algheza malah melambatkan langkah kakinya agar sejajar dengan irama jalan Ama.
"Gimana hari pertama kamu, Ama? Capek?" Tanyanya berbasa-basi karna keheningan melingkupi ruang mereka.
Jika ditanya begini oleh atasan, jawaban yang harus dia keluarkan antara berbohong atau jujur saja tapi tidak terlalu mengeluarkan keluhan. Dan situasinya Ama bukan orang yang pintar berbohong.
"Baik-baik aja kok, Pak. Saya gak capek." Bohong Ama dengan senyuman kecilnya mencoba untuk meyakinkan.
__ADS_1
"Bohong banget." Balasnya dengan kekeuhan, "Mau ngopi dulu? Untuk rewad hari pertama kerjamu. Eh, sudah malam, ya. Gimana kalau teh?" Tawarnya sambil menghentikan langkahnya yang berada di depan restoran hotel ini.
Mata Ama mengerjap-ngerjap, kebingungan antara mau menerima tawaran itu atau bergegas pulang saja menuntaskan rasa rindunya pada kasur tercintanya itu.