
Jonathan akhirnya tiba di sebuah tempat yang terlihat seperti reruntuhan kuno.
Setelah itu, ia segera masuk ke dalamnya untuk mengalahkan makhluk yang ada di sana.
Jonathan melangkah perlahan melalui lorong-lorong kuno yang gelap.
Ruangan-ruangan yang terbuka di sekitarnya dipenuhi dengan reruntuhan yang terbengkalai.
Sekilas, ia melihat patung-patung yang hancur dan relief-relief yang tersembunyi di balik debu dan kerak zaman.
Tiba-tiba, Jonathan merasakan ada suatu kehadiran di balik kesunyian yang menyeramkan. Ia menggenggam erat pedangnya saat bertambah waspada.
Dalam kegelapan, ia melihat bayangan bergerak dengan cepat tampak mirip dengan kelabang raksasa.
Dengan sigap, Jonathan segera meluncurkan serangan dengan pedangnya menuju arah bayangan itu.
Tetapi serangannya hanya melintas di udara kosong saat bayangan itu dengan lincah menghindar.
Makhluk itu memperlihatkan diri sebuah jelmaan raksasa dari kelabang, dengan cakar-cakar tajam dan mandibula besar yang siap mengoyak daging.
"Kau cukup tangguh!" kata Jonathan antusias.
Jonathan tidak mengenal takut dan dengan serangan beruntun yang cepat dan presisi, ia berusaha menghindari serangan-serangan berbahaya dari makhluk tersebut.
Detak-detak pedang dan kedua belah pihak beradu strategi dan kecepatan.
Jonathan tidak memiliki pilihan lain kecuali untuk menggunakan semua keahlian tempur terbaiknya untuk dapat mengalahkan makhluk ini.
Dengan kepintarannya dan kecepatan geraknya, Jonathan berhasil membuat luka-luka pada kelabang raksasa itu.
Namun, makhluk itu tidak menunjukkan kelemahan apapun. Rasa lelah mulai menyerang Jonathan saat dia terus berjuang melawan musuh yang tangguh.
Pada saat yang genting ini, Jonathan merasakan dorongan seakan-akan ada energi yang mengalir melalui tubuhnya.
Ia menghadapi kelabang raksasa dengan keberanian dan keteguhan hati yang baru ini.
Serangannya menjadi lebih kuat dan tajam. Dalam serangan pamungkas yang memblitzing ruangan, ia dengan presisi menusuk jantung dari makhluk itu.
Dengan satu jeritan yang menggema, kelabang raksasa itu runtuh dalam kehancuran.
Dalam keadaan lelah Jonathan menyeka keringat dari dahinya dan memandangi reruntuhan yang mengitari dirinya.
__ADS_1
"Kau cukup merepotkan!" Ia tersenyum puas mengetahui bahwa ia telah memenangkan pertempuran ini dan melindungi dunia dari ancaman makhluk kegelapan.
Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dan sampai si ujung paling dalam.
Monster yang menjaga reruntuhan ini adalah Naga yang bertugas menjaga Perisai Suci.
Jadi, Jonathan harus bisa mengalahkannya untuk mendapatkan Perisai Suci itu.
Kemudian, tampak Jonathan menatap Naga itu dengan penuh tekad. Ia sedang mempersiapkan dirinya untuk melawan monster yang kuat itu. Dengan langkah hati-hati, Jonathan mulai mendekati Naga tersebut.
Tampak Naga tersebut merasa terganggu dengan kehadiran Jonathan. Ia langsung bertanya pada Jonathan dengan suaranya yang menggelegar, “Siapa kamu yang berani mengganggu istirahatku?”
Namun Jonathan tidak gentar. Ia menjawab dengan tegas, “Aku Jonathan, kesatria yang mencari Pedang Suci.”
Sebenarnya, Sang Naga cukup terkejut karena Jonathan berhasil sampai sejauh ini. Namun, ia tidak ingin menyerahkan Pedang Suci begitu saja dan ia langsung mengambil posisi siap tempur.
Melihat hal tersebut, Jonathan juga langsung mengeluarkan pedangnya. Ia pun siap untuk bertarung dengan Naga.
“Sepertinya kau tidak akan memberikannya suka rela," ujar Jonathan.
Pertarungan pun dimulai.
Setelah berjam-jam bertarung, Jonathan akhirnya berhasil mematahkan ekor Naga dengan tebasan pedangnya yang tajam. Naga pun tidak bisa bergerak dan terjatuh ke tanah.
Jonathan lalu berjalan mendekati Naga tersebut dan berniat ingin memotong kepalanya.
“Mohon ampuni saya!" ucap Naga tersebut.
“Saya bisa melepaskanmu jika kau memberikan Perisai Suci itu," jawab Jonathan.
“Baiklah, kau bisa mengambilnya," ucap Sang Naga seraya menunjukan di mana benda itu berada.
Jonathan tampak merasa lega setelah mendapatkan Perisai Suci tersebut. Ia segera keluar dari tempat itu dengan senyuman di wajahnya dan meninggalkan Naga itu begitu saja karena sudah berhasil mendapatkan Pedang Suci.
Jonathan akhirnya kembali ke Hutan Suci dan bertemu Raja Elf lagi.
Raja Elf lantas mengajak Jonathan untuk melihat pohon kehidupan yang ia dan klannya jaga sejak turun-temurun. Mereka berjalan melewati hutan lebat yang dipenuhi oleh berbagai spesies tumbuhan dan binatang. Setelah beberapa saat mereka tiba di sebuah lahan terbuka yang di tengahnya ada sebuah pohon yang sangat besar dan indah.
