Silent World

Silent World
07. Air Mata


__ADS_3

Happy Reading


..."Setiap Tetes Air Mata begitu Berharga, Jadi jangan sia-siakan."...


Kyra nampak menahan sakit saat seorang dokter wanita penjaga UKS menggulung tangan kirinya menggunakan perban yang di ketahui namanya Dokter Tyas.


"Jadi, Gimana tangannya ?" Tanya pak Yogi kepada Dokter Tyas yang sudah selesai mengobati Kyra.


"Tangannya berdarah dan sedikit terkilir. Paling cepat 3 hari sembuh kok. Paling lama seminggu."


Pak Yogi hanya mengangguk-angguk paham mendengar perkataan dokter Tyas.


"Ngomong-ngomong kok bisa ini terjadi ?" Dokter tersebut penasaran mengapa ini bisa terjadi pada Kyra.


"Dia tadi di jahili."


Mendengar hal tersebut reflek saja Dokter Tyas  membulatkan matanya dengan sempurna. Ia tak percaya Kyra di jahili dan mendapat luka seperti ini.


Saat Dokter Tyas ingin bertanya lagi, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu UKS.


Tuk...


Tuk...


Tuk...


"Masuk !"


Nampak dua orang siswa laki-laki yang masih berpakain olahraga memasuki UKS.


"Ada apa ?" Dokter Tyas  nampaknya begitu khawatir kalau dua orang siswa di depannya mengalami cedera saat olahraga seperti Kyra.


"Derel ? Baron ? Ngapain kalian kesini ?" Tanya Pak Yogi penasaran karena dua siswanya keluar dari lapangan.


"Sebagai teman yang baik, kami ingin menjenguk Kyra yang mengalami Cedera Pak, Buk." Jelas Baron.


Pak Yogi dan Dokter Tyas sebenarnya merasa bingung. Kenapa hanya dua siswa laki-laki saja yang menjenguk Kyra. Mengapa tidak ada siswi lainnya.


"Kalian cuma berdua aja ?"


"Iya pak."


Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering dari meja. Segera Dokter Tyas pun memeriksanya. Ternyata itu adalah telpon dari salah satu rekannya.


Melihat hal itu, Dokter Tyas pun segeraa bergegas untuk pergi.


"Ibuk pergi dulu ya, soalnya ada urusan mendadak. Awas aja kalian jahat-jahat sama anak itu !" Dokter Tyas menunjuk Kyra yang sedang duduk di brankar.


"Baik buk." Ucap keduanya.


Setelah itu, pak Yogi segera ingin keluar juga. Mengingat anak-anak muridnya masih berada di lapangan.


"Nanti kalian ke kelas aja. Sebentar lagi jam bapak habis."


"Baik pak."


Setelah itu, pak Yogi pun keluar dari UKS sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Segera Baron dan Derel mendekati Kyra yang masih duduk terdiam menatap ke arah jendela dengan tatapan kosongnya.


"Ra, Lo gak apa-apa ?" Tanya Baron khawatir.


Mendengar pertanyaan seperti itu, Kyra lalu menatap Baron dan juga Derel dengan mata yang berkaca-kaca. Ia merasa begitu kaget di perlakukan seperti itu oleh teman sekelasnya.


"Nafya sebenarnya ada masalah apa sih, sampai membully kyra kayak gini ?" Ucap Baron geram.


"Hmmm !" Derel mendehem kepada Baron atas perkataanya yang tanpa sadar membuat Kyra semakin sedih.


Baron yang menyadari perkataanya merasa bersalah.


"Maaf ya Ra. Gue gak bermaksud."


Kyra hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menahan air mata yang hendak keluar dari netranya.


"Sebaiknya lo istirahat aja. Gue sama Baron mau ke kelas duluan." Derel segera menyikut tangan Baron untuk memberikan kode agar Kyra dapat menenangkan dirinya sendiri.


"Iya Ra, Lo istirahat aja ya biar cepat sembuh. Bye."


Baron dan Derel pun pergi dari UKS meninggalkan Kyra sendirian.


Setelah di tinggal, Kyra pun mengeluarkan air matanya yang sudah sedari tadi ia bendung agar dirinya tak kelihatan begitu lemah di hadapan orang lain.


...***...


Berita pembullyan yang dilakukan Nafya kepada Kyra sudah menyebar satu sekolah. Tapi, tak ada satupun dari mereka yang berani menegur Nafya atas perlakuannya kepada Kyra. Begitupun Guru-Guru dan Kepala sekolah yang sudah lelah menghadapi Nafya dengan segala perlakuannya.


