Serangkai Tiga

Serangkai Tiga
Balutan kedua.


__ADS_3

Paska itu, belum sempat Ama menolak bosnya sudah menambahkan lagi kalimat sepert ini; "Eh, kamu pasti lelah ingin cepat pulang, ya? Kalau gitu pulang aja. Kamu pulang naik apa?"


Setelah mengetahui Ama akan pulang melalui taksi online. Algheza langsung menyuruh supirnya untuk mengantar Ama pulang karna dia memang akan menginap di hotel sana.


Ama sebenarnya gak ngerti kenapa bosnya itu malah menginap di hotel ketimbang pulang untuk menemui istrinya, padahal kan mereka sempat bercanda bersama rekan kerjanya soal dia ingin cepat-cepat pulang. Tapi yasudahlah, itu bukan urusan Ama juga. Urusannya adalah kerjaanya mengurus Algheza.


Ngomong-ngomong sudah seminggu Ama bekerja disini dan sudah terlihat sedikit demi sedikit bahwasannya memang tidak ada bos yang sempurna. Pasalnya Algheza ini ternyata menyebalkan.


Begini, sikap menyebalkan Algheza itu ketika dia seenaknya mengganti jadwal yang sudah Ama tentukan dengan rapih dan juga konfirmasi kepada pihak tertentu tapi dengan seenak jidat dan wajah tanpa dosanya dia menyuruh Ama mengacak ulang jadwalnya atau memundurkannya. Terkadang Ama yang harus menanggung malu ketika mengonfirmasi kembali soal jadwal pertemuan dengan pihak-pihak PT lain.


Ada lagi, soal makanan. Algheza memang sudah memberikan list makanan yang dia sukai dan tidak sukai. Tapi bukan itu yang dia permasalahkan. Yang Ama permasalahkan adalah ketika dia sudah capek mencari makanan kesukaaan bosnya itu yang susahnya membuat kepala melayang karna mencarinya itu sudah seperti harta karun alias jarang yang menjual dan langganan bosnya itu terkadang buka terkadang tidak, nah titik permasalahannya kadang makanan itu malah tidak dia makan, malah dia tinggalkan untuk rapat dengan karyawannya.


Entah sudah berapa ribu kali Ama mengeluarkan helaan nafas lelahnya, Andre yang duduk di sebelahnya hanya bisa memberikan untaian kata, 'Sabar ya.'


Dan ada yang paling mengherankan, Algheza suka kopi tanpa gula. Aneh sekali bukan? Ama sendiri kadang heran bagaimana rasanya kopi tanpa gula? Pasti sangat tidak enak. Tapi dengan santai bosnya itu selalu meminum kopi tersebut tanpa ekspresi apapun.


"Risa." Panggilnya membuyarkan lamunan Ama yang sedang berdiri di depan bosnya dan Ama masih memegag nampan bekas mengantar kopi.


"Eh, iya, Pak? Saya permisi dulu, ya." Pamitnya namun ditahan oleh ucapan Algheza.


"Tolong hubungi PT JKO dan buat perjanjian hari kamis minggu depan, ya." Perintahnya dengan santai tanpa menanyakan apa kamis nanti dia ada jadwal apa saja.


"Tapi kamis Bapak kan ke Bandung?" Tanya Ama memastikan kalau perintahnya itu layak dituruti atau tidak.


"Iya, saya tahu. Owner PT JKO itu dia tinggal di Bandung. Jadi tolong kamu kabari asistennya untuk membuat jadwal. Kalau bisa sorean ya." Jelasnya dengan menambah request.


"Bapak sore katanya mau golf?" Tanya Ama memastikan kembali.


"Gak jadi. Oiya, hari sabtunya saya ke Asutralia kan? Kamu ikut, ya." Katanya kembali menambahkan, "jadi tolong kamu siapkan passport kamu juga."


Kening Ama mengernyit, perasaan saat kemarin lusa Andre bilang dia yang akan menemani bosnya itu ke keluar negri dan Ama akan mengurus segala urusan kantor. Karna takutnya Ama masih belum paham, karna ini project penting.


"Bukannya Mas Andre yang bakalan nemenin Bapak?"

__ADS_1


"Gak jadi. Dia saya suruh tinggal di kantor buat gantiin saya ngurus hal lainnya yang harus diurus dengan cepat. Kamu udah boleh keluar, Risa." Usirnya yang mungkin muak melihat ekspresi Ama yang berubah-rubah dengan raut kebingungan.


"Panggil saya Ama saja, Pak." Tegur Ama kembali. Algheza selalu saja memanggilnya dengan nama Risa yang membuat telinga Ama ketika mendengarnya merasa gatal.


Sejujurnya yang memanggil Ama dengan panggilan Risa hanya mendiang Ayahnya saja. Bahkan, ibunya sendiri selalu memanggilnya dengan Ama dan teman-temannya yang lain juga, mereka selalu memanggilnya Ama atau Amarisa sekaligus.


