Serangkai Tiga

Serangkai Tiga
Kicauan burung.


__ADS_3

Inara duduk di taman dengan cuaca yang bagus untuk dia nikmati pada pagi hari. Hembusan angin menerpa wajahnya dengan anggun rambutnya bahkan selalu ingin ikut menari bersama sang angin. Daritadi dia sibuk mengoles catnya untuk dia satukan ke lembaran putih yang berada di depannya, dia melukis burung yang sedang hinggap di kabel atasnya.


"Sejujurnya gue kesel sama lo." Ucap seseorang yang berada di samping Inara dengan tampang jengkelnya, Inara hanya meliriknya lalu melanjutkan pekerjaanya. "Heh! Dengerin gue kagak?" Dia menarik pelan ujung baju Inara.


"Apaan sih?" Dengan kesal Inara mendelik karna hampir saja lukisannya gagal karna diganggu lelaki mengesalkan.


"Lo minta gue kesini karna ada sesuatu yang penting dan ternyata sesuatu yang penting kata lo itu... Ini? Brengsek." Sambatnya dengan menutup wajahnya memakai kedua telapak tangannya.


"Ini juga penting." Inara membersihkan kuasnya dengan air sebelum dia celupkan kembali ke dalam warna, "lo tahu sendiri kalau gue gak suka sendirian selain tidur dan mandi. Makanya, gue manggil lo kesini." Jelasnya dengan lempeng tanpa ada rasa bersalah.


"Ya, tapi gue ada kerjaan, Saritem. Gue sibuk. Lo kata gue pengangguran?!" Sentaknya mulai semakin kesal karna sahabatnya ini terkadang suka semena-mena.


Pada dasarnya, Inara memang manja. Dia anak tunggal yang akan selalu mendapati yang dia mau dengan cara bagaimana pun. Makanya, tidak heran kalau kelakuannya sebelas dua belas seperti setan begini. Untungnya orang-orang di sekitarnya memakluminya.


"Kerjaan lo main cewek. Gue tau, ya, kalau lo batalin penerbangan cuman demi nemenin cewek gak jelas lo itu." Inara dengan sindirannya.


"Sial. Lo bisa gak sih berhenti jadi stalker? Berhenti mata-matain kehidupan privasi orang lain." Rasanya dia ingin menjitak sahabatnya itu kalau dia tidak ingat gadis manja ini akan mengomel panjang lebar.


Inara menaruh kuasnya di dalam wadahnya lalu meniup sebentar lukisannya yang telah selesai.


"Lo bukan orang lain." Jawabnya santai sambil membersihkan tangannya yang terkena cat.


"Bukan cuman gue. Tapi asisten Algheza juga. Berhenti mata-matain mereka." Katanya mulai tegas. "Lo balik sana ke apartemen lama. Berhenti hambur-hamburan uang cuman demi beli apartemen atau kosan yang sama dengan Asisten Algheza."

__ADS_1


Mata Inara menatap tajam dan sekaligus datar pada lelaki di sampingnya. "Lo kenapa sih? Berisik banget hari ini." Katanya lalu mengalihkan pandangannya menatap gedung sebrang sana yang mengeluarkan seorang gadis dengan buru-buru serta tasnya yang langsung diambil oleh lelaki yang Inara kenal.


Itu mobil Algheza dan supirnya menjemput Inara di depan lobby. Inara mengerjapkan matanya, sial. Inara terus memperhatikan setiap gerak-gerik mereka sampai mereka berlaju pergi meninggalkan area apartemen.


"Kenapa bisa cewek itu ikut?" Tanya Inara masih tetap menatap mobil hitam yang telah pergi.


Lelaki di sampingnya membuang napasnya dengan gersah, "itukan salah lo sendiri. Lo main seenaknya nyuruh-nyuruh gue kesini. Jadinya dia pergi sama suami lo kan." Jawabnya dengan penuh penyudutan.


Inara kembali membalikan badannya menatap Andre dengan kebingungan, "bukannya lo ngebatalin karna mau nemuin cewek lo?" Mata Inara menggambarkan bahwa dia terkejut.


"Gak jadi. Gue emang mau pergi sama Algheza. Tapi lo maksa-maksa, yaudah." Jawabnya dengan santai sambil mulai menghisap rokoknya. "Jangan bilang lo mau nyusulin dia ke Aussie?" Andre seakan membaca situasi dan segala pemikiran Inara.


