Silent World

Silent World
16. Amarah


__ADS_3

...Happy Reading...


"KYRA !!!! TATAP MATA AYAH !"


Kyra yang sedari tadi duduk di sofa sama sekali tidak ingin melihat wajah marah Dharma. Ia begitu takut kalau saja amarah ayahnya semakin memuncak ketika melihat wajahnya.


"KYRA !"


Mendengar namanya kembali di panggil, ia pun langsung menatap mata Ayahnya dengan gugup dan ragu.


Melihat mata anaknya yang mulai berkaca-kaca, Dharma pun mendengus nafas kasar. Lalu, ia pun duduk tepat di sebelah anaknya.


"Kyra, siapa yang udah buat ini sama kamu ?" Tanya Dharma dengan nada yang lembut tapi bisa di dengar.


Kyra menggeleng, ia tak ingin Ayahnya melakukan hal buruk kepada Nafya dan mempermalukan diri sendiri di sekolah nantinya.


"Ayah tadi di telpon sama wali kelas, kalau kamu pingsan di sekolah. Kok bisa ?"


Dharma begitu terkejut ketika mendengar anak semata wayangnya pingsan. Segera ia pun menghentikan pekerjaannya dan langsung pergi ke sekolah untuk menjemput anaknya.


Memang pada saat ia sampai di sana, anaknya sudah sadar. Tapi, keadaan anaknya tampak terlalu berantakan hanya untuk pingsan. Bahkan anaknya tersebut berbau layaknya air cuci pel. Bukan hanya itu, baju anaknya juga nampak begitu basah.


Ia menyadari, kalau anaknya itu bukanlah karena sakit. Tapi, karena di ganggu oleh anak-anak lain.


Segera ia pun membawa anaknya ke rumah sakit. Tapi, karena Kyra menolak, ia pun langsung membawanya pulang ke rumah.


"Kyra, jawab Ayah nak. Ayah mohon." Kali ini Dharma benar-benar memohon kepada anaknya. Ia benar-benar ingin anaknya menjawab pertanyaannya walau tidak dengan suara.


Walau sudah di mohon-mohon seperti itu, Kyra tetap tak ingin memberi tau bahwa ini semua adalah ulah dari Nafya.


"Kalau kamu gak jawab. Ayah sama ibu akan memindahkan kamu."


Mata Kyra membulat seketika. Padahal ia belim ada sebulan di sekolah barunya, tapi ia malah di suruh untuk pindah sekolah lagi oleh orang tuanya.


Tapi, menurutnya hal itu tak akan menyelesaikan masalahnya. Karena berlari dari masalah bukanlah pilihan yang tepat untuk saat ini.


Karena di desak, Kyra pun mulai menggerakkan tangannya. Membentuk sebuah kata.


'Ini bukan salah siapa-siapa Ayah !'


"Kyra ! Ayah tau ada yang melakukan ini sama kamu. Kamu bilang aja nak."


Kyra menunduk takut. Ia bingung harus memberikan alasan lagi kepada Ayahnya saat ini.


Tuk


Tuk


Tuk


Terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah Kyra tiba-tiba.

__ADS_1


Segera, Dharma pun ke depan untuk membuka pintu utamanya tersebut.


Ia melihat seorang siswa yang memakai pakaian sekolah sambil membawa tas Kyra di tangannya. Wajahnya begitu familiar bagi Dharma. Siapa lagi kalau bukan Derel.


"Om." Ucap Derel dengan nada lembut.


"Ada apa ?" Dharma yang baru saja marah dengan anaknya itu pun mencoba untuk tersenyum.


"Ini om, tasnya Kyra." Derel pun menyerahkan tasnya ke arah Dharma.


Segera Dharma pun mengambil tas tersebut dari tangan Derel.


"Terima kasih Derel, udah susah-susah bawa tas-nya Kyra."


"Sama-sama Om."


"O...iya. kamu tau kenapa Kyra bisa pingsan tadi ?" Kali ini Dharma sedikit memelankan suaranya agar anaknya tidak mendengar suaranya dari dalam.


"E.... saya tidak tau soal itu Om. Saya taunya Kyra pingsan di lorong."


Jawaban Derel benar-benar tak memuaskan bagi Dharma. Ia padahal ingin jawaban lebih dari sekedar itu.


Kemudian, Dharma memegang tangan Derel. Tanda ia ingin memohon sesuatu kepada Derel.


"Oom, mohon banget sama Kamu Derel. Tolong jagain Kyra ya."


