
Mereka sudah menghabiskan beberapa waktu dengan obrolan ringan soal pembisnisan, sedikit demi sedikit Ama paham soal bisnis selain dari pembelajaran semasa kuliahnya dulu. Mereka duduk meja yang berada di luar sambil memandang jalanan yang masih dilaju oleh beberapa kendaraan.
Dering telpon masuk ke dalam ponsel Algheza, dia merogoh sakunya lalu berdiri pergi, menjauh dari Ama untuk menangkat telpon.
"Kenapa?" Tanya Algheza sebagai pembuka telpon itu. Algheza menyenderkan dirinya di tembok sambil menyalakan rokok-nya.
Dia mendengar suara penutup pintu dari telponnya, "Aku tadi ke rumah kamu. Kamunya gak ada. Ada yang mau aku omongin, penting." Ucap Sarasvati kakak perempuannya yang mengambil alih hak asuh Kaliel.
"Soal apa? Kalau soal bisnis baru itu, aku males jawabnya." Katanya sambil menghisap rokoknya dan menatap jalanan.
Sarasvati menghembuskan nafasnya, "bukan. Ini soal Iel. Ghe, aku rasa, aku harus ajak Kaliel ke Surabaya. Kamu tau sendiri kan, aku sama Adiga akhir-akhir sibuk ngurus cabang yang ada di Surabaya. Aku dan Adiga udah mutusin buat fokus ngurus cabang sana. Kaliel harus aku bawa, gimana pun dia kan udah tanggung jawab aku." Katanya dengan penuh pertimbangan serta berat mengucapkannya, karna Saras tau bahwa adiknya pasti merasa berat juga.
"Kamu kan masih bisa bolak-balik, Kak?" Tanya Algheza penuh harap.
"Gak bisa, Ghe. Walau aku bolak-balik Kaliel tetep gak dalam pengawasan aku. Rasanya aku abai dalam mengurus dia."
Algheza menggersah putus asa. Ini tidak bisa dibiarkan, mana bisa dia berjauhan dengan anaknya sendiri. Bahkan walau rumah mereka dekat saja rasanya Algheza selalu ingin menarik Kaliel untuk kembali padanya dan mereka hidup bersama.
"Kalau gitu biar aku yang ngurus Kaliel. Balikin Kaliel ke tangan aku, Kak." Pintanya.
Saras mengusap wajahnya dengan lelah, "Ghe, gak usah gila. Kamu gak inget soal perjanjian kita dulu di depan orang tua kita? Dan kalau pun aku balikin Kaliel, siapa yang mau ngurus hah?! Kamu kira aku gak tau gimana jalannya hubungan kamu sama Tania? Hubungan kalian aja gak jelas siapa yang bakal ngurus Kaliel kalau gitu?!" Tanyanya mulai memuncak pada emosinya.
"Aku. Aku yang bakal ngawas Kaliel." Ucapnya penuh penekanan dan juga mencoba meyakinkan.
"Ghe..." Saras terdiam terlebih dahulu, "kamu sendiri aja sibuk sama perusahaan yang sekarang lagi kamu urusin, gimana caranya kamu ngawas Iel, Hah?!"
Algheza membuang rokoknya lalu dia injak dan membalikan badannya, matanya tertuju menatap punggung Ama dari belakang. Gadis itu sedang asik memakan burger-nya sambil mendengarkan musik yang disiarkan dari tempat ini.
__ADS_1
"Aku kasih kamu satu minggu buat puas-puasin waktu sama Kaliel sebelum Kaliel aku bawa ke Surabaya. Keputusannya udah bulat, Ghe. Kaliel akan aku bawa."
"Tapi, Kak..." Algheza masih kekeuh mencoba menahan kakaknya yang akan membawa Kaliel jauh darinya.
"Gak ada tapi-tapian. Kamu kan masih bisa sesekali ngunjungin Kaliel kesana. Dan juga, nanti saat dia masuk SMP mungkin Kaliel bakal balik ke Jakarta. Aku cuman pengen ngawas dia ketika kecil aja karna aku tau kamu gak akan bisa." Jelasnya kembali lalu menutup panggilan itu secara sepihak.
Algheza membuang nafasnya, dia menatap langit-langit yang terlihat semakin gelap karna mulai memasuki pukul dini hari dimana seharusnya orang-orang mulai mengistirahatkan tubuh mereka. Bukannya mengistirahatkan Algheza malah menambah masalahnya.
