Special Blood: Slyther

Special Blood: Slyther
Tiga murid baru


__ADS_3

"Matilah kamu monster menjijikkan!"


Aku menghantam mahluk kecil berwarna coklat yang ada di lemari bajuku. Seranganku meleset, mahluk kecil itu merayap ke atas dengan sangat cepat.


"Kenapa semua orang takut dengan kecoak, ya? padahal, kan, mudah. Pukul saja dengan sapu."


Aku mengeker kecoak itu, bersiap untuk melancarkan serangan kedua, sebelum kecoak itu terbang–mengepakkan sayapnya dengan cepat–dan menyeruak ke arahku. Aku terpekik dan langsung lari menjauh. Kecoak itu lolos, mahluk kecil itu menyusup ke bawah sela-sela lemari.


"Hari ini kamu lolos monster menjijikkan, tapi lain kali ... aku akan membunuhmu. Aku tak takut denganmu monster menjijikkan. Tadi ... aku cuman tidak ingin seragam sekolaku kotor." Aku menghela nafas, lalu melempar sapu ke sudut kamar. Kenapa aku harus melakukan hal merepotkan seperti ini di pagi hari!


Aku tidak suka hal yang merepotkan. Bisa dibilang aku ini seorang pemalas. Sedari kecil aku selalu menghindari masalah, perkelahian atau kenakalan remaja lainnya. Sekali lagi aku tegaskan! aku benar-benar tidak suka hal yang merepotkan.


Namaku Killa—ya, hanya Killa—sangat pendek bukan? Mungkin waktu aku bayi orang tuaku sedang malas memberikan nama kepadaku jadi mereka hanya memberikan nama 'Killa'. Nama yang tidak memiliki arti yang istimewa.


Berbeda dengan kedua orang tuaku, mereka adalah orang yang pekerja keras. Ibuku bekerja di toko permen miliknya dari pagi hingga sore sedangkan Ayahku adalah seorang pekerja kantoran, yang bekerja dari pagi hingga petang—bahkan kadang-kadang dia bekerja lembur hingga tengah malam.


Meskipun orang tuaku jarang berada di rumah mereka sangatlah menyayangiku sampai-sampai terkadang aku kerepotan dengan kasih sayang mereka. Meskipun begitu, aku juga sangat menyayangi mereka.


Sekarang aku sedang berdiri di depan cermin sambil menyisir rambutku yang hitam dan sudah agak lebat. Pagi ini aku harus pergi ke sekolah, meskipun menurutku itu hal yang melelahkan dan merepotkan tentunya.


Setelah merasa sempurna dengan penampilanku aku langsung pergi ke meja makan. Di sana Mamaku sedang meminum secangkir teh hangat —dia terlihat sangat menikmatinya, sedangkan aku sangat tidak menyukai teh (Kecuali teh manis). Papaku sudah berangkat pagi-pagi buta sebelum aku bangun karena tempat kerjanya jauh.


Sekarang saja di luar langit masih gelap dan jam masih menunjukkan pukul 05:54. Sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk bangun pagi. Letak sekolahku lumayan jauh jadi aku harus berangkat pagi-pagi.


Mamaku menghentikan kegiatan minum tehnya setelah dia melihatku datang. Dia langsung tersenyum hangat seperti sinar matahari yang menyinari dunia. Itu adalah senyuman favoritku.


"Lihatlah, anak Mama sangat tampan. Kemarilah, Mama sudah menyiapkan menu sarapan kesukaanmu. Nasi goreng dengan telur ceplok."


Menurutku Mama adalah sesosok orang yang paling hebat, dia tidak kenal lelah. Di pagi buta sekali dia harus menyiapkan perbekalan Papaku, kemudian diriku. Jika itu aku, sudah pasti aku akan mengeluh. Tapi hebatnya, Mamaku tidak pernah mengeluh kepadaku sekalipun aku melakukan perbuatan yang buruk.


Dulu aku pernah dengan tidak sengaja memecahkan jendela kaca rumah saat aku sedang bermain bola. Mamaku tidak memarahiku, justru dia tersenyum dengan hangat sambil berkata, "Tidak apa-apa sayang. Nanti Mama yang akan mengurusnya." Mama sudah seperti sesosok malaikat bagiku.


