Serangkai Tiga

Serangkai Tiga
Permintaan.


__ADS_3

Sebisa mungkin Ama harus menghindari bosnya itu, tapi masalahnya itu adalah hal yang tidak mungkin paling musthail di dunia kecuali dia mengundurkan diri. Bagaiamana bisa dia menghindar dari Algheza kalau kerjaanya saja sehari-hari menjadi buntut Algheza, mengikuti kemana pun bosnya itu bergerak kecuali ke dalam toilet.


Ama sedang melamun di depan komputernya karna sudah membereskan pekerjaanya, di sebelahnya ada Andre yang masih setia menari-narikan jemarinya di keyboard komputernya padahal sudah memasuki pukul 2 sore.


"Eh, gimana kemaren liburan ke Aussie?" Tanya Andre memulai pembicaraan kembali karna melihat Ama planga plongo.


"Ya gitu, biasa aja. Kerja terus rapat. Eh, gue ketemu temen lama deh disana."


Andre mengguk lalu berhenti memainkan jarinya di keyboard dan mulai menyender pada kursinya. "Gak kemana-mana lagi selain kerja?" Tanyanya tanpa memperdulikan cerita Ama soal dia bertemu temannya.


Ama menggeleng, "Nggak. Eh, belanja doang sih soalnya kan mendadak terus gue jadinya bawa cuman 2 baju terus dibelanjain deh sama Pak Algheza." Ceritanya.


"Belanja? Belanja bareng?"


"Nggak. Gue sendiri sih, soalnya Pak Algheza nunggu di starbucks." Ucapnya tanpa menjelaskan lebih detail soal dia belanjain dan soal dia disuruh mencari baju untuk Algheza juga.


"Gak ada yang lain lagi?" Tanyanya kembali penarasan. Penasaran untuk men-tes bahwasannya Ama memang gadis yang bisa dia percaya.


Ama menggeleng lalu membuka ponselnya karna mendapat pesan masuk.


Sejujurnya Andre tidak peduli soal Ama dan Algheza di luar negri itu mau ngapain saja. Mau jungkir bangkit di lautan pun sungguh, rasanya Andre akan segenap mengucapkan 'bodoamat.'


Namun, sangat disayangkan dia tidak tega kemarin mendapatkan sahabatnya masuk ke dalam apartemen menghancurkan kencan buta-nya dengan Bunga. Dia datang dengan mata sembab dan ketika mata mereka berpas-pasan Inara kembali mengeluarkan air matanya. Mau tak mau Andre jadinya harus mengusir halus Bunga karna bagaimana pun prioritasnya adalah Inara.


Andre kira ketika dia meninggalkan Inara di kantor itu pertanda baik. Mungkin, Inara akan mulai memperbaiki hubungannya makanya dia mampir ke kantor suaminya. Ternyata dia malah ngajak ribut suaminya. Andre jadi memijat pelipis, lelah menonton lika-liku kehidupan rumah tangga sahabatnya itu. Semalam suntuk dia hanya bisa menemani dan menonton tangisan Inara tanpa bisa berbuat apa-apa karna gadis itu bungkam.


"Mas lo mau lembur?" Ama membuyarkan lamunan Andre.


"Hah? Kagak. Gue kemaren udah lembur. Mau tidur gue, ah. Capek." Katanya sambil meregangkan tubuhnya agar lebih ringan.

__ADS_1


"Gue mau balik tapi bingung, nih Pak Algheza bakal lembur atau kagak, ya?" Ucapnya dengan lesu sambil memandangi ruangan yang tertutup itu.


Andre ikutan melirik ruangan Algheza, "kagak. Balik aja." Jawabnya.


"Kenapa? Kok lo bisa tau, Mas?"


Bagaimana tidak tahu, kalau Inara sendiri yang berbicara anaknya Algheza akan dipindahkan. Jelaslah daripada menghabiskan waktu di kantor mending dia main ke rumah anaknya, iyakan? Sebelum anaknya benar-benar pergi jauh darinya.


Sebenarnya dia cukup agak merasa kasihan pada Algheza, tapi mau bagaimana lagi. Siapa suruh punya istri setengah stress. Dan wanita setengah stress itu Andre malah ikutan suka pada wanita seperti itu.


