Silent World

Silent World
01. Pertemuan Pertama


__ADS_3

...Happy Reading...


..."Kesan pertama adalah cara orang menilaimu. Sebaik apapun caramu di kesan berikutnya, tapi, kalau kesan pertamamu saja buruk, orang akan selalu menilaimu buruk"...


Terlihat seorang gadis dengan tas besar di sebelahnya tengah kebingungan di tengah terik matahari. Gadis itu menggerakkan kedua tangannya bermaksud untuk bertanya kepada orang lain. Tapi, orang yang tak mengerti maksudnya malah memberi uang karena merasa kalau gadis tersebut perlu di kasihani.


Gadis itu bernama Kyra Aadvika atau yang lebih akrab di panggil Kyra. Saat ini Kyra berada dalam kebingungan yang begitu besar. Ia sendirian di trotoar sambil menatap sebuah kertas yang bertuliskan sebuah alamat.


Itu adalah alamat rumah orang tuanya. Sudah sekitar 6 tahun Kyra tak pulang. Ia bahkan tak tau kemana jalan menuju ke arah rumahnya.


Tantenya Kyra harus menghadiri rapat yang sangat penting, jadi ia hanya memberikan sebuah kertas alamat kepada Kyra. Tantenya berpesan setelah turun dari kereta, kyra harus memanggil taxi dengan melambaikan tangannya. Setelah itu, Kyra harus  memberikan alamat itu kepada supir taxi yang akan ia naiki.


Tapi, entah mengapa sepertinya Kyra lupa akan pesan tantenya tadi. Kyra tidak memanggil taxi dan malah menaiki sebuah bus yang tak jauh dari stasiun. Ia baru mengingatnya setelah dirinya sudah sampai entah ada di mana.


Tiba-tiba dari belakang, seseorang menepuk bahunya dengan cukup pelan. Dengan cepat, Kyra berbalik menghadap orang yang telah menepuk bahunya.


Tampak wajah seorang laki-laki yang memakai earphone di telinganya dengan tatapan yang begitu tajam. Ia mungkin saja masih berumur belasan tahun, karena wajahnya cukup terlihat muda.


Kyra tampak kebingungan dengan orang di depannya. Ia begitu gugup dan takut kalau orang di depannya akan melakukan hal buruk kepadanya.


Tak di sangka, Laki-laki tersebut menggerakkan kedua tangannya untuk membentuk sebuah kata yang benar-benar bisa di mengerti oleh Kyra.


'Kamu butuh bantuan ?'


Kyra refleks saja mengangguk melihat apa yang di ucapkan laki-laki di depannya menggunakan bahasa isyarat.


'Apa yang bisa saya bantu ?'


Tanpa pikir panjang, Kyra langsung saja menyerahkan kertas yang berisi sebuah  alamat rumahnya.


Laki-laki itu nampak begitu serius memperhatikan setiap bacaan di kertas sekecil nota tersebut. Laki-laki itu merasa begitu familiar dengan alamat yang tertulis di sana.


Kyra menepuk bahu laki-laki itu dengan lembut. Ia ingin tau sekali apakah laki-laki di depannya itu tau dengan alamat yang ia berikan.


Laki-laki itu kemudian menggerakkan kedua tangannya untuk berkomunikasi dengan Kyra.


'Alamat yang kamu berikan ini tidak jauh dari sini. Kalau kamu tidak keberatan saya akan mengantarkan kamu ke alamat ini.'


Kyra mengembangkan senyuman indahnya, lalu mengangguk dengan semangat. Akhirnya tak lama lagi ia akan bertemu dengan orang tuanya.


Setelah itu mereka pun berjalan bersama berdampingan. Laki-laki itu juga dengan senang hati mengangkat tas berat milik kyra.


...***...

__ADS_1


Seorang wanita paruh baya, nampak begitu gelisah di depan terasnya sambil memegang ponselnya begitu erat. Ia juga nampak mondar mandir tak tenang.


Wanita itu bernama  Rukmasara, atau biasa di panggil dengan nama Sara. Ia adalah ibu dari Kyra Aadvika. Mengetahui anaknya yang tak kunjung sampai rumah, ia begitu khawatir. Harusnya sudah satu jam yang lalu Kyra sampai rumah dengan Taxi. Tapi, kenyataanya sudah di tunggu dari tadi, tapi tak kunjung ada kabar.