Aku menarik kursi meja makan lalu segera menyantap sarapan. Sepanjang aku makan Mamaku selalu memperhatikanku dengan senyuman yang hangat. Yah... meskipun aku sedikit merasa agak risih, tapi tak apalah.


Setelah aku selesai dengan sarapanku aku langsung bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Mama mengeluarkan motor dari dalam rumah dengan helm berwarna pink yang sudah terpakai di kepalanya dan sepasang sarung tangan rajutan di tangannya.


Mama menyalakan motor dengan cekatan. "Ayo naik," tuturnya kepadaku.


Aku mengangguk dan langsung naik ke atas motor. "Pegangan yang erat," kata Mamaku kemudian.


...


Di tengah jalanan yang ramai Mama berkendara dengan pelan sambil bersenandung riang.

__ADS_1


"Omong-omong bagaimana kehidupan kamu di sekolah, La?" Mama bertanya.


"Menyenangkan," jawabku, "Aku punya banyak teman dan aku tidak membuat masalah di sekolah."


Aku melihat Mamaku menghela nafas barusan seperti berkata "Syukurlah".


"Mama senang mendengarnya," kata Mamaku, sampai kemudian motor kami sampai di sekolah.


Aku turun dari motor lalu mengecup punggung tangan mamaku—ini adalah tradisi. "Sekolah yang benar." Nasehat Mamaku.


Aku mengangguk lalu aku berjalan masuk ke dalam gerbang sekolah. Setelah melewati gerbang aku menengok ke belakang, di sana Mamaku sudah tidak ada—dia sudah pergi. Yah, biarlah.


Setelah itu aku kembali berjalan menuju ke kelas. Di sini aku sudah SMA dan sekarang aku sudah kelas XI tepatnya XI-B


Sesampainya di depan kelas aku menatap plank di atas pintu dengan seksama. Aku menghela nafas pendek. Setelah itu aku membuka pintu kelas, kosong, hening, belum ada murid satupun yang datang. Sepertinya akulah yang sampai pertama di dalam kelas.


Meja-meja di dalam kelas sudah tertata rapih, lantai keramik putih juga sangat bersih, papan tulis di depan juha masih kinclong. Kelas ini rutin di bersihkan setiap hari, jadi aku sudah tidak heran dengan pemandangan seperti ini.


Aku berjalan menuju ke mejaku yang terletak di jajaran ketiga dari depan dan baris kedua dari pintu. Karena ini masih pagi aku memutuskan untuk tidur hanya lima menit, ya, hanya lima menit saja.


Aku menjatuhkan kepala di bantalan tangan lalu mulai memejamkan mata. Ingat! hanya lima menit pikirku.


...


Suasana di kelas ricuh aku terganggu dan akupun terbangun. Astaga! aku tidur lebih dari lima menit. Kelas penuh dan sekarang pandangan semua orang sedang terpaku ke arah depan, memperhatikan tiga murid. Mereka murid baru.


Aku menatapnya tak suka. "Kenapa enggak membangunkanku tadi?"


Dia nyengir. "Kamu keliatan lelah, jadi aku tidak enak untuk membangunkanmu," katanya terus terang.


Dia adalah temanku. Namanya adalah Faki, dia itu teman baikku. Rambutnya ikal, tubuhnya lumayan gemuk, ada lipatan lemak di bawah dagunya. Dia orang yang mudah tertawa meskipun itu hal yang tidak lucu.


Faki menunjuk ke arah depan menggunakan matanya. "Lihatlah siswa-siswa baru itu. Tampan dan cantik," katanya dengan senyuman menjengkelkan.


Aku menoleh malas. Faki benar. Ada tiga murid baru, semuanya cantik dan tampan, dua laki-laki dan satu perempuan. Semua murid gaduh, tak henti-henti menatap mereka, bahkan ada yang memuji-mujinya dengan berlebihan.


"... Bukankah tampan"


"Sungguh cantik ...."


"Seperti model."


Hah, aku jengah mendengar itu semua. Bukan berarti aku iri dengan ketiga murid baru itu, hanya saja mereka benar-benar berisik. Seperti teriakan orang-orang saat berada di pasar.

