Special Blood: Slyther

Special Blood: Slyther
Kunang-kunang biru di pohon yang mati


__ADS_3

Setelah berisitirahat sejenak aku kembali melanjutkan perjalanan– masuk ke dalam hutan–mengikuti tiga anak kembar. Hutan ini berbeda dengan hutan sebelumnya, hutan ini seperti hutan pada umumnya, tidak ada yang spesial. Sejauh mata memandang aku tidak melihat akar pohon yang bergerak-gerak, hewan-hewan aneh, dan tanaman-tanaman yang tak kalah anehnya.


Tenagaku sudah tidak kuat lagi untuk berlari–tiga anak kembar itu terus membicarakan sesuatu yang tidak mengerti. Kata mereka:


"Seru ya, terjun dari atas tebing tadi," kata El.


"Kau benar, El. Rasanya aku ingin melakukan itu lagi," Al terkekeh.


Seru mereka bilang? aku ketakutan setengah mati saat terjun dari tebing, dan mereka bertiga bilang kalau itu seru! apa mereka gila?


"Apanya yang asik? bukankah tadi itu terlalu membosankan," kata Li.


"Kau benar, Li," kata El dan Al serempak.


"Bisakah kalian diam? cepat tunjukkan saja mana yang tadi katanya ada sesuatu yang menarik," sergah Justin.


Seketika tiga anak kembar itu langsung diam. Entah kenapa mereka bertiga sangat penurut kepada Justin, aku menjadi penasaran sebenarnya hubungan mereka berempat itu apa?


Setelah berjalan cukup lama ternyata tiga anak kembar itu mengantarkan kami ke sebuah telaga yang lumayan besar. Telaga itu tampak dalam dan tenang–dan pastinya berbahaya. Rerumputan di sekitar area telaga juga menjulang tinggi-tinggi.


"Ini yang ingin kami tunjukkan," kata El.


"Telaga?" gumam Justin. Justin berjalan mendekat ke telaga, pandangannya menoleh kesana-kemari seperti sedang mencari sesuatu. "Ini hanya telaga biasa, tidak ada yang spesial," Justin memberi tahu.


"Em... kami merasa di dalam telaga itu seperti ada sesuatu," kata El lalu menyikut Al yang berdiri di samping kanannya.


Tiba-tiba petir di atas langit bergelegar, menghasilkan bunyi yang memekikkan telinga. Di susul oleh hembusan angin yang lumayan kencang.


"Sebelah sini, nak."


Bulu kudukku meremang saat aku mendengar bisikan barusan. Suara itu sangat jelas di telingaku. Aku memandang sekitar.


"Hei, apa kalian mendengar itu?" tanyaku sambil mencari-cari sumber suara itu.

__ADS_1


"Mendengar apa?" kata tiga anak kembar itu serempak.


Justin juga tertarik dengan itu, dia menatapku seolah benar-benar menantikan jawabannya.


"Apa maksudmu?" kata Justin.


"Em... Kurasa aku menemukan sesuatu ... Ikuti aku," kataku. Aku berjalan ke arah utara, memutari telaga ini, Justin dan tiga anak kembar itu mengikuti aku. Kami terus berjalan masuk ke dalam hutan, tiga anak kembar itu menjadi pendiam, perjalanan menjadi sangat hening.


Kami terus melewati semak-semak yang terus bermunculan, entah mengapa jantungku berdegup kencang. Rasanya darahku mendidih, semangatku membara–tapi tubuhku masih terasa lemas.


Lalu sampailah kami di tanah yang lapang dimana di tengah-tengah tanah itu terdapat sebuah pohon yang berukuran besar, ranting bercabang-cabang, dan tidak ada dedaunan sama sekali. Di sekitaran pohon itu tidak ada tanaman sama sekali. Pohon mati itu hanya berdiri sendiri. Instingku mengatakan kalau tempat ini spesial.


Bisikan barusan seperti mengarahkanku ke tempat ini.


"Kurasa di sini tempatnya. Aku yakin sekali ... Aku merasakan sesuatu di tempat ini ... tapi ... aku juga tidak tahu apa itu," kataku.


Justin menatap pohon mati di sana seolah sedang menerawang.


