
Tatapan ayahnya tak lepas tertuju pada Ama yang daritadi merasa kikuk. Ayahnya layak dosen yang siap menyidang anaknya.
"Jadi kapan kamu punya pacar buat dikenalin sama Ayah?" Tanya Ayahnya ketika Ama baru saja mendudukan pantatnya di sofa tepat di depan Ayahnya.
Dulu, dia sangat dilarang keras untuk berpacaran. Sedangkan sekarang? Dia seperti dikejar-kejar penagih hutang yang terus menagih pasangan hidup. Padahal Ama sendiri baru saja lulus, coba pikirkan dimana dia bisa mencari pacar kalau dia saja baru lulus sedangkan orang-orang dulu yang mengejarnya jelas sekarang sudah mempunyai pacar terkecuali Kak Gamael sepertinya. Tapi Ama juga tidak tahu sih, siapa tau kan dia juga sudah punya pasangan sendiri.
"Masa di kantormu gak ada yang suka sama kamu, Ma? Padahal kan anak Ayah cantik begini." Celetuknya.
Tambahan, Ama sendiri juga kan baru bekerja. Masa sudah menggaet seseorang, terlebih dia orangnya yang mudah akrab dengan sesama manusia. Dia akrab kalau ada seseorang yang mengakrabkan dirinya duluan kepada Ama. Sedangkan dalam lingkup pekerjaan itu kebanyakan manusianya lebih memilih jalan hidup individu. Sampai situ ayahnya seharusnya mengerti, iya kan?
"Dia mah pilih-pilih tuh, Yah." Kompor adiknya menyaut dari dapur sedang mengobrak-abrik apartemennya, mencari makanan.
Dan lagi, Ama kembali menyambat dalam hati. Mana bisa dia pilih-pilih? Apanya yang mau dipilih? Orang satu saja tidak ada gimana mau milih.
Ama menepuk pelan jidatnya, "please, deh. Kalian rusuh amat nanya aku soal pacar. Nantian ajalah, aku lagi enak sendiri." Alasan.
Adiknya menghampiri sambil menenteng kaleng cemilan dari lemari Ama pastinya. Bocah itu seperti kucing garong yang suka mengobrak-abrik untuk mencari makanan.
"Halah, bilang aja gak ada yang mau. Dasar ngenes." Celetuknya membuat Ama melotot ingin melempar bantal sofa pada adiknya.
"Sembrangan!"
Walau benar sih, gak ada yang mau sepertinya dengan Ama. Ama akui dirinya memang tidak cantik jadi jelas saja kalau tidak menarik perhatian orang-orang kantor. Berbeda dengan anak lainnya yang selalu tampil cantik dengan hidup hedon.
"Yaudah, ngga apa-apa. Asal kamu nih jangan terlalu fokus sama diri sendiri. Coba buat bangun hubungan sesekali sama orang. Jangan menutup diri." Ayahnya memberikan petuah. Padahal dia yang dulu menyuruh Ama menutup diri sekarang kan jadinya dia mau membuka diri jadi susah!
"Bukan gitu, Yah. Ayah tahu kan rencana soal Ama bakal ambil S2? Jadinya Ama sekarang agak hati-hati aja. Takutnya bikin Ama jadi renggang sama rencana Ama." Jelas Ama, kali ini benar. Dia sebenarnya tidak mau menjalin hubungan memang karna takut merusak planning-nya.
"Lho kan, bukannya kalau ada pacar itu malah bikin semangat, ya?"
"Bukan gitu. Aku takut kalau pacaran nanti aku tiba-tiba S2 ke luar negri malah harus ldr atau buruknya pasti putus." Jelasnya kembali.
"Kaya bakal langgeng aja." Celetuk adiknya dengan mata fokus menatap layar televisi.
__ADS_1
Dengan segala emosi yang memuncak. Kali ini bantal itu melayang tepat sasaran pada kepala adiknya membuat adiknya keselek ciki. Dia memegang lehernya sambil terbatuk-batuk meraib gelas minumnya.
Ayah kedua manusia stress itu hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan kegilaan para anak-anaknya itu.
"Gila ya lo setan?!" Sentaknya setelah meneguk airnya dalam gelas.
"Yah, liat Yah masa dia gak sopan manggil aku setan?" Adunya.
Ayahnya tetap menonton para curut itu bertengkar.
"Ya abisnya lo ngapain ngelempar bantal ke gue hah?! Gimana kalau gue meninggal gara-gara keselek?" Protesnya.
"Lo abisnya gak sopan sama gue!"
"Lah kan gue ngomongin soal fakta!" Adiknya Ama tetap tidak mau kalah.