__ADS_1


Di depan sana ada Pak Ferdi, yang nampaknya menjadi pemandu ketiga murid baru itu. Pak Ferdi adalah wali kelas di kelas ini, dia guru yang ramah dan sudah tidak muda. Dia memakai kacamata yang kebesaran, seringkali dia memperbaiki posisi kacamatanya yang melonggar.


Pak Ferdi menepuk tangan meminta perhatian. Dia menatap tiga murid baru itu lalu tersenyum. "Baiklah, silahkan perkenalkan diri kalian masing-masing.


Kemudian murid laki-laki yang berada di sebelah kiri maju satu langkah. Dia tinggi, kurus, rambutnya dibiarkan berantakan. Kulitnya putih, bajunya acak-acakan. Untuk sekilas aku sempat mengira dia adalah perempuan, karena wajahnya itu. Namun, kurasa bukan, dia pasti murid laki-laki berandalan.


"Namaku Justin," kata laki-laki itu singkat sebelum kembali mundur satu langkah ke belakang. Seperti penampilannya yang acak-acakan sikapnya juga menyebalkan menurutku.


Namun, semua murid perempuan justru menjerit-jerit heboh. Mereka seperti tergila-gila dengan laki-laki bernama Justin itu.


"Kenapa mereka sangat berisik. Aku juga lumayan tampan benarkan," kata Faki tiba-tiba.


Aku menganggu-angguk. "Iya, sangat tampan." Itu bukan pujian, aku hanya berbicara asal.


Selanjutnya gadis yang ada di tengah maju satu langkah. Dia anggun dan cantik, kulit putih dan rambut hitam yang mengkilap, tinggi badannya mungkin lebih tinggi dariku. Mata hitamnya sangat jernih.


"Perkenalkan, nama saya Alicia. Semoga kita bisa akrab kedepannya," kata gadis itu dengan lembut dan sopan. Semua murid laki-laki langsung menjerit-jerit. Mereka terpesona dengan penampilan Alicia.


Kemudian yang terakhir. Laki-laki yang berada di samping kanan gadis itu, maju satu langkah. Dia kemudian tersenyum lebar. Dia yang paling pendek di antara dua murid baru yang lain. Rambutnya sedikit kemerah-merahan, matanya terang, seperti langit di siang hari dengan hidung mancung.


"Halo semua ... Perkenalkan nama saya Arka. Salam kenal semuanya," katanya dengan lantang, wajahnya nampak berseri-seri.


Murid-murid perempuan kembali histeris."Apakah ini pertama kalinya bagi mereka melihat laki-laki tampan?" Faki nampak marah.


"Dia sangat lucu ... sangat jarang ada laki-laki seperti dia."


"Menggemaskan."


Sebelum kegaduhan itu menjadi-jadi Pak Ferdi angkat suara. "Semuanya dimohon tenang." Menoleh menatap tiga anak baru itu, tersenyum. "Baiklah, silahkan kalian duduk di kursi kosong."


Mereka bertiga mengangguk, dua anak laki-laki itu berjalan ke arahku. Aku menghela nafas, kenapa harus di kelas ini coba? padahal, kan, kelas ini sudah penuh.


Anak laki-laki bernama Arka melambaikan tangan ke arahku, atau mungkin aku hanya salah sangka. Mereka duduk persis di belakangku. Aneh, kemana dua murid yang duduk di sini? para pembuat onar itu ke mana?


"Kursi itu penuh," Aku memberi tahu.


"Tapi kebetulan sekarang sudah menjadi kosong," anak laki-laki bernama Justin itu menjawab sebelum duduk di kursi sambil menyilangkan kakinya.


Aku mengernyit. Tidak mungkin kan, dua anak laki-laki pembuat onar itu keluar dari sekolahan secara bersamaan? Padahal baru kemarin mereka memecahkan pot bunga. Ah, sudahlah, lagian tidak ada mereka kelas akan menjadi lebih baik.


"Bapak harap kalian dapat berteman baik dengan mereka." Pak Ferdi berkata sambil tersenyum lebar.


"Tentu saja pak!"

__ADS_1


"Kami akan menjaganya dengan baik!"


Respon semua murid begitu heboh. Kelas kembali berisik sebelum Pak Ferdi kembali membuat mereka tenang. Kurasa aku salah. Kelas ini mungkin akan menjadi lebih berisik dari biasanya.


__ADS_2