"Kenapa?"


"Dia gak pernah nyadar kalau dia selama ini nyakitin gue, brengsek." Umpatnya.


Andre bangun lalu mengambil jaketnya yang tergeletak di dekat Inara, "Karna itu salah lo sendiri. Lo gak pernah mau bilang." Katanya sambil memakai jaketnya, "gue pergi. Inget lo ada job jangan semena-mena susulin suami lo karna ego lo sendiri. Pikirin kerjaan lo sendiri." Tambahnya lalu pergi dengan rokok yang masih berada di jarinya.


...----------------...


Ama memang pernah menginjakan kakinya di luar negri, di Singapore. Yang dekat-dekat saja karna dulu dia ada lomba disana. Ama pernah membayangkan bahwa dia akan pergi jauh entah ke tempat asal ibunya, tapi setau Ama ibunya itu pergi kesini karna kabur dari keluarganya. Makanya ibu tidak pernah kembali kesana dan layaknya hanya Ayah keluarga satu-satunya. Kedua, dia pernah memimpikan menginjakkan kakinya di negara asing yaitu negara yang menempatkan kampus impiannya, Yale University yang berada di USA.


Sekarang kakinya menginjakkan tanah Aussie. Dia menghembuskan nafasnya melihat sekeliling area Airport dia baru saja tiba disini bersama dengan Algheza yang sedang menelpon orang. Hembusan angin membuat dia mengeratkan jaketnya, dingin menembus dinding kulitnya.

__ADS_1


"Ayok kita masuk." Perintahnya sambil berjalan terlebih dahulu ke dalam mobil.


"Tungguin kek." Sungutnya pelan takut didengar oleh atasannya, bisa-bisa di depak dia disini lalu menjadi gelandangan.


Mereka duduk berdua di kursi tengah mobil, dari tadi Ama canggung. Mereka memang pernah duduk bersampingan, tapi tidak sedekat ini. Karna biasanya jika di dalam mobil dia akan duduk di depan bersama supir dan Algheza di tengah sambil memperhatikan Ipad-nya.


Matanya tidak lepas memperhatikan sekeliling, dia harus pamer pada adiknya kalau dia sedang berada di negri orang. Adiknya pasti akan iri dan ngambek padanya karna merasa tidak diajak.


"Kita mau kemana sekarang, Pak?" Tanya Ama karna mereka berhenti di tempat pembelanjaan membuat Ama heran.


"Belanja. Ayok turun." Jawabnya sambil turun duluan.


Ama langsung turun dan lari pelan untuk mensejajarkan langkahnya bersama Algheza. Pikir Ama kalau bosnya itu akan belanja baju karna pasti orang seperti Algheza tidak perlu repot-repot bawa baju, kan tinggal beli saja wong punya duit segudang ini.


Enak ya, jadi orang kaya. Ama juga menginginkan seperti itu, dia ingin tinggal beli, tinggal beli tanpa memikirkan bagi-bagi uang untuk kebutuhkan lainnya.


"Nih," lelaki itu menyodorkan sebuah kartu membuat Ama membuat ekspresi kebingungan.


Ama tidak langsung mengambil kartu itu, "Kenapa, Pak?"


"Buat kamu belanja keperluan kamu dan tolong carikan saya setelan baju juga. Saya dulu di Cafe itu, ya. Agak cepetan saya pengen tidur. Pinnya saya kirim di chat." Ucapnya lalu pergi dengan tenang setelah melirik ekspresi melongo Ama.


Ama menatap telapak tangannya yang berisi kartu berwarna hitam. Ini gila. Entah Ama harus kegirangan karna belanja gratis atau miris karna baru menyadari baru saja Algheza memberi tunjangan kepadanya sebagai anak yatim.

__ADS_1


Dia membuang nafasnya, lalu berjalan kenuju store baju terkenal. Dia harus semangat, kan lumayan belanja gratis. Kapan lagi coba, gak apa-apa Algheza menyebalkan. Yang penting dia selalu diberi gratisan yang membuat uangnya tetap utuh. Pikir Ama sambil mengembangkan senyumnya.


__ADS_2