
...Happy Reading...
..."Semua Tentang gue itu Palsu. Tolong Jangan percaya sama Gue." ...
Baron memasukkan bola ke dalam ring tepat sasaran. Keringatnya mulai bercucuran karena telah memasukkan bola lebih dari 10 kali.
Karena merasa lelah, ia pun segera mengambil botol air minum yang sudah terletak di pinggir lapangan basket rumahnya.
Baron selalu meluapkan amarahnya atau kekesalannya dalam bermain basket. Seperti Derel yang selalu melampiaskannya pada Matematika.
"Kenapa Gue gak bisa ngelakuin apa-apa tadi ?" Baron begitu kesal dengan dirinya sendiri yang tak bisa melakukan apapun padahal ada temannya yang sedang di perlakukan tak sepantasnya tepat di depannya.
Baron menampar dirinya sendiri beberapa kali. Ia tak tau mengapa bisa dirinya tak melakukan sesuatu di saat seorang perempuan lemah sedang perlakukan seperti itu di depannya.
"Dasar Badoh ! Lo gak berguna banget ! Lo benar-benar gak bisa diandelin Ron." Baron mengucapkan hal-hal buruk itu kepada dirinya sendiri. Ya, itu adalah caranya tersendiri saat mengingat hal-hal yang tak ingin dia ingat.
Tiba-tiba Ponsel milik Baron berbunyi sebuah notifikasi pesan. Karena penasaran, Baron pun segera mengecek ponselnya. Terdapat sebuah nomor tak dikenal mengechat dirinya.
Hai, Aku Kyra.
Melihat pesan itu, Baron refleks saja langsung senyum seketika. Sebuah kata singkat itu berhasil membuat Baron mengembalikan moodnya.
^^^Hai, Aku Baron. ^^^
Kyra belum nampak mengetik setelah mendapat pesan dari Baron. Mungkin karena Kyra memikirkan pesan dari dirinya.
"Lo lucu banget sih Ra." Baron menatapi nomor tersebut dengan wajah yang memerah.
Karena belum ada pesan masuk kembali dari Kyra, Baron pun berniat untuk memulai pembicaraan. Tapi, ia bingung harus memulainya dengan topik apa.
Tiba-tiba pikirannya kembali ke keadaan Derel. Baron cukup khawatir dengan keadaan sahabatnya tersebut karena tidak bisa di hubungi sama sekali. Ia berpikir karena rumah Kyra dan Derel bersebelahan, mungkin saja Kyra bisa mengetahuinya.
^^^Ra, Lo udah tau keadaan^^^
^^^Derel ? Gue sama sekali^^^
^^^Belum bisa hubungin dia nih.^^^
Kyra akhirnya mulai menulis sesuatu. Melihat hal tersebut, Baron sudah tidak sabar lagi menunggu jawaban dari Kyra.
Aku kurang tau keadaannya.
Tapi, tadi aku udah lihat
Wajah dari jendela.
Melihat pesan yang di kirim Kyra, membuat Baron semakin merasa penasaran. Ia ingin tau lebih lanjut lagi, dan kembali mengetikkan huruf-huruf untuk Kyra.
^^^Dia masih pucat ?^^^
__ADS_1
Tidak sepucat yang kemarin.
Entah mengapa melihat pesan terakhir itu membuat Baron akhirnya bisa menghembuskan nafasnya dengan lega.
^^^Syukur deh😊^^^
^^^Gue Takut kemarin^^^
^^^kalau sewaktu-waktu ^^^
^^^Gak bisa ketemu Derel lagi^^^
^^^Selama-lamanya. ^^^
Pesan terakhir yang di kirimkan Baron tersebut reflek saja. Ia benar-benar begitu takut sebenarnya kalau saja sahabat satu-satunya tersebut tidak bisa menemaninya lagi.
Iya.
Pesan yang terdiri dari 3 huruf dari Kyra tersebut adalah chat terakhir dari mereka berdua.
Segera setelah itu, Baron pun meletakkan ponselnya di dekat dirinya. Lalu ia memikirkan awal pertemuannya dengan Derel.
Ya, Derel bukanlah Teman yang langsung masuk saja ke dalam kehidupan Baron. Tapi, Derel lah yang membantu dirinya untuk dapat terus maju dan bahkan punya semangat untuk hidup.
...___...
Suara ricuh kian terdengar di lapangan basket Sekolah SMAN 007 Kota Purnama. Sekitar belasan cewek di pinggir lapangan menyoraki tim cowok yang sedang bertanding.
