Serangkai Tiga

Serangkai Tiga
Pegangan.


__ADS_3

"Saya ada jadwal apalagi?" Tanya Algheza ketika mereka berjalan beriringan. Tidak deh, Ama berada di belakang Algheza.


"Hari ini rapatnya cuman itu, Pak. Selanjutnya cuman ada evaluasi dari divisi pemasaran." Ucap Ama tanpa melihat Tab yang mencatat segala jadwal Algheza.


Algheza mengangguk, lalu mereka saling berdiam. Algheza menyadari bahwa Ama menghindarinya, namun entah kenapa gadis itu menghindarinya, entah takut pada istrinya atau karna ada sesuatu yang lain.


Terkadang membuat Algheza kesal sendiri ingin menarik kepala Ama agar dia menatap Algheza.


Sejujurnya Algheza menyukai bola mata Ama, gadis itu punya mempunyai bola mata berwarna hijau anggur. Dulu Algheza kira, gadis ini memakai softlens, namun setelah dilihat-lihat dia selalu memakai softlens yang sama dalam setiap hari kan tidak mungkin. Bahkan mata itu terlalu menyatu, apalagi ketika gadis itu berada sinar matahari secara langsung matanya semakin menyala, cantik.


"Ama." Panggil Algheza melirik ke belakang.


"Ya, Pak?" Jawabnya tanpa melihat ke arah Algheza.


"Berbicara tanpa melihat ke arah orangnya itu gak sopan. Kamu tau soal itu kan?" Tanyanya membuat Ama menjadi tegang sendiri lalu mengerjapkan matanya.


"Eh, maaf, Pak." Ama merutuki dirinya yang tidak profesional.


Rasanya dia harus meminta maaf agar dia tidak merasa bersalah lagi dan bisa bekerja dengan tenang. Karna mana bisa dia bekerja dengan situasi seperti ini terus? Bisa-bisa dia dipecat karna tidak profesional.


"Pak, saya minta maaf." Ucap Ama sambil memegang ujung jas Algheza lalu menyadari kesalahannya karna sudah asal menyentuh bosnya.


"Tadi kamu udah minta maaf." Ucapnya dengan berkacak pinggang berhenti di tengah lorong hotel.


Ama menggaruk jidatnya yang tak gatal dengan mata menatap ke lantai, tepatnya ke kedua sepatu Algheza.


"Gapapa, saya mau minta maaf aja lagi sama kesalahan saya yang lain."

__ADS_1


Algheza malah melangkahkan kakinya ke depan, "emangnya kamu ada salah apa?" Tanyanya.


Situasinya seperti Ama sedang dihardik, karna dia terus menundukan kepalanya tak berani menatap atasannya itu.


"Risa." Panggil Algheza sambil memegang kedua pipi Ama lalu mengangkatnya hingga tatapan mereka akhirnya bertemu. "Memangnya muka saya itu sepatu apa? Ngomong sambil lihat ke arah saya." Perintahnya dengan tegas masih dengan memegang kedua pipi Ama.


Gawat! Jantungnya berdetak lebih kencang, rasanya dia ingin jatuh gemetar saat itu juga. Ini salah, Ama sudah terjun ke dalam situasi yang salah. Dia sudah terlanjur terjun ke dalam kubangan yang dia buat sendiri.


Ama melepaskan tangan Algheza yang masih betah berada di pipinya. "Maaf, Pak." Lagi dan lagi Ama merasa kikuk entah harus bereaksi bagaimana. Kepalanya berisik karna salah tingkah ditambah wangi Algheza menusuk ke dalam indra penciumannya membuat Ama semakin pusing tujuh keliling.


Algheza menghembuskan nafasnya, lalu menarik tangab Ama agar mereka pergi dari sana.


"Ayok, kita pulang ke kantor. Daripada kamu bilang minta maaf terus." Katanya sambil berjalan pergi dengan tangan mereka yang saling menaut.


Bukan hanya Ama yang menjadi gila, Algheza ikut terbawa arus kegilaanya yang dibuatnya. Algheza benar-benar membuat nyata tentang ucapannya kemarin.


Hembusan angin dengan matahari terik yang panas tidak membuat mereka beranjak berada di rooftop. Andre menghembuskan rokoknya sambil menyender ke tembok dan menatap perempuan yang sedang melamun, berlindung di bawah atap dalam ruangan kecil yang berada di rooftop itu.


Daritadi dia tidak mengeluarkan suara, Andre tahu kalau tatapan itu adalah pertanda bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. Mau tak mau Andre mengabaikan pekerjaanya demi menemani si tuan putri menikmati kesedihannya dengan terik panas yang memancar.


