Silent World

Silent World
09. Ingatan masa lalu (2)


__ADS_3

Happy Reading


..."Semua orang punya ingatannya masing-masing"'...


Matahari sudah mulai terbenam, tapi Kyra yang masih saja belajar tidak melihat tanda-tanda dari rumah Derel.


Ia begitu cemas dengan keadaan Derel yang nampak begitu lemas dan juga pucat. Tapi, kekhawatiran mulai menghilang karena ia melihat mobil kedua orang tua Derel yang masuk ke halaman rumah.


"Kyra !!! Udah tuh belajarnya. Waktunya makan malam."


Mendengar teriakan ibunya, Kyra segera menyusun kembali buku-bukunya. Ia segera berpositive thinking karena orang tua Derel sudah pulang ke rumah. Kalau ada apa-apa pasti tidak akan ada masalah.


...***...


Derel terbangun dari tidurnya yang melelahkan. Keringatnya bercucuran di seluruh tubuhnya hingga membuat baju sekolahnya basah kuyup.


Bukannya merasa segar setelah tidur, Derel malah merasakan seluruh tubuhnya nyeri dan panas. Bahkan ia merasakan haus yang luar biasa hingga menyebabkan bibir dan tenggorokannya begitu kering.


Melihat sorot matahari yang mulai menghilang dari fentilasi kamarnya, Derel segera mendudukkan dirinya. Setelah dirasa terkumpul semuanya nyawanya ia lalu berdiri berniat untuk menghidupkan lampu kamarnya.


Derel benar-benar lemas, Bahkan ia harus berpegangan pada dinding hanya untuk berjalan. Perlahan, nafas Derel mulai terasa begitu pengap, bahkan rasanya ia tak memiliki tenaga lagi untuk berjalan. Setelah itu, Derel pun terduduk dengan pandangan yang mulai memudar.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu di depan kamar Derel. Karena tak mendengar jawaban, Pintu kamar Derel pun terbuka lebar menampilkan wanita paruh baya yang merupakan ibunya, Ibu Nitra.


Ibu Nitra begitu Kaget melihat anaknya yang tampak tak berdaya di pinggiran kamar dengan penampilan yang begitu berantakan. Wajahnya begitu pucat, dan matanya nampak begitu sayu tak berenergi.


"Derel ? Kamu kenapa nak ?" Segera Ibu Nitra mengecek suhu tubuh anaknya menggunakan telapak tangannya.


Betapa kaget dirinya merasakan kening anaknya yang begitu panas.


"Kamu kenapa Nak ? Kok badan kamu sepanas ini ?"


Derel tak bisa menjawab pertanyaan Ibunya. Pandangannya semakin kabur bahkan kepalanya semakin pusing. Ia merasa ingin muntah, tapi tak ada yang bisa ia keluarkan.


"Kita ke rumah sakit aja ya ?" Ucap Ibu Nitra yang semakin khawatir.


Derel tak bisa mendengar perkataan ibunya. Rasanya otaknya tak bisa merespon dengan keadaan sekitarnya.


Tak lama setelah itu, Seorang Pria Paruh baya yang merupakan Ayahnya Derel datang dengan penasaran. Pak Handra terdiam beberapa saar menatapi Derel yang nampak begitu lemas.


Ibu Nitra yang melihat suaminya terdiam Segera berteriak.


"Jangan diam aja ! Cepat bantuin !"


Segera Pak Handra membantu istrinya merangkul Derel kembali ke tempat tidur.


Perlahan mata Derel yang nampak Sayu kembali tertutup dengan sempurna. Melihat hal tersebut, Ibu Nitra semakin khawatir dengan kondisi putra semata wayang.

__ADS_1


"Tolong ambilkan Termometer di kotak P3K."


Biasanya Pak Handra akan merasa tersinggung bila di suruh istrinya seperti itu. Tapi, melihat istrinya yang nampak begitu panik ia hanya menuruti tanpa banyak pertanyaan.


Setelah di periksa oleh termometer, suhu Derel ternyata bukan main tingginya. Kurang lebih 40° Celcius.


Wajah Derel yang begitu pucat, dan bibirnya begitu kering membuat hati ibunya hancur. Ibu Nitra merasa tak becus menjadi seorang ibu yang baik bagi Derel selama ini. Bahkan air matanya mulai mengucur setelah dirinya menaruh kompres di kening Derel.


"Cepat sembuh ya Nak, ibu gak pengen liat kamu sakit terus begini." Sambil Mengelus rambut anaknya yang basah dan berantakan, membuat ibu Nitra semakin menangis sejadi-jadinya.


Derel membuka matanya sedikit karena ia mendengar suara tangisan ibunya. Hati Derel begitu hancur melihat air mata ibunya pecah tepat di hadapannya.


'Maafin Derel ya Bun. Derel selalu buat Bunda mengeluarkan air mata. Derel selalu saja menyusahkan bunda.'


