Silent World

Silent World
15. Penyelamat


__ADS_3

...Happy Reading...


..."Di balik diam terkadang ada tangisan "...


Saat Kyra memasuki Toilet, tiba-tiba....


Bruk...


Seketika Kyra pun terjatuh dan merasa kesakitan. Bukan, itu bukan karena lantainya yang licin ataupun kecerobohan kyra, tapi ada seseorang yang sengaja menyandungnya menggunakan kaki.


"Ha...ha....ha...."


Suara tawa terdengar begitu keras dari arah depan Kyra. Suara itu terdengar begitu familiar di telinga Kyra hingga membuatnya bergidik ngeri dan trauma. Siapa lagi kalau Bukan Nafya dan teman-temannya.


"Hai Bisu !" Ucap Nafya sambil tersenyum jahat.


"Heh, jangan diem aja. Cepat bawa dia ke sana ! Terus kunci."


Mendengar perintah itu, segera teman-teman Nafya pun menarik Kyra ke dalam toilet. Lalu mereka pun menguncinya sehingga Kura pu tidak bisa kemana-mana.


Kyra yang tidak bisa apa-apa itu pun hanya bisa memukul-mukul pintu toilet berharap agar ia bisa keluar dari sana.


"O...iya. Guys itu ! Kita lupa kasihnya." Nafya menatap licik ke arah salah satu ember merah berisikan air pel.


Mengerti maksud Nafya, mereka pun segera melemparkan air dari luar ke dalam toilet yang di tempati Kyra.


Byur....


Kyra Basah kuyup dan juga bau. Karena air pel itu sebelumnya sudah di gunakan dan belum di buang oleh tukang bersih-bersih sekolah.


Setelah itu, Nafya dan teman-temannya pun pergi meninggalkan Kyra sendirian di dalam toilet.


Di dalam diam, Kyra mulai menangis dan memanjatkan doa kepada yang maha kuasa.


'Ya Tuhan, kenapa mereka jahat banget sama aku ? Apa salah aku Tuhan ? Apa aku tak pantas untuk di hargai juga ?'


Kyra menangis tanpa ada suara dari mulutnya. Dan ia hanya menggedor-gedor pintu toilet tersebut berharap ada yang mendengarnya.


Tiba-tiba pintu yang terkunci itu pun terbuka. Menampilkan wajah asing yang baru saja ia temui tadi pagi.


Dia adalah Qinan, siswa baru yang baru saja memasuki kelas pagi ini bersama ibu Nadia.


"Lho ? Kyra ?" Qinan cukup terkejut melihat keadaan Kyra yang sudah basah kuyup dan bau.


"Kamu kenapa ?" Tanya Qinan kembali. Tapi, Kyra tak menjwab dan hanya terus menangis.


Wajah Kyra juga sudah mulau pucat, dan matanya begitu sembab karena sedari tadi menangis.


"Ya udah, ayuk kita ke UKS." Ajak Qinan smbil merangkul Kyra.

__ADS_1


Pandangan Kyra semakin lama semakin menghitam. Lalu, ia pun kehilangan kesadarannya tepat di tengah-tengah perjalanan menuju lorong, dan terjatuh.


Tiba-tiba, seseorang siswa datang dan langsung mengangkat Kyra dengan kedua tangannya dengan kecepatan penuh.


Siswa itu, nampaknya begitu khawatir dengan keadaan Kyra saat ini.


*


*


*


20 Menit yang lalu.....


Baron dan Derel masih duduk santai di kantin sambil menikmati makanan di kantin.


"Kyra mana ya kok belum dateng sih ?" Tanya Baron khawatir.


Derel yang baru saja menghabiskan air mineralnya itu pun langsung menghadap serius ke arah Baron.


"Lo kok, khawatir banget sama Kyra ?" Tanya Derel Penasaran.


Derel cukup mengetahui bagaimana sifat Baron yang memiliki cap sebagai seorang yang memainkan perasaan wanita itu tak mungkin akan punya perasaan yang tulus dengan Kyra.


Apalagi, Kyra bisa di bilang cukup polos dan mungkin sangat mudah di dapatkan dengan mudah oleh mulut manis nan berbahaya Baron.


"Gue....."


Padahal, biasanya Baron akan langsung saja menjawab. Tentang apapun itu kecuali keluarganya.