"Fakta, fakta pala lo sini gue gundulin!" Ama sudah berdiri bersiap mau menjitak kepala adiknya secara langsung kalau suara ayahnya tidak menghentikan mereka.
"Terusin aja tuh sekalian bawa piso, piring, sama mangkok di dapur." Sindir ayahnya lalu bangkit dari sana, pusing menyaksikan kegilaan anak-anaknya.
Andre melirik Inara yang berjalan melewatinya untuk masuk ke ruangan Algheza. Seperti biasa, tanpa perlu meminta izin wanita itu akan masuk seenaknya dan semaunya.
"Saking kamu gak mau ketemu aku, kamu lebih milih pulang ke kantor, ya?" Tanyanya dengan luwes sambil tertawa lalu berjalan menuju sofa dan duduk disana sambil menyilangkan kakinya.
Dia duduk dengan anggun dengan dress merah pendeknya, matanya fokus menatap Algheza yang berada di depannya.
"Gimana liburannya? Seru?" Tanya Inara memulai.
"Aku kerja." Delik Algheza tetap fokus pada berkas yang sedang dia check.
"Kerja sambil liburan, kan? Jadi gimana sama wanita baru kamu itu? Seru? Kok dia gak ada di kantor? Kamu suruh pulang, ya? Pasti karna dia kecapekan jadinya kamu suruh dia buat isti-"
"Tania cukup! Amarisa cuman asisten aku. Aku sama dia gak pernah ada hubungan apa-apa bahkan dengan asisten-ku sebelumnya." Sentaknya mulai terpancing emosi.
__ADS_1
Sungguh, dia lelah jika terus-terusan dituduh seperti ini. Ditambah urusan kantornya yang tidak ada habisnya. Lama-lama dia bisa gila.
"Kok marah? Kamu ngerasa ngelakuin itu, ya?" Inara masih dengan ucapan santainya padahal dirinya bergetar takut karna emosi Algheza. Tapi dia harus tetap terlihat tegar, bagaimana pun caranya.
Algheza menghembuskan nafasnya, dia berdiri dari kursinya untuk menghampiri Inara. "Kamu percayanya tindakan aku kaya gitu kan? Kalau gitu biar aku lakuin sama apa yang ada dibayangan kamu." Katanya dengan tegas berdiri di hadapan Inara yang sedang duduk.
Inara menatap dengan ketidak percayaan apa yang barusan diucapkan oleh Algheza, dia berdiri dengan emosi yang mulai memuncak.
"Apa maksud kamu?!"
"Kamu mau aku selingkuh kan? Kalau gitu biar aku lakuin sama apa yang kamu mau."
"Kamu udah gila ya?!" Bentak Inara.
"Bukannya kamu yang gila? Orang gak pernah ngelakuin hal yang pikirin tapi kamu nuduh seakan orang itu ngelakuin hal itu. Bukannya itu disebut gila?!" Algheza yang menjungjung tinggi prinsipnya tidak akan pernah membentak wanita. Kali ini runtuh akibat emosinya sendiri.
"Karna kamu emang brengsek!"
Algheza membuang nafasnya, lelah. Dia mengatur emosinya dengan melihat ke arah lain yang penting tidak menatap mata dari perempuan yang berada di hadapannya.
"Terserah apa kata kamu. Sekarang aku minta kamu keluar dari sini." Usir Algheza mulai lelah dengan meladeni wanita setengah sinting.
"Kamu bener-bener brengsek. Aku bisa aduin semua yang kamu lakuin ke orang tua aku!" Ancamnya.
"Kalau gitu aduin aja! Sekalian kita cerai." Kali ini emosinya tidak juga teredam.
Pintu ruangan Algheza terbuka mendapati seorang wanita dengan rambut tergulung juga kacamata yang melorot mencerminkan bahwa dia lelah.
"Kak! Eh, aku kira gak ada orang. Hi, Tania." Sapa adik perempuan Algheza yang meredam suasana panas di ruangan itu. "Kalian lagi ngapain? Aku ganggu gak? Tapi, sorry urusan aku lebih penting jadi Tania boleh gue minjem kakak gue sebentar? Eh lama deh." Tanya Adiknya dengan mata yang menatap kedua orang itu silih bergantian ditambah dengan senyuman tipisnya.
Inara langsung pergi dari sana bahkan melewati sahabatnya sendiri dengan dingin. Kaliani hanya mampu berkedip-kedip menatap kepergian Inara.
"Masuk sini, Lan." Perintah Kakaknya yang membuat Kailani langsung membalikan tatapannya pada kakaknya.
__ADS_1
"Kak! Aku mau nanya." Ucapnya menghampiri Algheza yang sudah duduk di sofa dengan melepaskan kacamatanya.