
Happy Reading
..."Setiap Orang memiliki ingatan yang akan membentuknya di masa depan"...
Kyra melangkahkan kakinya menuju ke luar gerbang dengan perasaan penuh ketakutan. Ia takut kalau Ayahnya khawatir dengan perban yang ada di tangannya.
Benar saja, saat Kyra mulai mendekat menuju ke mobil ayahnya, seketika mata Ayahnya terbelalak melihat sebuah perban menyelimuti tangan putri satu-satunya.
"Ya ampun Kyra, ini kenapa ?" Tanya Dharma khawatir.
Kyra hanya menggeleng, saat ini ia tak tau harus beralasan apa lagi kepada Ayahnya. Ia tak ingin adanya kebohongan, tapi ia juga tak ingin membuat ayahnya tambah khawatir sekarang.
"Kyra, Jawab dong nak !"
Kyra masih saja terdiam mendengar pertanyaan ayahnya.
Tiba-tiba Derel datang ke arah mereka berdua.
"Maaf Om menyela, Kyra ini terluka karena dia terjatuh di lapangan pas jam olahraga tadi."
Mendengar pernyataan tersebut, Pak Dharma langsung melihat ke arah kedua mata anaknya.
"Apa itu benar nak ?"
Kyra refleks saja mengangguk. Nampaknya kali ini Derel berhasil membuat ayahnya tidak khawatir lagi kepadanya.
Pak Dharma, melihat wajah siswa yang sebenarnya tidak nampak begitu asing bagi dirinya.
"Ngomong-ngomong, kamu siapa ya ? Kok bisa tau ?"
"Perkenalkan Saya Derel Om. Saya teman sekelasnya Kyra."
"O... begitu." Pak Dharma mengangguk-angguk mendengar jawaban dari Derel.
"Kalau dilihat-lihat kok kamu gak asing ya." Pak Dharma melihat Derel semakin dekat. Ia tambah merasa tidak asing dengan siswa di hadapannya.
"O... kamu anaknya pak Handra dan buk Nitra kan ?"
"Iya Om." Derel menjawabnya dengan senyuman yang sedikit memaksa.
"Ya udah, sekalian aja yuk."
Derel membulatkan matanya. Ia merasa tak enak kalau harus menumpang kepada orang lain. Walaupun itu tetangga di samping rumahnya yang begitu dekat dengan orang tuanya.
"Gak usah om, saya jalan kaki aja."
__ADS_1
"Gak apa-apa. Kan rumah kita dekat."
Derel begitu ragu-ragu dengan ajakan Pak Dharma. Tapi, karena paksaan pak Dharma akhirnya Derel pun ikut. Lagian hal ini tidak akan merugikan bagi dirinya.
...***...
Sepanjang perjalanan, Derel melihat keakraban antara Pak Dharma dengan putrinya yang duduk di depan. Mereka begitu akrab, terkadang Pak Dharma menceritakan kesehariannya di kantor dan Kyra pun juga menceritakan pengalaman menyenangkannya di sekolah menyertakan namanya dan juga Baron.
Derel begitu iri, terakhir kali ia berbicara dengan Ayahnya adalah hari sebelum ia mengalami kecelakaan besar. Bahkan pembicaraan itu hanyalah ucapan selamat tinggal Ayahnya untuk pergi keluar kota selama 10 Hari.
Tanpa terasa, akhirnya mereka pun sampai di depan rumah Derel.
"Terima kasih ya Om Dharma, Kyra ! Sudah mengantarkan saya sampai rumah." Ucap Derel.
"50 Ribu ya !" Ucap Pak Dharma.
Mendengar hal itu Derel segera membulatkan matanya dengan lebar.
"Bercanda."
Derel hanya tersenyum lega mendengar hal itu. Karena saat ini uang sakunya tidak sampai segitu.
Derel pun segera keluar dari mobil. Setelah mobil Kyra pergi, Derel segera masuk ke dalam rumah.
Melihat keakraban Kyra dengan Ayahnya, membuat Derel sakit hati. Ia tambah iri dengan kehidupan Kyra yang nampak begitu indah. Ia selalu berharap memiliki keluarga yang harmonis seperti keluarga Kyra.
Air mata Derel perlahan mulai turun membasahi wajahnya. Derel tak tau mengapa ia mengeluarkan air mata, ia juga tak tau mengapa hatinya semakin sakit mengingat kejadian sebelumnya.
