Serangkai Tiga

Serangkai Tiga
Soto kembali.


__ADS_3

Ama melangkah berbarengan bersama Algheza yang berada di sisinya. Sebenarnya kalau soal biasa mengganti jadwal atau menggeser pertemuan Ama sudah biasa. Tapi disini masalahnya adalah pria di sampingnya ini menggeser tanpa memberi tahunya terlebih dahulu. Kan jadinya Ama merasa dongkol dan jengkel sendiri, untungnya dia mempunyai stock kesabaran.


"Bukannya pertemuan dengan Pak Sandi minggu lalu bilangnya di kantornya ya, Pak?" Tanya Ama selagi mereka berjalan dan memasuki lift.


Ama memperhatikan pantulan mereka berdua di depan. Jomplangnya tinggi antara Algheza dengan dirinya, padahal Ama termasuk wanita yang tinggi dari rata-rata wanita di lokal.


"Gak jadi." Jawabnya dengan singkat. Setelah ini mereka akan diam sampai menghampiri restoran dari hotel ini. "Kamu belum makan, kan? Makan disini aja." Katanya membuat Ama melirik sekilas ke pria di sampingnya.


"Tadi baru saja soto saya datang, Pak." Keluh Ama yang diberi kekeuhan oleh Algheza. Ama jadi merasa miris pada dirinya sendiri.


"Selamat siang, Pak Sandi." Sapa Algheza ketika mereka sudah sampai di meja yang sudah disiapkan.


Pak Sandiaga Pramuda adalah founder dari perusahaan makanan instan yang biasa orang-orang makan ketika sedang bokek termasuk dirinya sendiri. Ama jadi mengingat kalau anaknya Pak Sandiaga adalah aktor terkenal sejak anaknya kecil itu, bahkan dia sudah menjulang tinggi menjadi tampan dan menjadi aktor langganan TV. Kabarnya sekarang dia akan bergabung dengan projek film dari film luar negri. Betapa suksesnya hidup orang, sedangkan Ama masih disini saja.


"Siang, Algheza. Ayok silahkan duduk." Sambut Pak Sandiaga yang langsung menutup koran.


"Saya kira kamu mengajak istri kamu." Ucapnya dengan kekeuhan tawa.


Rasanya Ama merasa ingin menenggelamkan diri, bagaimana bisa manusia semacam upil ini dikira pasangan Algheza yang sempurna paripurna?


"Oh, perkenalkan saya Amarisa. Asisten barunya Pak Algheza." Ama mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Pak Sandiaga menerima uluran tangan itu lalu kembali mengobrol pada Algheza, "Kamu perasaan ganti-ganti asisten terua, Ghe."


Algheza hanya menanggapi dengan kekeuhan lalu membicarakan topik yang mereka akan bahas. Sepanjang obrolan mereka Ama hanya menjadi penyimak sesekali dia mengetikan hal-hal penting yang harus dia catat dan ingat. Menjadi asisten personal adalah kerjaan yang harus serba serbi alias serba bisa. Mungkin, kalau diajak jadi kuli bangunan juga dia harus bisa.


"Jadi nanti sabtu kamu ke London?" Tanya Pak Sandiaga sambil menyesap kopinya.


"Iya, Pak. Ada RUPS disana." Jawab Algheza.

__ADS_1


Kening Pak Sandiaga mengernyit. "Perusahaannya Andreas kan itu?" Tanyanya.


"Iya, keluarganya lepas tanggung jawab karna hampir bangkrut. Sayang kalau tidak ada yang membangkitkan." Jelas Algheza.


Pak Sandiaga mengangguk-angguk paham, "kalau gitu saya duluan, ya. Masih ada kerjaan di kantor. Senang bertemu dengan kalian." Ucapnya dengan senyuman sambil bangkit lalu berjabat tangan untuk berpamitan pada Ama dan Algheza.


Perutnya daritadi meronta ingin diisi, tapikan dia gengsi kalau tidak ditawari. Daritadi dia menahan rasa laparnya. Semoga pria di sebelahnya ini yang sedang fokus pada ponselnya cepat peka bahwa ada bawahannya yang harus diberi gizi agar tetap hidup dan bisa mengabdi padanya.


"Kamu kenapa diam aja? Gak pesen makan?" Tanya Algheza melirik Ama yang masih mematung, mengetuk-tukan keyboard laptop padahal dia tidak sedang mengetik apapun.