"Jangan bilang lo suka sama Kyra." Tebak Derel tepat.


Pernyataan itu sontak saja membuat Baron terdiam. Ia begitu serius melihat wajah Derel yang nampaknya tak begitu suka dengan hubungan antara dirinya dan juga Kyra.


"Baron, gue saranin nih ya. Lo jangan pernah suka sama Kyra."


"Lho, emangnya kenapa ?" Baron agak meninggikan suaranya sehingga membuat Derel pun kaget.


"Kalau lo mau mempermainkan hati perempuan, mending yang lain aja ! Kyra udah cukup menderita tinggal di antara kita."


Dari suaranya, Derel nampaknya begitu khawatir kalau saja Baron sampai menyukai Kyra. Derel memang nampak begitu cuek, tapi ia sangat peduli dengan keadaan orang-orang di sekitarnya.


"Tapi, Gue.... suka sama Kyra Rel."


Baron mencoba meyakinkan Derel bahwa kali ini ia memang benar-benar menyukai Kyra dengan hati yang sangat tulus.


"Lo inget cewek-cewek lo sebelumnya ? Lo mencoba kasih perhatian yang lebih sama mereka, terus lo gombalin mereka. Terus, pas mereka mulai ada rasa sama lo, lo tinggalin begitu aja. Layaknya sebuah mainan."


Memang seperti itulah Baron. Entah sejak kapan ia menyukai ketika wanita tersebut tak menyukainya. Tapi, ketika ia wanita tersebut mulai menyukainya, Baron pun akan pergi begitu saja layaknya tak ada hubungan diantara mereka.

__ADS_1


"Tapi, lo tau kan prinsip gue Rel ?


"Maunya mengejar, tapi gak ingin di kejar."


Baron hanya mengangguk mendengar jawaban tepat dari Derel.


Ya, itulah prisnsip yang di buat Baron hingga ia pun mempermainkan perasaan wanita.


"Lo boleh pakai prinsip lo. Tapi, lo gak boleh pakai itu untuk mempermainkan perasaan orang lain Baron !"


"Tapi, ini beda Rel. Gue beneran suka sama Kyra."


"Terus ?"


"Gue gak bakal lukain parasaan dia Rel."


"Lo yakin ?"


"Iya."


Sebenarnya Derel masih tetap tak percaya dengan apa yang di katakan Baron. Bisa saja Baron berbohong dan tetap melakukan prinsipnya.


"Kalau lo lukain perasaan Kyra gimana ?" Tanya Derel serius.


"Lo boleh mukul gue sepuas hati lo." Ucap Baron dengan serius.


Baron memang sering terlihat seperti orang yang sedang bercanda. Tapi, entah mengapa ia sangat berani untuk mengambil langkah ini.


"Oke, gue dukung lo." Ucap Derel menyemangati dengan hatinya yang berat.


Walau berat, mau tak mau Derel harus mendukung sahabatnya tersebut. Derel merasa berat hati bukan karena ia juga menyukai Kyra, tapi karena ia takut kalau Kyra akan di cintai oleh orang yang tidak baik nantinya.


"Thank you Brother." Ucap Baron senang.


Entah mengapa, perasaan Baron terhadap Kyra cukup berbeda. Tidak seperti yang lainnya. Bahkan ia memiliki harapan kalau Kyra akan menyukainya balik. Tidak seperti wanita-wanita sebelumnya, yang tak pernah di harapkan balik untuk menyukai dirinya.


Baron memanglah anak yang tidak sempurna, dan hidup dalam keluarga yang cukup rusak tapi terlihat begitu sempurna dari luar. Karena hidup di keluarga seperti itu dan kurang kasih sayang, membuat Baron mencari sendiri kasih sayang yang ia inginkan. Hal itulah yang memicu Baron untuk mempermainkan perasaan orang lain.


"O...iya Rel. Kita cek Kyra yuk ! Gue takut dia kenapa-kenapa."


Baron segera berdiri dari tempat duduknya. Lalu di susul oleh Derel.


"Ya udah. Yuk."


Mereka berdua pun segera mencari Kyra mulai dari toilet hingga menyusuri lorong.


^^^Bersambung....^^^


Mau tau kelanjutannya ?

__ADS_1


Dukung Author dengan cara Like, Comment, +Favorite, Vote, dan Gif ya.


__ADS_2