
Ama memasuki lift untuk turun ke bawah mencari makanan. Andre pergi keluar bersama Algheza, jadi dia yang berada di kantor. Dari sejak kemarin pikirannya penuh dengan tanda tanya. Perasaan tak wajarnya pada Algheza semakin gila, entah harus bagaimana dia menghadapi perasaanya sendiri. Ama tahu ini bukan soal rasa kagum saja, melainkan rasa yang melebihi itu.
Kaki Ama berjalan ke arah kantin yang seperti biasa ramai diisi oleh orang-orang yang sedang mengisi tenaga mereka.
"Ama! Sini, Ma!" Panggil Sheila. Seperti biasa di meja mereka selalu terisi tiga wanita yang sudah seperti trio macan, kemana-mana bertiga.
Ama tersenyum kepada mereka lalu menghampiri sambil membawa nampan makananya.
"Hi, kalian udah daritadi?" Tanya Ama karna dia memang telat istirahat.
Sheila mengangguk, "iya. Bahkan makanan gue udah abis." Cengirnya.
Kepala Ama mengangguk lalu melirik Naomi yang sedang menelpon dan juga Karina yang hanya mengemil saladnya.
"Diet lagi, Mbak?" Tanya Ama pada Karina yang sedang fokus memilah sayuran di saladnya.
Karina mengangguk, "iya, gue naik 2 kilo nih kemaren gara-gara pas weekend ada acara jadi makan banyak." Keluhnya.
Padahal tubuh sudah cantik, tapi tetap saja namanya manusia selalu merasa kurang.
"Sendiri aja, Ma? Biasanya sama Andre."
Mendengar nama Andre, jelas kuping Karina langsung gatal. Rasanya kalau bisa dia ingin memblack list nama Andre dalam hidupnya dan kamus kosa katanya.
"Mas Andre ikut Pak Algheza ke perusahaan sebelah." Katanya sambil menyuap ayam gorengnya ke dalam mulut dan merasakan rasa ciri khas dari bumbu ayam goreng ibu kantin itu.
"Ohhh... Kemarin liat gak sih istrinya Mas Andre sama Kailan kaya lagi berantem." Sheila memulai pergibahannya, bahkan Naomi sampai menutup telpon suaminya secara sepihak agar dia bisa fokus mendengarkan gosip ini.
__ADS_1
"Berantem gimana?" Tanya Naomi sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Ya, pokoknya pas kemaren abis kelar syuting tuh aura lokasi jadi dingin gitu antara Kailan sama Inara. Lo tau kan Kailan sama Inara tuh katanya sahabatan, tapi kemaren tuh gue simak mereka kaya bisik-bisik berantem gitu tapi saling tahan karna mungkin gak mau bikin keributan."
Naomi mengerutkan jidatnya, "serius? Kok bisa, ya? Padahal mereka kan sahabat dari lama. Gue jadi penasaran penyebabnya kenapa." Katanya sambil menopang dagu pada tangannya, bergaya untuk berpikir dan mencari konspirasi yang terjadi.
Berbanding balik dengan Karina malah salah fokus pada pembicaraan Sheila. "Kok lo gak manggil Inara sama Kailan pake Ibu sih?!" Tanyanya dengan heran. Karna bagaimana pun kan jabatan mereka lebih tinggi.
"Ngapain? Orang umur mereka aja di bawah gue! Tapi kalau di depan orangnya langsung si gue pasti manggil Ibu-lah."
"Kailan siapa? Kailan tim produser 2?" Tanya Ama masih tidak ngeuh dengan apa yang mereka bicarakan.
"Iye, bidadari kantor." Jawab Karina. "Walau banyak artis cantik yang sering bolak-balik kesini tapi menurut gue kecantikan Kailan tuh gak ada tandingnya anjir." Ucap Karina membayangkan wajah cantik datar Kailan.
"Kenapa jadi ngomongin kecantikannya sih?! Kan lagi ngegibahin soal masalah mereka." Protes Sheila karena Karina malah terus salah fokus.
