
Setelah berlatih seharian, menghindari bola-bola aneh yang lengket dan bau, malam harinya aku di suruh berkumpul di ruang tengah. Seluruh tubuhku sakit saat aku berkumpul di ruang tengah. Suasana di halaman luar sangat gelap, cahaya dari lentera-lentera yang di gantung di depan teras tidak memancar sampai ke halaman depan. Di tambah hujan sedang turun dengan sangat lebat. Rasanya rumah ini benar-benar terisolasi.
Aku menguap saat sudah berada di ruang tengah. Alicia, Arka, dan Justin juga sudah berada di sana, memakai pakaian yang sama: baju dan celana panjang yang ketat berwarna hitam. Kenapa mereka memakai pakaian yang aneh seperti itu? jangan bilang latihan malam!
Tubuhku sudah benar-benar lelah, tidak mungkin aku dapat melakukan latihan lagi. "Sebenarnya ada apa ini?" tanyaku.
"Kami kurang tau," jawab Arka.
"Lalu kenapa kalian memakai pakaian yang... aneh itu?"
"Entahlah, Fredic yang menyuruhnya."
"Oohh ...."
Aku memutuskan untuk diam sambil sesekali memperhatikan ruangan ini. Meskipun sudah lama aku tinggal di di sini, akan tetapi aku masih saja kagum dengan rumah ini. Ruangan ini hangat karena api yang berkobar di perapian itu. Mataku meniti jam besar di atas perapian, jam yang sudah sangat usang, berdebu, tapi masih menyala.
Di dekat perapian juga terdapat sebuah lukisan, tidak, lebih tepatnya ukiran yang tampak timbul berbentuk: Orang-orangan yang sedang bertarung dengan seekor naga yang melayang di atas awan dan dikelilingi oleh kilatan petir. Ukiran itu membentuk sebuah cerita, ukiran selanjutnya naga itu menyemburkan api, selanjutnya orang-orangan itu terbunuh, selanjutnya naga itu kembali menyembur, tetapi ke langit, selanjutnya naga itu meledak dan ... ukiran selanjutnya tidak jelas.
Aku menebak-nebak pasti ada misteri di balik ukiran-ukiran itu sebelum tiba-tiba Fredic muncul, dia muncul dari udara kosong–aku sudah tidak terlalu terkejut melihatnya–meskipun terkadang aku merasa ... wow, itu sangat keren.
"Kita sudah tidak ada waktu lagi," kata Fredic tergesa-gesa sebelum melemparkan sebuah kalung kepadaku.
Aku menangkapnya, kalung dengan sebuah liontin sebuah liontin berwarna gelap berbentuk kubus.
"Pakai itu, Killa," kata Fredic. "Itu akan berguna dan ...." Tangan Fredic membentuk pusaran di udara kosong dan boom! tiba-tiba muncul sebuah mantel hujan di udara kosong. Mataku melebar melihat aksi itu, aku yakin jika Fredic ikut acara sulap di televisi pasti dia akan terkenal–dan triknya tidak akan pernah terbongkar–sihir miliknya sangat keren.
"Gunakanlah mantel itu," tutur Fredic.
Arka mengambil mantel–jumlahnya ada empat–kemudian memberikannya kepada Justin, Alicia, dan aku. Aku berpikir: Kalung dan mantel? untuk apa semua itu?
"Kenakanlah mantel itu Killa, cepat!" Fredic memaksa.
Aku memakai mantel berwarna hitam yang sangat tipis ini, sepasang, untuk bagian tubuh atas dan tubuh bawah. Ukurannya sangat pas dengan tubuhku dan ini terasa sangat hangat, seperti sedang memakai selimut.
Mantel jas hujan ini, aku menebak kalau nanti aku pasti akan di suruh melakukan sesuatu di bawah hujan yang lebat di luar sana.
