Serangkai Tiga

Serangkai Tiga
Soto dan nasi.


__ADS_3

Kantin kantor ramai dengan orang-orang yang sedang mengisi perut keroncongan mereka. Meronta-ronta ingin diisi agar mendapat banyak tenaga untuk menghadapi pekerjaan yang membuat kepala mereka melayang pusing.


Ama memakan mie-nya, sudah lama dia tidak makan mie hasil dari racikan orang lain selain dia masak sendiri di apartemennya ketika kelaparan tengah malam.


"Mas." Panggil Ama pada lelaki yang duduk berhadapan dengannya.


Andre dan Ama sering makan siang bareng ketika Ama tidak ada jadwal keluar bersama Algheza.


"Hmmm?" Sautnya masih fokus dengan makanannya.


"Istrinya Pak Algheza tuh kaya gimana sih?" Tanya Ama mulai ingin tahu soal kehidupan pribadi atasannya itu.


"Kenapa? Lo tadi ketemu dia?" Kali ini matanya Ama yang duduk di depannya.


Gadis itu mencepol asal rambutnya, memperlihatkan leher jenjang cantiknya. Menurut Andre gadis ini memang tidak secantik seperti wanita kantor lainnya. Type cantiknya Ama ini seperti wanita bule, mukanya tidak mencerminkan wajah ciri khas orang Asia.


"Gue gak terlalu tau sih. Gak deket juga. Cuman emang orangnya dingin." Jelasnya sambil menyuapkan kembali makanannya. "Tapi Pak Algheza sering gonta-ganti PA tuh gara-gara istrinya. Gue gak tau kenapa, tapi rata-rata PA pada gak kuat sama tatapan istrinya Pak Algheza sama kadang sindirannya pedes kalau mereka terlalu deket sama Pak Algheza. Padahal ya, mereka gak ngapa-ngapain tapi malah disindirin." Tambahnya.


Ama mulai membayangkan kalau istri bosnya itu memang type wanita yang posesif gila. Type pecemburu yang akan membantai siapa saja yang berani dekat-dekat dengan miliknya. Ama jadi bergidik ngeri saat membayangkannya saja, semoga dia bisa bekerja tanpa gangguan setan di sekitarnya.


"Padahal sebelum Algheza nikah. PA-nya gak pernah ganti-ganti. Emang sih, bukan Pak Algheza yang pecat mereka. Tapi mereka yang ngundurin karna gak kuat sama sikap istrinya yang aneh itu. Gue sering nerima curhatan mantan-mantan PA sebelum lo." Lanjutnya memberi informasi.


Ama mengerjapkan matanya beberapa kali, dia jadi ingin tahu. Kenapa Pak Algheza bisa menikahi wanita seperti itu? Apa memang cinta itu buta nyatanya? Kalau memang iya, Pak Algheza benar-benar budak cinta.


"Lo kerja sama Pak Algheza udah lama ya, Mas?" Ama kembali mengorek informasi.


"Iya, lumayanlah. Gue dulu sempet jadi sekretaris bapaknya Algheza sebelum beliau pensiun. Tapi cuman sebentar doang sampai Algheza dapat jabatan ganti bapaknya."


"Berarti dari pas Pak Algheza pacaran sama istrinya dong?" Tanya Ama kembali dengan segala keingin tahuannya.


Andre terdiam terlebih dahulu sebelum menjawab, "mereka gak pacaran. Dijodohin langsung nikah. Dulu pacar Pak Algheza temen semasa kuliah dia di Aussie." Jawabnya dengan detail.

__ADS_1


Terlihat jelas kalau Mas Andre memang sudah lama mengabdi disini. Bayangkan saja, hampir 5 tahun Mas Andre sudah tahu segala seluk beluk di kantor ini.


"Mas lo gak ada niatan resign gitu pengen cari pengalaman baru?" Ama mengalihkan obrolan mulai mengorek informasi pada manusia di hadapannya saja.


"Mau tapi gue lebih cinta duit. Belum tentu di tempat lain gue dapet gaji seenak ini walau kadang kerjaan bikin gue minum paracetamol mulu." Jawabnya dengan kekeuhan membuat Ama ikut terkekeuh mendengarnya.


