Serangkai Tiga

Serangkai Tiga
Topik obrolan para wanita.


__ADS_3

Ama baru saja membereskan pekerjaanya, jam tangannya menunjukan pukul sebelas siang. Sebentar lagi memasuki jam makan siang, bosnya hari ini memilih untuk bekerja di kantor bahkan dia memundurkan segala meeting atau pertemuan hari ini membuat kepala Ama pusing tujuh keliling. Daritadi dia tidak berhenti menelpon pihak-pihak yang bersangkutan demi meminta maaf atas kemunduran waktu pertemuan mereka.


Ketika pulang nanti Ama rasanya harus memberi koyo, kepalanya membutuhkan sesuatu untuk ditenangkan. Walau sebenarnya koyo itu malah membuat panas tapi rasanya enak saja kalau dia tempelkan ke keningnya.


"Mas makan siang kemana?" Tanya Ama berniat mengajak Andre untuk makan siang bareng.


Sejujurnya Ama belum terlalu akrab dengan karyawan yang lain selain Mas Andre yang sepanjang hari duduk di sebelahnya. Jelas dia yang akan Ama selalu ajak bicara.


"Gue keluar nih. Mau ketemuan sama orang." Jawabnya dengan menahan senyuman.


Ama mengembangkan senyumannya bersiap untuk meledek, "cieee.. Dating apps-nya lancar nih, Mas? Yang kemarin itu kan fotonya? Yang rambutnya pendek?" Ama bertanya dengan semangat.


Manusia memang tidak akan luput dari segala keingin tahuannya.


"Yoi, dia kerja di kantor sebelah ternyata. Jodoh emang gak kemana, kan?" Katanya dengan terkekeuh sambil mematikan komputernya.


"Asik, semoga lancar ya, Mas!" Ama mengangkat tangannya dengan kepalan bak menjadi supporter memberi dukungan kepada sang pemain.


"Thanks! Duluan, ya. Sorry gak bisa nemenin makan siang." Ujarnya melewati Ama sambil menepuk pelan kepala Ama.


"Iya, gapapa, Mas."


Pintu ruangan Algheza terbuka menampakan pria itu hanya memakai kemeja putih polosnya tanpa dengan jasnya.


"Kamu gak makan siang?" Tanya Algheza karna menyadari masih ada asistennya yang sedang menatap ponselnya.


Ama mendongak dengan heran, tumben bosnya keluar sendiri. Biasanya kalau ada apa-apa pasti menelponnya.


"Ini mau kok, Pak. Bapak mau kemana?"


"Mau ke pantry. Duluan, ya." Jawabnya langsung pergi tanpa menjelaskan ingin apa.


Ama mengedikan bahunya, yasudahlah. Buat apa sia pikirkan, mending dia makan siang, mengisi perutnya yang keroncongan meminta diisi.


Kakinya melangkah menuju lift, bahkan baru saja dia akan meemncet tombol lift. Segerombol tiga wanita menghampirinya sambil memanggil namanya.


"Ama! Hi! Mau makan siang, ya? Mau bareng gak sama kita bertiga?" Tawar Sheila anak Divisi Pemasaran bersama dua wanita di belakangnya.

__ADS_1


Sheila memang anak yang ramah, makanya dia bisa berkenalan dengan Ama.


"Tumben gak sama Mas Andre, Ma?" Tanya Naomi yang berdiri di sampingnya.


"Mas Andre makan di luar. Ada janji sama orang katanya."


Karina berdecak pelan, "ah tuh orang pasti nemu incaran baru." Celetuknya dengan menahan Amarah.


Menurut desas desus kantor, Karina dan Mas Andre pernah menjalin hubungan tidak jelas. Pacaran bukan tapi selalu bersama-sama kemana saja mereka pergi.


"Yaelah masih aja belum move on. Move on dong, ikan di laut masih banyak tuh." Ucap Sheila sambil mengelus bahu Karina.


"Ikan di laut, ikan di laut. Semuanya sama aja tuh ikan kaya si Andre." Sungut Karina.


Sepertinya Karina cukup mempunyai trust issues yang mendalam pada pria. Matanya memancarkan kebencian terhadap pria.


"Pacaran sama burung aja, Mbak. Kalau ikan mirip kaya Mas Andre." Celetuk Ama membuat yang lainnya terkekeuh dan Karina malah mendelik kesal namun dengan senyuman tipis.


"Lo mau makan apa, Ma?" Tanya Naomi. Wanita ini sepertinya sisi keibuan makanya dia yang lebih dulu telah memutuskan masa lajangnya daripada teman lainnya.


