Silent World

Silent World
10. Derel


__ADS_3

...Happy Reading...


Nadia menjenguk Derel seusai mengajar, tampaknya kini Derel sudah lebih baik dari sebelumnya. Bahkan kini ia bisa membuat PR Matematika yang sebelumnya di beri Ibu Nadia.


"Derel ?!"


Derel segera mengalihkan pandangan dari bukunya. Ia melihat wajah Tantenya yang juga merupakan Wali kelas di sekolahnya yang terlihat begitu khawatir.


Segera Nadia pun duduk di sebelah Derel yang masih terduduk di ranjangnya.


"Kok bisa kayak gini sih ?"


"Ini demam biasa kok Tan, gak usah terlalu khawatir."


Nadia mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Baguslah kalau begitu. Ini bukan gara-gara Bus itu."


Seketika mata Derel membulat dengan sempurna. Hatinya berdetak dengan cepat seketika setelah Nadia menyebutkan kata Bus.


Derel mulai mengeluarkan butiran-butiran dari netranya. Ia berusaha menahan tangis, tapi tetap saja butiran itu keluar dari matanya.


Seketika Nadia memeluk Derel, ia merasa bersalah karena telah mengatakan kata yang tidak harusnya dia ucapkan. Karena kata yang ia sebutkan sebelumnya adalah kata-kata.


"Maaf ya, Tante kira kamu udah bisa ngelupain semua itu."


Derel hanya terdiam. Ia masih berada di bawah rasa traumanya yang begitu mendalam.


...***...


1 Tahun yang Lalu.....


Selesai Ujian Akhir SMP


Ujian akhir pun selesai, tapi banyak siswa yang masih pusing 7 keliling karena harus mendaftar di sekolah favorit mereka begitu juga dengan Derel.


Derel berniat ingin masuk ke sekolah ternama melalui jalur prestasi yang ia miliki. Walau tidak mudah, Derel tetap ingin berusaha.


Setelah pulang sekolah, Derel duduk di bangku Halte sambil membaca sebuah buku berisikan rumus-rumus Matematika. Entah apa yang merasuki Derel, dia sangat menyukai matematika. Bahkan ia mengetahui Matematika tingkat SMA seperti Trigonometri, walau cuma dasarnya saja.


Ini adalah kali kedua Derel menaiki Bus setelah pulang sekolah karena ia tak di jemput oleh Ayahnya yang sedang keluar kota.


Setelah bus sampai di Halte, Segera Derel memasuki Bus dengan tenangnya. Derel duduk tepat di kursi Kosong paling belakang sambil tetap membaca bukunya.


Setelah itu, Bus pun melaju kembali dengan kecepatan yang normal. Lalu tiba-tiba 3 penumpang memakai masker yang duduk di depan menyodongkan pisau ke arah semua penumpang.


"Jangan bergerak!" Teriak salah satu Perampok.


Salah satu perampok mendekati Supir sambil mengamcam menggunakan Pisau tepat di leher.


"Jangan berhenti dan terus jalan !"

__ADS_1


Refleks saja sang supir pun gemetaran saat mengemudikan busnya.


Tiba-tiba salah satu Perampok yang masih menodongkan pisau ke arah penumpang terhenti pandangannya ke arah Derel.


Perlahan, perampok yang nampaknya seorang Pria itu segera mendekati Derel.


"Cih, Anak SMP ?" Ucap Perampok itu sambil terus mendekati Derel.


"Emangnya kenapa kalau saya anak SMP ?"


Perampok tersebut membuka maskernya tepat di hadapan Derel. Betapa terkejutnya Derel melihat wajah orang tersebut. Bahkan ia tak berkedip melihat sosok yang nampak mirip dengan sosok familiar yang ia kenal.


"Kamu harusnya gak melihat semua ini." Perampok tersebut menusuk perut Derel menggunakan Pisau.


"Akhhhhh" Teriak penumpang lainnya yang melihat.


Tiba-tiba Bus melaju dengan kecepatan tinggi sehingga banyak orang yang tersungkur. Beberapa detik setelah itu, Bus menabrak salah satu rumah warga.


Brakkkk......


Duarrr.......


Bus tiba-tiba meledak dan terbakar di bagian depan. Tapi, untunglah Derel tidak menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Tapi, tak ada satu pun dari mereka yang menyadari kalau ada perampokan di dalamnya sebelumnya dan menyimpulkan kalau bus tersebut hanya kehilangan kendali karena remnya Blong.