Karena tak tega melihat ibunya seperti itu, Derel kembali menutup matanya kembali.


...***...


Sinar mentari pagi mulai memasuki kamar Kyra melalui fentilasi udara. Kyra yang menyadari hal itu pun segera terbangun dari tempat tidurnya.


Setelah di kumpulkannya nyawa, ia pun segera bersiap untuk pergi ke sekolah. Setelah selesai mandi dan mengganti pakainnya, ia pun membuka jendela kamarnya.


Setelah jendela kamarnya dibuka, udara segera pun menyeruak masuk ke dalam kamar Kyra. Tiba-tiba pandangan Kyra teralihkan saat melihat Jendela kamar Derel yang sudah nampak terbuka sedari tadi.


'Kira-kira Derel sekolah gak ya hari ini ?'  Kyra masih khawatir dengan keadaan Derel sejak kejadian kemarin.


"Kyra cepetan !!! Nanti kamu terlambat lho !!!" Teriakan Sara mampu membuat Kyra menyadarkan diri dari lamunannya. Dengan cepat, Kyra pun segera menghampiri Sara yang sedang menyiapkan makanan untuk dirinya dan juga suaminya.


Segera, Kyra pun segera menghabiskan makanan yang di sodorkan oleh ibunya tersebut.


Setelah selesai sarapan, Kyra segera menyalami ibunya lalu menghampiri Ayahnya yang sudah sedari tadi menunggu di mobil untuk mengantarkan dirinya.


...***...


Derel memakai kaos hitam hari ini. Sudah sedari tadi ia melihat ke arah dinding kosong di depannya dengan tatapan kosongnya. Semakin lama ia melihat ke arah dinding kosong itu, semakin ia masuk ke dalamnya.


"Derel !" Panggilan Nitra membuat Derel terlepas dari lamunannya.


"Bunda ?" Derel cukup kaget mengetahui ibunya tidak bekerja.


Nitra segera duduk tepat di samping anaknya dengan bubur di tangannya.


"Makan dulu ya nak !" Ucap Nitra lembut.


Derel segera menggeleng, ia merasa tak berselera sama sekali hari ini. Rasanya setiap apapun yang masuk ke dalam mulutnya akan terasa begitu pahit.


"Nanti kamu tambah sakit lho nak." Ucap Nitra lirih.

__ADS_1


"Ya udah deh." Terpaksa Derel menuruti kemauan Ibunya. Karena ia begitu kasihan kepada ibunya yang menunggunya sejak tadi malam.


Perkataan itu berhasil membuat Nitra tersenyum tipis. Dengan lembut ia menyuapi anaknya. Walau tak habis, setidaknya Derel memakan sesuatu untuk memulihkan metabolismenya.


Setelah itu, Nitra menelpon wali kelasnya untuk mengizinkan Derel hari ini.


"Nadia, Derel Sakit."


"Sakit ? Sakit apaan kak ?"


"Dia demam. Sudah dari tadi malam tapi panasnya gak turun-turun sampai sekarang."


"Kok bisa ? Udah di bawa ke rumah sakit ?"


"Dia mana mau di bawa ke rumah sakit. Kamu tau kan kejadian waktu itu."


"Iya, nanti aku izinin deh."


"Makasih ya Nad."


"Iya kak."


Telpon pun diakhiri. Obrolan mereka begitu akrab seakan-akan bukan seperti hubungan antara wali kelas dengan wali murid. Ya, karena mereka berdua adalah kakak adik. Jadi pembicaraan mereka terkesan nonformal.


...***...


Baron merasa sedikit bosan karena di kelas sendirian sedari tadi. Ia berangkat lebih pagi dari biasanya karena ingin mencontek PR Bahasa Inggris milik Derel. Tapi, sudah sedari tadi ia menunggu tapi tidak nampak sama sekali batang hidung Derel.


Beberapa saat kemudian datanglah Kyra sambil menggendong tasnya.


"Ra, Dateng juga lo !"


Mendengar sapaan dari Baron, Kyra hanya bisa tersenyum tipis. Lalu ia pun duduk tepat di bangkunya.


Baron pun berbalik ke belakang, melihat ke arah Kyra.


"Lo tau keadaan Derel ?"


Kyra hanya menggeleng mendengar pertanyaan dari Derel. Karena ia sama sekali tak tau keadaan Derel bagaimana saat ini.


"Kayaknya dia gak dateng deh. Derel itu bukan tipe anak yang akan datang terlambat."


Mendengar itu, Kyra semakin khawatir dengan kondisi Derel. Kyra juga merasa bersalah karena tidak hadirnya Derel di sekolah.


Entah mengapa Kyra selalu saja merasa bersalah atas apa yang menimpa teman-teman di kelasnya.


^^^Bersambung....^^^

__ADS_1


Mau tau kelanjutannya ?


Dukung Author dengan cara Like, Comment, +Favorite, Vote, dan Gif ya.


__ADS_2