Serangkai Tiga

Serangkai Tiga
Tembak.


__ADS_3

Setelah beres rapat, Ama buru-buru meminta izin untuk ke toilet padahal dia sengaja keluar duluan. Niatnya untuk menghindari Algheza benar-benar dilakukan walaupun sebenarnya agak tidak mungkin, tapi gapapa setidaknya dia berusaha menghindar sedikit demi sedikit.


Contohnya, saat mereka berdua saling berbicara Ama selalu mengalihkan pandangannya dari Algheza dari kemaren. Ketika melihat Algheza, rasa bersalah Ama kembali terningang-ngiang saat mereka mabuk di Australia. Padahal Ama sendiri tidak mabuk, dia hanya menemani bosnya itu.


Dan satu lagi keluhannya, semenjak Algheza kemarin berbicara aneh mau mengajak Ama untuk pulang bersama. Andre jadi aneh, dia jadi lebih memperhatikan gerak gerik Ama dan selalu menanyakan sesuatu ketika Ama dan Algheza peegi berduaan, ini gawat. Ama takut akan jadi gosip yang nggak-nggak. Walaupun memang adanya Ama melakukan kesalahan.


"Ama! Hi!" Sapa seorang laki-laki, Gamael. Menghampirinya. Lelaki itu memakai kaos santai dengan celana pendek, berbeda dengan saat mereka terakhir kali bertemu yang memakai setelan formal. "Gak nyangka kita ketemu lagi. Emang ya, jodoh tuh gak akan kemana." Ucapnya membuat Ama menaikan satu alisnya, kebingungan.


"Hi, Kak! Ngapain disini?" Tanyanya untuk sekedar berbasa-basi. Mau bagaimana pun keadaan moodnya, terlebih saat ini dia sedang berada di mood yang tidak enak. Dia tetap harus bersikap ramah pada orang-orang yang berada di sekitarnya untuk menjaga image.


"Lagi nginep aja. Gue mager balik ke rumah jadinya kesini." Ucapnya ikutan duduk di taman, di samping Ama membuat Ama menggeser. "Lo ngapain disini? Kerja?" Tanyanya sambil menatap gaya berpakaian Ama yang memakai baju khas kantoran.


Ama mengangguk, "iya. Abis rapat."


Mata Gamael melihat ke arah lain, "terus bos lo sekarang kemana?"


"Masih ngobrol di dalam. Kenapa? Lo ada urusan sama dia, Kak?" Mata Ama menatap ke arah Gamael.


Gamael malah terkekeuh pelan lalu memegang kepala Ama dan menepuk pelan.


"Gue kan ada urusannya sama lo." Katanya dengan senyuman yang mengembang bisa membuat siapa saja salah tingkah di tempat.


"Apa? Emangnya gue ada salah sama lo, ya?" Pikir Ama.

__ADS_1


Gamael malah kembali tertawa dengan renyah membuat Ama keheranan. Dia meredakan tawanya lalu menatap Ama.


"Gue mau nagih janji lo. Katanya abis lulus kuliah baru bisa pacaran, jadi sekarang lo mau pacaran nggak?" Ucapnya entah berniat nembak Ama atau hanya bercanda. Karna situasi mereka berada di bawah pohon dengan angin sepoi-sepoi dan juga Gamael dengan pakaian kaos oblongnya walau dengan merk yang mahal. Tapi tetap saja, tidak ada romantis-romantisnya.


"Lo nembak gue, Kak?" Tunjuk Ama pada dirinya sendiri dengan muka cengo.


Ama tidak pernah membayangkan, kalau lelaki ini masih menyimpan perasaan untuknya setelah hampir 1 tahun tidak bertemu karna jelas lelaki itu duluan yang lulus kuliah dan katanya lanjut membantu bisnis ayahnya yang berada di luar negri sambil melanjutkan S2. Pangeran kampus ini benar-benar idola kampus, padahal dia bisa tinggal tunjuk wanita yang berada di sekitarnya pasti mereka mau, daripada repot-repot mengejar Ama yang kebanyakan labil ini.


"Iya, kenapa? Gak romantis, ya? Kalau gitu luangin waktu lo buat dinner sama gue." Jawabnya penuh dengan keyakinan dan juga menatap Ama dengan tulus.


"Risa!" Algheza memanggil Ama.