Orang-orang yang selamat juga tak memberitahukan hal yang sebenarnya terjadi. Karena mereka masih terngiang-ngiang dengan hal yang mengerikan tersebut begitupun dengan Derel.


Derel menghabiskan waktunya kurang lebih selama sebulan penuh di rumah sakit. Karena hal itu, Derel jadi tidak bisa Ikuti Ujian masuk sekolah favoritnya. Dan berakhir dengan sekolah di dekat rumahnya.


...***...


Baron dan Kaila duduk bersama di kantin sambil menyantap makanan yang di sediakan sekolah.


"Derel gimana ya keadaanya ? Kangen nih ?"


Kyra hanya mengangguk mengiyakan Pertanyaan Baron kepada dirinya sendiri.


Tiba-tiba Nafya dan teman-temannya datang mendekati Kyra.


"Wih, Enak kali sih hidup Lo Bisu ? Udah bisa duduk berduaan sama Anak basket terpopuler di sekolah." Ucap Nafya dengan nada centilnya.


"Apaan sih maksud Lo Nafya ?" Tanya Baron bingung.


"O... iya. Gimana keadaan lo setelah kemarin ? Pasti sakit ya ? Kasian..." Ucap Nafya sambil menyentuh rambut Kyra dengan lembut.


"Naf, kayaknya dia butuh obat deh. Kan kemarin dia sakit." Usul Yisha sambil mengeluarkan Botol air mineral.


"Bagus juga usulanmu !" Jawab Nafya.


Baron yang melihat hanya bisa terdiam sambil mengepal tangan kuat-kuat.


Segera setelah Yisha membuka tutup Botol air mineral, Nafya pun menuangkan air tepat di piring makanan Kyra.

__ADS_1


"Kalau minum obat itu harus minum air yang banyak biar gak keselek !" Ejek Nafya.


Segera teman-teman Nafya yang lainnya tertawa lepas melihat kejadian tersebut. Sedangkan Kyra hanya bisa pasrah di kepung dengan teman-teman Nafya dan melihat bajunya basah kembali akibat terciprat minuman yang di tuangkan Nafya di piring makanannya.


Karena tak tahan, Baron pun segera menghentakkan meja dengan kuat.


"Woy !"


Seketika semua yang berada di kantin melihat ke arah Baron.


"Lo tau gak ini salah ?"


"Apannya yang salah ?" Tanya Nafya pura-pura tidak tau.


"Lo bilang apanya yang salah ? Lo bisa mikir gak sih ?"


"Bisa."


"Terus kenapa lo nyakitin Kyra ?"


"Siapa yang nyakitin sih ? Buktinya dia aja seneng. Iya kan ?"


Kyra hanya terdiam dan tak melakukan apapun.


"O... iya lo kan gak bisa jawab karena lo Bisu. Hahahahhahahahahahha." Ketawa Nafya kembali pecah bersama dengan teman-temannya.


Melihat tatapan Baron yang semakin menggebu-gebu, Nafya bersama teman-temannya memutuskan untuk pergi.


"Ada yang lagi marah guys karena ceweknya di ganggu. Ayo pergi !" Langkah kaki Nafya di susul yang lainnya.


"Lo gak apa-apa ?" Baron segera duduk tepat di samping Kyra.


Kyra hanya bisa mengangguk menanggapi pertanyaan dari Baron. Ya, Kyra tak bisa melakukan apapun sendirian. Ia begitu lemah karena tak bisa melawan Nafya dan gengnya.


"Maaf, gue gak bisa ngelakuin apa-apa. Padahal semua itu di depan gue. Gue benar-bener minta maaf Ra."


Kyra menatap wajah Baron dalam-dalam. Ya, tampak sekali bahwa Baron begitu menyesal karena tak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan Kyra dari pembullyan.


Kyra segera menggeleng, ia tak ingin seseorang merasa bersalah atas apa yang sebenarnya bukan kesalahannya.


Kyra segera membentuk sebuah kata dengan tangannya.


'Ini bukan salah kamu. Ini salah aku.'


Walau tidak mengerti bahasa isyrat, Entah mengapa Baron mengerti apa yang di bicarakan Kyra.


^^^Bersambung....^^^


Mau tau kelanjutannya ?


Dukung Author dengan cara Like, Comment, +Favorite, Vote, dan Gif ya

__ADS_1


__ADS_2