"Mantel itu akan melindungi kalian, bukan hanya dari hujan, tapi dari hal lain juga." Fredic menegaskan. "Sekarang kalian pergilah ke utara, temukan kunang-kunang dengan kerlap-kerlip berwarna biru. Dan untukmu Killa, pakai kalung yang kuberikan tadi, itu akan sangat membantumu." Fredic menatap Alicia, Arka, dan Justin. "Aku serahkan kepada kalian!"
Mereka bertiga mengangguk.
"Memangnya kita mau ke mana?" tanyaku.
__ADS_1
"Tidak ada waktu untuk bertanya sekarang!" kata Fredic. "Aku mohon Killa, ikutilah mereka berempat, teruslah berlari, dan jangan pernah berpikir untuk berhenti."
"Y-ya, baiklah," kataku.
"Kuharap semuanya berjalan dengan lancar," Fredic mengepalkan tangannya.
.........
Aku tidak tahu apa yang telah terjadi, tapi tiba-tiba penglihatanku menjadi luar biasa, maksudku tadinya hutan terlihat sangat gelap, akan tetapi sekarang semuanya terlihat dengan jelas, seperti pemandangan pada sore hari. Jadi, aku dapat berlari mengikuti Arka, Alicia, dan Justin dengan mudah berlarian di dalam hutan.
Sebenarnya aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi dapat kusimpulkan bahwa sekarang sedang terjadi situasi yang darurat.
Mantel yang kupakai saat ini benar-benar berguna, selain berguna sebagai penadah hujan mantel ini juga membuat gerakanku menjadi lebih cepat, aku tak tahu tapi rasanya tubuhku menjadi lebih ringan. Tudung mantel ini juga luar biasa, sampai sejauh ini ketika aku berlari wajahku sama sekali tidak terkena air hujan. Aku sangat ingin berteriak sambil berkata: Wow! ini sangat luar biasa!
Aku tidak tahu sudah berapa banyak keajaiban yang ku alami akhir-akhir. Kehidupanku sudah benar-benar jauh dari kata normal.
Sudah sekitar sepuluh menit kami berlari dari perumahan. Berkat latihan yang keras tubuhku dapat sedikit mengimbangi kecepatan berlari mereka bertiga. Saat sedang berlari aku melihat akar-akar pohon yang menonjol dari tanah, bergeliat layaknya ular.
Dan di saat aku sedang memperhatikan akar-akar itu bergerak tiba-tiba muncul bunyi ledakan dari arah belakang. Kami berempat serempak berhenti. Meskipun tidak tahu ledakan apa itu, tapi aku yakin suara itu berasal dari Perumahan Rumput Hijau.
"Perumahan Rumput Hijau ... kurasa suara itu berasal dari sana," kataku.
"Kita tidak punya waktu lagi! ayo cepat bergegas!" kata Justin. Meski begitu, aku tahu bahwa Justin juga merasa cemas. Itu terlihat jelas dari wajahnya.
Meskipun ini bukan pertama kalinya aku ke dalam hutan ini, tapi suasana di hutan masih sangat menyeramkan seperti biasa. Banyak sekali hewan melata yang tadi aku jumpai, merayap, melompat, pokoknya berseliweran tidak jelas.
Jalanan mulai berbatu sebelum aku mendengar bunyi serigala dari kejauhan, mengaum dengan sangat keras. Ukuran bebatuan semakin ke sana semakin berkali lipat ukurannya. Kami sedikit kesulitan melewati batu-batu. Yang paling aku takutkan adalah: Tiba-tiba bebatuan itu longsor.
Setelah beberapa menit kami berhasil melewati jalanan yang terjal, yang kini digantikan dengan jalanan yang landai.
Disaat kami sedang menuruni jalanan tiba-tiba dari balik pepohonan muncul orang-orang misterius yang mengenakan jubah hitam, wajah-wajahnya tak dapat kukenali karena tertutup oleh tudung. Jika dihitung orang-orang berjubah hitam itu berjumlah delapan orang.
Aku masih tidak mengerti siapa mereka sebelum tiba-tiba salah satu dari mereka menerjang ke arahku, yang langsung di bendung oleh Justin. Justin memukul sesosok berjubah itu dan itu sempurna membuatnya terlempar beberapa meter ke belakang. Aku membayangkan bagaimana jadinya kalau pukulan itu mengenaiku, pasti seluruh tulangku langsung remuk.
