
...Happy Reading...
..."Membencimu itu mudah, tapi menerimamu itu susah"...
Kyra mengetuk pintu sambil menundukkan kepalanya ketika mendapati wali kelasnya yang sudah menulis beberapa contoh soal di papan tulis.
Ibu Nadia yang sedang menulis itu pun terhenti aktivitasnya seketika. Betapa terkejutnya dirinya mendapati Kyra yang tidak mengenakan pakaian sekolah lagi, dan malah memakai hoodie hitam.
"Kyra, Kemana baju sekolah kamu nak ? Kok kamu pakai baju bebas seperti ini ?"
Kyra tak tau harus menjawabnya seperti apa. Melihat wajah Nafya membuat Kyra begitu taQkut.
"Kyra, jawab pertanyaan ibu nak."
Dengan ragu, Kyra menjawab pertanyaan gurunya dengan bahasa isyarat.
'Tadi, baju saya terciprat air di Toilet Bu. Ini baju saya pinjam dari Derel.'
"Kamu ngomong apa sih ?" Bagi orang yang tak mengerti bahasa isyarat itu hanya terlihat sebuah gerakan tangan yang tidak dapat di mengerti.
Derel pun mulai angkat bicara, dengan wajah datarnya.
"Dia bilang, kalau Nafya menyiramnya pakai Air saat masuk kelas tadi. Bajunya basah kuyup makannya dia memakai pakaian bebas seperti itu. Selain itu, dia juga sempat masuk UKS karena kejadian yang menimpanya."
Kyra menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Bagaimana bisa Derel mengatakan itu semua. Padahal Kyra sama sekali tak mengatakan hal itu.
"Apa benar seperti itu Kyra."
Kyra masih menggeleng-gelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai mengalir dari netranya. Dengan lembut Ibu Nadia pun memeluk Kyra lalu melepaskannya setelah beberapa menit.
"Nafya, kamu buat masalah lagi. Kamu tau kan, kyra itu baru perdana masuk sekolah. Tapi, kamu malah membuatnya tak nyaman."
Nafya cukup marah mendengar hal itu. Ia tak percaya kalau anak Bisu itu bisa mengatakan hal seperti itu.
"Nggak mungkin saya melakukan hal itu Bu. Pasti dia cuma mengada-ngada saja."
"Ibu gak peduli alasan kamu, sekarang kamu kedepan terus minta maaf sama Kyra."
Nafya berdecak sebal, lalu ke depan dengan hati yang dongkol. Ia begitu marah kepada Kyra.
Saat di depan, Nafya pun mengulurkan tangannya dengan terpaksa.
"Gue minta maaf ya"
Kyra pun menyambut uluran tangan Nafya dengan perasaan takut. Lalu mengangguk mengiyakan permintaan maaf Kyra yang benar-benar tidak tulus tersebut.
Setelah itu, Nafya pun hendak kembali duduk ke bangkunya. Tapi hal itu di hentikan oleh Ibu Nadia.
__ADS_1
"Nafya, sekarang kamu keliling lapangan 5 putaran."
"Apa ? Kok bisa buk ? Saya kan sudah minta maaf." Nafya begitu kaget bisa-bisanya dirinya harus menjalani hukuman.
Orang tua Nafya memang orang yang sangat kaya, tapi orang tuanya memperbolehkan guru-guru untuk menghukumnya kalau dia berbuat kesalahan asalkan tidak menggunakan kekerasan.
"Biar kamu Jera. Cepet !" .
Dengan begitu terpaksa, Nafya pun berjalan keluar. Karena hal ini, Nafya merasa tambah marah terhadap kehadiran Kyra yang tak di undang.
"Ya udah, Kyra kamu kembali lagi ke Bangku kamu."
Kyra pun segera beranjak menuju bangkunya. Ia merasa bersalah kepada Nafya. Padahal dia tak melakukan kesalahan. Dia juga merasa kesal kepada Derel yang bisa-bisanya berbohong kepada Ibu Nadia soal apa yang ia katakan dan membuat seseorang kena hukumannya.
Ting....ting....ting....
Bel sekolah berbunyi, semua orang berbondon-bondong pergi keluar kelas. Tapi, tidak dengan Kyra yang masih duduk di bangkunya dengan perasaan gelisah.
Baron yang baru selesai memasukkan bukunya ke dalam tas, melihat Kyra ke belakang dengan penasaran.
"Lo gak pulang ?"
