Silent World

Silent World
13. Pertemuan di masa lalu


__ADS_3

Happy Reading


Saat Baron bersiap hendak akan meloncat, tiba-tiba dari arah belakang ada yang menarik tangannya. Sehingga ia pun jatuh ke arah belakang.


"Lo ternyata memang benar-benar gila ya !"


Kata-kata tersebut membuat Baron segera membuka matanya. Ia merasa seperti sudah mendengar kata-kata tersebut tepat sebelumnya.


"Elo....." ucap Baron mengenali orang yang berada di depannya.


Dia adalau Derel, orang yang menyelamatnya tadi di lapangan.


"Ngapain sih lo harus tarik gue ke belakang gitu ? " Tanya Baron dengan nada yang tinggi.


"Harusnya gue udah jatuh tadi....." ucapan Baron semakin lama semakin tinggi.


"Heh, lo gak pernah berpikir ya ? Setelah lo meninggal, emangnya masalah selesai gitu aja apa ? Enggak ! Yang ada itu, masalah yang lo tinggalin itu semakin banyak !" Ucap Derel dengan nada yang tinggi juga.


Derel bukanlah tipe orang yang banyak bicara. Tapi, ia sangat peduli dengan orang yang berada di sekitarnya. Ia sangat sensitif dengan orang-orang yang mudah menyerah seperti yang Baron lakukan saat ini.


Karena, sebelum itu Derel juga pernah merasakannya. Bagaimana rasanya berjuang untuk apa yang sangat diinginkannya tapi langsung pupus tepat oleh satu kejadian.


"Kenapa lo peduli banget sama gue ?" Tanya Baron bingung. Karena tidak ada yang mempedulikannya lebih dari apa yang Derel lakukan kepadanya.


Derel tidak menjawab dan hanya menatap ke arah Baron dengan tatapan tajamnya.


"Apa lo butuh uang ?"


Derel tak mengerti mengapa Baron selalu menawarkan dirinya uang. Derel tau bahwa dirinya bukanlah orang kaya seperti Baron, tapi hidupnya selalu berkecukupan.


"Lo memang gila ternyata." Derel segera turun dari atap meninggalkan Baron sendirian.


Sedangkan Baron, hanya masih terduduk melihat punggung Derel yang semakin menghilang.


Mendengar semua ocehan Derel, Baron semakin berpikir. Bahwa memang pikirannya benar-benar pendek dan tidak memikirkan hal ke depannya.


Mulai dari situlah hubungan keduanya di mulai. Dan sikap Baron pun seketika berubah 180°. Dia juga mulai mengejar apapun yang dia suka tanpa menghiraukan omongan orang tuanya.


*


*


*


Kyra duduk di ranjangnya sambil membaca sebuah novel. Terkadang, Kyra membaca novel untuk mengurangi rasa bosannya.


Kyra senang sekali ketika membaca Novel. Karena hal tersebut, ia sering berpikir bahwasanya tidak semua cerita itu berasal dari mulut ke mulut. Tapi, bagi orang yang tidak bisa berbicara seperti dirinya bisa saja bercerita melalui tulisan.


Tiba-tiba ada sebuah notifikasi muncul di ponsel kyra.


Saat Kyra mengeceknya, ternyata itu adalah chat yang berasal dari Baron. Dengan cepat Jyra pun membuka isi chat tersebut.


Kyra !


Lagi ngapain nih ?


Kyra tersenyum melihat chat yang berasal dari Baron tersebut. Sebenarnya saat ia berada di dekat Baron dan juga Derel, ia merasa bahwa dirinya adalah orang normal.


^^^Lagi Baca Buku ^^^


Rajin banget sih Cantik.

__ADS_1


Kyra menjadi salah tinggah saat membaca kata Cantik di belakang tulisan Baron.


^^^Aku gak terlalu cantik kok.^^^


Siapa yang bilang ?


Kamu cantik kok.


Baru kali ini Kyra di bilang cantik oleh orang selain keluarganya.


^^^Ih, kamu gombal. ^^^


^^^O...iya kamu lagi ngapain ?^^^


Bosen nih.


Dari tadi main basket.


Kyra melihat jam yang ada di ponselnya. Padahal saat ini jam sudak menunjukkan pukul 20.30. Tapi, mengapa Baron masih bermain basket.


^^^Ini udah malam lho.^^^


^^^Kok kamu masih main ^^^


^^^basket aja sih ?^^^


Gak apa-apa


Aku belum capek kok


Melihat pesan itu, membuat Kyra khawatir. Ia khawatir Baron kecapekan dan sakit nantinya seperti Derel.


