Special Blood: Slyther

Special Blood: Slyther
Rasa lapar ini menggangguku


__ADS_3

"Tumben Papa pulangnya cepat?" kataku begitu melihat Papaku yang sedang duduk di sofa. Papa tersenyum.


"Urusan Papa di kantor semuanya sudah beres," katanya dengan penuh kebanggaan.


Aku tidak menjawab, aku langsung pergi menuju ke kamar. Sampai di dalam kamar aku melempar tasku ke lantai dan langsung melompat ke atas kasur, berguling-guling– merasa semua beban di pundak telah pergi.


Aku menghela nafas sambil menatap langit-langit. Tiba-tiba perutku terasa lapar. Aku ingat roti tadi, yang aku beli di kantin yang niatnya di berikan kepada Faki, tapi aku lupa memberikannya.


Aku langsung mengambil tasku yang tergeletak di lantai, membukanya, kemudian aku mengambil roti yang masih tersisa empat bungkus.


"Maafkan aku, Faki," gumamku. Tanpa berlama-lama aku langsung melahap empat roti itu. Namun, anehnya perutku masih terasa lapar. "Ini tidak cukup!" kataku


Lalu aku pergi ke dapur sambil membawa bungkusan plastik tadi. Sampai di dapur aku buang bungkusan roti tadi sebelum membuka tudung saji. Begitu aku membukanya, aku tersenyum. Soalnya banyak makanan yang sudah terhidang.


Aku langsung mengambil piring lalu mengisinya dengan banyak makanan. Aku makan dengan sangat lahap sampai aku menghabiskan tiga piring sekaligus.


Mamaku yang tidak sengaja lewat dan melihatku sedang makan, hanya bisa geleng-geleng kepala. "Kamu lapar, La?" tanya Mamaku sambil tertawa kecil.


Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Aku melanjutkan makan, dan ini sudah piring ke-empat. Mama hanya bisa menatapku heran sebelum pergi untuk mengurus keperluan lain.


Setelah aku menghabiskan piring ke-empat, aku memutuskan untuk berhenti makan, meskipun perutku belum kenyang sama sekali. Astaga! ada apa dengan diriku ini? Mengapa perutku masih lapar padahal aku sudah makan sangat banyak? Apa karena aku sedang mengalami masa pubertas? Tidak, kurasa bukan.


"Ah, sudahlah," aku berdecak sebal. Aku memutuskan untuk mandi sebelum pergi ke kamar untuk tidur. Badanku terasa segar begitu sehabis mandi. Aku memakai kaos hitam polos dengan celana pendek. Ini adalah pakaian paling nyaman menurutku.


Aku kembali pergi ke kamar lalu berbaring di atas ranjang. Ruangan kamarku terasa begitu sunyi, rasanya seperti aku sendiri yang tinggal di rumah ini. Aku mulai menutup mata, sebelum akhirnya aku tertidur.


...***...


Sial! aku terbangun pada tengah malam. Wajahku di penuhi dengan keringat dingin dan juga perutku terasa sangat lapar, seperti aku belum makan selama seharian.


Aku langsung bangkit dari kasur. Suasana pada tengah malam sungguh membuat bulu kudukku meremang. Aku dapat mendengar jarum jam dengan jelas, aku juga dapat mendengar suara nafasku dengan begitu jelas, seperti aku mendapatkan pendengaran super.


Aku memutuskan keluar dari kamarku– dengan tubuh yang terasa lemas– menuju ke dapur. Aku mencari makanan, apapun itu!


Aku menemukan daging ayam di balik tudung saji. Kapan Mamaku memasak makanan ini? dan kenapa Mama masak sangat banyak?


Aku menggeleng. Aku sudah tidak peduli lagi, rasa lapar ini begitu menyiksaku. Aku langsung menghabiskan semua potongan ayam, aku memakannya dengan sangat rakus. Setelah semua ayam yang ada di meja habis, barulah rasa laparku menghilang.


Diriku kacau, jari jemariku belepotan dengan bumbu masakan ayam tadi, baunya begitu menyengat. Aku juga merasa bersalah karena telah menghabiskan daging ayam itu. Aku ingin menampar diriku sendiri, membuatku merasa menyesal— meskipun terdengar aneh. Namun, aku sadar, tanganku kotor. Aku tidak ingin memperparah diriku.