"Saya suka nama kamu." Jawab selalu seperti itu membuat Ama ingin memutarkan bola matanya kalau tidak ingat sedang berada di hadapan atasannya.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak." Pamitnya tanpa melihat respon dari Algheza yang mengangguk mempersilahkannya untuk pergi atau tidak. Yang pasti Ama tidak peduli.


...----------------...


Bekerja di sebuah perusahaan salah satu stasiun TV mengharuskan Ama mewajarkan dirinya bertemu dengan artis. Terkadang Ama masih selalu terkejut dan histeris sendiri ketika dia bertemu dengan artis yang biasa dia lihat di televisinya.


Ama dengan berdiri menonton berjalannya syuting acara talk show di belakang layar. Kerjaanya sudah selesai. Jadi Ama punya waktu untuk berkeliling dulu melihat cara berjalannya acara yang selalu Ama tonton itu walau sebenarnya Ama jarang menonton film lokal. Dia lebih sering berlangganan aplikasi untuk menonton film luar negri.


Ponselnya bergetar di saku blazer hitamnya, Ama merogoh sakunya lalu mengangkat tanpa melihat siapa yang menelponnya.


"Risa?" Panggilnya kembali.


"Eh, iya, Pak? Bapak bukannya mau pulang?" Tanya Ama yang langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu dan menuju lift untuk ke lantai yang biasanya dia bekerja disana.


"Gak jadi. Cepat, ya." Katanya langsung menutup telpon tanpa ada sepatah kata pamitan.


Ama mendecakan lidahnya kesal, selalu saja begini. Sekarang jika ditanya cita-cita Ama akan menjawab; "cita-citaku pulang bekerja dengan tepat waktu jam 3 atau 4 sore."


Algheza masih mondar mandir sambil menatap ponselnya yang mati secara tiba-tiba. Dia harus mengabari keponakannya itu yang sedang menunggu di tempat lesnya, cerobohnya Algheza lupa menanyakan alamat tempat les keponakannya yang baru itu.


Suara pintu terbuka menampilkan sosok asisten barunya yang rambutnya diikat kuda dan juga memakai dress selutut serta dibalut oleh blazer berwarna hitam.


"Apa apa, Pak?" Tanyanya ketika sampai.


Algheza langsung menyodorkan ponsel matinya. Ama mengernyitkan keningnya kebingungan, seakan berpikir kenapa dia malah disodorkan ponsel? Ama sendiri punya ponsel.

__ADS_1


Karna merasa Ama tidak mengambil ponselnya, Algheza langsung mengeluarkan suara. "Ponsel saya tiba-tiba mati. Tadi jatoh. Kamu bisa tolong perbaiki? Katanya kamu lulusan IT."


Memangnya kalau lulusan IT sudah pasti bisa membetulkan ponsel apa? dia kan bukan tukang konter! Sungut Ama dalam hati. Selalu saja orang-orang menganggapnya dia pintar dalam membetulkan ponsel.


Walau sebenarnya Ama tidak mengerti tapi dia mengambil ponsel atasannya itu yang bahkan beda jauh dari ponsel Ama. Bosnya memakai series terbaru sedangkan Ama series ketinggalan Zaman.


"Biar saya coba dulu, Pak. Kenapa gak langsung tanya ke anak IT?" Tanyanya sambil melangkah kelaur ruangan dan Algheza mengikuti dari arah belakang.


"Pada udah pulang dan sebagian ada yang lagi istirahat."


Ama melirik ke belakang tanpa membalikan kepalanya, rasa jengkel mulai memancar. Masa dia sedang istirabat bisa di telpon disuruh seenaknya, sedangkan karyawan lain tidak.


Tangan Ama langsung mengotak-atikan ponsel atasanya itu yang dihubungkan langsung dengan komputer kantor. Bosnya duduk di kursi yang biasa Andre pakai dan dia dekatkan ke tempat Ama untuk melihat cara kerja Ama.


Bahkan lengan mereka bersentuhkan membuat mata Ama langsung salah fokus melirik ke arah lengannya yang bersentuhan dengan bosnya. Ama langsung menggelengkan kepalanya dan dengan cepat mencari letak penyakit ponsel bosnya. Setelah beberapa menit mengotak atik akhirnya ponsel itu menyala dan Ama menghembuskan nafasnya.


Suara notifkasi masuk ke dalam ponsel dan komputer secara bersamaan. Nofikasi pesan dari Whatsapp.


Inara K


Aku hari ini pulang.


Tolong kamu pulang, ada yang mau aku obrolkan.


Pesan itu tidak sengaja Ama baca sebelum dia mencabutkan ponsel Algheza.


"Makasih, ya. Saya harus buru-buru pulang. Kamu pulang naik apa?" Tanyanya masih sempat menanykan Ama. Padahal kan katanya dia harus buru-buru.


"Saya naik ojol kok, Pak." Jawab Amai yang sedang mematikan komputernya.


"Oke, kalau gitu saya duluan." Katanya yang langsung meninggalkan Ama sendiri disana.


Ama tebak dia buru-buru pulang karna ingin menemui istrinya.

__ADS_1


__ADS_2