
Langkah ketukan heelsnya memasukan indra pendengaran Algheza. Dia menaruh gelasnya kembali setelah meneguk air putih demi mengobati rasa hausnya. Dia tahu siapa yang datang di belakangnya, siapa lagi selain istrinya yang selalu melangkah dengan ketukan heelsnya berisik itu. Algheza bingung, entah dia sengaja memancing membuat keributan dengan heelsnya kalau memang wanita itu mempunyai kebiasaan dengan jalan yang cukup menimbulkan suara.
"Sepuluh lebih tiga puluh malam. Selamat malam, Suami. Apakabar? Jam segini baru pulang. Pasti capek, ya? Habis bekerja atau...?" Perkataanya memotong dengan sengaja memancing aura negatif Algheza muncul.
Algheza melirik istrinya yang sekarang berada di sampingnya dengan jarak dua langkah, dia menyender pada kulkas menatap penampilan Algheza yang telah terbalut kemeja putih polosnya.
"Dalam seminggu kamu udah menghabiskan 700 juta." Sindir Algheza tanpa membalas ucapan istrinya.
Taniara Maweswari memiringkan senyumnya dengan menjengkelkan, "bukannya itu bagus? Keren kan aku? Jadi.. kamu habis darimana? Habis menengok anak haram kamu atau cari wanita murahan yang bisa nemenin kesedihan kamu?" Katanya sambil melipatkan tangannya di dadanya.
"Jangan pernah berani kamu sebut Iel dengan sebutan anak haram." Gertak Algheza sudah mulai terpancing oleh istrinya itu.
"Kenapa? Memang dia anak haram kan? Hasil anak dari luar nikah. Bahkan mantan kamu aja gak sudi dan malah kabur buat ngurus anak itu." Ucapnya dengan kekeuhan bak ini adalah sebuah lelucon yang menyenangkan.
"Jaga ucapan kamu, Tania." Gertaknya sekali lagi sebelum emosinya benar-benar keluar dan malah melakukan hal yang di luar kendalinya.
"Algheza, Algheza... ini udah memasuki 3 tahun dan kamu masih belum melupakan mantan kamu yang kabur entah kemana itu?" Tanyanya dengan penuh sindiran.
"Bukan urusan kamu. Aku capek, jangan ngajak ribut."
"Kita cuman ngobrol. Ribut darimananya sih?" Tanyanya kembali dengan membuat ekspresi menyedihkan.
Tania dan segala manipulasinya. Dia sudah seperti rubah yang licik dan selalu ingin memancing bara api membesar tanpa dia padamkan kembali.
__ADS_1
"Aku denger Syakila asisten kamu itu ngundurin diri. Baguslah, dia emang gak cocok jadi asisten. Penampilannya aja kaya wanita murahan. Dan sekarang asisten baru kamu itu seperti apa, Ghe?" Kakinya melangkah mendekat pada Algheza dengan memegang sebelah pundak Algheza.
"Sekali lagi. Jaga ucapan kamu, Tania. Dan jangan sembrangan menyentuh orang lain." Tangannya menepis tangan lentik Tania yang selalu dia rawat dengan puluhan juta itu.
Tania mendengus, "pegang suami sendiri aja gak boleh. Well, sebenarnya aku gak peduli soal wanita-wanita kamu itu dan aku gak peduli juga kamu udah main dengan siapa aja. Tapi masalah utamanya, kamu tau kan soal keluarga kita kalau sampai terendus bagaimana aslinya pernikahan kita. Maka itu, tolong cari wanita yang kaleman sedikit tidak seperti Syakila yang beringas."
"Saya tegaskan sekali lagi. Syakila hanya asisten saya. Saya dan dia itu gak ada hubungan apa-apa. Berhenti ikut campur urusan pribadi saya."
"Algheza... urusan pribadi kamu itu jadi urusan aku. Kamu tau kan itu? Atau kamu memang mau jabatan kamu sekarang ini dicopot karna kesalahan kecil kamu? Masih untung dulu aku membantu kamu soal kasus kamu dengan mantan kamu itu. Jadi, tolong tahu diri sedikit." Katanya dengan sebagai penutupan karna dia membalikan tubuhnya untuk berniat pergi.
"Mau kemana kamu?" Tanya Algheza membalikan tubuhnya walau sebenarnya enggan. Namun, ini sudah malam dia tidak bisa membiarkan istrinya berkeliaran begitu saja.
"Kemana lagi selain pulang? Ini kan bukan rumah aku. Besok pagi aku kesini karna mami mau datang. Jadi harap prepare untuk berakting jadi suami idaman." Ucapnya sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan Algheza.
