Silent World

Silent World
06. Kemampuan


__ADS_3

Happy Reading


..."Pertarungan bukan berarti permusuhan...


...Kemampuan bukan berarti kehebatan"...


Derel menatap Baron dengan tatapan tajamnya, bersiap untuk memperebutkan bola. Begitupun dengan Baron, ia juga menatap Derel dengan tatapan tajamnya.


Suara teriakan-teriakan dari para siswi terdengar begitu riuh. Mereka semua mendukung kelompok pilihan mereka masing-masing. Tapi, tidak dengan Kyra yang hanya melihat dengan wajah yang lesu.


Pertandingan antara Baron dan Derel sebenarnya sangat dinantikan. Karena keduanya sama-sama hebat dalam basket dan juga mereka berdua sama-sama ambisius dan tak mau kalah.


Pritttt.....


Peluit berbunyi, dan Bola pun masuk kedalam lapangan.


Derel berhasil merebut bola tersebut. Dan dengan cepat ia pun berlari menuju ke arah ring, tapi sayang lemparannya di gagalkan oleh Baron.


Baron pun menggiring bolanya menuju ring, tapi dengan cepat Derel menghentikan lemparan Baron.


Pertarungan mereka berdua begitu sengit. Bahkan, sudah sekitar 20 menit berlalu tapi tidak ada satupun dari kelompok mereka berdua yang dapat mencetak skor.


Tiba-tiba, tepat di menit ke 25 lemparan Baron meleset ke arah penonton. Tepatnya ke arah Kyra. Segera Kyra pun menutupi wajahnya menggunakan tangannya. Tapi, ia tak merasakan sakit sama sekali.


Perlahan, Kyra pun menurunkan tangannya dari wajahnya. Ia melihat Punggung Derel yang sudah penuh dengan keringat.


Tiba-tiba ingatan Kyra kembali dimana ia pertama kali pergi ke tempat orang tuanya sendirian tanpa di temani oleh siapapun.


Dia yang sibuk bertanya ke orang lain, tapi malah di acuhkan dan di anggap sebagai pengemis. Tapi, tiba-tiba Derel datang bagaikan seorang pahlawan super.


Dengan baik hati, Derel membantu Kyra menuju rumah orang tuanya. Dan membawa barang bawaannya yang begitu berat tanpa mengharap imbalan apapun.


Hati Kyra berdebar sekaligus menyesal. Ia menyesal karena telah membenci Derel atas apa yang ia lakukan kemarin. Padahal hal yang ia lakukan bukanlah hal yang salah.


Derel merasa sedikit kesakitan. Ia mengibas-ngibaskan tangannya yang nampak begitu merah.


Prit.....


Peluit di bunyikan tanda permainan di berhentikan sementara.


Pak Yogi selaku guru Olahraga, langsung mendatangi Derel.


"Kamu tidak apa-apa ? Apa perlu ke uks ?"


Dengan cepat Derel menggeleng.

__ADS_1


"Gak apa-apa kok pak."


"Yakin ? Itu tangannya merah lho."


"Gak apa-apa Pak. Saya lanjut main ya !"


"Ya, Silahkan !"


Derel pun segera berlari ke arah lapangan.


"Baron ! Jangan terlalu keras mainnya ! Kasihan teman kamu." Teriak pak Yogi di pinggir lapangan.


"Iya, Pak."


Baron merasa bersalah karena telah melempar bola terlalu keras. Ia hampir saja menyakiti Kyra kalau Derel tidak dengan cepat menangkap bolanya. Tapi, tetap saja sahabatnya yang malah kena apesnya.


"Rel, gue minta maaf ya !" Baron tiba-tiba meminta maaf kepada Derel yang baru saja masuk kedalam lapangan.


"Ckh, biasa aja. Gue gak apa-apa kok." Derel menepuk bahu Baron dengan pelan.


Baron memiliki lemparan yang begitu kuat karena dia adalah pemain basket kebanggaan sekolahnya yang telah menjuarai di berbagai cabang perbasketan.


Tapi, anehnya lawan yang cukup sulit yang pernah di jumpai Baron hanyalah Derel yang merupakan anak olimpiade matematika yang sudah banyak menjuarai perlombaan.


Sebelumnya, mereka semua mengira kalau anak seperti Derel yang begitu pandai tidak bisa olahraga. Tapi, dugaan mereka salah ketika Derel berhasil mencetak Skor saat bermain basket beberapa waktu lalu.


Pritttt...


