Serangkai Tiga

Serangkai Tiga
Kerusuhan.


__ADS_3

Ama menguliatkan tubuhnya, menarik selimutnya untuk menghangatkan tubuhnya dari udara pagi yang dingin. Bahkan AC-nya bekas semalam belum dimatikan, ditambah udara yang masuk lewat jendela menambah suhu dingin.


Mimpinya indah, dia memimpikan memelihara biri-biri dan menjadi gadis desa yang cantik. Rambut yang selalu dikepang dan juga kerjaanya hanya memetik buah, buah, ngeteh sambil membaca buku. Sungguh nikmat mimpinya yang hanya bisa dia gapai dalam mimpi.


Dia baru saja akan memejamkan mata melanjutkan mimpinya yang tertunda akibat selimut yang tertendang, dering telpon mendengung masuk ke telinganya membuat Ama menggeram lalu menutup telinganya memakai bantal. Telponnya mati lalu dilanjut telpon selanjutnya, dengan berat hati dan hembusan nafas yang pasrah. Ama meraba kasurnya mencari letak ponselnya berada dimana. Ponselnya berada di dekat kakinya.


Dia menyipitkan mata menatap nama yang terpampang di ponselnya. Nama Algheza muncul di ponselnya dengan telpon yang terus mendering tidak sabaran ingin diangkat.


"Hallo, Pak?" Sapa Ama tanpa mengucapkan selamat pagi. Biasanya ketika ada telpon pagi Ama akan senantiasa berakting ramah mengucap hallo dan selamat pagi dengan senyuman yang tidak ada terlihat oleh Algheza.


"Kamu baru bangun?" Tanya Algheza sambil menatap jam tangan yang berada di pergelangannya.


Ama menatap jam dingding di kamarnya yang menunjukan pukul 7 pagi. Jelaslah dia baru bangun, ini kan hari libur. Manusia mana yang menyia-nyiakan waktu liburnya tanpa tiduran sampai siang? Oh, ada deh sepertinya, ya siapa lagi kalau bukan Algheza.


"Iya, Pak. Maaf ada apa, ya? Bukannya Bapak terbang ke Australia?" Ama merasa heran. Karna dia memesan tiket dengan jadwal penerbangan pagi, jam 6.


"Ya itu masalahnya. Saya kan nunggu kamu." Ucapnya tanpa dengan penjelasan lebih detail membuat Ama melongo.


Apaan sih nih orang? Gak jelas banget makin kesini. Ngapain dia nunggu Ama? Mau pamitan?


"Maaf, Pak? Maksudnya apa ya? Tiketnya kan udah saya kirim ke Whatsapp."


Terdengar suara hembusan nafas dari Algheza, "kamu gak baca Whatsapp-nya Andre?"


Hah?


Ama langsung menurunkan ponselnya dari telinga untuk mencari aplikasi pesan yang biasa dia gunakan. Andre mengirimkannya pesan pada jam 12 malam, gila. Ini membuat Ama gila saat dia membaca isi pesan itu.


Mas Andre


Ama, sorry gue kayanya gak bisa nemenin Pak Algheza buat ke Aussie. Jadi lo gantiin gue, ya. Tiketnya udah gue booking, jam 10 kalian udah berangkat. Sorry banget sekali lagi.


Adik gue masuk RS jadi gak bisa berangkat.

__ADS_1


Goodluck.


Mulutnya mengeluarkan tawa miris dengan mata yang masih menatap ponselnya. 'Goodluck, goodluck gundulmu.' Sungutnya dalam hati karna dia mengingat masih menghubungkan telponnta dengan bosnya itu.


"Risa? Kamu masih hidup kan?" Suara Algheza kembali menggema di ponselnya.


Ya hiduplah, yakali dia mati mendadak hanya karena ini.


Ama menghela nafas, bagaimana dia bisa packing dalam waktu mepet ini? Bahkan jalanan Jakarta yang sumpek dan macet ini jelas tidak akan mengizinkannya untuk sampai tepat waktu.


"Ya, Pak. Maaf saya baru liat chat dari Mas Andre." Jawabnya. Lagian kantor mana yang masih mengganggu waktu istirahatnya dengan mengirimkan pesan jam tengah malam begitu.


"Yaudah, cepat siap-siap nanti supir saya jemput kamu. Jangan lama. Saya tunggu di Airport langsung." Ucapnya lalu mematikan ponsel secara sepihak.


