
Ama melangkahkan kakinya sambil memandang para bocah-bocah kecil berkeliaran. Dari tadi dia membandingkan foto di ponselnya dengan para anak-anak yang sedang berhamburan untuk pulang.
Sejujurnya Ama lebih bingung bagaimana anak sekecil ini sudah di les kan, tidak salah sih soal les. Tapi masalahnya adalah ini les khusus matematika dan hey! Keponakan atasannya itu baru berumur 4 tahun bagaimana bisa anak sekecil itu sudah diajari hal berat. Memang tiadak ada salahnya sih, tapi lebih baik basic saja gak sih? Orang tuanya yang harusnya mengajari mereka.
"Kaliel?" Ama menepuk bahu anak kecil yang sedang memakan sosis dengan lahap sambil duduk, menatap luasnya lapangan taman ini.
Ama sendiri tadi takjub dengan tempat les ini. Pasti mahal bayar les di tempat ini. Hufttt... Dia jadi merindukan masa kecilnya.
Mata anak lelaki itu menatapnya dengan mata membulat lucu. Astaga, bagaimana bisa anak sekecil ini tampannya sudah membuat Ama takjub sendiri. Ini benar-benar gila.
"Hum? Tante siapa?" tanya Kaliel masih dengan memakan potongan sosisnya itu dari tempat makannya.
"Ah, kenalin aku Amarisa. Asistennya Pak Algheza, kamu Kaliel kan? Keponakannya Pak Algheza? Saya disuruh jemput kamu." Jelas Ama ikut duduk di sebelah Kaliel.
Kaliel mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti. "Papa kemana?" Tanyanya sambil mendongak pada Ama.
Papa? Mana Ama tahu! Kenal orang tuanya saja tidak.
"Papa Ghege kemana?" Tanyanya kembali karna tidak mendapat jawaban dari Ama.
Papa Ghege? Maksudnya Algheza? Mengapa anak ini memanggil Algheza dengan sebutan Papa? Ama malah memikirkan hal yang seharusnya tidak dia pikiran sih.
"Oh, Papa Ghege lagi ada urusan, El. El mau sama tante?" Tanya Ama menawari agar bocah itu senang bersamanya bahkan tidak lupa Ama menambahkan bumbu senyuman manis.
"Memangnya kita mau kemana?" Kaliel menyudahi makannya lalu memasukan tempat makannya ke dalam tasnya.
"Umm..." sejujurnya Ama sendiri bingung, Ama tidak biasa mengajak jalan anak kecil. Berdekat-dekat saja membuatnya kleyengan apalagi mengajak bermain. Tapi sepertinya anak ini berbeda, bocah ini kalem. "Kaliel mau ke timezone? Mau main disana?" Tawar Ama.
Kaliel mengangguk kembali lalu bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Mau, mau! Kalau gitu ayok, tante! Oiya, panggil aku Iel aja." Ucapnya sambil memegang tangan Ama.
Lihat betapa mulusnya tangan kecil itu ketika memegang tangan Ama. Kulitnya juga halus sekali seperti bayi. Ama tersenyum melirik Kaliel yang kelihatannya kesenangan.
...----------------...
Sepanjang mereka di timezone tidak lepas dari kekeuhan tawa mereka. Berkeliling mencoba segala permainan yang ada. Ternyata bekerja dengan Algheza ada hiburannya. Seperti sekarang Ama tidak henti-hentinya tertawa melihat kelucuan Kaliel yang sedang bermain kadang dia cemberut ketika dikalahkan oleh Ama.
Sekarang mereka mencoba pernainan Pump it up. Ama sebenarnya tidak jago-jago amat soal bermain ini, tapi dia jelas tidak pernah kalah apalagi saat dia bermain dengan adiknya. Nah, sekarang lawannya yang tingginya jauh dari Ama jelas dia akan kalah kan? Walaupun tadi ketika mereka bermain permainan basket hasil mereka hampir seri. Ama jadi penasaran bagaimana bisa anak ini jago.
"Iel suka main basket?" Tanya Ama sambil menunggu giliran mereka karna sedang ada yang memainkan.
Kaliel mengangguk, "suka. Aku suka main basket sama Papa Ghege." Jelasnya lalu meminum air dari botol minumnya.
Pantas saja bosnya itu tinggi menjulang sudah seperti gapura kabupaten. Ternyata memang menyukai olahraga basket, bahkan kalau dari luar kelihatan saja badannya tegap berisi, bahunya saja lebar begitu bisa dibuat untuk senderan sekampung. Ama menggelengkan kepalanya malah membayangkan atasannya itu.