Derel sedikit ragu akan hal itu. Ia takut kalau ia tak bisa memegang janjinya.


"Kamu bilang, kamu sekelas kan sama Kyra."


"Jadi, kamu bisa kan."


Sorot mata Dharma begitu berkaca-kaca. Bagi seorang Ayah, anak perempuannya adalah sebuah permata yang sangat berharga.


Kemudian, Derel pun melepaskan tangan Dharma dari tangan kanannya. Sehingga membuat raut wajah Dharma pun berubah seketika.


"Saya akan usahakan semaksimal saya Om."


Senyuman di wajah Dharma seketika terukir begitu saja. Ia begitu senang karena ada seseorang yang akan menjaga Kyra di luar pandangannya.


Walau awalnya Dharma agak ragu meminta bantuan dengan Derel, tapi mau tau mau ia harus melakukannya. Lagi pula Derel itu juga anak dari tetangganya yang ia kenal juga.


"Terima kasih ya Derel. Terima kasih banget."


"Sama-sama om." Ucap Derel singkat.


...***...


Baron memainkan bola basketnya sekali lagi setelah pulang sekolah. Padahal ia masih memakai pakaian sekolah, tapi ia malah langsung memainkan bola basketnya.


"Lo bener-bener gak becus Ron !" Baron mengatakan hal itu setelah Bola baketnya tidak masuk ke dalam ring.

__ADS_1


"Kenapa sih lo gak bisa jagain Kyra dengan bener ?"


Baron begitu frustasi melihat Kyra pingsan tepat di hadapannya. Dan yang lebih parahnya lagi, ia malah terdiam dan melihat Derel mengangkat Kyra. Yang seharusnya itu tugas dia.


Tiba-tiba ponsel Baron berdering menampilkan nama yang tidak asing baginya. Siapa lagi kalau bukan Derel.


"Tumben banget Derel nelpon. Apa dia mau marahin gue ya ?"


Baron mengangkat telpon dari Derel dengan ragu. Karena tidak biasanya Derel akan menelpon dirinya kalau tidak ada hal penting untuk di bicarakan.


"H-halo." Ucap Baron memulai pemicaraan.


Tapi, sama sekali tak ada jawaban dari seberang telponnya.


"Rel ? Ada apa ?" Tanya Baron memastikan.


Tapi, anehnya tak ada jawaban dari Derel.


Sangat aneh, tidak biasanya Derel seperti ini. Biasanya Derel kalau menelpon langsung to the point saja kayak orang yang pulsanya tinggal sedikit.


"Rel ? Ada apa Rel ?" Tanya Baron memastikan kembali.


Tiba-tiba Baron mendengar suara nafas yang begitu sesak. Ia juga mendengar sebuah kata tapi tak terlalu begitu jelas. Seakan-akan ada sesuatu hal yang buruk terjadi pada Derel.


"Rel ? Lo kenapa ?" Kali ini Baron benar-benar khawatir kalau terjadi apa-apa dengan sahabatnya itu.


Tiba-tiba panggilan berakhir begitu saja. Sehingga membuat pikiran Baron kemana-kemana.


Ting..


Suara notifikasi di ponsel Baron, membuat Derel melihat ponselnya kembali. Ternyata ada sebuah lokasi yang di kirimkan Derel melalui Chat.


Lalu, setelah itu terdapat sebuah pesan dari Derel dengan tulisan yang typo.


Rpn, tlong.


Sepertinya ada masalah yang saat ini sedang terjadi kepada sahabatnya. Sehingga ia pun cepat-cepat membuka lokasi tersebut.


Setelah melihat lokasinya, ia pun segera memakai jaket yang biasa ia pakai saat berkendara.


Baron berkendara dengan kecepatan maximum menuju ke sebuah area bangunan lama yang akan di rubuhkan.


Saat sampai, bertapa terkejutnya Baron melihat Derel yang sudah babak belur dan terbaring lemas di dalam bangunan tua itu.


Tampak kalau Derel sedang menahan sakit mati-matian sedari tadi.


"Rel ? Siapa yang ngelakuin ini sama lo ?" Tanya Baron penasaran.


Padahal kalau di pikir-pikir Derel terlalu baik menjalani hidupnya, hingga ia pun tidak mempunyai musuh. Tapi, semua memar dan lebam itu karena apa.


^^^Bersambung....^^^

__ADS_1


...Mau tau kelanjutannya ?...


... Dukung Author dengan cara Like, Comment, +Favorite, Vote, dan Gif ya....


__ADS_2