Mereka berdua membalikan badan menatap Algheza yang sedang berdiri menjulang tinggi di gedung lantai gedung itu. Ama langsung berdiri untuk berpamitan pada Gamael sebelum obrolan mereka semakin gila.


"Kak, gue harus lanjut kerja. Duluan, ya." Pamit Ama akan pergi dari sana.


Dalam situasi seperti ini jelas Ama bimbang, dia menatap Algheza dengan lengan yang bersedekap dada, dan juga Gamael yang menatapnya dengan penuh harap.


"Nanti gue telpon ya, Kak." Jawab Ama melepaskan tangan Gamael yang menyentuhnya.


Ama berlari menghampiri Algheza yang sudah berjalan duluan. Dengan hembusan nafas, Ama memukul kepalanya pelan karna situasi gila tadi. Entah mengapa Ama jadi merasa mengkhianati Algheza, padahal kan mereka tidak ada hubungan apa-apa, bahkan perasaan pun tidak ada, iyakan?


...----------------...

__ADS_1


Inara memang cantik, cantiknya keterlaluan. Tapi untuk Kailani kecantikannya bak tak nyata saking cantiknya. Dia sudah bagaikan barbie hidup dalam dunia nyata, dengan segala proposalnya yang sempurna. Inara dan Kailani dua campuran manusia yang begitu menyilaukan orang-orang di sekitar mereka, ini keterlaluan. Kecantikan duniawi dihabisi oleh mereka.


Bahkan bukan wajahnya saja yang cantik, hatinya juga. Kailani tau kalau Inara mendekatinya hanya karna ingin berdekatan dengan Algheza namun gadis itu tetap merentangkan tangannya pada Inara untuk menjadi temannya. Dia tetap saja berbaik hati, sampai terkadang Inara sendiri jadi malu. Namun lama kelamaan pun dia menyukai pertemenannya bersama Kailani walau gadis itu sedikit tertutup dengan kehidupannya.


Berbeda dengan Inara yang humble, Kailani cenderung pendiam dan hidup dalam dunianya sendiri. Dia selalu menjadi kebanggaan sekolah dan keluarganya.


Kali ini, sikap baik hatinya hanyut terbawa arus sungai entah kemana. Bahkan tatapannya saja menjelaskan bahkan dia membenci Inara seketika itu juga.


Kailani masih bisa menerima soal Inara yang mencari kesempatan pada kakaknya, karna bagaimana pun Inara memang menolong kakaknya. Sedangkan sekarang? Walau dia cenderung tidak peduli dengan sekitar namun dia akan tetap mengetahui informasi sekitarnya.


Syuting film itu berakhir dengan lancar, Inara hadir sebagai cameo dalam film yang sedang digarap Kailan.


"Kail! Lo kenapa sih?" Inara menahan kepergian Kailani ketika mereka selesai syuting.


Kailani melepaskan tangan Inara yang sedang memegangnya. "Tolong gak usah sok kenal sama aku mulai sekarang." Bisiknya takut membuat kerusuhan di tempat kerjanya.


"Maksud lo apa sih? Lo kenapa? Gue ada bikin salah?"


Kailani memutar bola matanya, kesal. Inara selalu seperti ini. Tidak pernah mengetahui letak kesalagannya sendiri, dia terlalu hidup seenaknya.


"Jangan kira aku gak tau soal kamu sengaja nyuruh Kak Saras ajak Kaliel ke Surabaya, Na." Jawab tegas Kailani.


Walau gadis ini lebih muda daripada Inara, namun aura dominannya lebih kuat. Aura dinginnya membuat siapa saja menjadi segan berada di dekatnya.

__ADS_1


"Gue kan cuman kasihan sama Kaliel yang ditinggal-tinggal sama Mbak Saras." Elaknya.


"Nggak. Aku tau, aku tau kalau kamu sengaja ngejauhin Kaliel dari Kak Ghege kan? Iya kan? Jangan kira aku gak pernah tau akal busuk kamu selama ini. Selama ini aku cuman diem karna ngehargain kamu sebagai sahabat aku, Na. Tapi makin lama sifat kamu makin jelek." Ujarnya terakhir lalu pergi begitu saja meninggalkan Inara yang berdiam diri dengan penuh rasa bersalah.


__ADS_2