"Oiya? Iel deket banget sama Papa Ghege, ya?" Tanya Ama kembali ingin tahu tentang bocah kecil itu.
Ama tebak Adiga adalah ayah kandungnya. Kalau Algheza dekat sekali dengab Kaliel kenapa dia tidak membuat anak saja kalau menyukai anak kecil? Daripada merebut anak orang sampai anak ini tidak dekat dengan ayah kandungnya.
Padahal kan kehidupan pernikahan mereka sudah lama. Tapi mengapa belum ada momongan, ya?
Ama menepuk kepalanya dengan keras agar berhenti memikirkan hal privasi kehidupan orang lain. Seharusnya dia lebih memikirkan nasib hidupnya sendiri saja.
"Ayok, El! Udah giliran kita." Ajak Ama sudah bangun dari kursi untuk orang-orang beristirahat.
Kaliel berjalan lebih dulu, bahkan sampai berlari kecil menghampiri pump it up dengan semangat yang membara.
"Mau lagu apa, El?" Ama memilih lagu yang akan mereka mainkan.
__ADS_1
"Heumm... Apa aja Iel ikut."
Oke, bocah ini memang kalem dan penurut. Ama jadi menginginkan anak kalem seperti Kaliel. Berbeda dengan adiknya yang membuat kepalanya kleyengan dulu ketika dia masih kecil. Adiknya itu benar-benar nakal, tidak pernah mau menurut.
Ama memilih lagu random saja, karna dia sendiri juga bingung. Bahkan sudah lama Ama tidak menginjakan kakinya ke timezone. Mungkin saat dulu saja, saat dia liburan dari kuliahnya dan bosan di rumah terus.
Dengan awalan pelan hingga kecepatan yang lumayan memacu adrenalin kakinya. Ama sebisa mungkin menginjak sesuai dengan intruksi dari layar di depannya. Fokusnya lebih memilih ke arah Kaliel yang lebih cepat dan mendapat score tinggi daripada dia. Bagaimana bisa anak sependek ini mengalahkan Ama?! Ama rasanya mau menangis ketika melihat hasil score ketika mereka sudah selesai bermain. Bahkan terpampang nyata wajah melongo Ama menatap layar itu yang menampilkan hasil score mereka.
"Sabar, ya. Kaliel memang jago permainan ini." Ucap seseorang di belakangnya sambil menepuk pelan bahunya. Ama terkesiap menyadarkan plongoannya melirik ke arah Algheza yang berjalan pada Kaliel.
"Papa!" Serunya sambil melompat meminta digendong, bahkan Algheza sendiri tertawa kesenangan dengan membuka kedua lengannya bersiap menggendong Kaliel.
"Hallo sayangnya, Papa." Sapa lelaki tinggi itu sambil mengecup pipi Kaliel yang berada di dalam gendongannya. "Seru mainnya?" Tanyanya sambil mengelus kepala anak kecil itu dengan lembut.
Kaliel mengangguk semangat, "Seru! Iel seneng. Makasih Papa." Ucapnya sambil memeluk leher Algheza.
"Kalau gitu siapa yang mau eskrim? Cung tangannya!" Seru Algheza masih menampilkan senyum tampannya.
Ama menonton pemandangan itu dengan perasaan tergelitik. Ini membuatnya ingin menjerit. Kenapa dia tiba-tiba menimbulkan perasaan kagum seperti ini? Algheza memang loyal kepada karyawannya tapi situasi sekarang berbeda. Ini membuat perasaanya menghangat seketika.
"Iel! Iel mau eskrim, Pa." Kaliel mengacungkan tangannya dengan semangat seraya dengan senyuman paling manisnya.
"Okey, ayok kita cari eskrim." Algheza menurunkan Kaliel agar Kaliel berjalan sendiri selagi mereka saling berpegangan tangan.
"Risa," Panggil Algheza ketika berdiri di samping Ama.
"Ya, Pak?" Jawab Ama dengan cepat karna kesalah tingkahannya.
"Kamu juga mau eskrim?"
__ADS_1
Sebelum Ama menolak Kaliel lebih dulu mengambil tangan Ama untuk digenggam dan ditarik. "Tante ayok beli eskrim sama Iel!"
Dan situasi mereka sekarang seperti pasangan yang sedang menggandeng anak mereka.