"ARGHHHHHH! BISA GILA GUE LAMA-LAMA." Akhirnya dia mengeluarkan jeritan yang daritadi dia tahan.


Dia memegang kepalanya memikirkan bagaimana caranya dia packing dengan cepat, mandi, make up, catokan, dan ARGHHHH rasanya ketika membayangkan saja membuat kepalanya mau meledak.


Suara dentingan muncul dalam ponselnya.


Gak usah bawah banyak baju.


Kalau bisa gak usah bawa baju aja sekalian, beli aja nanti disana.


Beli, beli dikata uang Ama sebanyakan uang dia apa?!


Ama akhirnya bangkit dari kasurnya dengan gerakan cepat dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi dan siap-siap menghadapi tindakan mendadak ini.


......................


Jalanan Jakarta seperti biasa macet, dia hampir sesek nafas akibat takut telat. Jantungnya sudah berdegup kencang melihat kemacetan Jakarta. Pergi keluar ketika hari minggu adalah bencana di Jakarta, hari kerja seperti biasa saja macet. Apalagi hari libur begini. Padahal hari libur enaknya tiduran saja di kamar daripada harus bermacet-macet ria di jalanan begini.


Dia hari dengan tas ranselnya yang lebih banyak berisi skincare dan make upnya daripada salin baju untuk dia disana. Dia hanya asal mengambil baju yang terlihat di depan katanya karna kerusuhannya. Bahkan dia meninggalkan Apart dengan keadaan seperti kapal pecah. Mungkin, besok ketika Ayahnya menengok apartnya akan kaget melihat keadaan apart yang seperti sudah kemalingan.

__ADS_1


Dia menghentikan larinya dengan pengap-pengap, mengatur nafasnya sambil memegang lututnya yang sakit. Lalu mengusap keringat di dahinya yang keluar. Gila, siang-siang olahraga. Jika begini terus Ama bisa-bisa jadi sapu lidi.


"Nih, minum dulu." Algheza menyodorkan sebotol air mineral dingin.


Dengan cepat Ama mengambil botol minum itu lalu meminumnya sampai menyisakan setengah botol.


Pas, dia sampai di jam 10 lewat 2 menit. Dia menatap Algheza yang sedang fokus menatap laptopnya. Rasanya dia ingin mencabik-cabik bosnya itu kalau tidak ingat dia masih membutuhkan uang dari seorang Algheza.


"Pak, kita gak berangkat sekarang? Katanya jam 10?" Tanya Ama menyadari Algheza tidak menunjukan akan bangkit dari tempat duduknya.


"Duduk aja dulu. Jam 11 kok." Jawabnya dengan santai sambil meneguk kopinya dengan penuh nikmat.


Ama mengerjapkan matanya tidak percaya, apa katanya? Jam 11? Tau begini ngapain tadi Ama ribut dengan sopir Algheza menyuruh sopir bosnya itu untuk ngebut karna dia takut ketinggalan pesawat. Sialan, benar-benar hari yang melelahkan walau dia akan kerja sambil liburan tapi kalau mendadak begini dia kesal.


"Gak mau duduk?" Tanya Algheza menyadari Ama tetap berdiri sambil menatapnya seakan mau menusuk dengan pisau yang baru diasah.


Gadis itu membuang nafas kembali, lalu duduk di hadapan Algheza.


"Mau sarapan?" Tanyanya dengan perhatian karna takut anak buahnya itu meninggal karna kelaparan.


Ama juga sampai lupa kalau dia belum sarapan, dia buru-buru berangkat hanya meminum air putih satu gelas.


"Pesen aja. Nanti saya bayarin." Tambahnya masih fokus dengan ketukan jarinya pada keyboard.


"Iya, Pak. Makasih." Ucap Ama pelan lalu bangkit untuk memesan sarapan. Mengisi perutnya sebelum dia pindah negara.


Dia membuka ponselnya lupa untuk mengabari Ayahnya bahwa dia dinas ke keluar negri. Ayahnya pasti mengamuk mendengar kabar tiba-tibanya.


"Risa." Panggil atasannya ketika Ama berdiri membaca menu.


"Ya, Pak?" Ama membalikan tubuhnya menghadap bosnya.


"Pesenin saya makanan juga. Saya belum sarapan, samain aja kaya kamu." Ucapnya tanpa menatap Ama.

__ADS_1


Ama mendelik, minum kopi sudah padahal perut belum diisi apa-apa. Dasar.


__ADS_2