Mereka semua kembali bermain dalam kesengitan. Mereka tetapĀ  sama-sama tak mau kalah.


Tiba-tiba tepat di menit yang ke-29, Derel berhasil memasukkan bola ke dalam ring.


Semua orang terpukau, karena nampak tangan Derel yang masih memerah karena menerima lemparan yang begitu keras dari Baron.


Pritttt....


Permainan selesai tepat setelah 1 menit Derel berhasil memasukkan bola ke dalam ring.


Kelompok A Cowok, bersorak. Begitupun dengan para cewek yang mendukung mereka dengan yel-yel di pinggir lapangan.


Sedangkan kelompok B, hanya terdiam pasrah melihat kelompok yang begitu bahagia. Tapi, Baron sama sekali tak merasa kalah. Ia merasa senang karena sahabatnya juga ikut senang.


Dengan hati yang ikhlas, Baron mendatangi Derel yang hanya tersenyum melihat sorakan teman-temannya.


"Selamat ya Bro, karena telah mengalahkan gue." Baron mengulurkan tangannya untuk menyalami kemenangan Derel.

__ADS_1


"Biasa aja kali, Lo kan Atlet. Pasti lebih hebat dari gue." Derel mengulurkan tangannya juga untuk menyauti uluran tangannya Baron.


"Gue heran deh, kenapa lo gak masuk klub basket aja sih ? Kan lo hebat."


"Kemampuan bukan berarti kehebatan Bro. Gue cuma memiliki kemampuan dasarnya doang, gue sama sekali gak hebat seperti orang di depan gue yang udah menangin turnamen di mana-mana."


Baron hanya tersenyum mendengar sanjungan dari Sahabatnya. Ya, benar. Baron memang sudah memenangkan turnamen di mana-mana. Tapi, dari setiap orang yang ia temui, hanya Derel-lah yang sampai saat ini belum bisa ia kalahkan.


"Oke, yang cowok semuanya keluar dari lapangan. Sekarang giliran kelompok Cewek."


Segera semua siswa keluar dari lapangan, lalu duduk di pinggir lapangan sambil meregangkan kaki mereka.


Tak di duga, Nafya dan Kyra satu kelompok. Banyak orang yang takut kalau Nafya merencanakan sesuatu untuk melukai Kyra.


Pritttt....


Peluit berbunyi, tanda permainan di mulai.


Kali ini Nafya yang mendapatkan bola untuk pertama kalinya.


Kyra hanya mengikuti kemana bola itu berada, berusaha untuk tidak membuat kelompoknya kalah. Tapi, anehnya Nafya tak pernah mengoper bola ke arah Kyra. Dengan senyuman liciknya, ia selalu mengoper bola ke arah teman-teman gengnya.


Baron dan Derel mulai gerah dengan apa yang dilakukan Nafya dan teman-teman gengnya. Tapi sayang mereka tak bisa berbuat apapun karena permainan sedang berlangsung.


Tiba-tiba, Nafya dengan sengaja menabrak Kyra lalu memanjangkan kakinya agar Kyra terjatuh.


Sedangkan teman-teman gengnya yang lain melemparkan bola dengan sengaja ke arah Kyra.


Terlihat begitu jelas kalau Nafya dan teman-temannya sedang membully Kyra. Tapi tak ada satupun dari mereka yang bisa menghakimi Nafya karena perbuatannya.


Prittt....


Permainan di hentikan, segera pak Yogi bergegas menuju ke arah Kyra. Sedangkan Nafya menjongkokkan dirinya dengan senyuman liciknya.


"Lo gak apa-apa Bisu ?" Dengan nada yang pura-pura kasihan, Nafya mengulurkan tangannya.


Tapi, Kyra tak menyautinya dan terus memegangi tangannya yang mulai mengeluarkan darah segar.


"Kamu tidak apa-apa Nak ?" Pak Yogi merangkul Kyra menuju ke UKS.


"Gak usah di tolongin juga gak apa-apa pak. Si Cacat itu pasti bisa menolong dirinya sendiri. Kha...kha...hahahahahha." Tanpa merasa bersalah, Nafya tertawa bersama teman-teman gengnya.


Sedangkan yang lain hanya bisa menghela nafas dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi tidak dengan Derel dan Baron yang segera mengikuti Pak Yogi dan Kyra menuju ke UKS.


^^^Bersambung.....^^^

__ADS_1


Mau tau kelanjutannya ?


Dukung Author dengan cara Like, Comment, +Favorite, Vote, dan Gif ya.


__ADS_2