Special Blood: Slyther

Special Blood: Slyther
Membuat ramuan


__ADS_3

Sejujurnya saat pertama kali aku datang di pulau ini dan melihat rumah menyeramkan itu, firasat-ku tidak enak. Terutama kepada pemilik rumah ini, yaitu seorang nenek tua bertubuh pendek, wajahnya tampak galak dan penuh dengan kerutan, rambutnya sudah sepenuhnya putih. Dan dia selalu membawa tongkat yang lumayan panjang dengan ujung tongkat terdapat bola kristal berwarna ungu–Aku tak tahu fungsi tongkat itu, yang pasti tongkat itu memiliki sebuah kekuatan.


Tapi ternyata, semuanya tak seperti yang aku pikirkan. Memang benar kalau kita tidak boleh menilai sesuatu berdasarkan penampilan. Rumah yang terlihat menyeramkan dari luar ini ternyata di dalamnya sangat indah, dan pemilik rumah ini–nenek berwajah galak–ternyata sangat baik dan ramah.


Sudah tiga hari aku dan yang lainnya tinggal di rumah ini. Sejujurnya... aku sedikit bosan karena hanya di perbolehkan duduk diam di dalam rumah, Aulus tidak memperbolehkanku kemana-mana selama tiga hari ini. Memang awalnya aku merasa senang, tapi semakin lama ini semakin membuatku merasa bosan, entah kenapa aku sangat ingin menjelajahi tempat ini.


Pagi ini aku harus duduk termenung di depan teras sendirian karena Aulus dan Justin harus pergi berburu di hutan yang terletak di belakang rumah ini. Tiga hari ini aku selalu makan daging hasil buruan mereka yang dimasak oleh nenek pemilik rumah ini. Sampai sekarang aku belum tahu namanya.


Aku menghela nafas saat langit bergemuruh. Duduk di kursi kayu sambil memandangi langit yang sedikit mendung, ini benar-benar membosankan, rasanya aku seperti sedang di karantina di rumah ini. Penyebabnya hanyalah satu yaitu "Darah istimewa".


Karena ada yang spesial di dalam tubuhku aku menjadi seperti benda berharga yang diperebutkan oleh banyak orang. Oleh karena itu, tempat ini menjadi tempat penyimpanan yang paling aman untukku. Tapi, bukan seperti ini yang aku inginkan... bukankah aku sudah mendapatkan kekuatan telekinesis? Aku bisa menjaga diriku sendiri!


"Apa yang sedang kamu pikirkan anak manis?" Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari arah belakang.


Aku menoleh kebelakang. Nenek pemilik rumah ini keluar dari dalam rumah, berjalan ke arahku sambil tersenyum.


"Em, aku hanya rindu dengan kedua orang tuaku," kataku sambil menoleh ke depan.


Nenek itu berdiri tepat di sampingku, matanya menatap lurus ke halaman depan, tangannya terlipat di belakang punggung. "Bisakah kamu menceritakannya anak manis? Nenek tua ini sangat penasaran."


Aku terdiam untuk sesaat, memikirkan kata-kata yang ingin aku keluarkan. "Aku rindu dengan kedua orang tuaku dan semua kegiatan bersama mereka. Aku rindu dengan Mamaku, Papaku, teman-temanku. Aku rindu rumah." Wajahku tertunduk.


Percayalah, jika tidak ada nenek di sampingku, aku pasti sudah menangis. Aku menahannya hanya karena tidak ingin terlihat cengeng.


"Nenek tau perasaanmu, Nak. Kamu tau... Nenek dulunya juga sepertimu. Karena suatu alasan nenek harus hidup jauh dari keluarga. Hidup sendiri itu tidak menyenangkan. Nenek harus berjuang sendiri dengan keras, menahan semua rasa pedih. Nenek melakukan semua itu semata-mata karena keluarga Nenek." Nenek menghela nafas. "Jadi, jangan bersedih. Kamu bisa mengandalkan Nenek mulai sekarang."


