
...Happy Reading...
Tap....
Tap....
Tap....
Setiap langkahnya di perhatikan, semua pusat perhatian tertuju kepada seorang yang melangkah dengan santainya.
Wajahnya terlihat begitu cantik tapi sangat asing bagi orang-orang di sekitarnya. Karena dia adalah murid baru.
Dia berjalan tepat di belakang seorang guru yang akan menjadi wali kelasnya tersebut.
Langkah mereka berdua terhenti tepat di kelas 11 Ipa 2.
Ibu Nadia, sebagai wali kelas 11 Ipa 2 pun masuk terlebih dahulu untuk memperkenalkan siswi baru tersebut.
"Selamat pagi semuanya !" Sapa Ibu Nadia disertai senyuman.
"Pagi buk !!!!" Jawab semuanya.
"Kali ini kita kedatangan anggota baru !"
Mendengar kata anggota baru, semua siswa di kelas 11 Ipa 2 mulai berbisik-bisik. Ada beberapa diantara mereka yang berpikir negatif akan siswa baru yang akan menjadi anggota kelas mereka.
"Silahkan masuk !"
Siswi baru tersebut masuk tanpa adanya rasa gugup yang menyertai dirinya. Nampaknya ia sangat percaya diri akan hari ini.
Wajahnya begitu cantik dan rambutnya yang tak terlalu hitam terurai hingga sebatas pinggang.
Sekali lagi semua laki-laki di kelas kecuali Derel terpesona akan kecantikan siswi baru tersebut.
"Silahkan perkenalkan diri !"
Wajah siswi baru tersebut sama sekali tak menampilkan sebuah senyuman saat berkenalan.
"Hai semuanya, perkenalkan nama gue Qirani Ratnaduhita. Panggil aja Qiran."
Murid baru tersebut begitu dingin dan menampilkan sebuah sosok yang nampak tidak terlalu begitu ramah.
"Oke, apa ada pertanyaan ?"
Keadaan kelas seketika hening begitu saja.
"Ya sudah kalau begitu. Qiran, kamu bisa duduk di sebelah Baron ya !"
Tepat sudah 2 hari sejak kepindahan teman sebangku Baron dari sekolah. Kepindahan tersebut di karenakan adanya pemindahan tempat kerja orang tuanya.
"Baron itu yang mana ya buk ?" Tanya Qiran sambil menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal.
"Di tempat kosong itu !" Ibu Nadia dengan sabar menunjuk kursi kosong di sebelah Baron.
"Baik buk !" Qiran pun melangkah menuju ke arah yang di tunjuk Ibu Nadia.
Biasanya Baron akan menunjukkan sifat buayanya kepada semua cewek cantik di sekolah. Tapi, entah mengapa rasa itu menghilang begitu saja.
__ADS_1
Qiran duduk tepat di sebelah Baron dengan santainya. Lalu, ia pun mengulurkan tangannya berniat ingin berkenalan dengan Baron.
"Siapa nama lo ?"
Baron melirik ke arah Qiran dengan tatapan tak minat karena ia masih mengerjakan PR-nya tepat di nomor 5.
"Lo gak denger tadi Ibu Nadia bilang apa."
Karena tidak di sambut dengan baik, Qiran pun mengelap tangannya ke bajunya.
Sungguh itu adalah kali pertama setelah setahun Baron tidak bersikap ramah kepada murid baru.
...***...
Saat jam istirahat, Qiran segera menghadap ke belakang untuk melihat ke arah Kyra yang sedari tadi menarik perhatiannya.
"Siapa nama Lo ?" Tanya Qiran penasaran.
"Namanya Kyra !" Ucap Baron.
"Kok lo jawab sih ? Gue kan gak tanya Lo !" Ujar Qiran bingung.
"Lo mau tanya sampai mulut lo berbusa pun dia gak bakal bilang namanya." Tiba-tiba datanglah Nafya dan teman-temannya ke bangku Qiran.
"Emangnya kenapa ?" Tanya Qiran tambah bingung.
"Karena dia bisu."
Seketika tatapan Baron berubah seketika. Tangannya mengepal kuat. Tapi, mengingat hal yang di katakan Nafya benar apa adanya, Baron tak berani untuk melawan.
"Hai Qiran, Kenalin nama gue Nafya !" Ucap Nafya sambil mengulurkan tangannya.
Tapi, anehnya Qiran sama sekali tidak menyambut uluran tangan Nafya dan hanya menatap dengan tatapan yang aneh.