Aku langsung membersihkan tanganku dan juga mulutku yang ikut belepotan, di kamar mandi. Setelahnya aku kembali ke dapur. Kali ini aku bukan lapar, melainkan haus. Aku mengambil botol minuman besar yang berada di dalam kulkas. Aku meminumnya— habis dalam beberapa detik.


Aku heran dengan diriku sendiri, sebelumnya aku belum pernah mengalami kejadian seperti ini. Apa aku sedang sakit ya? Saat aku sedang termenung, tiba-tiba pintu rumah di ketuk dari luar.


Aku tersentak. Siapa orang yang datang berkunjung pada tengah malam seperti ini? Aku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua belas. Aku merasa takut.

__ADS_1


Biarlah, aku akan mengabaikannya lalu pergi menuju ke kamar, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, saat hendak melangkah, pintu rumah kembali di ketuk sebanyak tiga kali.


Untuk kedua kalinya aku tersentak. Keheningan pada tengah malam membuat ketukan itu terdengar dengan sangat jelas, seperti berada di samping telingaku.


Tok! tok! tok!


"Apa aku harus membangunkan Mamaku, ya?" Aku menggeleng. "Tidak! Mama sedang beristirahat, aku tidak ingin menggangunya."


Pintu kembali di ketuk. Kali ini aku memberanikan diri. Aku menarik nafas panjang sebelum berjalan ke arah pintu. Aku berjalan dengan perlahan-lahan— berjinjit— tidak ingin terdengar suara apapun.


Lalu ... sesampainya aku di depan pintu, aku berkata. "Siapa itu?"


"Ini Papa," balas suara dari seberang pintu.


Aku menghela nafas lega. Kupikir tadi itu adalah pencuri atau psikopat yang sedang mencari mangsa. Tanpa pikir panjang akupun membukakan pintu.


"Kenapa Papa baru pulang jam segini?" kataku begitu pintu terbuka.


... Mataku terbelalak, soalnya di depan rumah tidak ada siapapun. Suasana di halaman begitu sunyi di telan oleh gelapnya malam. Aku menelan ludah sebelum melongok ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan Papa.


"Pa, jangan bercanda, lah. Ini tidak lucu." Aku terus mengedarkan pandang, mencari di mana Papaku. Aku tidak berani keluar, rasanya di luar sana seperti ada seseorang yang sedang menungguku.


Tiba-tiba angin berhembus, membawa debu-debu jalanan dan itu mengenaiku, menusuk ke dalam mataku. Aku mengusap-usap mataku untuk menghilangkan debu. Mataku kembali terbelalak, aku kemudian mengerjapkan. Bulu kudukku meremang.


Aku tidak berbohong– Aku melihat seseorang jauh di depan halaman rumahku sedang berdiri di bawah pohon. Postur tubuhnya seperti orang dewasa, meskipun hanya terlihat siluetnya saja. Sesosok itu menatap ke arahku, aku tidak bisa melihat wajah dari sesosok itu. Suasana yang gelap, membuatnya terlihat semakin menakutkan. Aku menatap sesosok itu lekat-lekat, yang hanya terdiam.


Jantungku berdegup kencang. Sesosok itu berubah, tidak, maksudku matanya. Matanya menyala, berwarna merah pekat. Aku langsung menutup pintu, menguncinya, lantaran merasa takut.


Aku langsung berlari menuju ke lantai atas tepatnya ke dalam kamar, dan setibanya di kamar aku langsung melompat ke atas ranjang. Aku menutupi seluruh tubuhku dengan selimut kemudian memejamkan mata lekat-lekat.


Aku masih mengingat sesosok itu. Walaupun tidak terlihat dengan jelas, akan tetapi aku merasakan firasat buruk dengan itu.


"A-apa jangan-jangan ... tadi itu hantu?" kataku dengan suara bergetar. Aku menelan ludah. Tidurlah diriku, cepatlah tidur! Kumohon..


Tok!


Aku terpekik, pasalnya ada yang mengetuk jendela kamarku dengan keras. Jantungku kembali menderu, aku tidak berani keluar dari dalam selimut.


Tok! tok! tok!