"Saya nunggu Bapak nyuruh saya." Jawab Ama dengan spontan membuat gelak tawa dari Algheza.


"Astaga, padahal kamu kalau lapar tinggal pesan daritadi, Ma. Lagian saya sama Pak Sandiaga kan cuman ngobrol ringan juga. Saya kira kamu emang gak mau makan disini." Katanya masih diselingi dengan kekeuhan.


Hahaha... Siapa yang akan menolak makan di restoran hotel mewah? Kayanya sih cuman orang yang udah kenyang selalu makan restoran mewah. Apalagi kalau gratis, jelaslah Ama tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatannya.


Ama mengangguk karna dia memang benar-benar ingin soto. Entah kenapa bayangan saat Algheza kemarin memakan soto hinggap terus menerus ke dalam memorinya.


Algheza memesan soto dan beef steak untuk dirinya sendiri juga minuman orange juice sama seperti Ama dan juga dessert untuk Ama. Lumayan makan mewah gratis. Kapan lagi coba kesempatannya makan mewah gratis, lidahnya pasti akan merayakan hal ini.


"Habis ini kita kemana, Pak?" Tanya Ama memastikan takutnya tiba-tiba dia diseret ke luar kota kan bahaya.


"Balik kantor aja. Saya mau lembur di kantor sebelum ke London." Katanya sambil mengetikan sesuatu di ponselnya.


"Saya juga, Pak?" Tanya Ama hati-hati. Sesungguhnya dia mengharapkan untaian kalimat atasannya ini menyuruhnya untuk pulang saja istirahat di rumah dan kasurnya yang empuk itu.


"Ya." Singkat dan juga to the point.


Pantas saja dia dicekoki makanan dengan hidangan mewah, ternyata dia akan menggempur pekerjaanya hingga malam, hahaha. Ama meringisi kehidupannya yang jumpalitan ini.

__ADS_1


"Bapak ke naik ke pesawat?" Pertanyaan ambigu ini tiba-tiba keluar dari mulut Ama.


"Yaiya, memangnya menurut kamu saya kesana naik odong-odong?"


Ama mengutuk mulutnya yang kalau bertanya kurang detail, "maksud saya. Bapak pakai heli bapak atau mau naik pesawat di airpot?"


"Pesawat. Jangan lupa pesankan tiketnya untuk lusa." Perintahnya mengingatkan.


Kepala Ama langsung mengangguk memesankan tiket detik itu juga untuk bosnya dan Mas Andre. Enak juga ya, Mas Andre liburan ke luar negri tanpa mengeluarkan biaya perjalanan. Ama jadi kepo sudah berapa kali Mas Andre diajak berpergian keluar negri.


Tapi kalau dilihat-lihat sih, Mas Andre seperti orang kalangan Algheza. Penampilan Mas Andre ini khas manusia yang bergelimang harta dengan penampilan yang selalu memakai brand exclusive.


"Kamu blasteran ya, Risa?" Tanya bosnya secara tiba-tiba yang daritadi memperhatikan Ama sedang fokus melihat-melihat setiap sudut ruangan restoran ini tanpa menyadari bahwa dari tadi Algheza memfokuskan pandangannya pada gadis di depannya.


Memperhatikan rambut coklat sedikit keriting gadis itu, dengan mata biru yang memancar, dan juga kulit yang sedikit kecoklatan namun terlihat cerah.


"Oh, iya, Pak. Ibu saya dari Turki." Jawabnya dengan senyuman manis.


Ama memang tidak seputih orang-orang di sekitarnya, bahkan dengan kulitnya saja jelas kalah. Algheza manusia bertype kulit putih dan Ama berkulit sawo matang namun itu membuatnya terlihat manis.


Apalagi ketika dia memancarkan senyumannya.


"Ayah kamu? Asli Jakarta?" Algheza memulai bertanya kembali persoalan hidup.


Pesanan mereka datang memutuskan obrolan, Ama meminum orange juicenya.


"Ayah saya asli Bali. Cuman pindah ke Jakarta setelah menikah." Jelasnya lalu memulai makan. "Selamat makan, Pak." Ucapnya dengan senyuman manisnya kembali.


Algheza jadi menyukai ketika Ama mengeluarkan sneyumannya, rasanya dia jadi mengingatkan pada Kaliel.

__ADS_1


__ADS_2