
“Aaargh...”
Salah satu Patriak Sekte berteriak saat kehilangan salah satu lengan tangannya.
Terlihat darah segar terus mengalir keluar dari luka yang masih begitu hangat. Tak tahan akan rasa sakit, akhirnya dia tumbang tak sadarkan diri di tengah-tengah pertarungan.
Kekuatan Zhou Tian terlalu kuat untuk berhadapan dengan para Patriak Sekte, yang kekuatannya rata berada di ranah Saint tingkat Puncak. Meski mereka unggul dalam jumlah, semua itu tak berguna saat dihadapkan pada kekuatan besar Zhou Tian.
“Apa masih ada yang ingin mati di tanganku?” Zhou Tian bertanya sambil menatap bergantian lima Patriak Sekte yang masih sanggup melanjutkan pertarungan dengannya.
Lima Patriak saling lirik satu sama lain. Wajah mereka saat ini terlihat sangat jelek, dan mereka sadar jika kekuatan musuh terlalu kuat untuk merka hadapi, apalagi mereka kali ini hanya berlima.
Sebelumnya dengan jumlah yang lebih banyak mereka berhasil di kalahkan, apalagi dengan jumlah saat ini, jelas sekali mereka bakalan lebih mudah dikalahkan.
Jika tetap memaksakan melawan musuh yang jelas jauh lebih kuat dari mereka, yang pasti, jika memutuskan melawan, artinya mereka juga harus siap menanggung kematian.
Dengan kekuatan saat ini, jelas mereka akan mati saat berhadapan dengan Zhou Tian.
Ranah Saint berhadapan dengan ranah Dewa, sekalipun jumlah mereka lebih dari satu juta, tetap saja kekuatan mereka tak sebanding dengan kekuatan kultivator ranah Dewa.
Kelima Patriak mulai menyesal karena bergabung dengan Kerajaan Bambu Emas, yang berkeinginan melenyapkan kekuasaan ras iblis di Benua Selatan dan Benua Timur.
Jika saja mereka tahu seberapa kuat ras iblis yang akan dihadapi, sedari awal mereka pasti menolak ajakan Raja Kerajaan Bambu Emas.
Lebih baik mereka tidak lagi memperbudak ras iblis dibandingkan harus mengalami kematian di tangan para iblis.
Namun, semua benar-benar sudah terlambat. Sekarang tak lagi ada jalan mundur untuk mereka, yang ada hanya jalan maju dan itu jelas bukanlah jalan yang berujung baik untuk mereka.
Kematian adalah yang menanti mereka jika memilih maju. Jika memilih mundur, mereka justru akan mendapatkan kematian konyol dan memalukan.
Memutuskan tetap bergerak maju mesti kematian audah menanti mereka, setidaknya kematian dalam perjuangan lebih mulia dibandingkan mati konyol saat mencoba pergi melarikan diri selayaknya pengecut.
Dipimpin Patriak Sekte Sembilan Menara, lima Patriak Sekte bergerak maju menyerang Zhou Tian yang tetap tenang berdiri di tempatnya.
“Akhirnya kalian memutuskan mati terhormat dibandingkan mati saat lari selayaknya pengecut!”
Zhou Tian melihat lima Patriak yang menyerangnya dengan pandangan biasa-biasa saja.
“Kalian datang menginginkan kematian, dan dengan senang hati aku akan memberikan apa yang kalian inginkan!”
Tak menghindari serangan musuh, Zhou Tian yang berdiam diri di tempat, dia hanya mengulurkan tangan menghalau serangan yang tertuju padanya.
Bertubi-tubi serangan dilakukan lima Patriak Sekte pada Zhou Tian, tapi tak ada satupun setangan mereka yang berhasil melukai Zhou Tian. Jangankan melukai, merobek pakaian Zhou Tian saja mereka tak mampu melakukannya.
“Apa cuma begini kekuatan seorang Patriak Sekte Besar di Alam Fana? Kekuatan kalian benar-benar lemah, bahkan aku cukup menggunakan kekuatan fisik untuk melawan kalian!”
“Namun, dikarenakan keinginan kalian datang padaku adalah untuk kematian, dengan senang hati aku akan memberi apa yang kalian inginkan!”
Kelima Patriak tentu saja tidak menginginkan kematian, tapi mereka tahu kalau musuh tak sedikitpun memiliki niatan memberi pengampun pada mereka.
