Serangkai Tiga

Serangkai Tiga
Bandara.


__ADS_3

Semenjak kejadian paska malam itu, Ama lebih banyak terdiam. Terlebih ketika mereka sudah sampai di bandara turun dari kapal. Algheza sendiri memang pendiam kalau tidak Ama yang mengajak berbicara jadinya mereka bersama-sama memilih terdiam.


Ama bergelung dengan kepalanya, rasanya dia ingin menjedotkan kepalanya karna kesalahannya. Dia merasa bersalah pada Algheza karna sudah main menyentuh bosnya itu dengan sembrang, namun bila Ama meminta maaf duluan bisa-bisa reputasinya hancur atau bahkan hal terburuknya adalah dia akan dipecat.


"Kamu mau ikut bareng saya?" Tanya Algheza membuyarkan Ama yang sedang menatap kosong anak kecil yang berada di depan mereka.


Mereka sedang duduk menunggu jemputan. Katanya Pak Ahmad supir Algheza terjebak macet. Maklum saja, ini hari senin jelas pasti macet.


"Euh... Nggak, Pak. Saya dijemput orang kok." Jawabnya namun enggan menatap Algheza.


"Oke." Lalu mereka berdua kembali hening meyaksikan kedua anak kecil yang sedang berebut bebek-bebekan sedangkan ibu-nya mereka sibuk menelpon seseorang dengan wajah penuh ekspresi kesal.


"Woi Amar!" Terisk seseorang dari samping. Ama jelas mengetahui suara siapa itu selain adiknya dan adiknya memang selalu memanggilnya dengan sebutan Amar, sangat tidak sopan sekali bukan bocah ini? Rasanya Ama ingin memukul kepalanya hingga terjatuh jika bukan berada di tempat umum.


Lelaki jangkung yang memakai kemeja kotak-kotak serta kacamata yang bertengger di hidungnya di menambah kesan manis. Dia berdiri di depan Ama dan Algheza.


"Widih yang abis jalan-jalan seger bener mukanye." Ucapnya dengan logat anak-anak Jakarta.


Ama mendelik, seger dari mana? Wajahnya daritadi menampilkan ekspresi datar dan juga resah gelisah. Memang adiknya adalah orang gila.


"Berisik! Nih." Ama melemparkan tas untuk adiknya bawa.


Ama bangkit lalu melirik Algheza sekilas sebelum dia berdehem canggung, "Ekhem... Pak, saya duluan, ya." Pamit Ama tanpa minat untuk memperkenalkan laki-laki yang berada di sampingnya.


"Eh, eh bentar kek. Ini bos lo kan? Gak mau ngenalin ke gue apa?" Bisik Javi tepat di samping Ama.


Walau mereka bisik-bisik, jelas Algheza mampu mendengar bisik-bisik tetangga mereka. Wong, bisik-bisiknya seperti mengobrol biasa.

__ADS_1


Ama membuang nafasnya, "Pak, kenalin ini Javi. Jav, kenalin ini bos gue." Ama mulai mengembangkan senyum palsunya yang ramah tamah itu.


"Algheza." Ulur Algheza berniat berjabat tangan dengan Javi.


Javi langsung membalas uluran itu, "Javi. Seneng bisa ketemu bosnya Ama. Kapan-kapan kalau ada dinas ke keluar negri lagi saya ikut, ya." Iseng Javi membuat Ama menabok bahu lelaki itu lalu mendelik kesal, memalukan.


"Hahaha, boleh." Kekeuh Algheza pelan.


"Pak Algheza! Maaf saya telat, Pak." Ucap Pak Ahmad langsung mengambil tas Algheza untuk dia angkut ke dalam mobil. "Eh, hallo Mbak Ama." Sapanya pada Ama.


Ama tersenyum hangat, "Hallo, Pak. Kalau gitu saya duluan, ya." Pamitnya menunduk pelan. Lalu mengampit lengan Javi untuk dia gandeng dan pergi dari sana.


"Ama!" Panggil Algheza menghentikan mereka.


Algheza berjalan mendekat lalu tangannya mengarah pada kepala Ama dan menepuk pelan, "hati-hati di jalan." Ucapnya lalu pergi meninggalkan Ama dan Javi yang mematung melihat adegan tersebut yang seperti berada di dalam mimpi.


Ama langsung membalikan badannya lagi lalu berjalan lebih dulu, "Sembrangan lo."