...----------------...
Sebenarnya Algheza mengetahui soal hubungan antara istrinya dan Andre. Dia tahu mengapa Andre memilih perusahaan ini untuk dia bekerja daripada bekerja dan berkecimplung di dunia bisnis keluarganya.
Dia tahu kalau Andre dan istrnya itu sudah menjalin persahabatan sejak lama atau yang meganggap sahabat hanyalah istrinya, karna pria yang berada dalam pandangannya itu sedang memegang rokok jelas menaruh perasaan pada istrinya. Tapi Algheza tahu, Andre itu munafik. Dia selalu berusaha membantu menjadi support system bagi Inara, padahal dirinya sendiri terluka. Cerita klasik.
"Kamu masih saja betah mempertahankan Andre?" Juno duduk di samping Algheza yang sedang meminum kopinya.
"Dia gak pernah membuat kesalahan fatal yang bikin saya harus mecat dia." Jawab Algheza menaruh cangkir kopinya.
Juno terkekeuh, bukan hal rahasia lagi sebenarnya kalau Andre menjadi bahan gosip bahwa dia menyukai istri dari bosnya sendiri. Masalahnya, Andre itu masih satu lingkaran dengan orang-orang seperti Algheza. Jadi bau jalin hubungan lama antara Inara dan Andre itu tercium kemana pun.
__ADS_1
Kailan mungkin memang bisa disebut sahabat Inara, tapi yang akan selalu bersama Inara kemana pun wanita itu pergi yaitu Andre.
"Walau dia suka istri kamu?" Kekeuhannya masih tersimpan dalam bibirnya.
"Dianya yang suka, bukan istri saya. Selama dia masih ada batas wajar menurut saya gapapa." Jelasnya membuat image yang seakan hubungan rumah tangganya bersama Inara itu baik-baik saja.
Di mata publik, hubungannya bersama Inara itu mulus seperti jalan tol tanpa kemacetan. Dia dan Inara bagaikan pasangan serasi yang selalu mencintai menurut pandangan publik. Dia lebih berpegang teguh pada nama baik keluarganya.
"Kalian memang sama-sama baik." Katanya lalu menepuk bahu Algheza dengan bangga.
Pada dasarnya, Andre tidak menyukai sesi berbincang sekedar basa-basi yang membuatnya muak. Dari dulu dia tidak pernah mengikuti kegiatan sosial kalangannya, dari sekedar party atau apapun itu bentuknya. Andre memang mempunyai image buaya yang selalu berganti-ganti pasangan, namun untuk berkecimplung pada dunia gelap luar sana jelas dia menolak keras.
Walau dia pernah sekali habis itu Inara memarahinya habis-habisan. Dari situ, Andre berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menginjakkan kakinya di tempat seperti itu lagi.
Dan hal yang membuatnya lebih muak adalah Algheza tahu kalau Andre tidak menyukai sesi santai setelah rapat. Tapi dia seakan sengaja berlama-lama disana mencari muka pada petinggi atau para investor.
Tatapan Andre tak lepas dari Algheza walau jarak mereka cukup jauh dan membuat kode bahwa dia ingin pulang sekarang juga.
Algheza berdiri, berpamitan pada orang-orang disana. Dia berjalan menuju Andre.
"Pantesan lo kerja ke orang dan lebih milih jadi bawahan dari pada kerja sama bisnis keluarga sendiri." Sindir Algheza sambil melewati Andre.
Andre memiringkan senyumnya dan mematikan rokoknya, "gue bukan anjing penjilat kaya lo kali." Sengitnya balik tak terima.
"Karna lo sukanya jadi bawahan." Ucap terakhir Algheza lalu memasuki mobil tanpa menunggu balasan Andre.
Sialan, kalau bukan bosnya dalam posisi ini. Jelas dia sudah melayangkan tinjunya yang gatal ingin mampir ke wajah yang katanya tampan paripurna itu.
__ADS_1