Tak lagi menghalau serangan musuh setelah berkali-kali berhasil menghalau setiap serangan yang tertuju padanya, kini giliran Zhou Tian membalas serangan.
Menggunakan pedang Naga Hitam di tangannya, dengan kecepatan bagaikan kilatan cahaya, dia terus menyerang musuh.
Melihat musuh kewalahan menghalau ataupun menghindari serangannya, Zhou Tian justru semakin gencar menyerang mereka.
Alhasil, serangan yang gagal dihindari atau dihalau, serangan itu tepat mengenai sasaran, dan memberikan luka cukup serius pada musuh Zhou Tian.
Seiring berjalannya waktu, luka-luka di tubuh mereka semakin bertambah, dan sampai saatnya hanya satu orang dari mereka yang masih sanggup berhadapan dengan Zhou Tian.
Orang itu adalah Patriak Sekte Sembilan Menara, yang merupakan Sekte terbesar dan paling terkemuka di Alam Fana.
__ADS_1
“Ternyata aku harus kalah di tangan seorang iblis yang dulunya selalu aku tindas!” Patriak Sekte Sembilan Menara tersenyum, menertawakan kebodohannya yang tak mencari tahu terlebih dahulu, sekuat apa musuhnya.
Dia benar-benar tidak menyangka, ada sosok iblis sangat kuat, jauh lebih kuat dibandingkan dirinya yang selama ini hanya terus berfokus meningkatkan kekuatan.
“Apa kau punya pesan terakhir sebelum mati di tanganku?” Dengan santainya Zhou Tian bertanya pada Patriak Sekte Sembilan Menara.
“Jangan sentuh Sekte Sembilan Menara karena apa yang terjadi di tempat ini, tak berhubungan dengan mereka. Apa yang terjadi di tempat ini adalah murni keputusanku, tanpa adanya campur tangan dari mereka!” jawab Patriak Sekte Sembilan Menara.
“Baiklah, aku berjanji tak akan menyentuh Sekte Sembilan Menara, selama mereka tidak lebih dulu mencari masalah denganku!”
“Kalau mereka lebih dulu mencari masalah denganku, aku pastikan tak lagi ada Sekte Sembilan Menara di Alam ini!” tegas Zhou Tian.
Patriak Sekte Sembilan Menara hanya mengangguk, dan sekalipun tahu kalau hidupnya tak akan lama lagi, dia tetap memaksakan tubuhnya menyerang musuhnya. Setidaknya dia ingin mati dalam keadaan terhormat.
Di sisi lain, Zhou Tian yang melihat gelagat musuhnya, dia tahu jika pria itu ingin mengakhiri pertarungan secara terhormat.
“Sebenarnya aku bisa membunuhmu dengan tangan kosong, tapi melihatmu yang ingin mati secara terhormat, aku akan menggunakan senjata untuk mempercepat kematianmu!”
Luo Feng memegang erat pedang Naga Kegelapan, begitu juga dengan musuhnya yang memegang erat pedang di tangannya.
Setelah beberapa waktu saling tatap dengan sorot mata tajam, keduanya melesat maju sangat cepat, dan sama-sama mengayunkan pedang di tangan masing-masing.
Slash... Slash...
Setelah gerakan cepat saling serang diantara keduanya, sekarang Zhou Tian dan musuhnya saling memunggungi, tapi tak lama musuh Zhou Tian tumbang dengan tubuh terpotong menjadi dua bagian.
Sedangkan Luo Feng, dia masih tegak berdiri di tempatnya, dan tak sedikitpun terlihat luka goresan di tubuhnya. Jangankan luka goresan di tubuh, pakaiannya saja masih terlihat mulus dan bersih.
Kematian musuh Zhou Tian sudah bisa dipastikan, dan dengan kematian orang itu sekarang tak lagi ada yang tersisa dari musuh yang memasuhi ras iblis.
Yang tersisa di tempat itu adalah para Raja dari Benua Timur dan Benua Selatan yang telah menjalin hubungan baik dengan ras iblis.
“Mereka mati karena sifat serakah serta iri yang terlalu besar,” ungkap Zhou Tian.