Algheza sialan. Karna tindakannya barusan, kepala Ama mulai melayang dengan angan nan juga harapan yang akan terus melayang ingin dia gapai.


...----------------...


* Sebelum Algheza dapet telpon dari kakaknya.


Setiap melihat Kaliel, rasa sakit Inara kembali muncul mengingat kisah antara ibu-nya Kaliel dan Algheza. Daridulu, dia yang selalu menjadi mata saksi kehidupan Algheza hingga menjatuhkan diri pada Arunia. Padahal disana, dia mati-matian mengejar agar dilirik Algheza. Namun Algheza terus menatapnya bagaikan seorang adik, jelas-jelas dia ingin dipandang sebagai wanita yang mencintai seorang laki-laki.


Karna Inara berteman dengan adiknya, Algheza jadi menganggap kalau Inara hanyalah adik kecilnya juga. Inara selalu sengaja ingin main di rumah Kailani agar bisa mencari perhatian dari sang kakak temannya itu.

__ADS_1


Mau seberapa pun usahanya, ternyata Algheza memang tidak akan pernah meliriknya sama sekali.


Hingga dimana titik dia bisa menyela pada kesempatan dalam kehancuran keluarga itu, Inara menawarkan diri untuk menjadi penyelamat. Inara bak penyelamat bagi keluarga Algheza namun tidak untuk Algheza. Inara hanyalah salah satu penghancur kehidupannya.


"Aku rasa Mbak harus bawa Kaliel ke Surabaya." Celetuk Inara saat kedua wanita itu sedang berbelanja.


Kakak perempuan Algheza dan Inara memang tidak akrab-akrab amat, namun Inara terkadang mengajak kakak iparnya itu untuk bertemu.


Jika bertemu berarti ada sesuatu yang dia rencanakan, selama melihat bagaimana jalannya hubungan Inara dan adiknya, Saras jelas tahu kalau istri dari adiknya itu sangatlah licik. Dia bisa memanfaatkan keuntungan hidupnya yang dia punya untuk mendapatkan apa yang dia mau bagaimana pun caranya dan apapun itu resikonya.


"Maksud kamu?" Saras melirik adik iparnya itu yang sedang mengangkat baju untuk dia teliti.


"Mbak kan sama Mas Adiga lagi sibuk di Surabaya. Aku sih kasihan aja sama Kaliel gak yang ngurus. Jadi kenapa gak kalian ajak aja sekalian kesana?" Jelasnya lalu menyimpan kembali baju itu dan mendekat ke arah Syaras untuk berdiri di sampingnya dan mengambil baju yang sedang Saras pegang.


Perempuan ini benar-benar selalu mengintimidasi sekitarnya.


"Aku gak bisa jauhin Kaliel sama Algheza." Ucap Saras sambil menjauhkan pandangannya dari perempuan yang berada di sampingnya.


"Dan membiarkan Kaliel tanpa pengawasan? Mbak tahu sendiri kalau Algheza juga sibuk. Setidaknya kalau Kaliel diajak ke Surabaya kan Mbak bisa ngawasin dia. Bisa ngurus dia dengan baik. Daripada Mbak bulak-balik Jakarta sama Surabaya." Katanya dengan kekeuhan pelan padahal tidak ada unsur melucu.


Saras menghembuskan nafasnya, yang Inara omongkan memang benar adanya. Dia memang seharusnya membawa Kaliel pergi bersamanya karna dia sedang sibuk-sibuknya di Surabaya dan akan menetap disana selama beberapa bulan atau bisa setahun lebih. Saras tidak bisa meninggalkan Kaliel terus menerus.


"Memangnya Mbak gak kasihan sama dia? Sudah ditinggalkan ibu kandungnya sekarang ditinggalkan sama ibu angkatnya. Pasti dia kesepian banget." Tambahnya dengan menatap Saras.


"Tania..." Lirih Saras sambil mengepalkan tangannya, "gak seharusnya kamu ngeluarin kata-kata jahat kamu." Hardinya.


Inara kembali terkekeuh pelan, "jahat darimana sih, aku kan cuman ngutarain opini." Katanya lalu berjalan melewati Saras.

__ADS_1


"Oiya," Dia membalikan kembali tubuhnya menatap Saras yang masih mematung. "Mbak tahu kan apa yang aku maksud? Aku harap Mbak ngerti." Katanya lalu benar-benar meninggalkan Saras yang mengepul dengan emosinya disana.


__ADS_2