Tiga kali jendela kamarku di ketuk. Apa jangan-jangan sesosok tadi yang melakukannya? Padahal kamarku terletak di lantai atas! bagaimana bisa?


Aku setengah mati ketakutan, keringat mengucur deras dari pelipisku.


Kriiiitttt..

__ADS_1


Ada yang membuka pintu kamar dan itu melangkah mendekat ke arahku.


"... Killa ...." Suara lembut itu terdengar. Aku menjerit dengan keras.


"Pergiiii!!" seruku.


...***...


"Sudah malam kenapa teriak-teriak!' kata Mamaku marah.


Sementara aku masih memegangi telinga, karena tadi mendapat jeweran dari Mamaku. "Sakit tau, Ma," kataku pelan.


"Lagian kenapa kamu teriak-teriak tengah malam begini!"


Aku tertunduk. Aku tahu aku salah, tapi karena situasi tadi, membuatku sangat ketakutan setengah mati. Aku menoleh ke arah jendela, mengernyit. Ternyata yang tadi mengetuk-ngetuk jendela adalah ranting pohon, terkena hembusan angin membuatnya menabrak jendela kaca kamarku.


Kukira yang mengetuk adalah sesosok tadi yang aku lihat di halaman depan rumah.


"Kamu tadi ngapain berisik di dapur? Mama mendengarnya dari kamar ... Untung saja Papamu tidak kebangun."


Tunggu ... jika Papa sedang tidur di dalam kamar, Lalu ... sesosok itu tadi siapa?


"Apa kamu tidak dengar apa kata Mama!"


Aku tersadar dari lamunan. "... Eh.. itu, Ma. Tadi Killa lapar, jadi Killa turun ke dapur untuk makan. Daging ayam yang ada di atas meja sudah Killa habiskan. Em.. maaf, Ma."


Mama menghela nafas. "Mama kira apa. Tapi, yah, daging ayam itu memang Mama siapin buat kamu. Tadi sore Mama dan Papa membelinya, niatnya untuk makan bersama untuk nanti malam, tapi ,eh, kamu malah tidur. Jadi Mama sisakan buat Killa." Mama tersenyum hangat.


"Yasudah, kamu tidur lagi sana. Jangan berisik malam-malam begini, nanti orang-orang di sekitar pada bangun. Mama mau lanjut tidur dulu." Setelah itu Mama berjalan keluar dari dalam kamar. Saat dia tiba di pintu kamar, Mama kembali menatapku. "Kalau mau tidur jangan lupa untuk menutup tirai jendela," katanya, lalu keluar.


Aku menghela nafas lega. "Untunglah," kataku. Aku membalikkan badan untuk menatap jendela yang masih setengah tertutup oleh tirai.


Aku dapat melihatnya, ranting-ranting pohon yang berada di samping rumah, menjalar sampai ke jendela. Aku mendekati jendela untuk menutup tirainya, tapi sebelum itu, aku sempat melihat ke arah luar jendela. Hmm, tidak terlihat apa-apa, semuanya gelap.


Setelah itu aku melompat ke atas kasur, menarik selimut sampai dada, lalu mulai memejamkan mata.


"Tidurlah ... kamu adalah yang terbaik ... jaga dirimu sampai kamu sempurna. Lalu ... aku akan datang kepadamu ...."


Mataku kembali terbuka, sekujur tubuhku langsung merinding. Tadi aku mendengar dengan jelas seseorang berbisik di telingaku, suara yang serak.


Aku memposisikan diriku duduk untuk menatap ke sekitar kamar. Lampu kamar masih menyala, jadi aku dapat melihat dengan jelas. Namun, di dalam kamarku tidak ada siapapun selain diriku.


Tiba-tiba burung hantu ber-kukuk dari luar rumah. Seumur hidup, baru sekarang aku mendengar burung hantu ber-kukuk di sekitaran rumah. Saat aku sedang panik, tiba-tiba aku mendengar suara jeritan dari lantai bawah.


Suara yang sangat aku kenal— jeritan Mamaku. Dengan segera aku beranjak dari ranjang kemudian berlari ke lantai bawah.

__ADS_1


Sampai di lantai bawah tepatnya di dapur, aku melihat Mamaku tergeletak di tanah dengan tangan berlumuran darah.


__ADS_2