Kyra menggelengkan kepalanya dengan perasaan takut. Ia takut kalau orang tuanya khawatir melihat dirinya seperti ini sekarang.
"Kenapa ?"
"Lo pasti takut orang tua lo khawatir ya ?"
Kyra membulatkan matanya dengan sempurna. Ia tak percaya kalau Baron yang tak mengerti bahasa isyarat itu bisa mengerti isi hatinya.
"Gak apa-apa kok. Kalau lo mau buat orang tua lo gak khawatir, lo tinggal bilang aja kalau baju lo basah karena Keran westafel yang bocor di Toilet, atau apa gitu. Pasti orang tua lo bakal percaya."
Kyra menganggukkan kepalanya. Ia masih tak percaya, kalau orang yang mengerti hatinya adalah orang yang tak mengerti bahasanya. Seperti Baron.
"Ya udah, gue cabut duluan ya !" Baron pun keluar sambil melambaikan tangannya kepada Kyra.
Kyra pun melambaikan tangannya juga kepada Baron. Lalu menyandang tasnya menuju keluar kelas.
Di luar gerbang sekolah, ternyata sudah ada Ayahnya yang menunggu sedari tadi. Dengan cepat, Kyra pun berjalan menuju Ayahnya.
Ayah Kyra begitu terkejut sekaligus khawatir melihat baju asing menempel di tubuh anaknya.
"Ini baju siapa Kyra ? Kok kamu pakai baju ini sih ?"
Dengan penuh keberanian, Kyra pun menyampaikan kebohongan kepada Ayahnya.
'Tadi, aku terciprat air di Westafel sekolah yang rusak. Jadi, baju aku basah semua."
__ADS_1
Ayahnya Kyra menghembuskan nafas beratnya. Ia sebenarnya tak percaya dengan ucapan putrinya. Tapi, mau bagaimana pun dia harus mempercayainya dan tak ingin melanjutkan pertanyaannya.
"Ya udah, kita pulang yuk !" Ayahnya Kyra membukakan pintu mobil di bagian depan untuk putrinya.
Kyra pun masuk ke dalam mobil dengan perasaan gelisah. Ia yakin kalau ibunya pasti akan bertanya banyak soal ini.
•
•
•
Saat sesampainya di rumah, benar saja, Ibunya Kyra begitu khawatir melihat pakaian asing bewarna hitam melekat di tubuh anak semata wayangnya.
"Kyra.... ini baju siapa nak ? Kenapa kamu pakai baju ini ?"
"Tadi, Kyra terciprat air di Westafel Sekolah. Westafelnya rusak jadi bajunya basah semua." Sahut Ayahnya Kyra.
"Terus ini baju siapa ?"
Kyra bingung harus menjawab apa. Tapi, ia tak mungkin harus berbohong tentang semuanya bukan. Dengan berani, Kyra pun berbicara menggunakan tangannya kepada Ibunya.
'Ini punya tetangga kita Derel.'
"Derel anak tetangga kita ? Kalian satu kelas ?"
Kyra mengangguk. Mengiyakan pertanyaan ibunya.
"Ya udah, cepat mandi nanti masuk angin lho."
Kyra pun bergegas ke kamar mandi. Ia benar-benar merasa kedingingan akibat hal yang menimpanya tadi.
***
Derel melihat wajah Kyra lekat-lekat yang saat ini tengah duduk di depan teras. Derel tak percaya tetangganya itu ternyata sekelas dengan dirinya.
Derel begitu iri melihat kedekatan Kyra dengan kedua orang tuanya. Tidak seperti dirinya. Sering kali orang tunya pulang saat tengah malam, dan berangkat begitu pagi. Sehingga Derel pun tak sempat untuk melihat wajah orang tuanya. Ia merasa seperti seseorang yang tak memiliki orang tua.
Setelah kurang lebih 10 menit di teras, Derel pun kembali ke kamarnya. Ia kemudian memasang earphone sambil menulis sebuah Diary.
Diary itu menyelamatkan dirinya. Saat dirinya tak bisa berbicara beberapa waktu, Derel selalu menuliskan keluah kesahnya di dalam Diaru tersebut.
Derel pernah mengalami Trauma yang masih membekas sampai saat ini.
^^^Bersambung.....^^^
Mau tau kelanjutannya ?
__ADS_1
Dukung Author dengan cara Like, Comment, +Favorite, Vote, dan Gif ya.