
Happy Reading
..."Kenapa kalian semua jahat ? Aku ini sama seperti kalian"...
Kyra membersihkan wajahnya di toilet sekolah. Melihat wajahnya di toilet membuatnya begitu sedih. Ia sangat begitu menyedihkan dengan penampilannya yang begitu berantakan.
'Kenapa ? Kenapa mereka semua jahat ? Kenapa gak ada yang peduli sama aku ?'
Kyra merenungi perbuatan Nafya dan teman-teman yang selama ini ia rasakan. Rasanya begitu menyakitkan, ia tak tau harus bagaimana. Ia tak bisa melawan. Ia juga begitu lemah.
Setelah 15 menit berlalu, Kyra pun mengahapus semua air matanya. Lalu pergi ke luar toilet.
Ternyata di luar sudah ada Baron yang sedang menunggunya sedari tadi.
"Udah siap ?"
Kyra hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Baron.
"Ya udah, kita ke kelas yuk !"
Kyra segera mengikuti langkah kaki Baron yang berada di depannya. Sebenarnya setelah mendengar ucapan Nafya, Kyra merasa tak pantas berada di dunia orang-orang normal berada.
Kyra juga merasa tak pantas berada di samping Baron. Karena Baron adalah anak Basket yang paling populer di sekolah. Banyak siswi-siswi yang berlomba-lomba mendekatinya dan meminta nomornya. Tapi, semua itu di tolak mentah-mentah oleh Baron. Karena ia adalah Tipe orang yang tidak mau di kejar tapi mengejar.
Ada beberapa cewek yang di dekati Baron. Setelah cewek yang di dekatinya Suka dengan dirinya, Baron pun akan pergi layaknya seorang Play Boy.
Baron tiba-tiba berhenti sehingga Kyra yang sedari tadi hanya berjalan dengan pikirannya yang kosong menabrak tubuh Baron.
"Kok Lo jalan di belakang gue sih ?" Baron segera mundur beberapa langkah untuk menyesuaikannya dengan langkah kaki Kyra.
Kyra hanya terdiam saja sambil terus memandangi Baron.
"Lo kenapa Ra ?"
Kyra hanya menggelengkan kepalanya. Lalu lanjut kembali berjalan. Segera Baron pun mengikuti Kyra sambil berjalan di sampingnya.
...***...
Jam Pulang sekolah....
Kring....
Kring....
Kring ....
Waktu yang ditunggu-tunggu siswa akhirnya tiba juga. Tak terasa akhirnya waktu pulang pun tiba. Banyak siswa berbondong-bondong segera keluar gerbang sekolah. Begitupun dengan Kyra dan juga Baron.
"Kyra !"
Segera Kyra pun menghentikan langkahnya.
"Ni, nomor gue. Di simpen ya." Baron segara memberikan sebuah kertas berisikan angka-angka yang merupakan nomor hp Baron.
"Nanti kalau ada kabar terbaru dari Derel atau apapun yang mau lo bilang sama gue. Hubungi aja gue ya."
Kyra segara menerima nomor milik Baron tersebut lalu memasukkannya ke dalam saku.
"Nanti Chat gue ya !" Baron segera berlari ke arah parkiran motor sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
Kyra pun menyautinya dengan lambaian tangannya juga dan senyuman yang terukir di wajahnya.
Segera, Kyra pun lanjut berjalan menuju ke luar gerbang untuk menemui ayahnya. Untunglah rambutnya yang basah tadi cepat kering karena sinar matahari yang begitu terik. Jadi, sudah di pastikan ayahnya tak akan khawatir dengan keadannya.
Benar seperti dugaannya, Dharma sama sekali tak menanyakan hal yang berbeda dari dirinya seperti sebelumnya.
"Gimana sekolahnya tadi ?"
Kyra segera menjawab pertanyaan Ayahnya dengan bahasa isyarat.
'Biasa aja kok Yah.'
"Baguslah kalau begitu. Ya udah cepet masuk !" Dharma membukakan pintu untuk putri tunggalnya tercinta.
Segera, Kyra pun memasuki mobil dengan senyuman indahnya. Nampaknya Kyra saat ini bisa menyembunyikan semua hal buruk yang dialaminya dengan sangat rapat.
...***...
...Derel mengerjakan beberapa soal matematika agar ia tak terlalu memikirkan hal yang membuatnya pernah menyesal mengapa ia masih di beri nafas setelah kejadian mengerikan itu....