Apa harus dia merasa kehilangan untuk ke tiga kalinya? Setelah Ibu-nya Kaliel lalu Ibu-nya Algheza dan sekarang? Kaliel yang akan meninggalkannya? Padahal Kaliel-lah alasan dia masih bisa tersenyum di sela-sela dia disibukan dengan pekerjaanya.
Dia berjalan pelan menghampiri Ama kembali, "Ama." Panggil Algheza membuat Ama mendongak menatap Algheza dengan mata birunya.
"Kenapa, Pak?" Tanyanya dengan menelan gigitan terakhirnya.
"Kamu mau temenin saya minum?" Tanya Algheza terlebih dahulu. Padahal biasanya Algheza akan langsung menyeretnya.
Mata Ama tidak lepas dari tatapan yang memohon itu, setelah Ama mendengar soal atasannya mengenai tatapan. Ama jadi sering menatap secara langsung tatapan Algheza. Dan sekarang, tatapan itu menggambarkan sesuatu yang mengkhawatirkan, sesuatu yang membuatnya merasakan kesedihan yang mendalam.
...----------------...
...Cw // drunk // mention of kiss...
Ama pikir, dia akan dibawa ke club yang ada di kota ini. Ternyata tidak, mereka sekarang sedang berada di pinggir kolam renang hotel ini. Dengan hiasan pohon kelapa di sisi kolam renang menambahkan kesan pantai.
Mereka duduk kursi yang terdapat meja oval. Ama duduk di depan Algheza yang terus meminum-minumannya, Algheza termasuk orang yang memiliki toleransi tinggi terhadap alkohol tapi masalahnya jika dia meminum sebanyak ini. Bisa-bisa Algheza mabuk atau bisa-bisa dia malah sekarat.
Ama menghela nafasnya lalu membuang dengan kasar, menambah-nambahkan kerjaanya saja.
__ADS_1
"Kaliel bakal pindah." Katanya memulai obrolan disaat dia sibuk dengan minumannya.
Astaga, jadi dia mabok hanya karna Kaliel akan pindah? Ama kira dia mabok karna stress saham turun misalnya.
"Saya bakal jauh dari Kaliel, Ma." Ucapnya semakin lesu.
Ama jadi kerasa kasihan, dia baru melihat seseorang sedepresi ini hanya karna kehilangan keponakannya.
"Emangnya mau pindah kemana?" Ama mencoba bertanya.
"Dia bakal ikut orang tuanya ke Surabaya." Jelasnya sambil menghembuskan nafasnya dan menarub gelasnya di meja. "Saya gak rela jauh dari dia, hahaha." Algheza memberikan tawa getir yang mengkhawatirkan.
Ama jadi takut kalau bosnya akan gila sebentar lagi karna dijauhkan dengan keponakannya.
"Bapak kan nanti bisa sesekali mengunjungi Kaliel. Walau memang jauh, tapi tiap Bapak ada waktu sekalian liburan, iyakan?" Dia mencoba menghibur walau sebenarnya percuma menghibur dengan untaian kata terhadap orang yang sedang sedih, mereka akan selalu menikmati kesedihannya ketimbang menerima saran dari sekitarnya.
Algheza menidurkan kepalanya di meja, matanya menatap Ama dari bawah sana. "Walau memang gak seberapa jauh. Tapi saya masih gak rela kalau semakin jauh sama Kaliel." Jelasnya.
Hati Ama mendesir, merasa ikut sedih. Terlebih dia memang menyukai Kaliel. Dan ya, padahal mereka baru saja berkenalan tapi Kaliel malah mau pergi jauh.
"Ama..." Panggil Algheza dengan pelan. Ama memandang Algheza yang menutup matanya, "saya sayang banget sama Kaliel." Tambahnya dengan benar-benar menutup matanya untuk tertidur.
Mata Ama mengerjap beberapa kali masih dengan tertuju pada Algheza yang kepalanya tertidur di meja, dia menatap kesedihan Algheza.
Mungkin untuk sebagian manusia, Algheza terlihat lebay. Tapi Ama meraskaan hatinya menghangat, dia melihat rasa sayangnya Algheza pada Kaliel sangatlah besar membuatnya mengingat bagaimana Ayahnya juga menyanyanginya.
Pandangan Ama jatuh ke bibir Algheza yang terkatup, dia tidak mabuk. Tapi dia malah termabukan oleh buaian hal gila yang membuat badannya maju untuk mencium Algheza bagai orang mabuk.
__ADS_1
Bukan hanya orang mabuk yang seperti orang gila, bahkan buktinya Ama yang tidak mabuk saja memperlihatkan sisi gilanya.