Raja Tang Gong sendiri mati di Tangan Zhou Lin tak lama setelah Zhou Gang membunuh Tang Lu, Jenderal Besar Kerajaan Bambu Emas. Mayat Raja Tang Gong ditumpuk menjadi satu dengan mayat Tang Lu, bersama dengan orang-orang yang mendukung meraka.
Mereka yang awalnya datang hanya sekedar untuk menghadiri undangan Raja Kerajaan Bambu Emas, kedatangan mereka justru disambut dengan rencana busuk Raja Tang Gong.
“Sekarang apa yang akan kita lakukan pada Kerajaan ini?” tanya Zhu Ning pada yang lainnya.
“Kumpulkan Pangeran, Permaisuri Kerajaan, ataupun Selir Kerjaan ini, dan kita akan melihat siapa yang pantas dijadikan pemimpin baru Kerajaan ini!” perintah Zhou Tian.
Zhou Lin dan Zhou Gang yang merupakan seorang Raja, mereka sama sekali tidak keberatan melakukan perintah Zhou Tian, begitu juga dengan para Raja dari Benua Selatan yang sudah tahu siapa sosok Zhou Tian yang sesungguhnya.
Dengan banyaknya orang yang mencari keberadaan anggota keluarga Raja Tang Gong, dalam waktu singkat mereka semua berhasil ditemukan, dan saat ini dikumpulkan di hadapan Zhou Tian.
Menggunakan teknik Mata Emas, tak sulit bagi Zhou Tian mencari siapa diantara orang-orang dihadapannya yang pantas menggantikan Raja Tang Gong.
Diantara Pangeran Kerajaan Bambu Emas, Zhou Tian menunjukkan Pangeran Kedua sebagai Raja Baru Kerajaan Bambu Emas, dan memberi gelar Ibu Suri pada Selir Agung.
Ada yang terpilih, tentu saja ada yang harus disingkirkan. Selain Pasangan Ibu dan anak yang akan diangkat sebagai Raja dan Ibu Suri, anggota keluarga yang lain akan dieksekusi.
Dari apa yang dilihat Zhou Tian, mereka terbukti banyak melakukan tindakan yang membuat rakyat Kerajaan Bambu Emas menderita, dan mereka adalah orang-orang yang senantiasa bersikap kejam pada para iblis.
Tentu saja mereka tidak terima dengan keputusan itu, bahkan ada yang terang-terangan menyerang Zhou Tian.
Putra Mahkota Kerajaan Bambu Emas yang tak terima dengan keputusan Luo Feng, langsung saja dia menyerang saat Zhou Tian terlihat lemah di pandangannya. Namun, nyatanya Zhou Tian tak pernah lengah saat berada di tengah-tengah orang yang memusuhinya.
Yakin serangannya dapat membunuh musuh dan membalik keadaan, Putra Mahkota justru dibuat kecewa saat serangannya dsngan mudah dihalau musuh, bahkan dia harus merasakan tendangan mengarah ke dadanya, yang membuatnya memuntahkan seteguk darah dari mulutnya.
Wajah Putra Mahkota seketika menjadi pucat, dan dia sangat takut pada sosok yang berjalan mendekatinya.
__ADS_1
“Sepertinya ada yang sudah tidak sabar bertemu dengan kematiannya!” ucap Luo Feng tersenyum sambil terus melangkahkan kaki secara perlahan ke arah Putra Mahkota Kerajaan Bambu Emas.
Melihat Zhou Tian terus mendekatinya, sambil menahan rasa sakit Putra Mahkota merangkak menjauhi sosok yang dianggapnya sebagai Dewa Kematiannya.
“Tidak perlu pergi karena kemanapun kamu pergi, aku pasti datang untuk membunuhmu!” ucap Zhou Tian sambil melompat, menginjak kaki Putra Mahkota Kerajaan Bambu Emas.
“Aaargh...”
Putra Mahkota berteriak kesakitan saat kakinya patas diinjak Zhou Tian, bukan hanya satu kaki, tapi kedua kalinya patah diinjak Zhou Tian.
“A-Aku mohon, ampuni aku! Aku berjanji tidak akan lagi melakukan hal buruk pada para iblis yang menjadi budak di Kerajaan ini!” ucap Putra Mahkota memohon pengampunan.
Meski memohon dan dalam keadaan terdesak, wajah arogan Putra Mahkota masih terlihat, dan lagi dia masih menatap remeh Zhou Tian yang diketahuinya merupakan sosok iblis.
