
...Happy Reading...
...Dunia Ini memang berbeda, Jadi bersiaplah....
Baron, temannya Derel yang duduk tepat di depan bangku Derel itu pun segera berbalik menyaksikan pembicaraan tanpa suara yang dilakukan Derel dan juga Kyra.
"Lo kenal sama Kyra Rel ?"
Derel yang masih sibuk berbicara dengan Kyra menggunakan tangannya itu pun berhenti, lalu menatap ke arah temannya.
"Ya, kebetulan gue pernah ketemu dia kemarin sih."
"O...." Baron mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
"Ngomong-ngomong lo ternyata bisa bahasa isyarat ? Sejak kapan ?"
"Cuma sedikit kok."
Baron merasa tak percaya dengan apa yang di bicarakan oleh Derel. Menurutnya kemampuan bahasa Isyaratnya itu cukup bagus. Ia begitu lihat menggerakkan tangannya untuk membentuk sebuah kata.
"Ngomong-ngomong, perkenalkan nama gue Baron." Baron sedikit menekankan bibirnya untuk menyebut namanya.
Kyra hanya tersenyum mendengar ucapan Baron. Ya, ia tak bisa berbicara apapun kepada Baron karena pasti dia tak mengerti dengan bahasa yang ia gunakan.
"Jam istirahat nanti, mau gak gue ajak keliling ?"
Kyra hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Baron.
"Gue gak diajak nih ?" Derel tau sifat Baron yang terlalu centil kepada semua perempuan di sekolahnya. Baron selalu saja merayu perempuan cantik untuk masuk ke dalam lubang buaya daratnya. Tentu saja banyak yang terperangkap.
"Iya-iya. Lo ikut deh. Jadi penerjemahnya Kyra."
"Apa ?" Derel tak percaya dengan ungkapan temannya yang menjadikan dirinya sebagai alat translate.
***
Jam istirahat telah tiba, semua murid berhamburan keluar kelas. Begitu pun dengan Baron, Kyra dan juga Derel. Mereka bertiga berjalan-jalan keliling sekolah.
"Ra, ngapain lo bisa sekolah disini ?" Tanya Baron antusias.
"Ya untuk belajarlah, gak mungkin untuk pergi main." Jawab Derel Judes.
Kyra hanya tersenyum mendengar jawaban dari Derel.
"Ya gue tau kalau ke sekolah itu untuk belajar, tapi gue pengen lebih tau kenapa lo memilih sekolah ini, kenapa gak tetap aja di sekolah lo yang lama ?" Baron ingin sekali Kyra menjawab pertanyaanya.
Dengan Reflek, Kyra menjelaskan alasannya dengan bahasa isyarat. Tentu saja hal itu tak di mengerti oleh Baron.
"Rel, dia ngomong apaan ?" Baron menyikut tangan Derel dengan cukup keras.
__ADS_1
"Dia ngomong, kalau sebelumnya dia itu tinggal bersama bibinya dan sekolah di SLB. Setelah berdiskusi, Orang tuanya dan bibinya memutuskan agar dia bisa sekolah di sekolah biasa dan tinggal bersama orang tuanya kembali." Derel menahan rasa sakit, setelah Baron menyikutnya cukup keras.
Sebenarnya, hal itu tak terlalu keras bagi Baron, tapi hal itu cukup keras bagi Derel.
"O... begitu."
Kyra hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia juga tak bisa bertanya lebih kepada Baron, karena Baron tak bisa mengerti bahasanya. Kyra juga meninggalkan notenya di laci meja karena ia lupa.
***
Ting...ting...ting....
Bel masuk berbunyi begitu keras tanda masuk kembali ke dalam kelas. Banyak siswa berlari segera masuk ke dalam kelas. Mereka tak ingin kalau harus menerima hukuman karena telat masuk kelas.
Saat Kyra, Baron dan juga Derel kembali ke kelas.... Tiba-tiba.....
Byur.......
Kyra basah kuyup karena seember air membasahi dirinya. Kyra benar-benar syok karena yang melakukan hal itu adalah Nafya dan juga gengnya. Mereka semua tertawa, tapi kebanyakan dari mereka bersikap acuh tak acuh saja melihat Kyra yang sudah basah kuyup.
