Sistem Pelakor

Sistem Pelakor
Bab 34: Ayah Henry Meninggal Dunia


__ADS_3

"Laura-chan, saat ini Miyami sedang mengandung anak Henry jadi bibi sangat tidak sabar untuk melihat kelahirannya!" ucap Bibi Yamako sambil meniup teh manisnya agar sedikit dingin


"Benarkah?


Selamat Miyami, semoga anaknya lahir dengan sehat!" ucap Laura sambil tersenyum


"Terima kasih banyak atas doanya, Laura!" balas Miyami dengan nada pelan


Ketika Laura dan Bibi Yamako atau ibunya Henry saling berbicara mengenai masa lalu ibunya Laura yang dulunya adalah sahabatnya. Terlihat kalau Miyami sedang menahan rasa takut, dia sekarang mempercayai perkataan kakaknya kalau Laura ini sangat berbahaya dan pintar dalam menjebak serta mengetahui kehidupan seseorang hanya melalui benda pengawas seperti CCTV.


Mengetahui hal itu, Miyami sudah sangat terpojok hingga terpaksa memilih jalan keluar yang paling aman yaitu mengikuti perkataan kakaknya. Dari sudut pandang Laura, dia sudah sangat yakin kalau Miyami tidak akan berani melakukan perbuatan di luar rencananya sehingga hanya tersisa menghancurkan kehidupan Henry.


Hal pertama yang harus Laura lakukan adalah membuat Bibi Yamako mengetahui sifat Henry yang sebenarnya karena Bibi Yamako masih sangat mencintai anaknya yang masih dia anggap sebagai anak jujur dan baik. Namun, selain Bibi Yamako masih ada ayah Henry yang keberadaannya masih belum diketahui dan satu-satunya cara agar Laura dapat memakai ayah Henry di dalam rencananya yaitu bertanya kepada bibinya.


"Bibi, bagaimana kabar paman?" tanya Laura sambil minum teh manis


[Sedih]


"Pamanmu saat ini sedang sakit keras dan kata dokter, waktunya sudah tidak lama lagi jadi bibi sangat sedih mengetahui hal tersebut kalau Laura-chan ingin bertemu dengannya nanti kita pergi bersama Miyami untuk menemui ayah Henry!" ucap Ibu Henry dengan ekspresi sedih


"Semoga beliau mendapatkan kesembuhan. Sepertinya hari ini, kita bisa langsung pergi ke sana karena saya masih memiliki waktu bebas untuk hari ini saja kalau besok sudah waktunya bekerja lagi!" ucap Laura

__ADS_1


Ibu Henry melirik ke arah Miyami karena yang menentukan pergi atau tidaknya adalah dia. Laura tersenyum tipis dengan menunggu jawaban dari Miyami sembari menatapnya dengan memberikan ancaman.


[Memalingkan Wajah]


"Boleh!" ucap Miyami dengan nada pelan


"Kalau begitu mari bersiap-siap untuk ke rumah sakitnya!


Bibi jangan terlalu sedih, selalu berdoa adalah kunci untuk memberikan kesembuhan kepada paman!" ucap Laura dengan semangat


Miyami pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap begitupun Ibu Henry sedangkan Laura duduk dengan tenang sembari menunggu mereka berdua. Sudut pandang berubah kepada Miyami dan Ibu Henry di saat mereka saling bertatapan, Miyami memperlihatkan ekspresi ketakutan hingga membuat mertuanya simpati kepadanya.


"Miyami, ada apa?" tanya Ibu Henry dengan ekspresi cemas dan khawatir


Ibu Henry bingung dengan apa yang terjadi kepada Miyami tetapi dia sudah tidak lagi mendapatkan ancaman dari menantunya. Mereka berdua berpisah untuk pergi ke kamar masing-masing tetapi Miyami memilih sebuah kamar kosong untuk melepaskan luapan perasaannya.


[Menutup Pintu]


Tiba-tiba ekspresi Miyami berubah menjadi luapan amarah yang tidak tertahankan disertai kebenciannya hingga memukul-mukul dinding dengan kedua tangannya sampai terluka.


[Memukul Dinding]

__ADS_1


"Sialan, sialan, sialan, sialan, sialaaaan!" teriak Miyami dengan ekspresi marah sambil memukul dinding


[Darah Di Setiap Jarinya]


"Membuat kakakku masuk penjara lalu sekarang menginginkan kehancuran hidupku. Apa yang sudah aku perbuat kepadanya hingga sampai melakukan semua ini, dasar wanita bajingan!" teriak Miyami sambil meluapkan amarahnya


Setelah meluapkan kemarahan dan kebenciannya kini rasa ketakutan adalah hal yang membuatnya untuk mundur serta menjauh dari mereka semua sesuai permintaan dari kakaknya. Miyami tidak ingin permintaan kakaknya itu tidak dia lakukan sebab karena Miyami, kakaknya masuk ke dalam jeruji besi dengan kehidupannya harus bergantung dengan obat.


Miyami keluar dari kamar kosong tersebut untuk pergi ke kamarnya agar dapat membersihkan darah di kedua tangannya serta bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Beberapa menit kemudian mereka berdua sudah siap untuk pergi ke rumah sakit lalu Laura melihat tangan Miyami yang ditutupi oleh perban, Laura mengabaikannya.


...


Setelah sampai di rumah sakit dengan mengendarai mobil punya Miyami kini mereka bertiga masuk ke dalam rumah sakit. Namun, terjadi sebuah keributan dan keramaian dengan para dokter spesialis penyakit sedang turun tangan untuk memeriksa kondisi pasien penting di nomor kamar yang sesuai dengan kamar ayah Henry.


Ibu Henry khawatir dengan apa yang terjadi kepada suaminya tiba-tiba datang dokter yang dia kenal sedang melihat ke arahnya. Dokter itu langsung memberitahu keadaan pasiennya yang mana sudah dinyatakan meninggal dunia tetapi para dokter spesialis penyakit menyadari sesuatu kalau ayah Henry tidak meninggal karena penyakitnya tetapi ada yang membunuhnya.


Sontak keributan dan keramaian tersebut dihentikan oleh polisi yang sudah datang ke TKP. Ibu Henry menangis histeris melihat tubuh suaminya yang akan segera di otopsi agar memastikan meninggalnya seorang pria kaya tapi dermawan hingga namanya dikenal oleh banyak orang.


Ibu Henry menangis histeris dengan tidak menerima kematian suaminya, Miyami masih berperilaku sama dengan peduli terhadap keadaannya sendiri tapi Laura terkejut melihat kematian suami bibinya.


"Ini pasti pembunuhan, proses warisan akan dipercepat dan dia bisa menikmati kekayaan yang melimpah. Sialan, walaupun aku membongkar aib-nya itu akan percuma dengan warisan yang dia miliki maka kehidupannya tidak akan pernah hancur jadi tersisa satu pilihan yaitu mencari tahu pelaku yang membunuh ayah Henry karena pelaku tersebut pasti ada kaitannya dengan perbuatan Henry!" gumam Laura dengan berpikir kritis

__ADS_1


Laura tidak memiliki banyak waktu sebelum Henry mendapatkan warisan, Laura harus menemukan pelaku pembunuhan yang pastinya suruhan Henry jadi Laura bisa membongkar perbuatan Henry yang sangat menginginkan warisan dari ayahnya hingga tega membunuh bahkan dengan cara ini akan membongkar sifat aslinya.


Bersambung...


__ADS_2