"Kailan marah sama gue." Akhirnya, setelah sekian lama mereka disana. Wanita itu mulai mengeluarkan suaranya.


Andre menghisap rokoknya lalu dia hembuskan dan terkekeuh padahal Inara sedang tidak melucu atau bahkan memang tidak pernah melucu, tapi herannya Andre betah bersama gadis itu.


"Akhirnya tuh cewek sadar juga kalau temenan sama uler." Sindir Andre tanpa berniat menghibur.


"Ndre!" Sengit Inara semakin kesal.

__ADS_1


"Apa? Lo mau gue bilang apa? Lo mau gue ngomong 'udahlah gapapa, nanti juga dia baikan sendiri.' gitu? Ngimpi aja sana." Katanya sambil membuang rokoknya lalu dia injak agar asapnya mati. "Kailan itu termasuk orang yang gak peduli sama sekitarnya. Dia masih bisa mentoleransi hal-hal salah buat dia maafin. Kalau dia sampai marah kaya gitu, jelas perbuatan lo gak lazim."


Benar, apa kata Andre benar. Sebaik-baiknya Kailan, dia pasti mempunyai batasnya sendiri ketika sudah benar-benar muak. Jika sudah mencapai batas kemarahannya berarti hal itu berada di level tertingga kesalahan.


Inara membuang nafasnya, bingung. Dia lama-lama lelah juga selalu berusaha menjauhkan hal-hal yang menjadi penghalang baginya. Dia hanya ingin mempunyai keluarga yang dia buat dan mulai dari nol. Dia hanya ingin Algheza meliriknya, sekali saja. Tapi rasanya sangat mustahil, padahal Inara sudah habis-habisan merebut Algheza dari perempuan yang dia cintai, keluarganya, bahkan sekarang anaknya yang tidak bersalah.


Ini jelas bukan dirinya sendiri.


"Lo harus berubah, Na. Balik ke diri lo sendiri."


Inara menangkupkan wajahnya pada kedua telapak tangannya, "gue gak bisa. Gue udah terlanjur jalan jauh sampai ke titik ini, Ndre." Katanya dengan suara melemas.


"Kalau gitu..." Andre melangkahkan kakinya mendekat untuk duduk di samping Inara. "Kalau gitu, lo coba perbaiki diri lo sekarang buat jadi manusia normal dan bangun rumah tangga normal keinginan lo itu. Jangan kabur-kaburan lagi dari Algheza." Ucapnya.


Andre takut Algheza keburu pergi terlalu jauh sedangkan sahabatnya ini sibuk dengan hal tidak penting. Sahabatnya selalu tersesat mencari Algheza, padahal pria itu ada berada di hadapannya tapi Inara seakan buta dan memilih menutup matanya.


"Gimana caranya?" Dia menatap Andre dengan wajah cantiknya yang terlihat lelah.


"Balik ke rumah Algheza dan buat seakan kalian pasangan yang nyata. Jangan kabur-kaburan lagi. Ini kemauan lo kan buat nikah sama Algheza? Kalau gitu hadapin. Ubah pandangan Algheza terhadap lo." Katanya sebelum melanjutkan ucapannya dia membetulkan poni yang menghalangi mata Inara. "Lo bilang, lo selalu sakit ketika Algheza natap lo dengan tatapan enggan? Karna lo tahu tatapan dia buat cewek lain. Kalau gtiu buat tatapan dia jatuh cuman ke lo, Na." Tambahnya dengan senyuman.


Andre bahkan rela merelakan sahabat yang dia cintai selama ini bersama pria lain. Daripada dia terus-terusan melihat tatapan rasa sedih dari sahabatnya.


Inara terkekeuh, "emang, ya. Kalau bahasa buaya bukan main. Lo bener-bener dewanya buaya. Pantes aja korban lo banyak." Tawanya lalu menyenderkan kepalanya di bahu Andre.


Andai saja Inara tau, kalau Andre hanya setia menetapkan hatinya pada Inara. Tapi wanita ini malah lebih menutup mata.


Dan mereka berdua juga tidak sadar kalau ada perempuan yang mendengar segala obrolan mereka.

__ADS_1


"Haha... Pantes aja tuh orang pas pacaran sama gue kaya main-main. Bahkan gue gak pernah jadi prioritasnya dia, orang dia sukanya sama istri orang. Brengsek." Ucapnya lalu turun kembali ke lantai bawah, padahal niatnya dia mau mencari udara segar di rooftop tapi malah mendapati api yang membara membuatnya kepanasan.


__ADS_2