"Kyra kemana sih....." Ujar Sara sambil menggigit jari telunjuknya.


Beberapa menit kemudian, datanglah sosok yang nampak begitu asing tapi begitu di nanti menuju ke arahnya.


Sara pun dengan cepat membuka gerbang pintu rumahnya yang hanya setinggi pinggul orang dewasa, lalu berlari ke sosok yang begitu ia nanti.


Ya, dia adalah Kyra. Darah dagingnya yang sedari tadi ia khawatirkan.


"Kamu kemana aja sih nak ?" Ucap Sara dengan nada khawatir dan air mata yang mulai turun.


Kyra yang mengeluarkan air mata keharuan itu mulai berucap menggunakan kedua tangannya.


'Tadi, aku tersesat bu. Aku gak tau jalan  menuju kesini. Tapi, orang baik ini membantu aku menuju kerumah.'


Kyra menoleh ke arah laki-laki muda yang sudah membantunya pulang ke rumah.


Sara mengalihkan pandangannya dari wajah anaknya, lalu melihat sosok laki-laki di samping anaknya dengan wajah penasaran. Ia merasa seperti kenal dengan sosok di sebelah anaknya.


"Kamu...... Anaknya........ Ibu Nitra ya ?"


Laki-laki itu dengan cepat mengangguk dengan wajah yang tersenyum.


"Wah, makasih ya nak Derel. Tante gak nyangka banget, Ternyata kamu yang mengantarkan anak tante sampai rumah."


Derel hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Tante, saya pulang dulu ya."


"Iya, hati-hati ya. "


Kyra menggerakkan tangannya lagi, untuk mengucapkan  'terima kasih' kepada Derel.


Derel pun menyautinya dengan bahasa isyarat yang tentu saja pasti di mengerti oleh Kyra.


Setelah itu, Derel pun meninggalkan tas milik Kyra di dekat Sara, lalu berjalan santai menuju rumahnya.


Sara mengangkat tas anaknya yang di tinggalkan oleh Derel. Lalu mengajak anaknya untuk masuk ke dalam.


"Ayo nak, kita masuk !"

__ADS_1


Kyra hanya mengangguk dan mengikuti langkah ibunya masuk ke dalam rumah.


...***...


Kyra begitu takjub melihat rumahnya yang begitu sederhana tapi, sangat di rindukan oleh kyra. Aroma makanan khas rumah yang mengisi seluruh ruangan membuat perut Kyra berbunyi dengan kerasnya.


"Kyra, kamu udah makan belum."


Kyra menggeleng sambil cengengesan. Ya, sedari ia masuk bus ia belum mendapat asupan makanan yang membuatnya bersemangat.


"Ya sudah, sana mandi dulu. Habis itu kita makan."


Kyra hanya mengangguk menanggapi perintah ibunya. Ya, tentu saja pertemuan pertama seperti ini membuat Kyra begitu patuh. Ia tak ingin membuat ibunya sakit hati di pertemuan pertama mereka kembali.


...***...


Kyra berbaring di kamarnya sambil membaca buku. Setelah makan membuat dirinya begitu lelah.


Suara ketukan membuat Kyra harus bangkit dari kegiatannya. Ia sudah tau kalau yang mengetuk itu pasti ibunya. Oleh karena itu, Kyra pun membuka pintu kamarnya lalu duduk di ranjangnya.


"Lagi ngapain sih ?"


Nampaknya Sara begitu rindu dengan anaknya. Ia bahkan tak ingin melewatkan satu detik saja bersama anaknya.


Kyra memberitahu ibunya dengan bahasa isyarat.


'Ini, Kyra lagi baca buku Bu.'


"Rajin banget anak ibu." Kemudian, Sara duduk tepat di samping anaknya.


Kyra tiba-tiba kepikiran dengan laki-laki yang telah menolongnya.


'Bu, laki-laki tadi itu siapa ?'


"Dia itu Derel, anak tetangga kita."


Kyra begitu kaget, ternyata orang yang telah menolongnya tadi tetangganya.


"Kamu tau gak, dia itu juga seumuran lho sama kamu."


Kyra tak merasa heran mendengar hal itu, karena Derel nampak begitu muda seperti anak yang berumur belasan tahun.


Mau tau kelanjutannya ?

__ADS_1


Dukung Author ya,


^^^ Bersambung......^^^


__ADS_2