Aku tersenyum kecil. Sekarang aku tahu alasan kenapa Nenek hidup sendiri di tempat menyeramkan seperti ini.


"Apa kamu benci dengan apa yang ada di dalam dirimu? Maksudku darah istimewa itu?" Nenek bertanya.


Aku menggeleng. "Aku tidak menyukainya, tapi aku juga tidak membencinya. Aku tau itu aneh, tapi itulah yang aku rasakan, Nek."


Tangan lembut Nenek mengelus kepalaku dengan lembut. Sebelum Justin dan Aulus datang sambil membawa binatang hasil buruan mereka, dua ekor kelinci sebesar ukuran kuda. Pakaian mereka kotor, wajah mereka dipenuhi dengan cairan merah. Aku sedikit ngeri melihatnya.


"Mereka sepertinya sibuk," tukas Nenek, "Anak manis, apakah kamu mau membantu Nenek membuat beberapa ramuan? Sepertinya mereka berdua membutuhkan beberapa."


Aku berpikir sejenak. Jika aku membantu Aulus dan Justin, mereka pasti akan bilang kalau aku ini mengganggu. Membuat ramuan... itu kedengarannya menyenangkan.

__ADS_1


"Aku akan membantumu, Nek," kataku semangat.


...


Di halaman belakang rumah, ada sebuah bangunan kecil yang dibuat dari kayu. Aku dan Nenek masuk ke dalam bangunan itu. Di dalam ruangan, terdapat sebuah api unggun yang di beri pembatas di sekelilingnya, dan di atas api unggun itu terdapat sebuah kuali berukuran besar yang berisi air mendidih.


Ada empat rak kayu berbeda di dalam ruangan ini. Terdapat hal-hal yang berbeda pada setiap rak kayu. Rak berwarna merah berisi tanaman-tanaman herbal yang disimpan di toples kaca, rak berwarna coklat berisi toples kaca yang berisikan cairan-cairan berlendir, rak berwarna hijau berisi serangga-serangga yang di awetkan, dan rak berwarna hitam berisi potongan-potongan tubuh hewan.


"Ah, aku melupakan satu hal," kata Nenek. Dia mengarahkan ujung tongkatnya ke arahku. "Resvaro."


Tiba-tiba tubuhku memakai jubah hitam. Aku tidak tahu darimana datangnya ini, tapi aku yakin ini adalah sihir. Nenek tersenyum melihat ekspresi terpukau yang aku keluarkan.


"Jubah itu akan melindungimu saat kita membuat ramuan. Apa kamu sudah siap?"


Aku langsung mengangguk. "Aku siap."


"Langkah pertama. Ambilkan toples berisi iar liur laba-laba perak," kata Nenek. Dia hanya memperhatikan sementara akulah yang bekerja.


Aku langsung mencarinya di rak berwarna coklat. Dalam sekejap mata aku langsung menemukan toples yang bertuliskan "Air liur laba-laba perak".


Aku melakukan seperti yang Nenek arahkan, memasukan air liur laba-laba perak ke dalam kuali setiap dua puluh detik. Air yang ada di dalam kuali mengaduk dengan sendirinya. Aku memasukkan untuk yang ke-empat kalinya, namun tiba-tiba tanah bergetar dengan hebat.


Wajah Nenek terlihat panik. "Lupakan soal ramuannya! ayo kita keluar dari sini! Sepertinya ada tamu yang mendatangi rumahku." Nenek langsung bergegas keluar dari ruangan pembuatan ramuan, aku juga langsung mengikutinya.


Kami berdua berlari sampai tiba di halaman depan rumah. Justin dan Aulus juga sudah berada di sana. Ada tiga orang yang memakai jubah berdiri lima meter di hadapan Justin dan Aulus. Situasinya tampak tegang. Aku dan Nenek langsung menghampiri Justin dan Aulus.


"Siapa mereka?" tanya Nenek dengan nada tinggi.


"Mereka adalah orang-orang yang mengincar Darah istimewa," jawab Justin. Tatapannya tak pernah lepas dari tiga orang itu.