"Bukankah itu sedikit aneh?" kataku. "Maksudku kenapa cuman ada pohon itu sendiri di tanah seluas ini."


Setelah itu muncul ratusan kerlap-kerlip biru dan mengelilingi pohon mati itu. Dari kejauhan itu terlihat sangat indah.


"Kunang-kunang biru! itu adalah petunjuk! cepat kita ke sana," kata Justin.


Kami langsung berlari ke arah pohon mati itu. Sesampainya di sana kami melihat banyak sekali kunang-kunang bercahaya biru sedang berterbangan kesana kemari. Aku menatapnya takjub sebelum angin kembali berhembus dari arah selatan dan menggoyang-goyangkan ranting pohon ini.


"Carilah aku di dalam pohon ini."


Lagi-lagi suara itu muncul di telingaku. Aku langsung mengedarkan pandangan ke sekitar. Tidak ada sesuatu yang aneh, tapi aku yakin sekali tadi ada yang berbisik di telingaku. Sementara itu kunang-kunang biru mulai menghilang dari sekitaran pohon mati.


Justin langsung panik. "Tidak! petunjuknya menghilang," katanya parau dengan wajah berkerut-kerut. Dia seperti kehilangan semangat.


Aku tidak tinggal diam. Aku akan mencoba mengikuti bisikan tadi, aku berjalan memutari pohon mati ini. Setelah beberapa saat mengitari, aku menemukan sebuah lubang yang cukup besar di dalam pohon mati ini.

__ADS_1


"Kalian semua lihatlah ini," seruku bersemangat. Aku mencoba untuk melongok ke dalam lubang pohon, gelap, aku tidak bisa melihat apa-apa di dalam lubang itu.


"Ada apa, Killa?" kata Justin setelah tiba di sampingku


"Lihatlah! aku menemukan sebuah lubang di dalam pohon ini." Aku menunjuk menggunakan jari telunjukku ke arah lubang itu.


Justin langsung mengikuti arab jariku. Setelah melihat lubang itu Justin langsung mendekatinya. Dia mengidentifikasi lubang aneh itu, yang berukuran cukup besar.


"Mungkin ada sesuatu di dalam lubang itu," kataku. "Kunang-kunang tadi mengelilingi pohon ini yang berarti mereka ingin menunjukkan lubang itu."


Justin terdiam sesaat. "Mungkin kamu benar, Killa."


Al, El, dan Li menghampiri lubang itu, mereka saling tatap sambil tersenyum, sebelum mereka bertiga melompat masuk ke dalam pohon itu sambil berteriak. El yang masuk pertama, diikuti oleh Li dan Al. Aku mendengar suara teriakan mereka hilang di telan lubang pohon itu.


"Mereka benar-benar gila," kataku.


"Mungkin memang ada sesuatu di dalam sana, kita tidak tahu. " Justin menoleh menatapku. "Apa kamu hanya akan diam di sana?"


"Eh?"


"Cepatlah masuk ke dalam lubang ini," perintah Justin.


Aku menelan ludah. "Kamu yakin, Justin?" Justin hanya balas mengangguk.


Aku menatap lubang itu lalu menarik nafas panjang. Detik berikutnya aku langsung melompat masuk ke dalam, aku berteriak saat tubuhku meluncur ke bawah dengan cepat, ini seperti sedang menaiki perosotan. Tubuhku meliuk ke kanan dan ke kiri, perosotan ini memiliki jalur yang berliku-liku.


Aku melihat lubang bercahaya di ujung sana, tubuhku meluncur, dan keluar dari lubang perosotan ini. Aku tidak mendarat dengan sempurna, pantatku menghantam tanah dengan keras, dan itu sangatlah sakit.


"Aduh!" gerutuku.


Mataku terbelalak saat menatap sekitar. Pasalnya ada banyak sekali kristal berukuran besar, berkelap-kelip, dan berwarna warni. Aku yakin jika kristal-kristal itu dijual harganya pasti akan sangat mahal.


Justin akhirnya muncul dari lubang perosotan, dia mendarat dengan sempurna. Sama sepertiku, matanya juga terbelalak saat melihat kristal-kristal indah itu.

__ADS_1


"Tempat apa ini?" kata Justin.


__ADS_2