
Ketika Julian telah lulus dari Akademi Pahlawan, ia membuat grup bersama Iris dan Alice.
Saat ini, tampak mereka sedang memasuki sebuah reruntuhan untuk penaklukan monster di sana.
“Tetap waspada!" kata Julian.
Mereka berjalan dengan hati-hati di dalam reruntuhan yang gelap dengan cahaya dari senter mereka sebagai satu-satunya sumber penerangan. Suasana di dalam reruntuhan benar-benar menegangkan, penuh dengan debu dan keheningan yang menakutkan.
"Tapi di mana monster-monster ini?" tanya Iris sambil memegang erat pedangnya.
"Aku tidak yakin,” kata Alice sambil melihat sekeliling dengan cemas. "Tapi berdasarkan laporan, mereka harus berada di bagian dalam tempat ini."
Julian memimpin kelompok ini dengan langkah hati-hati, menghindari reruntuhan dan jebakan yang tersembunyi di dalam gelap. Namun, semakin lama mereka berjalan, semakin tidak mereka menemui tanda-tanda keberadaan monster.
"Tampaknya mereka tidak ada di sini," kata Julian menghentikan langkahnya.
"Apakah kita harus mencari di tempat lain?" tanya Iris, tatapannya mengikuti setiap bayangan yang terlihat.
"Tidak, aku punya ide kata Alice tersenyum. "Ayo kita uji beberapa trik kita untuk memanggil mereka."
Iris dan Julian melayangkan pandangan bingung pada Alice, tetapi memutuskan untuk mengikutinya. Mereka berdiri di tengah reruntuhan yang hening dan mengatur diri mereka untuk mencoba trik-trik mereka.
Julian mengeluarkan senjata sihirnya dan mulai mengucapkan mantra serangan. Dalam sekejap, api biru muncul di ujung pedangnya dan menari-nari memberikan cahaya ke gelapnya reruntuhan. Dia mengayunkan pedangnya dan api biru itu berubah menjadi bola api yang meluncur ke udara dan meledak menjadi kembang api warna-warni.
__ADS_1
"Trik pertama berhasil!" kata Julian tersenyum sambil mengepalkan tinjunya.
Sekarang giliran Iris. Dia mulai bernyanyi dengan suara indah memenuhi ruangan dengan melodi yang memukau. Seiring suaranya naik, sekelompok burung hantu beterbangan ke dalam reruntuhan dan berputar-putar di langit-langit dengan riang. Suara nyanyiannya semakin lama semakin keras, membuat tembok reruntuhan bergemuruh.
"Wow itu sungguh menakjubkan!" kata Julian terkagum-kagum.
Akhirnya giliran Alice. Dia mengeluarkan bola energi kecil dari tangannya dan melemparkannya ke langit-langit. Bola itu pecah dan melepaskan awan bercahaya yang menerangi seluruh reruntuhan. Cahaya itu mengisi setiap sudut dengan kehangatan dan keindahannya.
"Mudah-mudahan trik terakhir ini bisa memancing monster-monster itu keluar," kata Alice cepat-cepat.
Tidak lama kemudian, suara-langkah berat bergema di koridor reruntuhan. Suara itu semakin mendekat dan mereka segera mengetahui bahwa monster-monster itu akhirnya datang.
Dalam sekejap, tiga monster besar muncul dari bayang-bayang. Satu dengan tanduk tajam, satu dengan kulit yang dilumuri oleh racun berwarna hijau, dan satu lagi dengan cakar tajam serta mata yang menyala-nyala.
"Mereka benar-benar datang!" kata Iris tercengang melihat monster-monster itu.
Julian menggenggam pedangnya dengan erat, siap untuk melawan ketiga monster itu. Dia merasa getaran adrenalin mengalir dalam tubuhnya menyala di dalam dada. Dengan langkah mantap, dia melangkah maju mengejar monster-monster itu.
Monster dengan tanduk tajam melangkah maju dengan agresif, tanduknya berkilauan terkena sinar matahari dari celah reruntuhan. Julian mengelak dengan lincah saat monster itu menyerang dan dengan kecepatan kilat, dia melancarkan serangan balasan. Pedangnya menembus kulit monster itu, menghasilkan luka dalam yang dalam. Namun, monster tersebut hanya tertawa dengan suara yang mengerikan, sebagai balasannya, mengayunkan tanduknya dengan kekuatan penuh.
Julian dengan cepat menghindar, tetapi ancaman yang datang dari monster ini membuatnya berpikir cepat. Dia mengubah pendekatan ini menjadi serangan yang lebih bertahap, mencari celah dan kelemahan di antara serangan-serangan monster itu. Setelah beberapa percobaan, dia menemukan titik lemahnya: leher. Julian dengan tepat memanfaatkan kesempatan untuk menikam monster itu pada lehernya dengan pedangnya menyebabkan aliran darah monster mengucur keluar. Monster itu meringis kesakitan dan kemudian jatuh ke tanah sebelum akhirnya menjadi debu.
