
Dinginnya eskrim menembus ke dalam mulut Ama. Daritadi dia memandang interaksi dari kedua lelaki di hadapannya, yang satu sibuk dengan eskrimnya dan satu lagi menonton si anak kecil yang berada di sampingnya samping mengobrol menanyakan keseharian si anak kecil itu.
Ama tersenyum, hatinya menghangat dia jadi rindu Ayahnya yang di rumah. Dia juga membayangkan ingin mempunyai suami yang kelak akan seperti Algheza walau lelaki itu terkadang menyebalkan namun jika bersama anak kecil dia begitu manis hingga Ama sendiri lupa daratan. Dia telah menenggalamkan diri ke dalam lautan yang dia buat sendiri.
"Tadi Iel main basket sama Tante Ama. Dia jago, Pa!" Celetuknya sambil menjilat eskrimnya hingga menempel ke bibirnya.
"Oh, ya? Siapa yang menang?" Mata Algheza masih terfokus pada bocah di sampingnya.
"Tante Ama. Dia jago sama kaya papa. Kapan-kapan kita harus main bareng atau papa sama Tante Ama main bareng pasti Papa yang menang." Jelas bocah itu.
Biasanya kalau ada yang meremehkan Ama entah itu anak kecil atau orang dewasa sekalipun dia akan mengamuk. Tidak pandang bulu mulutnya akan menyemprot protesan bahwa dia ini manusia keren yang bisa memenangkan apa pun yang dia mau. Namun, kali ini situasinya berbeda. Bukan karna Kaliel anak dari atasannya melainkan karna Ama menyukai Kaliel. Anak itu manis sekali.
"Iya, kapan-kapan kalau Papa libur kita main bareng." Ucapnya sambil mengusap sudut bibir Kaliel.
"Tante Ama suka main basket?" Tanya Kaliel secara tiba-tiba padahal daritadi mereka sibuk berdua bak dunia hanya milik mereka bahkan Ama yang mengekor di belakang mereka saja tidak mereka tangkap keberadaanya.
"Euh... Ngga sih." Sejujurnya Ama sendiri type manusia pemalas. Dia memiliki tubuh yang tinggi saja karna gen dari Ayahnya dan terakhir dia olahraga mungkin saat dia kuliah semester awal? Dia type manusia yang lebih memilih menghabiskan waktunya di kasur kesayangan.
"Wah, tapi kok bisa jago?" Tanya Kaliel dengan mata berbinar-binar.
"Oh, dulu waktu tante SMA pernah ikut eskul basket." Jawab Ama dengan senyum tipis.
Dan bahkan dulu dia pernah ikut turnamen basket. Rasanya memegang bola basket membuatnya merasa deja vu pada masa SMA-nya yang menyenangkan.
"Kamu lulusan SMA mana, Ris?" Tanya Algheza membuat Ama mengerjap kembali karna rasanya aneh ketika Algheza menanyai persoalan kehidupannya.
"SMAN 28 Jakarta, Pak. Bapak sendiri?" Tanya Ama berniat basa-basi.
__ADS_1
"BINUS." Jawabnya singkat. "Kamu dari UNIV mana? Saya lupa."
Ketika mendengar kata Binus membuat Ama meringis. Karna sudah ketebak sih, pasti orang seperti Algheza tidak sekolah di tempat biasa-biasa saja.
"Universita Indonesia, Pak." Kata Ama tidak perlu menanyakan atasannya lulusan mana karna Ama sendiri sudah tahu dan itu membuat Ama meringis ingin mengejar mimpinya berkuliah di tempat yang pernah Algheza jalani.
Algheza pernah kuliah S1 di Melbourne dan lanjut S2 di Yale. Sebelum Ama mendaftarkan dirinya bekerja disini jelas dia telah menelaah atasanya seperti apa di google. Bahkan banyak sekali wajah Algheza terpampang di internet. Dan impian Ama adalah bisa melanjutkan kuliahnya di Yale.
"Besok Papa gak usah jemput Iel. Soalnya Iel dijemput sama Ayah Adiga." Ucap Kaliel ketika mereka berjalan ke arah basement tempat parkiran mobil.
"Oh, Ayah Adiga udah pulang?"
Kaliel mengangguk, "sudah. Kaliel weekend ini mau diajak ke Bali. Papa mau ikut?" Tawar anak itu bagai menawari permen.
