
Tubuhnya baru saja dia hempaskan ke dalam kasur. Dia menghela nafasnya, setelah dapat telpon dari ayahnya, dia lupa mengabari ayahnya kalau dia pergi ke negri asing. Ayahnya mengomel panjang lebar soal dia yang meninggalkan apart dengan keadaan seperti habis terjadi peperangan dunia dengan embel-embel; "Masa anak gadis pemalas begini. Ntar kalau udah nikah suami-mu gak betah sama kamu gimana?" Kenapa sih ketika dia membuat kesalahan pasti yang diungkit-ungkit adalah ketika nanti dia akan mendapat suami.
Suami ntar gak bisa makan lah karna dia tidak bisa masak, suami gak betahlah karna dia jarang beres-beres. Memangnya dia nikah itu mau jadi pembantu apa? Kalau soal masak mungkin nanti Ama pasti akan belajar. Nah, kalau soal beres-beres namanya juga kan manusia ada masa dia akan malas dan ada masa dia menjadi rajin segala sudut rumahnya akan dia bersihkan sampai kinclong seperti kepala pak satpam apartemennya itu.
Ama menscroll laman instagramnya, mendapati foto dari brand terkenal. Seorang wanita sedang menjadi model make up dari brand itu. Kening Ama mengernyit.
"Ini bukannya istrinya Pak Algheza?" Tanya Ama pada dirinya sendiri sambil men-zoom foto tersebut.
Mau dizoom sampai pori-porinya terlihat juga wajahnya tetap sama. Ini benar-benar Tania istrinya Pak Algheza. Ama membaca nama lengkap dari istri bosnya itu.
Inara Katania, Ama melongo ketika mendapati wajah istri bosnya itu di dalam google. Ternyata istri bosnya itu memang tidak main-main. Lihat, dia adalah seorang model. Pantas saja cantiknya tidak ketulungan sampai tumpah-tumpah begitu.
Ama langsung menelpon Syakila untuk mengajak gibah yang mungkin di sana adalah jamnya dia sedang kerja.
Saat telpon tersambung suara protes muncul untuk pertama kalinya.
"Heh, monyet! Ngapain sih lo nelpon gue pagi-pagi? Ganggu gue lagi tidur aja." Protesnya sambil memakai bajunya.
Ama tertawa dengan protesan temannya itu, "kok lo gak kerja?"
Suara pintu terdengar dalam ponsel Ama, "males. Lagian gue udah dinafkahin sama Arraf jadi ngapain gue pontang panting cari duit lagi. Ntar gue makin kaya lo iri lagi." Jawabnya dengan tenang sambil meneguk minum.
Arraf adalah tunangannya Syakila selama ini hubungan mereka sudah menginjak 3 tahun dimana kalau menjadi bocah jelas sudah bisa ngomong.
Ama kembali tertawa dengan mendengus kesal. "Dasar lo setan. By the way, gue mau nanya nih. Istrinya Pak Algheza tuh model?"
"Iye, lah lu baru tau? Makanya cakep banget kan."
__ADS_1
Ama menganggukkan kepalanya, "tadi gue liat dia ada di akun instagram Chanel. Gila, dia bahkan jadi model di brand yang gak sembrangan." Kata Ama dengan takjub.
"Ya, jelaslah. Wong dia sendiri aja bukan dari keluarga biasa-biasa. Walaupun dia terbilang orang kaya baru tapi keluarganya tuh terkenal."
Matanya tadi memang membaca artikel soal gadis itu, Inara memang bukan orang sembrangan. Keluarganya memiliki perusahaan di bidang material kontruksi yang selalu dipakai orang-orang. Jelashlah keluarga mereka sudah berlimpah harta.
"Keren banget Pak Algheza. Hidupnya makmur bener, ya." Ucap Ama kembali takjub.
"Udahlah lo gak usah iri. Ntar lo pasti dapetin yang kaya Algheza. Tapi percuma juga si Algheza dapetnya nenek lampir, walau emang cakep tapi kelakuannya nyebelin." Ketus Syakila sambil membayangkan hal yang membuatnya kepalang kesal.
"Gue gak iri ya, Monyet." Sewot Ama lalu mendapati ketukan di luar kamarnya. "Eh, gue telpon lagi nanti, ya. Pak Algheza kayanya manggil gue." Pinta Ama.