Dokter psikolog sebenarnya meyarankan melukis atau membaca untuk menghilangkan rasa trauma yang di alami Derel. Tapi, anehnya Derel malah memilih Matematika untuk menghilangkan rasa trauma yang mungkin saja sampai kapanpun akan membekas di kepalanya.
Tok...
Tok...
Tok....
Nitra masuk ke kamarnya putranya yang tak terkunci sambil membawakan obat.
"Derel ?!"
Derel hanya menatap kosong ke arah ibunya yang sudah membawakan air putih dan obatnya.
Tanpa bicara, Derel pun segera meminum obat kapsulnya untuk mengurangi panasnya.
Nitra hanya tersenyum melihat anaknya yang meminum obat dengan cepat. Sebenarnya ia sangat bingung dengan pola pikir anaknya yang menjadikan matematika sebagai obat traumanya. Tidak seperti anak-anak lain yang menggunakan musik, lukisan atau hal-hal yang menyenangkan tanpa harus memikirkannya seperti Matematika.
"Derel, Bunda boleh tanya gak "
"Tanya apa Bun ?"
"Kenapa kamu suka banget sama Matematika."
"Sebenarnya Derel gak suka sih. Tapi, setelah memikirkan semua angka-angka matematika yang rumit ini, Derel sampai gak pernah kepikiran apapun."
Bahkan sebelum kejadian mengerikan itu, Derel sudah menjadikan Matematika sebagai pelampiasan amarahnya dan hal-hal yang sangat ia tak sukai. Terkadang ia juga menulis untuk mengingat semua hal yang terjadi suatu hari nanti.
"O... begitu. Ya udah habis ini kamu istirahat ya. Biar besok bisa sekolah."
Derel hanya mengangguk. Keadannya sudah lebih mendingan dari keadannya yang tadi pagi.
Setelah itu, Nitra pun segera meninggalkan putranya sendirian bersama Matematika.
...***...
Setelah membersihkan badannya, Kyra segera menuju meja belajarnya. Tiba-tiba pandangan matanya menatap Derel yang juga menatap dirinya.
'Derel ? '
__ADS_1
Derel hanya terus melihat Kyra tanpa ekspresi sama sekali. Lalu menutup jendelanya dengan sangat rapat.
'Apa Derel Udah sembuh ya ?'
Kyra begitu penasaran dengan keadaan Derel saat ini. Tapi, ia tak bisa menanyakan langsung ke orangnya. Padahal jarak rumahnya begitu dekat, tapi rasanya begitu sangat jauh.
Tiba-tiba kyra teringat akan pesan Baron tadi. Segera ia pun mengambil ponselnya untuk memasukkan nomor hp Baron.
^^^Hai, Aku Kyra.^^^
Pesan singkat itu tanpa ragu Kyra kirimkan ke nomor terbaru yang masuk ke ponselnya.
Beberapa detik kemudian, Nomor Baron mulai mengetik.
Hai, Kyra. Aku Baron.
Melihat jawab dari Baron membuat Kyra geleng-geleng kepala. Ia tak percaya Baron mengirim pesan seperti itu kepada dirinya.
'Bukannya kita udah saling kenal ? Kenapa dia memperkenalkan dirinya ?'
Nomor Baron kembali mengetik.
Ra, Lo udah tau keadaan
Derel ? Gue sama sekali
belum bisa hubungin dia nih.
Kyra berpikir sejenak, ia tak tau harus memberitahu bagaimana keadaan Derel saat ini.
^^^Aku Kurang tau keadaanya.^^^
^^^Tapi, tapi aku udah liat^^^
^^^Wajahnya dari jendela.^^^
Dia masih pucat ?
^^^Tidak sepucat kemarin^^^
^^^Sepertinya.^^^
Syukur deh😊
Gue takut kemarin
Kalau sewaktu-waktu
Gak bisa ketemu Derel lagi
Selama-lamanya.
^^^Iya^^^
Membaca hal itu, membuat Kyra sadar kalau hubungan persahabatan antara Derel dan juga Baron bukanlah kisah persahabatan biasa. Mereka berdua bersahabat dari kalangan yang berbeda. Yang satu anak basket dan yang satunya adalah anak Matematika.
Selama ini, sebenarnya Kyra tak memiliki Sahabat sama sekali. Satu-satunya orang yang dekat dengan dirinya adalah Tantenya yang sudah seperti sahabatnya sendiri. Mungkin karena Tantenya belum berkeluarga.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1
Mau tau kelanjutannya ?
Dukung Author dengan cara Like, Comment, +Favorite, Vote, dan Gif ya.