
...Happy Reading...
Baron duduk sendirian di kelas di jam istirahat. Suasana begitu hening di dalan kelas, tapi entah mengapa terdengar begitu berisik di telinga Baron.
Beberapa kali, Baron mengacak-acak rambutnya. Ia benar-benar penasaran dengan siapa yang mulai mengganggu kehidupan dirinya dan temannya.
Hal, ini menjadi tanda tanya yang begitu besar di kepala Baron. Apalagi, Derel sama sekali tidak ingin memberitau siapa pelaku sebenarnya.
"Wah, sepi bener nih kelas !"
Seorang cewek yang berseragam sekolah, masuk ke dalam kelas. Ia adalah Qiran, siswi baru yang baru saja masuk kemarin.
Qiran segera duduk di bangkunya, tepatnya di sebelah Baron dengan santainya.
"Ngapain lo kesini ?"
"Ini kan kelas gue juga Ron. Emangnya gue gak boleh gitu kesini ?"
Pernyataan Qiran tak ada salahnya. Memang benar dia sudah resmi menjadi anggota kelasnya.
"Kok, lo murung banget sih dari tadi ? Terus kenapa lo gak sama temen-temen lo."
"Kepo."
Baron memang sedari tadi berusaha keras menghindari Derel. Walau Derel memang nampak sibuk karena ia harus menyiapkan olimpiade matematika yang akan terjadi dalam waktu dekat ini.
"Ngomong-ngomong, Kyra gak masuk ya hari ini."
Kyra memang tidak masuk sekolah hari ini karena ia sakit.
Membicarakan soal Kyra, membuat Baron mengingat pecahan-pecahan ingatan yang baru saja terjadi kemarin.
"Tunggu dulu. Lo, yang nolong Kyra pertama kali kan ?"
Qiran hanya mengangguk mendengar pertanyaan Baron.
"Lo tau Kyra di ganggu siapa ?"
Sebenarnya Baron sudah tau siapa dalang di balik ini semua. Yaitu Nafya. Tapi, bisa saja bukan Nafya pelakunya melainkan orang lain. Ia tak ingin menuduh tanpa adanya bukti.
"Gue gak tau soal itu. Karena pas itu gue nolong Kyra pas dia udah di kunci di toilet. Entah siapa lah yang kunciin dia."
Ternyata Qiran tidak tau siapa pelaku sebenarnya. Kalau pun di pertanyakan lebih lanjut pasti ia tidak bisa menjawabnya.
"Huh....." Baron menghembuskan nafasnya yang panjang.
__ADS_1
"O... iya. soal anak yang duduk di belakang lo. Dia kok pucet banget sih. Terus pakai Hoodie hitam lagi."
Baron tau mengapa Derel seperti itu. Baron mengerti kalau Derel adalah tipe orang yang sangat-sangat menutup diri soal kondisinya. Karena baju sekolah hanya selengan, ia mau tau mau harus memakai pakaian yang panjang untuk menutup memarnya.
Untunglah, peraturan sekolah menetapkan di perbolehkannya memakai pakaian seperti Hoodie dan Sweater apabila sakit. Dan apabila tak sakit juga di perbolehkan, tapi hanya di sekolah. Kalau sudah sampai di lingkungan sekolah mau tak mau harus di lepaskan.
"Kok lo kepo banget sih sama urusan orang lain ? Urusin aja urusanmu sendiri !"
Qiran tak puas akan jawaban Baron. Lalu ia pun memutuskan untuk keluar kelas. Saat ia mulai beranjak dari bangkunya, tiba-tiba ia pun tertabrak oleh seseorang.
Untunglah Qiran tak terjatuh. Tapi, ia pun mulai mendongakkan kepalanya melihat siapa yang menabraknya. Karena yang menabraknya lebih tinggi dari pada dirinya.
"Maaf." Yang menabrak Qiran adalah Derel.
Setelah mengatakan satu kata ajaib tersebut, Derel pun kembali ke tempat duduknya. Lalu, ia pun membaringkan kepalanya di atas meja dengan wajah yang bertumpu pada tangan yang di lipat.
Qiran yang awalnya ingin pergi itu pun mengurungkan niatnya karena bel masuk sebentar lagi akan berbunyi.
...***...