Aku terpekik tertahan begitu tahu bahwa tiga orang misterius itu mengincarku. Jantungku berpacu dengan cepat. Bukankah tempat ini seharusnya aman? pikirku.


Tiga orang itu juga nampaknya tidak bergeming sama sekali. Dua pria kembar berambut pirang dan seorang wanita cantik bertubuh langsing. Tiga orang itu berkulit pucat, mata mereka sama-sama berwarna merah.


"Tenanglah, kami datang dengan damai," kata salah satu pria kembar yang memiliki luka sayatan di di pipinya. "Kami kesini hanya untuk memastikan." Dia menyeringai.


Aku dapat melihat Justin yang mengepalkan tangannya erat-erat, wajahnya juga penuh emosi, sepertinya dia mengenal tiga orang itu.

__ADS_1


"Apakah dia orangnya?" kata wanita pucat itu sambil menatap tajam ke arahku. Bulu kudukku seketika meremang.


"Sepertinya begitu," jawab pria kembar satunya, "Aku dapat merasakan itu dari dalam tubuhnya."


"Tujuan kita sudah tercapai. Ayo kita kembali dan laporkan ini." Wanita pucat itu kini beralih menatap tajam ke arah Justin.


"Tunggu dulu! aku ingin mengucapkan sesuatu kepada pujaan hatiku terlebih dahulu," kata pria dengan luka sayatan di di pipinya. Dia sekarang menatap ke arah Justin. "Ada apa dengan penampilanmu itu manisku? Padahal kau terlihat cantik dengan rambut panjang. Tapi tidak mengapa, penampilan barumu itu semakin membuatku ingin segera memilikimu. Tapi pertemuan kita sampai disini saja, lain kali saat kita bertemu, kau akan benar-benar menjadi milikku."


Justin menggeram. "Tutup mulutmu!" Justin langsung berlari ke arah pria itu.


"Kamu masih terlalu lambat sayangku." Sebelum pukulan Justin sempat mengenai tiga orang itu, mereka sudah terlebih dahulu menghilang, seperti sebuah asap hitam yang tertiup angin.


Justin terlihat marah, sangat marah, sampai-sampai aura di sekitarnya terlihat mencekam. Dia berdiam di tempat yang semulanya tiga orang tadi berdiri, tangannya terkepal dengan erat.


Petir menggelegar di atas langit, dan setelah itu awan hitam menjatuhkan jutaan tetes air.


"Ajak dia masuk, Killa," kata Aulus sebelum berjalan ke dalam rumah bersama Nenek.


Aku melangkah mendekati Justin. Awalnya aku merasa takut karena Justin sedang terlihat tidak bersahabat, tapi aku memberanikan diri, sampai aku tiba di belakang badan Justin.


"Aulus menyuruh kita agar segera masuk ke dalam rumah," kataku. Namun, Justin hanya terdiam. "Justin?"


"Pergilah dan tinggalkan aku sendiri!" sergah Justin.


Aku menggaruk-garuk kepalaku. Sepertinya dia benar-benar terpukul karena kehadiran tiga orang tadi.


Aku menepuk pundak Justin lalu berkata, "Aku tidak tau siapa tiga orang tadi, tapi sepertinya kau memiliki pengalaman pahit dengan mereka. Aku tidak tau harus berkata apa, aku juga sadar bahwa aku ini lemah. Tapi setidaknya, aku akan membantu sebisaku saat kau berada dalam bahaya.


"Kau tau, kan? kalau aku sudah membangkitkan salah satu kekuatanku. Mungkin aku akan sedikit bisa membantu."


Masih tidak ada respon dari Justin sementara hujan bertambah lebat.


"Hei, ayolah, kau akan sakit jika berlama-lama disini. Aku akan khawatir jika kau sakit."


Justin menoleh, menatapku dengan wajah datar. "Kau tau... kau sangat berisik!" Setelah itu Justin melangkah menuju ke rumah.


Aku menghela napas. "Sepertinya aku tidak bisa akrab dengannya."

__ADS_1


__ADS_2