"Ekhem... Malem-malem gini manggil lo ngapain? Ke gue aja gak pernah. Awas aja lo tiba-tiba jadi pelakor karna kalau dipikir-pikir Pak Algheza kan type lo banget."
"Gila lo. Umurnya aja jauh sama gue." Jawab Ama masih belum mematikan telpon.
Ama membuka pintu kamarnya mendapati Algheza dengan jaket hitamnya.
"Kenapa, Pak?"
"Kamu laper gak? Temenin saya cari makan." Pintanya.
Otak Ama berpikir sebentar bingung antara menerima atau menolak, karna sebenarnya dia tidak lapar tapi tidak enak juga menolak padahal selama ini kan dia selalu dibayari bosnya.
"Bentar saya ambil jaket dulu." Akhirnya Ama menerima lalu masuk ke dalam kembali untuk mengambil jaket.
...----------------...
__ADS_1
Andre meneguk minumnya sambil menatap wanita yang sedang gersah menatap ponselnya. Dia mendelik kesal ketika melihat wajah khawatir dari sahabatnya itu.
"Udahlah... Algheza gak ngapa-ngapain sama Amarisa. Tadi gue udah chat tuh cewek mereka ngapain aja. Dan gak ada hal yang aneh-aneh kaya yang ada di dalam pikiran lo itu." Sembur Andre mencoba mengusir pikiran negatif dalam pikiran Inara.
Inara berdecak, "mana ada maling ngaku." Katanya sambil melempar ponselnya ke atas kasur. Dia juga lelah sendiri menunggu kabar dari suaminya itu. Percuma, Algheza memang tidak akan pernah menganggap dirinya ada dalam hidupnya.
"Udah gue bilang. Amarisa menurut gue cewek baik-baik. Dia gak mungkin bakalan macem-macem." Bela Andre pada rekan kerja barunya itu.
Inara menatap Andre dengan penuh selidik. "Lo kenapa bela cewek itu sih? Suka lo?" Tuding Inara karna merasa kesal.
Andre mendengus, "apaan sih lo? Gak usah mulai gila, deh. Gue cuman mencoba buat lo mikir positif dulu daripada isi otak lo diisi hal yang nggak-nggak."
Inara tidak menanggapinya, dia malah menegak minuman hekas Andre tanpa pikir panjang. Andre langsung merebut padahal Inara masih meminum.
"Gak usah mabok. Ntar manager lo ngomel. Gue males dengernya karna dia pasti nyalahin gue. Padagal lo-nya yang bandel." Katanya dengan penuh sindiran.
Inara mengusap bibirnya dengan telapak tangannya karna baru meminum sedikit sudah direnggut.
"Kapan sih gue hidup normal? Kapan gue bisa ngerasain apa yang gue impikan, Ndre?" Tanyanya sambil menelungkupkan wajahnya pada kedua tangannya.
Andre menyimpan botol winenya, "lo sendiri yang gak mau mulai hal itu. Kenapa lo gak mencoba buat bangun rumah yang pada umumnya sih?"
"Gue..." Inara menghembuskan nafasnya dengan berat, "gue takut. Gue takut sama semua kenyataan kalau sampe kapan pun pastinya Algheza gak pernah mau nyoba cinta gue. Mungkin, dia bakal bisa nerima gue dalam hidupnya tapi dia gak pernah ngizinin gue buat masuk ke dalam dunianya." Jelas Inara dengan tatapan kosong.
Dari dulu, daridulu Inara selalu mengikuti kemana pun langkah Algheza pergi walau dia tidak pernah dianggap. Dia hanya bisa menjadi angan dalam bayang yang tersembunyi di belakang Algheza. Dirinya terlalu takut untuk melangkah, dia selalu berlindung, berdiam diri pada kegelapan di tempatnya karna dunia Algheza dulu terlalu penuh cahaya untuk seseorang yang menyukai kegelapan.
Andre ikutan membuang nafasnya, "gue ngantuk." Katanya tanpa menanggapi curhatan Inara. Dia mengambil jaketnya berniat untuk pulang, "pikirin baik-baik. Gak ada salahnya lo coba dan gak ada salahnya lo melukai sedikit diri lo daripada mati dengan rasa ketidak beranian lo itu. Gue balik." Katanya pergi meninggalkan Inara yang sendiri di pinggir kolam renang apsrtemen-nya itu.
__ADS_1