...---...
Sebagai manusia kalangan bawah Ama jelas terkagum-kagum dengan mulai dia memasuki komplek kalangan konglomerat itu. Walau sebenarnya Ama sendiri tidak semiskin itu, dia selalu hidup serba berkecukupan sejak kecil. Namun, untuk kasus orang-orang ini jelas mereka pasti manusia-manusia bukan hanya berkecukupan melainkan berkelebihan harta.
Subuh tadi, bahkan Ama sendiri saja belum bangun. Algheza menelponnya untuk datang ke rumahnya sebelum dia berangkat ke kantor. Kalau dia boleh jujur, dia sangat kesal jika jam tidurnya diganggu selain alarm yang membangunkannya. Biasanya jika ada telpon masuk maka dia akan mengangkat dan memaki orang yang menelponnya saat dia sedang tidur, namun pagi tadi bosnya itu keburu bersuara sebelum Ama memaki bahkan ketika dia sudah memberikan perinrah saja langsung ditutup telponnya tanpa menunggu Ama menjawab perintah itu.
Ama memasuki perkarangan rumah Algheza yang bak istana itu. Jantung Ama berpacu lebih cepat dari biasanya, menurut info FBI-nya (Syakila) istrinya Algheza itu walau cantiknya seperti bidadari yang turun dari langit tapi sinisnya minta ampun kalau melihat wanita di sekeliling Algheza. Type wanita yang super posesif.
Sejak tadi Ama merapalkan doa keberuntungannya pagi ini. Jangan sampai dia kehilangan pekerjaanya hanya karna bertemu dengan istri bosnya yang bahkan dia baru saja menginjak seminggu lebih untuk bekerja.
__ADS_1
Pembantu rumah ini menyuruh Ama untuk duduk dan menunggu di ruang tamu selama pembantu tadi memanggil tuan rumah. Ama melihat sekeliling disana, terpajang foto pernikahan Bosnya dan istrinya yang terlihat serasi. Sekarang Ama menyetujui apa yang dibilang oleh Syakila bahwa istri Algheza itu cantik seperti artis-artis yang selalu nongkrong di televisi.
"Ama? Naik apa kesini?" Suara Algheza membuyarkan lamunan Ama.
"Oh, selamat pagi, Pak. Saya bawa mobil kok." Jawabnya dengan ramah lalu duduk kembali di sofa yang kelihatannya mahal itu.
"Mobil? Kamu punya mobil tapi selalu naik ojek online kalau kerja?" Tanyanya seakan mereka sudah akrab. Bahkan dia tidak membalas sapaan selamat paginya.
"Mobil saya baru keluar dari bengkel." Jelas Ama.
Algheza mengangguk-angguk, paham. "Saya ke kantor siangan. Tolong ini kamu kasihin ke Andre." Katanya memberika map berwarna biru, "dan ini kasihin ke divisi media." Algheza menyerahkan map berwarna kuning.
"Baik, Pak. Ada lagi?" Tanya Ama memastikan sebelum dia pergi dan jika ada yang kelupaan pasti bosnya itu menyuruhkan putar balik.
"Gak ada. Tolong jangan lupa crosscheck email, ya." Tambahnya.
Ama mengangguk, "Baik. Kalau gitu saya pergi dulu, Pak." Pamitnya sambil membawa map yang diberikan Algheza.
Sebelum dia keluar ada seseorang wanita berbalut dress putih panjangnya dan langkah kaki heelsnya mengetuk lantau untuk masuk ke dalam rumah.
"Oh, hi! Ada tamu ternyata. Saya tebak kamu pasti asisten barunya suami saya." Sapanya dengan senyuman manis, kalau Ama boleh terpana jelas Ama terpana oleh kecantikan wanita ini. Bayangkan saja, Ama baru kali ini berhadapan dengan wanita cantik walau beberapa kali dia berpas-pasan dengan artis yang cantik tapi kali ini beda. "Perkenalkan saya Tania istrinya Algheza." Tangannya mengulur untuk bersalaman.
Ama meraih uluran itu, "selamat pagi, Bu. Saya Amarisa asisten barunya Pak Algheza. Senang bertemu dengan Ibu." Sapanya dengan ramah. Sebiasa mungkin dia harus meraih hati istri bosnya itu agar karirnya aman.
__ADS_1
"Senang juga bisa bertemu dengan wanita baru yang ada di sekitar suami saya." Ucapnya dengan ambigu membuat Ama tegang seketika, "oh, iya. Ama saya titip suami saya di kantor sama kamu, ya?" Pintanya dengan senyuman lembut namun membuat Ama merinding untuk kali ini.