Algheza tersenyum lalu menggeleng, "ngga, sayang. Papa ada kerjaan keluar negri."
Ama memang mengetahui kalau bosnya itu akan ada jadwal pergi ke keluar negri tapi jelas bukan bersama dia melainkan bersama Mas Andre yang lebih mengetahui segalanya karna katanya itu klien penting.Tapi masalahnya Algheza tidak menjawab pertanyaan Kaliel dia malah mengalihkan pembicaraan soal perencanaan mereka yang akan berlibur bersama nanti.
"Ama terimakasih ya sudah menemani Kaliel. Hati-hati di jalan." Ucapnya dengan senyuman tipis membuat hati Ama berdesir.
Tidak, tidak seharusnya dia seperti ini. Dia harus bisa menjaga perasaanya pada deburan ombak yang menabrak pintu hatinya berniat membuka.
"Iya, sama-sama, Pak. Kalau gitu saya pulang, ya? Bye Kaliel sampai ketemu lagi! Makasih buat hari ini seru." Kata Amai sambil mengelus pelan kepala Kaliel lalu melambai ketika memasuki mobilnya.
"Bye Tante Ama!" Tangannya ikut melambai ketika mobil Ama pergi melesat dari hadapan mereka.
Kaliel dan Algheza langsung berjalan menuju mobil Algheza untuk mengantar Kaliel pulang.
__ADS_1
"Papa..." Panggilnya sambil mendongak.
"Hmm?"
"Kaliel suka Tante Ama daripada Tante Inara." Ucap Kaliel sebelum dia memasuki mobil.
...----------------...
Dentingan jarum jam menemani Inara pada balkon Apartemennya. Dia menatap purus pada pemandangan kota yang riuh walau kegelapan sudah melingkupi langit.
Dia mengembuskan nafasnya, angin malam menusuk kulitnya bahkan tak terasa dingin. Dia telah terbiasa menghadapi hidupnya yang beku. Angka jam menunjukan pukul 10 malam dan kamar yang dia tatap masih belum menyalakan lampunya. Matanya menyalang tetap fokus pada gedung di hadapannya, gadis itu masih belum pulang iam segini?
Pikirannya berkelibat memikirkan hal yang membuatnya sakit sendiri. Apa dia pergi bersama Algheza hingga semalam ini? Apa yang mereka lakukan? Pikirannya berkabut membentuk rasa ketakutan. Takut jika Algheza akan mengkhianatinya dan menghancurkan perjanjian mereka walau memang rumah yang mereka bangun tidak pernah hancur namun kusam sejak awal.
Tangan Inara memegang pembatas di balkon itu lebih kuat dengan mata yang tetap menyalang menatap gedung dan tertuju pada kamar yang dia incar.
Lampu kamar itu akhirnya menyala, tubuh Inara kembali tegap menatap kamar itu. Kaca yang belum tertutup oleh gorden itu menampilkan seorang wanita dengan setelan kantor. Tebakan Inara benar, gadis itu benar-benar pergi bersama Algheza pastinya.
Dia menghembuskan nafasnya lalu tertawa miris. Dia selalu menjadi pecundang yang mematai seluruh gadis yang berada di dekat suaminya. Padahal harusnya dia tau kalau Algheza tidak akan berkhianat padanya, tapi dia tetap menaruh hatinya pada seseorang di masa lalunya yang meninggalkan makhluk pada keluarga Algheza.
"Sampai kapan lo mau kaya gitu?" Suara berat lelaki masuk ke dalam Apartnya sambil menatap Inara di belakang Inara.
Lelaki itu duduk di kasur Inara sambil menatap kegilaan sahabatnya sejak dulu. Tidak pernah berubah.
"Sampai gue nemu titik dimana gue harus berhenti, mungkin?" Katanya ketika melihat kamar itu tertutup oleh gorden sang pemilik. Inara membalikan tubuhnya untuk masuk. "Dimana lo tau gue ada disini?" Tanyanya sambil menutup pintu balkon.
Lelaki itu mengangkat bahunya seolah acuh pada pertanyaan Inara. "Gue numpang tidur, ya." Katanya lalu merebahkan diri dan menutup matanya membuat Inara berdecak dan memutar bola matanya jengkel pada lelaki yang sedang tertidur di apart barunya.
__ADS_1