^^^sakit gimana ?^^^


^^^Kayak Derel.^^^


Di sisi lain Kyra khawatir kalau tidak ada Baron dan juga Derel ia mungkin tak akan bisa melewati masa sekolah yang benar-benar membencinya itu.


Ya udah Deh


aku istirahat sekarang


Kamu juga istirahat ya


Cantik ! Besok


Sekolah.


^^^Iya Baron ^^^


Pesan tersebut pun berakhir begitu saja.


...***...


Baron memasukkan bola basket yang terakhirnya ke dalam ring setelah melakukan chat kepada Kyra.


Entah apa yang merasuki Baron. Biasanya setelah di beri tau untuk berhenti, Baron akan tetap melakukannya sampai tubuhnya benar-benar ingin berhenti.


Baron sebenarnya juga mengerti maksud dari pesan Kyra. Ya, memang benar selama Kyra bersekolah di sekolah normal hanya dirinya dan Derel-lah yang menemani. Jadi, apabila dirinya juga sakit pasti Kyra akan sendirian di Neraka manusia itu.


"Kok gue tambah suka sama lo ya Ra." Ucap Baron sambil menatap bulan sabit yang terlihat di langit malam.

__ADS_1


Sebelumnya, Baron sama sekali tidak menyukai wanita sebanyak ia menyukai Kyra. Karena setelah sehari atau dua hari wanita tersebut akan langsung klepek-klepek dengan Baron.


"Gue harap, lo adalah orang terakhir yang gue suka Ra." Ucapnya, lalu melenggang pergi masuk ke dalam rumah.


...***...


Keesokan Harinya......


Baron menatap Derel yang berada di belakangnya sedari tadi dengan dahi yang di kerutkan.


"Lo beneran udah sehat Rel ?" Tanya Baron penasaran.


"Gue udah masuk ke sekolah sekarang. Ya tentulah gue udah sembuh Baron...." ucap Derel dengan penekanan nada di bagian 'Baron'


"Lo sakit apaan sih ?"


"Kepo !" Pandangan Derel sama sekali tidak teralihakan dari bukunya.


"Ke rumah sakit gak."


Mendengar kata rumah sakit, Derel pun melihat tajam ke arah Baron.


"Lo udah kerjain PR dari Ibu Nadia belum."


Seketika Baron pun mejadi panik ketika mendengar nama 'PR' di sebutkan.


"Lo udah siap belum ?" Tanya Baron sambil mencari bukunya yang tersimpan di dalam tas.


"Udah sih. Emangnya kenapa ?"


"Pinjem dong gue !!! Please !!!!"


Dengan mudahnya Derel memberikan PR matematikanya kepada Baron. Segera Baron pun menyambar buku di tangan Derel dengan cepat.


"Lain kali, lo harus kerjain pr lo sendiri. Kalau kayak gini terus kapan lo bisa maju ?"


"Kan kita majunya barengan Rel !" Jawab Baron sambil terus menyalin.


"Jalan kita Beda Baron. Lo sama gue punya cita-cita yang beda."


Baron tak menjawab dan hanya terus mengerjakan PR-nya. Hingga datanglah Kyra masuk ke dalam Kelas.


Seketika Konsentrasi Baron menghilang saat ia melihat Kyra menuju ke bangkunya. Entah apa yang memasuki matanya, di mata Baron saat ini Kyra begitu cantik dan imut.


"Heh ! Fokus ! Bebtar lagi jam masuk lho !"


Mendengar omelan Derel, segera Baron pun menyelesaikan PR-nya dengan kecepatan penuh. Ia tak peduli tulisan bagaikan Ceker ayam dan tak bisa di baca. Yang penting ia sudah mengerjakannya.


Sedangkan Kyra duduk di bangkunya dengan perasaan yang begitu senang. Akhirnya Derel pun kembali ke sekolah.


Merasa di perhatikan, Derel pun menatap ke arah Kyra. Lalu menggerakkan kedua tangannya membentuk sebuah kata yang dapat ia mebgerti.


'Sudah siap Pr-nya ?'


Mendapat pertnyaan seperti itu, Kyra pun hanya mengangguk dan tersenyum ke arah Derel.


^^^Bersambung....^^^


Mau tau kelanjutannya ?


Dukung Author dengan cara Like, Comment, +Favorite, Vote, dan Gif ya.

__ADS_1


__ADS_2