"Jonathan, inilah pohon kehidupan milik kami. Pohon ini sudah ada sejak nenek moyang kami dan kami telah menjaganya dengan baik sejak saat itu," kata Raja Elf sambil mengelilingi pohon.
Jonathan terkagum-kagum melihat pohon kehidupan. Pohon yang tingginya beberapa meter dengan batang yang besar dan kuat. Daun-daun pohon ini hijau segar dan tampak sangat sehat. Serangkaian akar yang panjang dan kuat menjalar di sekitar pohon.
__ADS_1
"Bagaimana pohon ini bisa memberikan kehidupan?" tanya Jonathan.
"Pohon ini tidak hanya memberikan kehidupan bagi kami, tetapi juga seluruh makhluk hidup di dunia ini. Buah yang dihasilkan oleh pohon ini memiliki kekuatan penyembuhan yang luar biasa. Selain itu, akar pohon ini dapat digunakan sebagai obat-obatan, dan kayu pohonnya sangat kuat sehingga dapat dijadikan bahan bangunan. Selain itu, pohon ini juga menjadi simbol kesatuan dan keberanian bagi klanku," jelas Raja Elf.
Jonathan merasa terkesima dengan kebaikan pohon kehidupan ini dan betapa pentingnya menjaga lingkungan sekitar. Dia berjanji untuk lebih memperhatikan alam dan berusaha untuk melindunginya.
“Sebenarnya yang telah memilihmu adalah roh dari pohon kehidupan ini. Kau harus mengalahkan Raja Iblis karena tujuan dia adalah untuk merebut kekuatan Pohon Kehidupan,” jelas Raja Elf.
Raja Elf pun menyarankan Jonathan untuk melanjutkan perjalanannya ke Kerajaan Ignis dan membantu perang melawan pasukan iblis di sana.
Wilayah Kerajaan Ignis berbatasan dengan Benua Iblis. Di sana menjadi medan pertempuran besar untuk menahan masuk pasukan iblis yang menuju Hutan Suci.
“Kau harus membantu pertempuran di Kerajaan Ignis. Setelah itu, kau pergi ke Benua Iblis untuk mengalahkan Raja Iblis. Barulah kau boleh memiliki Aria, setelah menyelesaikan semua tugas ini,” kata Raja Elf.
Jonathan pun mengangguk tegas dan segera mempersiapkan diri untuk berangkat. Meskipun Aria tampak khawatir, tapi Jonathan mencoba meyakinkannya bahwa dirinya bisa menyelesaikan misi tersebut.
Raja Elf pun memberikan beberapa perlengkapan dan bekal untuk membantu Jonathan dalam perjalanannya.
Setelah persiapan selesai, Jonathan bertolak menuju Kerajaan Ignis dengan tekad yang kuat untuk membantu mereka dalam melawan pasukan iblis yang telah menyerang kerajaan tersebut. Perjalanan yang dilakukan cukup berat, namun Jonathan terus melangkah dengan semangat dan keberanian.
“Lucky, aku masih merasa ini adalah sebuah dunia game,” ungkap Jonathan.
“Tak masalah! Tapi kau harus serius dalam menghadapi Raja Iblis nanti," tegas Lucky.
Sampai di Kerajaan Ignis, Jonathan segera memasuki kawasan pertempuran yang sangat sengit. Pasukan iblis tampaknya memiliki kekuatan yang sangat besar dan sulit untuk ditaklukkan.
Jonathan tidak bisa berkata-kata saat tiba di wilayah kerajaan ignis yang menjadi benteng pertahan utama dari serbuan pasukan iblis. Hal ini membuatnya teringat pada sebuah game bertahan mempertahankan kerajaan.
Jonathan merasa seperti sedang memainkan game strategi saat memasuki wilayah kerajaan ignis. Ia melihat bagaimana para pasukan pertahanan bekerja sama untuk melindungi kerajaan dari serbuan pasukan iblis yang ganas.
Ia teringat pada saat-saat saat ia bermain game serupa, di mana ia harus membangun tembok dan menempatkan pasukan dari berbagai jenis untuk melindungi basisnya dari serbuan musuh yang semakin kuat.
Kini, Jonathan melihat secara langsung betapa seriusnya pertempuran ini dan ia menyadari betapa pentingnya strategi dan kerja sama dalam mempertahankan wilayah Kerajaan Ignis dari musuh yang licik dan ganas.
Jonathan merasa terpukau oleh corak luar biasa dari pasukan kerajaan yang bekerja tanpa lelah untuk melawan pasukan iblis yang semakin kuat. Ia merasa terinspirasi oleh semangat perjuangan dan dedikasi dari para prajurit yang mempertaruhkan nyawa mereka untuk melindungi kerajaan.
Dalam hati, Jonathan berdoa agar para pasukan pertahanan kerajaan tetap kuat dan bersatu dalam menghadapi serangan dari pasukan iblis. Ia berjanji bahwa ia akan menjadi salah satu yang melindungi kerajaan tersebut dan menunjukkan kemampuannya yang terbaik.
“Baiklah, sepertinya aku juga harus mulai ikut berpartisipasi," kata Jonathan seraya mengangkat Pedang Suci di tangannya ke atas.
Bersambung.
__ADS_1