Setangkai Mawar Hitam

Setangkai Mawar Hitam
#apa yang terjadi??


__ADS_3

Bunga adalah anak dari profesor Gunawan ilmuan yang sangat berbakat dalam bidang teknologi informasi dan ilmuan terkaya dinegara Y.


Jika dia menganggu Ahza apa yang harus aku lakukan. Bagaimana pun caranya aku akan melindungi Ahza semampuku.


****


1 bulan kemudian, SMA Pertiwi.


Hari ini adalah hari perlombaan futsal antar SMA. SMA Pertiwi menjadi tuan rumah dalam perlombaan kali ini. 10 SMA terbaik di kota X mewakili masing-masing sekolah yang hadir pada hari itu.


Termasuk SMA negeri jaya, Putra teman baik Raffasya dan termasuk orang ketiga dalam hubungannya adalah kapten tim futsal yang mewakili SMA negeri jaya.


Putra melihat Raffasya yang asik merbincang dengan Ahza, Ivan, intan, dan Melati. Putra mencoba untuk menyapa Raffasya.


"Hai!" Sapa putra membuat perbincangan mereka terhenti.


"Maaf kamu siapa ya?" Tanya Ahza ragu-ragu.


Raffasya berbalik dan kaget bahwa itu adalah putra. Raffasya tidak merespon apapun dan tidak menyapa kembali.


"Aku Putra dari SMA jaya teman lama Raffasya" ucap Putra.


"Aku tidak pernah memiliki teman sepertimu" ucap Raffasya membuat semua orang kaget. Putra hanya tersenyum mendengar ucapan Raffasya.


"Kamu masih dendam karena kejadian 5 tahun lalu?" Ucap putra tenang.


"Ayo jangan dengarkan orang ini lebih baik ke pergi" ucap Raffasya dingin.


"Tapi diakan teman kamu" ucap Ahza lembut.


"Aku sudah bilang aku Tidak memiliki teman seperti dirinya" ucap Raffasya.


"Tidak papa kalian jangan ribut maaf sudah mengganggu aku pergi dulu, sampai jumpa" ucap putra sambil berbalik dan pergi.


Raffasya terduduk di kursi disamping tepat dia berdiri dan tidak berbicara sepatah katapun.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" Tanya Ahza.


"Nggak nggak apa-apa" ucap Raffasya.


"Dia siapa Raf?" Tanya Ivan.


"Dulunya teman sekarang musuh" ucap Raffasya singkat.


"Musuh?" Jawab intan, melati, dan Ivan kompak.


"Udah nggak usah dibahas" ucap Raffasya.


"Ya udah mending kamu ke ruang ganti aja ganti pakaian terus siap siap. Aku, intan sama melati duduk di tribun nonton kalian.


Semangat ya" ucap Ahza.


"Okeh" ucap Ivan dan Raffasya.


Mereka berpisah ditempat itu, Ahza dan teman-temannya pergi ketribun penonton sedangkan Raffasya dan Ivan pergi ke ruang ganti pakaian.


****


Raffa, sudah selama ini kamu masih saja begitu. Sebesar itukah rasa bencimu. Bagaiman caranya kita bisa bersama seperti dulu. Haihhh! Semua hanya mimpi.


"Put?" Panggil seseorang dari belakang.


"Ada apa?" Dengan jawaban yang sangat dingin.


"Kok ada apa sih? Buruan kita ke ruang ganti" ucap Deva.


"Oh oke" jawab singkat berjalan menuju ruang ganti.


Ruang ganti,


Brakkk!! Bunyi yang sangat keras mengagetkan aku dengan seluruh timku.

__ADS_1


"Ada apa?" Dengan nada dingin.


"Gue lihat dulu" ucap Reo.


"Put buruan kesini" teriak Reno dari arah pintu masuk ruang ganti.


Putra bergegas menghampiri Reo diikuti oleh Deva dan Dimas.


"Ada apa?" Ucap putra panik.


(Raffa?) Ucapku dalam hati.


"Ayo cepetan angkat rak bukunya terus bantuin dia berdiri" ucapku sambil mengangkat rak buku.


"Raffa? Bangun Raf" ucapku dengan menepuk pipi Raffasya.


(Apa yang terjadi kenapa bisa sampai begini! Pertandingan sebentar lagi dimulai dimana tim Raffa) ucapku dalam hati dengan melihat ke kiri dan kanan.


"Bawa dia ke UKS sekolahnya. Panggil salah satu siswa dari dari sekolah ini" ucap putra.


"Oke tunggu!" Ucap Deva sambil berlari keluar mencari bantuan.


Beberapa menit kemudian, Deva kembali bersama 2 orang siswa dan membawa Raffa ke UKS sekolah.


"Kalian kembali dulu, Deva atur strategi untuk hari ini dan pakai ini" ucap putra smabil memberikan headband ke Deva.


"Loh put, Lo serius?" Tanya Deva kaget.


"Dia temen gue, nggak bisa gue biarin begitu aja. Meskipun dia udah nggak suka sama gue tapi dia tetep temen gue. Lo gantiin gue jadi kapten ntar kalia dia udah sadar gue jadi cadangan" ucap putra panik.


"Ya udah kita ke luar dulu" ucap Deva smabil berjalan keluar UKS.


(Raffa, sebenarnya apa yang terjadi, kejadian ini seperti ada yang janggal. Tidak mungkin rak buku sebesar itu jatuh tanpa sebab, jika Raffa menyentuhnya tidak akan mungkin langsung terjatuh. Liontin batu ini milik siapa? Ini kalung wanita, siapa yang masuk ke ruang ganti pria dan meninggalkan kalung ini) ucapku dalam hati.


(Luka di kepalanya cukup dalam, untung saja sudah diobati, Raffa Lo nggak boleh kenapa-kenapa) ucapku dalam hati.

__ADS_1


****


__ADS_2