Tumpukan buku tertumpuk begitu rapi di meja belajar Kyra. Sambil mendengarkan vidio seorang yang sedang mengajar, Kyra pun mulai menulis satu persatu kata di bukunya.
Sebenarnya Kyra tak benar-benar sakit. Ia di suruh Ayahnya untuk istirahat di rumah dan jangan kesekolah dulu. Karena Ayahnya begitu khawatir kalau saja anaknya akan di ganggu kembali.
Seorang wanita paruh baya tiba-tiba masuk ke dalam kamar Kyra yang tidak di kunci sama sekali.
Ternyata itu adalah Ibunya sendiri.
"Kyra," Panggil Sara dengan nadanya yang lembut.
Mendengar panggilan yang begitu lembut tersebut, membuat Kyra segera bangkit dari kursinya untuk memeluk ibunya.
"Kamu kenapa kemarin nak ?" Sara memeluk putrinya dengan begitu erat hingga ia merasakan tubuh anaknya bergetar begitu kuat.
Kyra terus menerus mengeluarkan air matanya dan hanya terdiam di pelukan ibunya.
Sara adalah kekuatan terbesar untuk Kyra saat ini. Sara adalah sosok ibu yang paling mengerti tentang anaknya.
Bahkan ia Sara sampai tak berbicara dengan Kyra kemarin. Karena ia tau kalau Kyra sedang rapuh pada saat itu dan butuh ketenangan bukan pertanyaan.
"Kamu yang sabar ya Nak. Ayah kamu begitu karena sangat khawatir sama kamu."
Kyra hanya mengangguk pelan dan terus menangis di pelukan Sara. Karena Ia tak tau lagi untuk menjawab pertanyaan ibunya. Karena keadaan yang membatasi dirinya.
...***...
__ADS_1
...Semua murid berhamburan menuju keluar gerbang karena jam sudah menunjukkan jam pulang....
Begitu juga dengan Baron yang berjalan menuju Parkiran. Tapi, tiba-tiba langkahnya berhenti begitu saja saat ia merasa ada yang mengikuti dirinya.
Segera Baron pun berbalik. Ia begitu penasaran dengan siapa yang mengikuti dirinya.
"Derel ?!" Baron bingung, mengapa Derel sampai mengikuti dirinya diam-diam.
"K-kyra dalam masalah Ron."
Tiba-tiba kata-kata itu lamgsung keluar begitu saja dari mulut Derel.
Mendengar hal itu, Baron pun segera mendekati Derel. Ia begitu penasaran mengapa Derel bisa mengatakan hal seperti itu begitu saja.
"Apa maksud lo ?"
Bukannya menjawab, Derel malah mendekatkan mulutnya ke arah telinga kanan Baron. Derel membisikkan sesuatu yang hanya bisa di dengar Baron.
Mendengar bisikan tersebut, mata Baron pun seketika membulat. Ia begitu kaget dengan pernyataan Derel.
Lalu, Derel pun segera pergi meninggalkan Baron sendirian dalam kebingungannya.
"Gak mungkin." Ucap Baron saat Derel sudah semakin jauh dari dirinya.
"Kenapa ?"
Baron masih berada di dalam tanda tanya yang begitu besar. Ia bingung bahkan sampai kakinya tidak ia gerakkan sedikitpun dari tempat ia berdiri.
...***...
Baron menuangkan air dari teko menuju gelasnya. Ia masih kepikiran dengan apa yang di bisikkan Derel kepada dirinya.
Hingga air yang di dalam gelasnya itu pun tanpa sadar tumpah karena kepenuhan.
Karena air tumpah hingga mengenai kakinya, Baron pun segera sadar dari lamunanya.
Segera Baron pun menaruh kembali tekonya ke tempat semula. Lalu, ia pun segera membersihkan air yang tumpah membasahi meja dan lantai rumahnya.
"Baron ! Lo kenapa sih ? Itu gak mungkin terjadi kan ? Gimana bisa mereka tau kalau gue suka sama Kyra ?"
Baron begitu khawatir kalau saja apa yang di bilang Derel kepadanya akan menjadi kenyataan.
^^^Bersambung....^^^
Mau tau kelanjutannya ?
__ADS_1
Dukung Author dengan cara Like, Comment, +Favorite, Vote, dan Gif ya.