Serangkai Tiga

Serangkai Tiga
Cara menatap.


__ADS_3

Sebenarnya agak tidak berguna kemarin Ama merengek-rengek pada Andre soal minta digantikan dia tidak ingin pergi ke luar negri. Pasalnya, setelah keluar negri katanya istrinya itu lebih beringas kepada para asisten suaminya. Ama takut akan kejadian seperti itu, maka dia terus merayu agar Andre bilang pada Algheza untuk dia saja yang berangkat ke luar negri bersama pria itu.


Namun sangat disayangkan, kali ini yang sedang berdiri berdampingan dengan Algheza adalah diri si Amarisa gadis yang terkadang selalu terkena apes sekaligus keberuntungan dalam satu waktu.


Mendengar soal rapat ini penting, Ama sebenarnya tidak begitu paham soal persahaman. Dia hanya pernah belajar basic-nya saja. Toh itu juga diajarkan ayahnya karna terkadang ayahnya juga menanam bibit dalam beberapa saham. Dia selalu melihat bagaimana proses ayahnya memainkan saham, dengan senantiasa juga ayahnya mengajarkannya dengan sabar.


"Menurut kamu saya harus ngasih suara ke siapa?" Tanya Algheza meminta pendapat. Bagaimana caranya dia memilih kalau dia saja tidak pernah update soal para pembisnis disini.


Dia baru bertemu kali ini dengan orang-orang penting dan juga baru melihat bagaimana cara mereka berinteraksi lalu bagaimana mereka seakan meyakinkan bahwa perusahaan itu akan berhasil dalam tangan mereka.


"Bapak sendiri lebih suka dengan cara kerja yang mana?" Ama malah membalikkan pertanyaan karna dia sendiri tidak tahu akan menjawab bagaimana karna takut salah menjawab kan bisa-bisa malah menjerumuskan orang ke dalam lubang buaya.


Algheza mengetuk-etukan jarinya pada pembatas tempat duduk itu sambil berpikir.


"Saya sendiri suka sama cara kerja keluarga Pandawa." Mata Algheza tertuju pada bapak-bapak yang sedang tertawa hangat bersama rekannya.


"Keluarga Pandewa itu yang menjalankan founder Depay, Pak?" Tanya Ama memastikan, apalagi dia termasuk salah satu orang yang menggunakan aplikasi itu.


Depay adalah aplikasi tempat dimana orang-orang terbiasa berbalanja online. Depay sekarang mulai mengepakkan sayapnya di beberapa negara terlebih sudah tersebar di seluruh Asia membuat siapa pun pasti kenal dengan aplikasi itu.


"Ya..." Algheza mengangguk.


"Kalau begitu kasih aja suara ke Pak Agung Pandawa. Mereka pasti akan memulihkan perusahaan ini apalagi di mata masyrakat memang membutuhkan seseorang seperti mereka kan? Demi memulihkan citra perusahaan."


Algheza kembali mengangguk, "benar. Terima kasih, Ama." Katanya dengan segala ketumbenan memanggilnya dengan sebutan Ama.


Rapat umum pemegang saham akhirnya berjalan dengan lancar dan ya, perusahaan itu akhirnya jatuh kepada keluarga Pandawa sesuai dengan prediksi Ama. Dimana memang keluarga itu tidak pernah mendapatkan citra buruk terkecuali anaknya yang pernah bermasalah, mungkin.


Ama berjalan keluar sendiri karna Algheza masih mengobrol, Ama ingin berdiam diri di luar sambil memperhatikan bagaimana cara mobil untuk berlaju berlalu-lalang.

__ADS_1


"Amarisa?" Panggil seseorang di sampingnya.


Ama membalikan badannya terkejut, siapa yang tidak terkejut kalau ada seseorang yang menyapanya di negri asing. Bahkan, dia seperti type manusia yang tidak terkenal layaknya seperti para temannya yang hobby menjadi selebgram.


"Amarisa, kan? Gue gak nyangka kita bakalan ketemu disini, hahaha." Ucapnya dengan kekeuhan lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Lelaki berkacamata tinggi dengan rambut coklat itu adalah kakak tingkatnya semasa kuliah, dia lelaki yang selalu digandrungi para perempuan karna ketampanannya dan juga kekayaan lelaki ini.


"Eh, hi! Apakabar? Gue juga gak nyangka kita bakal ketemu disini." Jawab Ama sambil mengambil uluran tangan itu dengan membalas senyuman hangat.