"Keren banget lo, Mas." Puji Ama. Ama juga rasanya ingin betah kerja hingga dia mendapat penaikan gaji.


"Lo juga. Betah-betah disini. Kalau saran gue ya kalau lo mau bertahan harus siap tampang lempeng aja sih ngadepin istrinya Pak Algheza. Anggap aja angin lalu."


Ya angin lalu, angin lalu ditambah serbuk bubuk cabe makanya pedas.


Dering telpon Ama menganggu obrolan mereka. Ama langsung mengangkat telpon itu ketika melihat nama pemanggil adalah bosnya.


"Ya, Pak?" Tanya Ama karna tidak sepergi biasanya bosnya itu berdiam tanpa langsung to the point.


"Kamu sedang di kantin bawah kan?" Suara tegas itu muncul dalam ponselnya.


"Tolong pesankan saya soto, ya. Langsung bawa ke ruangan saya." Pintanya dan langsung menutup telpon tanpa ada ucapan terimakasih bahkan menjelaskan sotonya mau bagaimana saja tidak.


Ama menghela nafas lalu bangkit untuk memesan soto pada Ibu kantin.


......................


Sepanjang jalan Ama berpikir heran, bagaimana bisa bosnya itu memesan makanan di luar padahal kan dia baru saja dari rumahnya. Kenapa dia tidak makan siang di rumah saja bersama istrinya, daripada makan di kantor sendiri.


Jujur Ama tidak suka makan sendirian, rasanya aneh tanpa ada seseorang yang bisa dia ajak ngobrol. Biasanya Ama ketika makan akan menelpon temannya jika dia sendirian di Apart.


Pemandangan ketika Ama membuka pintu adalah mendapati Algheza sedang menelpon di sofa tempat peristirahatannya atau para tamu yang datang.


"Aku gak bisa jemput, Kak. Tapi paling aku nanti suruh asisten aku." Ucapnya membuat perasaan Ama tidak enak.

__ADS_1


Pasti untuk tambahan kerjaanya lagi.


"Iya, udah dulu. Aku mau makan." Katanya sambil langsung menyimpan ponsel itu di atas meja. "Simpen aja disini, Ris." Algheza langsung memberi perintah karna melihat Ama berdiam diri sambil membawa semangkuk soto dan nasi.


Ama langsung meletakan makanan bosnya di meja, "ada lagi, Pak?"


Algheza menggeleng sambil memperhatikan Ama, "kamu udah makan?"


"Sudah, Pak. Tadi sama Mas Andre."


Algheza mengangguk-angguk seakan paham.


"Kalau gitu. Duduk disini temenin saya makan. Saya gak suka makan sendiri." Pintanya membuat Ama kikuk.


Antara harus menuruti atau takut ketauan istri bosnya itu yang bisa-bisa nanti seperti di sinetron. Ama bisa membayangkan rasanya dilabrak bagaimana.


Tapi kalau Ama menolak kan tidak enak. Ini adalah atasannya sebelum dia memikirkan orang lain harusnya dia lebih mengabdi pada atasannya, kan? Kan dia bekerja sama dengan Algheza.


Ama menghela nafasnya langsung duduk di sofa yang berbeda dengan Algheza namun masih membuat mereka bersebelahan.


Sepanjang Algheza makan dilingkupi keheningan. Mereka canggung, Ama sendiri bingung mau mengobrol apa. Menanyakan sesuatu takut dikira mengganggu kehidupan pribadinya.


"Saya boleh minta tolong nanti, Ris?" Tanya Algheza menyadarkan Ama dari lamunan.


"Iya, Pak? Minta tolong apa?" Ama sedikit kaget mendengar Algheza meminta terlebih dahulu padahal biasanya lelaki ini main memberi perintah tanpa menanyakan dulu apakah Ama bisa atau tidak.


"Nanti tolong jemput keponakan saya, ya. Di tempat lesnya terus kamu ajak main dia sampai saya beres sama kerjaan saya. Nanti saya bakal susul kamu buat jemput keponakan saya."


"Kerjaan saya yang lain gimana, Pak?" Tanya Ama mencemaskan pekerjaanya yang nanti bisa-bisa keteteran.


"Nanti Andre yang back up. Tolong, ya. Jagain dia." Katanya setelah menyudahi makan siangnya.

__ADS_1


__ADS_2