"Hahahahaha, Wah, Selamat Datang di 11 Ipa 2 Bisu.... Whuuuuuu...." Nafya bersorak selayaknya sedang merayakan sesuatu.
"Sambutan yang bagus kan. Kami sebelumnya gak pernah melakukan ini lho. Jadi, ini adalah perdana...... Whuuuu." Sahut satunya yang bernama Yisha.
Kyra hanya bisa terdiam dan menunduk melihat perlakuan teman-teman barunya yang memperlakukan dirinya tak selayaknya manusia pada umumnya.
Melihat Kyra yang bersedih, dan kedinginan, Derel pun mengambil Hoodie bewarna hitamnya yang ia letakkan di laci mejanya.
Orang-orang yang melihat hal itu merasa aneh, karena Derel yang cukup sombong dan tak peduli dengan kehidupan orang lain itu tiba-tiba begitu hangat kepada Kyra.
Tiba-tiba datanglah Ibu Nadia untuk mengajar. Betapa kagetnya dirinya melihat kelas yang begitu basah.
Melihat Ibu Nadia yang memasuki kelas, Seluruh siswa langsung beranjak ke kursi mereka masing-masing.
"Lho, ini ada apa ini ? Kok bisa kelas kalian basah begini sih ?"
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Ibu Nadia, mereka tampak tak peduli dan acuh tak acuh atas kerusakan di kelas mereka.
"Kenapa diam saja ?" Ibu Nadia memutar pandangannya ke arah semua murid, tapi tak ada satupun dari mereka yang peduli. Pandangan Ibu Nadia terhenti ketika melihat bangku paling belakang kosong.
"Derel sama Kyra kemana perginya ?"
Semua murid melihat ke arah bangku Derel dan juga Kyra tapi, beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik soal yang terjadi tadi.
***
Derel memberikan Hoodie hitam miliknya kepada Kyra. Lalu, menggerakkan kedua tangannya.
Kamu pakai ini dulu ya, takutnya nanti kamu masuk angin lagi.
__ADS_1
'Terima kasih.'
Tampak kalau wajah Kyra begitu pucat. Ia nampak begitu syok dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Ia merasa seperti di sambar petir di siang bolong.
Kyra segera mengganti pakaiannya dengan Hoodie milik Derel. Sedangkan Derel menunggu Kyra di luar Toilet.
Saat di Toilet, Kyra melihat wajahnya yang pucat lekat-lekat. Ia terlihat begitu sakit saat ini. Bahkan pandangannya mulai berkunang dan tak jelasĀ
Setelah selasai mengganti pakaian, Kyra pun keluar kelas. Ia begitu lesu dan pucat. Kyra juga memegangi dinding saat ia keluar dari toilet.
"Kamu gak apa-apa."
Kyra hanya menggeleng, ia tak ingin kalau Derel tau keadaanya yang sebenarnya.
Tapi, ia tak bisa menahannya dan tiba-tiba....
Bruk....
Kyra terjatuh, tapi untungnya Derel bisa menangkapnya dengan kedua tangannya.
Setelah itu, Derel pun dengan cepat menggendong Kyra menuju UKS. Ini baru hari pertama tapi, Kyra sudah harus masuk UKS karena ia begitu syok dengan kejadian yang baru saja menimpanya tadi.
Setelah itu, Derel pun langsung menuju ke kelas. Ternyata di kelasnya sudah ada Ibu Nadia yang sedang duduk di bangku guru.
Dengan berani, Derel pun mengetuk pintu lalu mengucap salam. Tak lupa juga ia menyalimi gurunya.
"Kamu dari mana Derel ? Kok bisa terlambat 10 menit ?"
"Maaf buk, saya ada urusan mendadak tadi."
"Urusan apa ?"
"E...itu...." Derel bingung harus menjawab apa kali ini.
"Urusan apa Derel ?"
"Saya habis dari toilet. Buk."
"O..., yaudah duduk sana. Lain kali jangan terlambat lagi ya Derel."
"Iya buk."
Derel pun duduk di bangkunya kembali dengan perasaan yang begitu tenang. Ia tak terlalu peduli dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Tiba-tiba seorang siswi datang dengan tergesa-gesa.
Siapakah Dia ?
^^^Bersambung.....^^^
__ADS_1
Mau tau kelanjutannya ?
Dukung Author dengan cara Like, Comment, +Favorite, Vote, dan Gif ya.