Pintu ruangan itu terbuka membuat Ama buru-buru menyembunyikan diri di bawah meja dengan rusuh sampai dia kejedot kursinya sendiri.


"Lo nga-" Sebelum Andre menuntaskan pertanyaanya, Ama memberi kode terlebih dahulu untuk Andre diam.


Algheza memandang meja yang hanya terisi oleh Andre sedangkan Ama entah berantah kemana.


"Risa kemana?" Tanya Algheza pada Andre yang sedang kikuk.


Algheza menggeleng, "ngga. Tadinya saya mau ngajak dia pulang bareng. Karna gak ada dan saya harus cepet-cepet. Jadi, saya duluan, ya." Katanya lalu pergi berlalu meninggalkan Andre dan Ama di bawah sana dengan ekspresi kaget mendengar ajakan dari Algheza.


Apa-apaan orang itu? Sudah gila, ya dia? Pikir Ama.


...----------------...


Algheza turun dari mobilnya dan mendapatkan anak laki-laki berlarian menuju arahnya dengan senyuman sumringah, bahagia. Algheza tidak bisa membayangkan kalau nantinya dia akan susah mendapati pemandangan yang seperti ini, padahal dalam seminggu dia bisa menemui Kaliel 3x atau 2x.


"Papa!" Panggilnya sambil merentangkan tangannya.


Algheza langsung mengangkat Kaliel ke dalam gendongannya, "hi, jagoan! Sudah makan?" Tanyanya sambil berjalan masuk ke dalam rumah Saras.

__ADS_1


Kaliel mengangguk, "udah. Sama Mbak. Papa ngga sama tante Ama?" Tanyanya sambil celingukan ke belakang.


"Hmm?" Algheza mengernyit, mengapa Kaliel malah menanyakan orang asing dibanding ibu tirinya sendiri. "Nggak. Memangnya kenapa?" Kaliel diturunkan di sofa depan televisi bersama Algheza duduk disana.


"Iel kangen main sama tante Ama." Ucapnya sambil membawa remote untuk dinyalakan.


Apapun keinginan Kaliel, pasti akan segera Algheza kabulkan apapun itu bentuknya selama dia bisa usahakan. Apalagi untuk hal seperti ini, jelaslah dia akan segera mengabulkan keinginan anaknya.


"Kaliel mau main lagi sama tante Ama?" Tanya Algheza meyakinkan sambil mengelus kepala Kaliel.


Kaliel mengangguk dengan mata yang menatap Algheza dengan harapan, "iya, Iel pengen main lagi sama tante Ama."


"Oke. Besok kita main ya, pulang Kaliel les." Ucap Algheza membuat ekspresi senyum Kaliel semakin mengembang senang.


"Serius, Pa?!"


Algheza mengangguk yakin, lagian hanya mengajak Ama sih gampang. Dia tinggal suruh Ama menemani Kaliel kembali bermain di timezone.


"Tapi Iel mau ke pantai. Ayok, kita ke pantai, Pa! Ajak tante Ama juga." Ajaknya dengan semangat.


Mata Algheza mengerjap bingung kalau begini, dia memang bisa saja mengajak anaknya itu ke pantai. Tapi kalau bersama Amarisa, bagaimana bisa? Ama mungkin akan setuju kalau hanya disuruh menemani Kaliel tapi kalau jauh sampai Bali memangnya dia mau?


"Papa! Mau, ya?" Pinta Kaliel sambil memegang tangan Algheza.


"Hmm? Besok Papa tanya tante Ama dulu, ya. Takutnya dia gak mau kalau jauh-jauh." Ucap Algheza berniat membujuk dan mengganti keinginan tempat yang mau dia kunjungi.


"Yah... Memangnya kenapa tante Ama gak mau ikut kita ke pantai, Pa? Kan seru. Apalagi kalau Iel main sama tante Ama, makin seru."


"Besok Papa tanya dulu, ya."

__ADS_1


Algheza mengusap wajahnya, bingung. Tapi mungkin besok akan dia tanyakan pada Ama apakah gadis itu mau ikut atau tidak.


"Hi lagi pada ngobrolin apa? Dan Tante Ama siapa?" Tanya perempuan yang mengikat rambutnya asal-asalan tiba-tiba muncul di belakang mereka.


__ADS_2