
episode 11
Semalam juga tuan Bagas tertawa karena gadis ini.
hahahaha... kau lucu sekali gadis kecillll, aku mau lihat bagaimana caramu membunuhku atau aku akan mengambilkan pisau dan pistol supaya kau bisa membunuhku. Tapi ingat jika kau tak bisa membunuhku maka akan kutunnjukkan bagaimana cara membunuh seseorang dan itu akan kumulai dari ayah, ibu, dan abangmu bagaimana ucap Bagas sambil tersenyum licik.
********, kurang ajar, brengsek teriak Zelfi dengan meletakkan tangannya di pinggangnya. Jika kau menyentuh keluargaku akan kuhabisi kau.....
kenapa gadis kecil ini begitu imut ketika marah, lihatlah tangannya di pinggang.
Hahahaha lucu sekali aku ingin memakannya gumam Bagas dalam hati.
Seketika Bagas mendekati Zelfi
Mau apa kau bajingannnnn.. hah.. teriak Zelfi
Bagas mencengkram dagu Zelfi lalu mencium paksa bibir Zelfi dan **********.
Zelfi memberontak tangannya memukul mukul dada Bagas tetapi kekuatannya tidak seberapa, Bagas sangat kekar dan kuat. Zelfi menangis. Seketika Bagas melepaskan ciumannya.
Manis ucap Bagas
prakkkkkk.....satu tamparan dilayangkan Zelfi ke wajah Bagas.
bajingannnnnnn kau mencuri ciuman pertama ku huahhhhhhhhhhh ( tangis Zelfi pecah) hiks..hiks.... ********....
Bagas yang sempat ingin marah karena lagi lagi Zelfi menampar nya seketika tersenyum mendengar ucapan Zelfi yang menyatakan ciuman pertama Zelfi sudah diambil oleh Bagas.
Zelfi berlari keluar dari ruangan itu dengan sesegukan... sementara Zidan hendak mengejarnya
biarkan saja ucap Bagas...
__ADS_1
baik tuan jawab Zidan...
kau keluarlahhhh ucap Bagas
baik tuan jawab Zidan.
Bagas duduk di kursi kebesarannya sambil menyentuh bibirnya dan tersenyum.
Bibirnya sangat manis bagaimana mungkin dia tidak pernah berciuman sementara aku diumurku yang 15 tahun sudah mencicipi berbagai model wanita dan semua wanita yang menduduki kursi SMA pasti pernah berciuman pada saat itu. Bagaimana mungkin dia tidak pernah berciuman apalagi zaman sekarang, gumam Bagas dalam hati.
hmmm lucu sekali gadis kecil itu.
Disisi lain
Dikediaman rumah pak Hasian..
mah, pah... panggil Zelfi bagaiamana keadaan Abang?
papa tidak tau nak, papa benar benar bingung. Terlebih lagi kita harus mengosongkan rumah ini besok ucap pak Hasian.
papa benar benar bangkrut nak semua akan disita ucap pak Hasian lirih.
belum lagi Abang papa gak bisa ngeluarin Abang dari penjara, padahal Abang ga ada salah tapi Abang harus mendekam di penjara.
Pah, apa tidak ada orang yang bisa membantu kita tanya Mama Zelfi.
Tidak ada mah. Kalaupun ada dia tidak mungkin membantu kita karena dia yang sudah menghancurkan keluarga kita dan tidak mungkin dia mau membantu ucap papa Zelfi lirih.
siapa pa? kenapa dia menghancurkan keluarga kita? apa salah keluarga kita pa? tanya mama Zelfi.
entahlah ma, papa juga tidak tau apa salah keluarga kita padanya ucap pak Hasian lirih.
__ADS_1
Dia tuan Bagas mah..
apa tuan Bagas pa? bagaimana mungkin kita berurusan dengan orang penting seperti dia.
Pantasan teman teman papa tidak ada yang berani membantu kita, ucap mama Zelfi.
Zelfi yang mendengar itu menangis sesenggukan. Ini semua karena diriku gumam Zelfi dalam hati. Hiks hiks..
sayang ucap mama Zelfi sambil memeluk Zelfi, tenang lah nak mama sama papa pasti mencari jalan keluar, jangan nangis lagi nak.
jam menunjukkan jam dua siang, Zelfi bergegas membeli bakso kesukaan nya dan ketika ia lagi pening, diterpa masalah ia akan memakan bakso yang sangat pedas. Menurutnya itu akan mengurangi beban pikirannya.
Zelfi pergi dengan berjalan kaki... ketika ia hendak pulang Bagas melihatnya dari dalam mobil.
Zidan ikuti gadis kecil itu ucap Bagas.
baik tuan, jawab Zidan.
Sesampainya disebuah restoran Zelfi memesan semangkok bakso dan menambahkan 4 sendok cabe dimangkuknya
Apa dia bisa memakannya, bukankah itu terlalu pedas gumam Bagas dalam hati.
Bagas duduk disamping Zelfi dengan pembatas kaca yang tak terlihat.
Kemudian selang beberapa menit Azura dan Mahesa menghampiri Zelfi.
Sebelum Zelfi pergi ke restoran ia sudah menelpon Azura dan Mahesa.
Azura langsung memeluk Zelfi...
begitu juga Mahesa langsung memeluk Zelfi
__ADS_1
Bagas yang melihat itu pun langsung mengepalkan tangannya. Siapa pria itu? kenapa dia memeluk gadis kecilku itu? tanya Bagas kepada Zidan.
Zidan terkejut. Kenapa tuan Bagas bertanya tentang pria itu, kenapa tuan Bagas seolah-olah marah, lihatlah ia mengepalkan tangannya. Lagian apa urusan tuan Bagas. Tuan Bagas menyebutnya gadis kecilku? gumam Zidan dalam hati.