“Aku tidaklah bodoh dengan memberi pengampun orang sepertimu. Sebaiknya kamu mati saja menyusul Raja Tang Gong yang sudah lebih dulu mati!” Mengulurkan tangan, Zhou Tian mencengkram leher Putra Mahkota.
Putra Mahkota mencoba membebaskan diri dari cengkraman Zhou Tian, tapi usahanya berakhir sia-sia.
“Jangan melakukan sesuatu yang sia-sia! Sebaiknya kamu diam dan lihat kematian orang-orang yang memiliki sifat sama sepertimu, sebelum kamu mati menyusul mereka!”
Di sisi lain, satu-persatu anggota keluarga Raja Tang Gong dieksekusi dengan cara hukum penggal.
Para wanita dihukum lebih dulu dibandingkan para wanita, dan tak lama mereka semua telah menjadi mayat, dan hanya menyisakan Pangeran Kedua dan Selir Agung.
Putra Mahkota yang melihat kematian anggota keluarganya dan hanya menyisakan dua orang yang paling dia benci, dia sangat marah, tapi tak ada yang bisa dilakukannya untuk membalaskan dendam mereka.
Bagaimana dia bisa balas dendam, sedangkan dirinya sendiri belum tentu bisa meloloskan diri dari kematian?
“Le-Lepaskan aku!” ucap Putra Mahkota Kerajaan Bambu Emas yang terus menggunakan kedua tangannya untuk melepaskan tangan Zhou Tian, yang mencengkram kuat lehernya.
Melihat apa yang dilakukan Putra Mahkota, Zhou Tian terkekeh pelan sambil memperkuat cengkraman tangannya, membuat Putra Mahkota semakin kesulitan bernapas.
“Terima kematianmu, dan semoga kamu bahagia berkumpul dengan seluruh keluargamu di neraka!”
Zhou Tian menguatnya cengkraman tangannya, dan tak lama terdengar suara tulang patah.
“Krak...”
Patah Putra Mahkota bukan cuma patah, tapi hancur di cengkraman leher Zhou Tian.
“Orang sepertimu yang begitu kejam dan tak pernah memberi pengampun pada iblis yang memohon pengampunan padamu, jiwamu bahkan tak akan diterima di neraka sana!”
Melihat jiwa Putra Mahkota yang mulai terpisah dari raganya, dengan tangan kirinya Zhou Tian menghancurkan jiwa Putra Mahkota Kerajaan Bambu Emas, membuatnya tak lagi bisa bereinkarnasi.
Dengan kematian Putra Mahkota, Kerajaan Bambu Emas akhirnya bersih dari orang-orang kejam yang semasa hidupnya sudah membunuh begitu banyak iblis, yang menjadi budak di istana Kerajaan Bambu Emas.
Melempar sembarangan mayat Putra Mahkota, Zhou Tian menghampiri Pangeran Kedua dan Selir Agung, yang nantinya mereka akan menjadi sosok paling berkuasa di Kerajaan Bambu Emas.
“Aku percayakan Kerajaan ini pada kalian! Jika kalian mengecewakanku, aku sendiri yang akan menghancurkan Kerajaan ini!” ucap Zhou Tian.
Pangeran Kedua yang diangkat Raja oleh Zhou Tian, dia berjanji tak akan mengecewakan orang yang telah memberi kepercayaan padanya.
Hal yang sama juga dilakukan Selir Agung, yang kini telah menjadi Ibu Suri Kerajaan Bambu Emas. Wanita itu berjanji akan membantu putranya menjadi sosok Raja yang baik.
Menyerahkan urusan Kerajaan Bambu Emas pada mereka, Zhou Tian kini kembali fokus pada apa yang akan dia lakukan untuk membebaskan seluruh iblis dari perbudakan.
Dengan jatuhnya kekuasaan Raja Tang Gong, membebaskan iblis di Benua Barat dari perbudakan tak akan sulit seperti sebelumnya. Bagaimanapun juga, selama ini Raja Tang Gong adalah satu-satunya Raja di Benua Barat yang sangat membenci keberadaan ras iblis.
“Setelah dari sini, sepertinya aku akan pergi ke Benua Utara!”
...----------------...
__ADS_1
Bersambung.