
Sebagai generasi ketiga, Julian Xanders, juga memiliki kesulitan untuk membangkitkan kekuatannya. Hal itu disebabkan oleh keadaan keluarganya yang sekarang sudah hancur.
Setelah kakeknya, Jonathan, tidak pernah kembali dari dimensi kegelapan, David, ayahnya Julian ikut menyusul ke sana dan tidak pernah kembali. Sayangnya, kisah kepahlawanan dari keluarganya sekarang sudah mulai terlupakan. Kini, sudah tidak ada lagi yang begitu tahu soal keluarga kehebatan keluarga Xavier di masa lalu karena banyak pahlawan-pahlawan baru yang naik dan menjadi terkenal. Kejatuhan keluarga Xavier juga dipengaruhi oleh beberapa pihak yang memang membenci dan ingin menjatuhkannya. Namun demikian, Julian sebagai satu-satu orang yang masih tersisa tidak akan menyerah. Keadaan Julian semakin parah ketika bibinya, Diana, ikut meninggal setelah merawat Julian selama ini.
...****************...
Tampak seorang remaja yatim piatu sedang sendirian di rumahnya yang sepi. Ia memandangi foto keluarganya yang merupakan pahlawan terlupakan. Dalam foto itu terdapat gambar orang tua Julian yang pernah menjadi pahlawan yang dihormati dalam komunitas supranatural. Mereka adalah pasangan pahlawan kuat yang dulu melindungi umat manusia dari ancaman makhluk jahat. Namun, mereka terbunuh dalam sebuah misi berbahaya ketika Julian masih bayi.
Selain itu, ia juga melihat foto kakeknya, pahlawan pertama yang menyelamatkan umat manusia ketika makhluk dari dimensi kegelapan menginvasi bumi.
Melihat foto itu, Julian merasakan kekosongan dan kehilangan yang mendalam. Ia merindukan kasih sayang dan bimbingan ayah dan ibunya yang tidak pernah ia kenal. Sebagai anak generasi ketiga, ia seharusnya memiliki kekuatan magis yang kuat seperti orangtuanya. Namun rasa kehilangan dan ketakutan dalam hidupnya menyebabkan kekuatannya terhambat.
Julian sempat dirawat dan dilatih oleh bibinya, Diana. Namun, bibinya tersebut juga telah lama meninggal ketika Julian baru saja berumur 10 tahun. Sambil menggenggam foto keluarganya, Julian memutuskan untuk mengubah nasibnya. Ia bertekad untuk menyelami warisan keluarganya dan membangkitkan kekuatan yang terpendam di dalam dirinya.
Saat ini, Julian sudah berusia 14 tahun dan ia tampak ingin ikut ujian masuk ke Akademi Pahlawan. Julian telah mempersiapkan dirinya dengan sungguh-sungguh selama berbulan-bulan. Ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar tentang sejarah pahlawan, kekuatan super, strategi pertempuran, dan keterampilan fisik yang diperlukan untuk menjadi seorang pahlawan yang hebat. Julian juga berlatih dalam berbagai kegiatan fisik, seperti lari, angkat beban, dan pertarungan beladiri.
Hari ujian pun tiba. Julian memasuki ruangan tes yang penuh dengan pahlawan terkenal dan calon pahlawan lainnya. Ia merasa tegang, namun tetap bersemangat. Julian tahu ini adalah kesempatan besar baginya untuk berbaur dengan elit pahlawan dan mengasah kemampuan dirinya.
Ujian pertama adalah tes kekuatan. Setiap peserta memiliki kesempatan untuk memperlihatkan kekuatan super mereka, baik melalui mengangkat benda berat, melemparkan objek jauh, atau menunjukkan keterampilan unik seperti kemampuan untuk terbang atau berubah wujud. Julian memutuskan untuk menunjukkan kekuatan mental. Dia dengan cermat mengarahkan tenaganya ke sepotong kertas yang berada di meja di depannya. Dengan konsentrasi yang mendalam, kertas itu melayang dan bergerak-gerak secara mengagumkan.
Ujian berikutnya adalah kemampuan strategi pertempuran. Setiap peserta diberikan simulasi pertempuran dengan monster palsu yang memiliki kekuatan yang berbeda-beda. Julian harus memanfaatkan kekuatannya dan mengatur strategi untuk mengalahkan monster tersebut.
__ADS_1
Ujian terakhir adalah tes fisik. Peserta harus menjalani serangkaian tantangan fisik yang menuntut stamina dan kecepatan yang tinggi. Kebanyakan peserta dengan lincah mengatasi setiap tantangan dan menyelesaikannya dengan baik. Mereka berlari melintasi rintangan, melompati tembok tinggi, dan melewati kawanan monster palsu dengan kecepatan yang mengesankan.