Setelah istirahat, Semua murid kembali masuk. Begitupun kelas 11 Ipa 2 yang di sambut oleh pelajaran matematika oleh wali kelas mereka.


Bahkan tanpa merasa bersalah sedikitpun, Nafya bahkan tertidur dengan tenang di mejanya seakan-akan tak ada apa-apa.


Kring.....


Bel pergantian jam pun berbunyi, Ibu Nadia pun segera menghentikan pembelajaran.


"Baik Semuanya, PR untuk besok. Kerjakan tugas di halaman 67 ya. Besok pas pelajaran Ibuk di kumpul."


Murid-murid yang tertidur dengan nyenyak segera terbangun dengan keadaan blank seketika. Baru saja mereka di sambut mimpi indah, tapi bangun-bangun mereka malah di suruh kerjakan PR. Mana tidak ada satupun yang mengerti lagi.


"Gimana ini Rel ? Gue sama sekali gak ngerti !!!!" Baron begitu kaget dan bertanya kepada Derel yang serius mencatat rumus di papan tulis.


"Makannya jangan tidur." Ucap Derel sambil mencatat.


"Lo harus bantuin gue pokoknya."


"Emangnya apa keuntungan gue bantuin lo ?"


Baron berpikir sejenak, ia bingung harus menjawab bagaimana. Karena hal ini memang tak memiliki keuntungan bagi Derel sedikitpun.


Tiba-tiba Kyra masuk sambil menundukkan kepalanya. Beberapa orang merasa simpati. Tapi yang lainnya sama sekali tak peduli begitupun dengan Nafya.


"Tepat sekali lo dateng Ra."


Kyra merasa bingung, mengapa Baron menyambutnya. Dengan tatapan bingung, Kyra menatap Derel dan Baron secara bergantian.


"Lo pasti gak paham sama PR yang di kasih Buk Nadia tadi. Jadi, Tolonglah Derel. Kasihan Kyra yang tadi gak masuk kelas."

__ADS_1


Kyra masih bingung dengan arah pembicaraan Baron.


"Emangnya dia mau ?" Tanya Derel balik.


"Ra, lo bisa gak ke rumah Derel nanti ? Kita kerjain PR MTKnya bareng-bareng."


Kyra hanya mengangguk menjawab pertanyaan Baron.


"Gue jemput ya nanti."


Kyra segera mengeleng, lalu menulis sesuatu dengan kertas di lacinya.


"Mau ngapain ?" Baron bingung atas perlakuaan Kyra terhadapnya.


Ternyata Kyra menulis beberapa kata di kertas tersebut.


~kamu gak perlu jemput aku. Rumah aku sama Derel bersebelahan.~


Melihat hal tersebut, Baron begitu kaget. Karena ternyata rumah Derel dan juga Kyra bersebelahan.


"Beneran ini Rel ?" Baron menunjukkan kertas yang berisikan tulisan Kyra di hadapan Derel.


"Iya."


"Kok lo gak ngomong sih kalau Kyra tetangga lo sih ?"


"Emangnya apa gunanya sama lo ?"


"Gak ada sih."


"Ya udah, nanti ketemuan ya jam 4 sore."


Kyra hanya mengangguk. Sedangkan Derel hanya terdiam lalu melanjutkan membaca bukunya.


Baron pun segera mengalihkan pandangannya ke arah depan. Sedangkan Kyra melihat Derel dengan wajah sendunya. Ia masih merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Derel di lapangan.


"Lo ngapain liatin gue mulu sih ?" Tanya Derel penasaran.


Kyra pun menggerakkan tangannya untuk mengucapkan sesuatu kepada Derel.


'Aku minta maaf ya.'


Derel pun menjawabnya dengan bahasa isyarat juga.


'Kenapa minta maaf ?'


'Aku merasa bersalah, karena aku tangan kamu sakit. Dan aku juga minta maaf karena membenci kamu sebelumnya.'


'Gak usah di permasalahkan. Aku udah maafin kok.'


Melihat itu, Kyra tersenyum. Karena Derel sudah memaafkannya bahkan sebelum dirinya meminta maaf.


^^^Bersambung.....^^^


Mau tau kelanjutannya ?


Dukung Author dengan cara Like, Comment, +Favorite, Vote, dan Gif ya.

__ADS_1


__ADS_2