"Makan..." Ama memikirkan enaknya makan apa ya jam segini, tiba-tiba sekelibat bayangan soto yang kemarin Algheza makan membuat Ama ingin merasakannya. Kenapa dia jadi ingin makan hal yang bosnya makan itu. "Soto aja deh, Mbak." Jawab Ama karna tidak ada pilihan lain. Perutnya meronta ingin soto.


"Ama ditanyain, gue kagak." Ucap Karina dengan cemberut membuat Sheila terkekeuh kegelian dengan sikap Karina.


Pasalnya Sheila ini memang orang yang receh sepertinya, dia bahkan berbicara biasa saja malah tertawa. "Lo najis banget cemberut gitu." Katanya dengan tawa kecil.


"Gue mau nasi goreng, Mi." Ucap Sheila mendahului Karina yang akan menyahut.


"Gue roti aja deh. Diet nih." Katanya membuat yang ada disana melirik ke arah Karina langsung.


"Lo? Diet? Dunia gempar kali. Paling ntar pas balik kantor pasti ngegrill." Ucap Naomi lalu melesat pergi untuk memesan makanan mereka.


"Yeu si kunti. Orang gue beneran diet. Gue gendutan kan?" Tanyanya menatap Ama dan Sheila.


"Kagak sih. Gue liatnya lo ada aura depresi aja." Celetuk Sheila dengan tawa renyah. Dia yang memberi lawakan dia yang tertawa namun suara tawanya menular kepada Ama membuat Ama ikut tertawa.


"Mbak katanya kalau orang tambah berisi itu berarti hidupnya makmur." Ucap Ama berniat menghibur daripada diet-diet membuat perutnya kelaparan saja.

__ADS_1


"Dia mah mau stress, mau hidup makmur juga makannya tetep banyak." Timbrung Naomi telah kembali setelah memesan pesanan mereka.


"Ah elo." Decak Karina.


"Eh, gimana kerja deket-deket sama orang ganteng, Ma? Pasti adem, ya." Tanya Sheila memulai kekepoannya.


"Adem, adem lu kata ubin masjid." Celetuk Karina. Sepertinya Karina memamg selalu sensi ketika orang-orang membicaraka lelaki.


"Serius. Kaya kalo lo capek kerja. Mending pandangin aja Pak Algjeza pasti rasa lelah lo itu terhempas sudah kaya kata Syahrini."


"Kapan Syahrini ngomong gitu?" Naomi ini mau saja dibodoh-bodohi.


"Kemaren pas live instagram. Jadi gimana, Ma?"


Ama berdiam terlebih dahulu sebelum menjawab. Sebenarnya biasa saja sih. Dia senang hanya kemarin saja bertemu dengan keponakan bosnya itu selebihnya ya capek saja.


"Biasa aja sih, Mbak. Rasanya nano-nano milky."


"Istrinya lo udah ketemu belom? Cakep banget kan? Tiap ada acara kantor gue selalu fokus sama dia. Mana mereka mesra banget. Kaya serasi banget gak sih? Gue iri asli dah." Celetuk Sheila membuat Ama membayangkan istri atasanya itu yang memang cantiknya luar biasa.


"Iya, kalau ada pelakor di rumah tangga mereka itu pasti udah insecure duluan sama istrinya. Mundur sebelum maju sih." Kata Karina ikut menimbrung.


"Tapi Bu Inara judes, ah. Gue gak suka. Keinget dulu gue pernah di semprot karna gak sengaja nyenggol Pak Algheza. Bayangin cuman nyenggol dikira ngegoda, anjir." Naomi bersungut-sungut sambil membayangkan kejadian lalu.


Ternyata memang benar, istri atasanya itu akan menyenggol siapa saja yang di dekat suaminya.


Ama ini sensitif dengan suara, dia akan mengenali setiap suara langkah yang menurutnya dia kenal. Dan dia mendengar suara langkah Algheza mendekat pada dirinya.


"Risa, ayok." Panggil Algheza mengejutkannya dan yang lainnya.


Ama melongo, "ayok kemana, Pak?" Padahal kan hari ini tidak ada jadwal keluar.


"Ayok ke Hotel Xxx. Pak Sandi udah nunggu disana." Katanya lalu berlalu meninggalkan Ama yang masih melongo.


Dasar gila! Bahkan dia saja belum memakan sotonya yang baru datang itu. Mau tak mau dia bangkit dan pergi dari sana. Tidak lupa meminta maaf dan membayar makanannya.


Ama tebak makanannya akan dimakan Karina.

__ADS_1


__ADS_2