Setelah selesai menjalani semua ujian Julian harus menunggu hasilnya bersamaan dengan para peserta lainnya. Ia merasa grogi dan tegang namun juga berharap dapat lolos dan menjadi salah satu murid Akademi Pahlawan. Julian tahu bahwa ini hanya langkah awal dan masih harus banyak belajar dan berlatih untuk bisa menjadi pahlawan sejati.
Setelah beberapa saat penantian yang tak terhitung, akhirnya hasil ujian diumumkan. Dengan bahagia Julian mendengar nama-namanya dipanggil sebagai salah satu penerima yang berhasil lulus. Ia merasa sangat bangga dengan dirinya sendiri dan tak sabar untuk memulai petualangannya di Akademi Pahlawan meskipun sebagai peringkat paling bawah.
Hari pertama sekolah di Akademi Pahlawan tiba. Julian berhasil masuk dalam ujian masuk hanya dianggap keberuntungan dan nilai paling terendah dari semua murid lain. Di Akademi Pahlawan sekarang mulai tumbuh hirarki kasta di mana Julian masuk kategori kasta bawah.
Julian merasa canggung dan tidak nyaman dengan posisinya sebagai murid kasta bawah di Akademi Pahlawan. Dia merasa tidak memiliki bakat yang cukup dibandingkan dengan murid-murid lainnya yang masuk kasta atas. Namun, dia tidak ingin menyerah begitu saja.
Julian mengerti bahwa untuk naik ke kasta yang lebih tinggi, dia harus bekerja keras dan mengembangkan kemampuannya. Dia tahu bahwa keberuntungan saja tidak akan cukup untuk mengangkatnya ke posisi yang diidam-idamkan.
Meskipun awalnya banyak yang meremehkan, Julian dia tidak membiarkan hal itu menghalanginya. Dia bekerja keras untuk membuktikan bahwa meskipun dia masuk dalam kasta bawah, dia juga memiliki potensi yang besar.
Saat Julian sedang fokus membaca buku pelajaran sambil berjalan di lorong Akademi, tiba-tiba ia tabrakan dengan seorang murid lain.
“Hey murid rendahan! Apa kau tidak meminta maaf?" ujar temannya yang marah.
Julian terkejut dengan nada marah yang keluar dari mulut temannya si gadis yang bertabrakan dengannya. Ia segera berhenti dan melihat ke arah temannya dengan ekspresi memohon maaf yang jelas terlihat di wajahnya.
"Maaf teman. Aku benar-benar tidak sengaja,” kata Julian dengan suara yang penuh penyesalan. Ia berusaha mengendalikan diri agar tidak ikut marah.
__ADS_1
Namun, temannya gadis itu tetap memandang Julian dengan pandangan sinis. "Maaf dari mulutmu tidak akan memperbaiki kejadian ini. Kamu terlalu ceroboh, sudah seharusnya kamu lebih berhati-hati!"
Julian merasa tersinggung oleh perkataan murid tersebut. Ia bukanlah tipe murid yang sering membuat kesalahan atau sengaja berbuat jahil. Tapi kali ini kecelakaan tersebut memang tidak bisa disangkal adalah kesalahannya.
"Demi kesekian kalinya, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud mengganggumu. Bukankah seharusnya kita berteman dengan saling memaafkan?" Julian berusaha menjelaskan dirinya tanpa meninggikan suara.
Namun, murid tersebut masih terlihat kesal. "Teman? Apa kamu pikir kamu pantas menjadi temanku?" ucapnya merendahkan.
Julian merasakan hatinya terluka. Ia merasa semua ini tidak adil. Ia hanya ingin melakukan tindakan yang benar dan meminta maaf atas kesalahan yang dia buat. Julian berusaha menjaga dirinya dari amarah yang menyala di dalam dirinya.
"Saya memahami bahwa kamu marah, tapi apakah kita tidak dapat menyelesaikan masalah ini dengan cara yang lebih baik? Saya benar-benar menyesal dan siap memperbaikinya,” ujar Julian dengan nada rendah.
“Iris, sudahlah. Lagian aku juga cukup ceroboh,” kata murid yang tadi tabrakan dengan Julian, ia mencoba melerai.
“Tidak bisa, Alice, dia telah merusak barang berhargamu," jawab gadis yang dipanggil Iris tersebut.
“Tidak apa, aku masih memperbaikinya kok," jawab Alice.
Akhirnya gadis galak itu pergi setelah temannya yang bernama Alice, terus mencoba membujuknya. Namun, gadis galak itu sempat mengatakan ingin mengajak Julian duel di pelajaran praktik nanti.
Bersambung.
__ADS_1