Kali ini kelas 10-2 yang baru saja belajar selama kurang lebih 2 minggu setelah masuk melakukan praktek bermain bola basket.
Siswa dan siswi di pisah. Lalu dibagi menjadi dua kelompok masing-masingnya. Dan Baron pun masuk ke dalam kelompok A.
Baron yang baru masuk sekolah ini, sangat berbeda sekali dengan Baron saat ini. Ia begitu dingin dan sangat susah di dekati.
Itu karena, pada saat SMP dulu Baron pernah di khianati teman-teman yang sangat ia percayai. Ia tak menyangka teman-temannya tersebut mendekati dirinya karena ingin mendapatkan kepopuleran dan harta yang ia miliki.
Secara, Baron adalah orang yang populer akan ketampanan dan juga harta yang di miliki kedua orang tuanya.
Sebenarnya, banyak sekali yang mendekati Baron. Tapi, ia terus menolaknya dan tidak pernah membiarkan hatinya terbuka begitu saja menerima orang baru.
Saat di lapangan, Baron sama sekali tidak bersemangat. Bahkan ia beberapa kali hanya terdiam di lapangan sambil menatap bola memantul kesana dan kemari.
Itu di karenakan, Baron baru saja bertengkar dengan kedua orang tuanya. Sebenarnya, hal itu bukanlah hal baru bagi Baron.
Sering kali dirinya terlibat dengan pertengkaran bersama kedua orang tuanya. Hingga ia merasa muak dan jengkel dengan sendirinya. Ia juga sering berpikir untuk membunuh dirinya atas semua masalah yang terjadi.
"Woy !!! Awas Woyy !!!" Teriak salah satu murid.
Bruk....
__ADS_1
Sebuah bola dengan kecepatan yang cukup tinggi hampir saja mengenai Baron. Tapi, untunglah ada seseorang yang menyelamatkan dirinya dengan begitu cepat.
Dia adalah Derel, murid yang sekelas dengan dirinya yang menuai kepopuleran cukup besar di sekolah ini. Dia sangat pintar di hari pertama sekolah. Bahkan guru Matematika langsung merekrutnya masuk ke dalam kelompok olimpiade.
Sikap Derel sebenarnya tak jauh beda dengan sikap Baron. Ia begitu dingin dan tak menyukai yang namanya kepopuleran dan juga pusat perhatian. Tapi, ia melakukan hal tersebut di karenakan belajar setiap harinya dimanapun ia berada.
"Lo gila ya ?" Tiga kata yang keluar dari mulut Derel berhasil membuat Baron begitu kaget.
Ia sebelumnya belum pernah di katai seperti itu oleh siapapun.
"Lo mau uang ?" Pertanyaan itu reflek saja keluar dari mulut Baron. Dan membuat Derel tidak bisa berkutik dan meninggalkan Baron sendirian.
"Lo memang gila." Ucapnya sebelum meninggalkan Baron yang masih terduduk di lapangan.
*
*
*
Kring.....
Kring.....
Kring....
Akhirnya jam yang di tunggu para siswa tiba juga. Yaitu jam pulang sekolah.
Semua siswa berhamburan pergi keluar kelas. Ada yang menuju keluar gerbang untuk menaiki transportasi umum ataupun untuk menunggu jemputan. Ada juga yang menuju ke parkiran untuk menaiki motor mereka masing-masing.
Tapi, tidak dengan Baron yang masih berdiri di tengah-tengah keramaian dan hanya terdiam melihat gerbang yang jaraknya 10 meter dari tempat ia berdiri.
Ia menghela nafas panjang, lalu berlari kembali ke sekolah untuk ke atap.
Entahlah, pikiran apa yang menghantui Baron saat ini. Ia begitu marah bercampur sedih untuk yang kesekian kalinya.
Saat Baron sudah sampai diatap, ia meratapi banyak siswa yang sangat antusias untuk pulang.
"Ini semua harus berakhir..."
Dengan nafas yang begitu sesak, Baron memberanikan diri untuk berdiri tepat di pinggir gedung. Bersiap untuk melompat ke antara semua siswa tersebut.
"Iya..... ini harus berakhir. Pasti gak akan ada yang khawatir sama gue kan....." Baron mulai menutup matanya, ia bersiap untuk meluncur dari gedung yang tingginya 20 meter tersebut.
^^^Bersambung....^^^
Mau tau kelanjutannya ?
Dukung Author dengan cara Like, Comment, +Favorite, Vote, dan Gif ya.
__ADS_1