"Derel ! Jangan nangis kayak orang yang gak berguna ! Lo bukan anak kecil lagi, lo udah hampir Dewasa ! Lo jangan menangis hal yang harusnya gak usah ditangisi Derel !" Ucap Derel kepada dirinya sendiri. Tapi, tetap saja air matanya menetes secara perlahan.
Sudah lama Derel tidak mengeluarkan air matanya. Ia tau harga dirinya sebagai seorang laki-laki harus di pertahankan. Ia tak boleh lemah di depan orang lain.
...***...
Kyra baru saja selesai mengganti pakaiannya setelah mandi. Setelah itu, Kyra terduduk di ranjangnya sambil menatap jendela yang menuju langsung ke arah Jendela Derel yang terbuka lebar tanpa tirai yang menghalangi.
Tiba-tiba pikiran Kyra kembali saat jam Olahraga. Ia melihat Punggung Derel tepat di hadapannya dengan tangan menangkap bola lemparan dari Baron yang begitu kuat.
Beberapa saat Kyra juga melihat tangan Derel yang begitu memerah. Tapi anehnya Derel bisa mencetak skor di menit-menit terakhir dengan keadaan tangannya yang seperti itu.
Kyra juga mengingat hal yang membuatnya Marah kepada Derel. Derel berbohong soal perkataannya tapi tidak dengan apa yang dilakukan Nafya kepada yang menyebabkan Nafya di hukum. Kyra menjadi merasa bersalah karena hal itu.
Tapi, Derel lah yang selalu membantunya tanpa ia sadari. Derel bahkan bisa menyelamatkan dirinya dari seribu pertanyan Ayahnya.
'Kok dia baik banget ya sama aku ? Padahal banyak orang benci aku karena aku berbeda dari yang lainnya. Aku menyesal karena membenci orang sebaik dia. Aku harap semua orang bisa kayak dia.' senyum Kyra refleks saja terukir dengan indah menghiasi wajahnya.
__ADS_1
Tiba-tiba pandangan Kyra teralihkan dengan terlihatnya Derel yang sedang merapikan buku. Tapi, anehnya Wajah Derel begitu Pucat dengan matanya yang nampak begitu merah.
'Lho, Derel Kenapa ?' Kyra tak mengira akan melihat sisi Derel yang begitu lain. Ia melihat kesedihan yang begitu mendalam di wajah Derel. Wajah kesedihan Derel semakin terlihat saat Derel menutup jendelanya.
...***...
Setelah menutup jendela kamarnya, Derel membaringkan tubuhnya di ranjang dengan baju sekolah yang masih menempel di tubuhnya. Entah mengapa setelah merenung Derel semakin lelah. Tubuhnya rasanya tak bisa lagi menopang kesedihan dan kelelahan yang selama ini ia tahan.
Derel bahkan lupa kalau hari ini ia harus mengerjakan PR bersama Baron dan Kyra di rumahnya.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang begitu keras. Tapi, hal itu sama sekali tak membuat Derel terbangun dari tidurnya. Ketukan itu berasap dari Baron yang sudah siap belajar sambil menyandang tasnya.
"Derel !!!! Derel !!!! Woy Derel !!!! Jadi nggak ngerjain PR-nya !"
Tapi sama sekali tak ad jawaban dari dalam.
Tiba-tiba Kyra pun datang menghampiri Baron sambil membawa beberapa buku.
"Cepet juga datengnya."
Kyra refleks saja menunjuk ke arah rumahnya.
"O.. iya gue lupa. Lo tetanggan sama Derel."
Tiba-tiba Kyra langsung menyodorkan sebuah kertas kepada Baron yang berisikan sebuah pernyataan.
~Apa Derel akan baik-baik saja ? Dia tadi nampaknya pucat Banget. Kayaknya dia gak bisa bantu kita Hari ini.~
"Terus gimana ?" Baron bingung harus bagaimana sekarang.
Kyra hanya bisa mengangkat kedua bahunya. Ia tak tau juga harus bagaimana.
"Ya udah deh, Besok aja kerjainnya. Pasti Derel capek gara-gara olahraga tadi."
Kyra hanya bisa mengangguk menanggapi pernyataan dari Baron.
"Ya udah, Gue pulang dulu Ya Ra."
Kyra hanya mengangguk sambil tersenyum melihat Baron berjalan menuju ke arah motornya.
^^^Bersambung....^^^
Mau tau kelanjutannya ?
Dukung Author dengan cara Like, Comment, +Favorite, Vote, dan Gif ya.
__ADS_1