"Baik, lo sendiri gimana? Dan... Lo ngapain disini? Jangan-jangan lanjut S2 disini?" Tanyanya dengan selidik.


"Baik juga. Oh, gue lagi kerja disini jadi PA dan gue lagi nemenin bos gue RUPS." Jelasnya dengan senyuman tipis. "Lo sendiri, ngapain disini, Kak?"


Gamael mengangguk-angguk paham, "ah, i see. Kita udah lama gak ketemu. Gue mau nyusul bokap. By the way, lo ada waktu buat makan bareng?"


Ama menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, dia mau sih. Tapi dia bingung, masalahnya ini dia baru pertama kali kerja dan juga pertama kali pergi jauh ditambah dia menebeng dengan bosnya. Kalau dia main keluar begitu saja dengan orang, memangnya akan diizinkan? Dia kan kesini untuk bekerja bukan untuk bermain-main dan juga dia takut kesasar.


"Euh... Gue gak tau, Kak. Gue kan kesini lagi kerja jadi gak bisa sembrangan pergi." Penolakan halus dari Ama.


Gamael terkekeuh, "lo masih aja jadi anak baik-baik daridulu." Ucapnya sambil menepuk-nepuk kepalanya sebentar.


Yaiyalah dia jadi anak baik, masa dia harus menjadi pengedar narkoba.


"Kalau gitu, simpen nomor baru lo di hp gue." Suruhnya sambil menyodorkan ponselnya yang berlogo apel digigit monyet itu.


Ama mengambil ponsel lelaki itu kemudian mengetikan nomornya lalu dia kembali menyerahkan ponsel itu.


Suara dering ponsel masuk ke dalam ponsel Ama membuat Ama membuka ponselnya menampakan nomor yang tidak dikenal.

__ADS_1


"Oh, ternyata benerna nomor lo. Takutnya lo ngasih nomor tukang sedot WC kaya pas kuliah dulu." Ucapnya seperti lelucon karna dia malah tertawa sambil memandang Ama.


"Gak usah diingetin." Ketus Ama karna mengingat hal itu membuat Ama malu seketika.


"Risa? Ayok kita balik ke hotel." Algheza kembali menghampirinya lalu menatap seseorang yang sedang mengobrol bersama Asistenya itu.


"Lho? Hi bang!" Sapa Gamael sambil melambai dan menyengir pada Algheza. "Ternyata bos lo Algheza? Gue kira siapa. Kalau gini sih gue bisa nyogok."


Ama mengernyitkan keningnya, "Maksudnya?" Tanyanya dengan kebingungan.


"Gak ada. Ayok kita pulang." Algheza mendorong bahu Ama. "Gam, ayah kamu nyariin tuh sana." Usirnya daripada semakin genitin asistennya.


"Gue masuk dulu, ya, Ma. See you!" Katanya sambil melambai dan masuk ke dalam.


Algheza berjalan lebih dulu melewati Ama yang masih menatap kepergian Gamael. Mata Algheza melirik pada Ama yang sudah berjalan di sampingnya.


"Gamael suka kamu, kan?" Tebaknya membuat Ama terkejut.


Masalahnya tebakannya adalah benar. Gamael pernah menyukainya saat kuliah dulu, dia bahkan tidak kenal lelah mengejar Ama padahal Ama sudah menolaknya beberapa kali. Bukan karna Ama jual mahal hanya saja dia sudah berjanji pada ayahnya kalau dia tidak akan menjalin cinta-cintaan sebelum lulus kuliah.


Maka itu mau sekeras apapun Gamael mendekatinya dengan seribu jurusnya, Ama sudah kebal karna memegang teguh janjinya.


"Hah? Kok tau?" Tanya Ama sambil menatap Algheza yang janggung berada di sampingnya.


"Tau. Dari cara dia ngeliatin kamu." Katanya lalu membuka pintu mobil. Duduk bersampingan bersama Ama. "Lelaki itu kalau udah natap perempuan yang dia suka atau sayang tatapanya bakalan beda." Jelasnya mulai meracau lalu menyesali, ngapain juga dia menjelaskan hal seperti ini pada asistennya.


"Oh, ya? Saya gak pernah ngeuh sama tatapan orang sama saya." Jawabnya dengan polos.


"Lain kali perhatikan cara mereka menatap kamu kalau begitu."

__ADS_1


__ADS_2