Sementara itu, Alice dan monster dengan cakar tajam terlibat dalam pertarungan yang sengit. Monster itu bergerak lincah dengan cakar-cakarnya yang tajam dan mata menyala-nyala, memancarkan kekuatan magis yang luar biasa. Alice mengelak, menghindari setiap serangan monster dengan gerakan yang lemah, tetapi elegan. Dia memancarkan serangkaian mantra dan mantra untuk melawan monster itu. Cahaya berkilau berasal dari sihirnya, mengiris-iris angin sambil membentuk pelindung energi di sekitarnya.
__ADS_1
Pertarungan berlangsung keras, tetapi Alice tidak menyerah. Dia terus meladeni serangan monster itu dengan keberanian dan kecerdasan. Alice mengambil keuntungan dari kesempatan yang muncul dan dengan cepat, menjalankan mantra terakhirnya. Energi sihir yang hebat terpancar dari tongkatnya menyerap energi monster itu dan melemahkannya secara bertahap. Monster dengan cakar tajam akhirnya menggigil, berlutut di hadapan Alice sebelum akhirnya menghilang menjadi asap.
Sekarang tinggal satu monster yang tersisa: monster dengan kulit yang dilumuri oleh racun berwarna hijau. Julian dan Iris bergabung bersama saling berpandangan sebelum bersiap untuk serangan terakhir. Julian mengejar monster itu dari depan dengan pedangnya, tetapi serangan-serangannya tampaknya tidak berpengaruh. Racun berwarna hijau dari kulit monster itu menghalangi serangan-serangan Julian, menyebabkan lukanya tidak begitu mematikan seperti yang diharapkan.
Iris diam-diam mengamati situasi saat ini dan kemudian mengambil keputusan penting. Dengan cepat dia menciptakan mantra yang kuat untuk melindungi Julian dari racun itu. Cahaya sihir memancar dari tangan Iris saat dia memancarkan mantra dan Julian merasakan kekuatan pelindung yang melindunginya dari efek beracun. Dengan kepercayaan diri dan hati yang tulus, Julian menggetarkan pedangnya dengan kekuatan penuh dan menghujamkan pedang yang bercahaya itu ke monster itu.
Monster itu menderita luka yang besar dan terdiam mendengus, sebelum akhirnya jatuh ke tanah dengan gemetar. Ketiga monster tersebut telah berhasil dikalahkan. Julian dan Iris saling bertatapan senyum kemenangan terukir di wajah mereka.
"Kita berhasil!" kata Julian dengan suara gembira.
"Ya kita berhasil!" balas Iris suaranya penuh dengan kebanggaan.
“Sebaiknya kita kumpulkan drop itemnya," kata Alice
Mereka bertiga merayakan kemenangan mereka menyadari bahwa mereka adalah tim yang tak terkalahkan. Meskipun ada tantangan yang serius di depan mereka mereka akan menghadapinya dengan keberanian dan keyakinan bahwa bersama-sama mereka dapat mengatasi apa pun yang datang.
Dunia nyata benar-benar telah berubah menjadi dunia game. Bahkan monster menjatuhkan drop item dan semua orang memiliki kekuatan super, seperti sihir, ilmu pedang, dan lainnya. Oleh sebab itu, Julia tidak merasakan perbedaan ketika ia melihat layar mengambang dari Sistem Cheat. Alasannya karena saat ini semua orang memilikinya.
Ketika Julian telah menjual item yang dia dapatkan dan kembali ke rumah, dia kembali memeriksa layar statusnya. Julian sedikit heran kenapa orang lain tidak bisa melihat layar ini, padahal dia bisa melihat layar status milik orang lain. Selain itu, layar ini hanya akan muncul ketika dia memegang controller game warisan keluarganya. Lalu, Julian melihat ada tulisan 'Load' yang membuatnya penasaran untuk mengkliknya.
“A-apa ini?" Julian tersentak ketika berbagai memori ingatan masuk ke dalam pikirannya.
Kini, Julian sadar bahwa dirinya sebenarnya adalah reinkarnasi Jonathan. Tiba-tiba, controller berubah menjadi bentuk makhluk hidup mirip kucing. Ya, itu adalah Lucky dan dia senang karena majikannya sudah kembali mengingat semuanya.
__ADS_1
“Astaga, Lucky, kenapa semua bisa menjadi seperti ini?" kata Julian heran.
Bersambung.