"Dari cara lo ngomong, lo kayaknya bukan tipe orang yang bisa menghargai orang lain."
Semua orang yang mendengar hal itu, seketika langsung melihat Qiran dengan tatapan penuh kebingungan.
Biasanya, orang-orang akan sangat senang apabila bisa masuk ke dalam Circle yang di buat Nafya. Tapi, nampaknya itu tidak berlaku bagi Qiran.
Seketika Uluran tangan Nafya turun. Ia begitu kaget dengan tanggapan Qiran terhadap dirinya. Karena tidak biasanya akan mendapatkan perlakuan seperti itu dari orang asing.
Karena tak ingin mencari keributan, Nafya dan teman-temannya pun pergi begitu saja dari kelas.
"Baru kali ini ada orang yang menentang Nafya begitu. Pasti dia Syok berat." Ucap Baron sambil merapikan semua bukunya, bersiap pergi ke kantin.
Ucapan itu hanya mendapat tatapan dari Qiran. Ia sama sekali tak peduli dan menyesali apapun yang ia katakan kepada Nafya.
Sedangkan Kyra yang saat ini tepat berada di sebelah Qiran, menepuk pundaknya. Lalu, ia pun menggerakkan tangannya membuat sebuah kata.
Hal itu, tentu saja sama sekali tidak dimengerti oleh Qiran.
"Maaf, gue gak ngerti."
"Dia bilang, lo mau ikut ke kantin gak ?" Ucap Derel memperjelas.
Pernyataan itu tentu saja membuat Kyra reflek mengangguk mengiyakan ucapan Derel.
__ADS_1
"Maaf ya Kyra. Kata Wali kelas tadi, pas jam istrirahat gue harus ke kantor."
Kyra hanya tersenyum mendengar hal itu. Lalu pergi bersama Baron dan Derel menuju ke kantin
Sebenarnya Kyra begitu takut untuk berkomunikasi dengan Qiran. Tapi, ia tak bisa hanya terus berteman dengan kedua laki-laki yang saat ini menjadi tamengnya.
...***...
Di kantin........
Kyra hanya menatap makanannya dengan tatapan tidak nafsu.
"Lo kenapa Ra ? Kok gak dimakan ?" Tanya Baron penasaran.
Kyra hanya menggelengkan kepalanya. Ia tak tau harus menjawab seperti apa saat ini. Tiba-tiba ia tak nafsu untuk memakan makanan kantin yang ada di hadapannya.
"Ra, lo ada masalah ?" Tanya Derel penasaran.
Kyra kembali menggelengkan kepalanya. Lalu ia pun berdiri. Hingga menimbulkan pertanyaan di benak Baron dan juga Derel.
"Lo mau kemana ?" Tanya Baron sangat penasaran.
Kyra pun mulai menggerakkan tangannya untuk membentuk sebuah kata.
'Aku mau ke toilet sebentar.'
Kata itu sungguh tidak dimengerti oleh Baron sama sekali.
"Ya udah, jangan lama-lama." Ucap Derel di sela-sela kegiatan makannya.
Setelah itu, Kyra pun pergi meninggalkan mereka menuju ke toilet wanit yang jaraknya agak sedikit jauh.
Setelah punggung Kyra mulai menjauh, Baron pun segera menyikut tangan Derel.
"Apaan ?" Tanya Derel bingung.
"Dia ngomong apaan tadi ?"
"Heh, gue kira lo ngerti karena diem aja."
Baron pun hanya menggaruk lehernya yang tak gatal sambil cengengesan.
"Dia tadi bilang, mau ke toilet sebentar."
"O...begitu."
Baron hanya mengangguk mendengar hal itu. Entah mengapa ia mulai tak semangat untuk memakan makanan di depannya lagi saat ini.
"Kok lo gak makan."
"Nunggu Kyra ah. Nanti kalau makanan gue habis duluan, nanti pas dia dateng gak ada yang nemenin gimana ?"
Benar dugaan Derel, Baron nampaknya sudah mulai memiliki rasa dengan Kyra. Mungkin Kyra tak tampak begitu menarik, bahkan ada kekurangan yang tak begitu nampak.
Tapi, entah mengapa Baron nampaknya ingin sekali mengejar wanita Tunawicara itu.
^^^Bersambung....^^^
__ADS_1
Mau tau kelanjutannya ?
Dukung Author dengan cara Like, Comment, +Favorite, Vote, dan Gif ya.