Karena hal itu aku dapat menyimpulkan kalau sesosok berjubah hitam itu adalah musuh.
"Semuanya bersiap!" sentak Justin. Serempak Arka dan Alicia memasang kuda-kuda. Aku yang tak tahu apa-apa hanya mengikuti mereka saja–memasang kuda-kuda.
Aku tidak bisa bertarung, latihan yang kujalani selama ini hanyalah untuk melatih fisikku saja. Jadi, aku hanya seperti pengecut di sini, hanya menyaksikan ketiga temanku bertarung. Mereka bertarung dan juga melindungikh, setiap ada sesosok berjubah yang menerjang ke arahku, mereka akan dengan sigap menghentikannya.
Aku masih tidak percaya dengan Alicia. Dia seorang perempuan tapi kemampuan bertarungnya sangat luar biasa, tubuhnya yang ramping selalu dengan mudah menghindari pukulan dan tendangan dari musuh.
__ADS_1
Sampai kemudian ke delapan sosok berjubah itu melompat mundur. Setelah itu mereka komat-kamit, merapalkan mantra, seperti pengikut ajaran sesat. Itu terdengar sangat buruk.
Mata mereka menyala dari balik tudung, berwarna merah, dan mereka tiba-tiba menghilang.
"Arghhh!" Tiba-tiba Arka terlempar, menghantam pohon dengan keras. Aku tidak bisa melihatnya, maksudku yang menyerang Arka. Meskipun penglihatanku menjadi lebih baik, bisa melihat dalam gelap, aku tadi hanya melihat Arka yang tiba-tiba terlempar dengan sendirinya.
"Awas!" teriak Alicia.
Sesosok berjubah itu muncul di belakang tubuh Justin, seperti hantu, hanya nampak setengah badan saja. Namun, Justin berhasil menghindar dengan cara berguling ke samping. Sungguh reflek yang luar biasa.
Sekarang aku melihatnya, ke delapan sosok itu terbang di udara. Mereka sekarang benar-benar mirip seperti hantu, melayang dengan setengah badan dengan di bagian perut mereka tampak berasap, tangan mereka yang kurus, menjulur dari balik jubah, sementara mata mereka menyala-nyala seperti api dari balik kerudung.
Tubuhku gemetar melihat ke delapan sosok itu.
"Black slyther!" tegas Arka, setelah bangkit berdiri. "Mereka mengincarmu Killa!"
"Kenapa aku? aku tidak pernah memanggil mahluk jadi-jadian seperti itu!"
"Apa kamu lupa bahwa kamu itu spesial!" kata Justin.
"Ah ... itu...."
"Kalian berdua pergilah. Aku dan Arka yang akan menahan mereka," kata Alicia.
Salah satu Black slyther yang terbang di udara menyeruak ke arahku. Alicia segera berdiri di depanku lalu mengangkat kedua tangannya ke depan. "La si fa!" Muncul perisai yang bercahaya putih di depan tubuh Alicia. Black slyther itu menghantam perisai itu lantas memekik.
Sesosok itu kembali terbang ke atas.
"Kita tidak punya waktu lagi! Cepat Killa, pergilah bersama Justin!" seru Alicia.
"Tapi bagaimana dengan kalian!" kataku.
Justin menarik tanganku tanpa aba-aba. "Dasa merepotkan," gerutunya. Kita berdua pun akhirnya berlari meskipun aku merasa enggan.
Aku sempat melihat melihat ke belakang sebelum berlari. Aku melihat Alicia dan Arka komat-kamit, sama seperti sesosok Black slyther sebelumnya, mereka berdua merapalkan mantra. Setelah itu mata mereka menjadi menyala.
"Fokuslah ke depan!" bentak Justin. "Kita percayakan saja kepada mereka. Mereka berdua tidak selemah kamu."
Meskipun aku sedikit merasa sebal, tapi kata Justin benar. Kami terus berlari menuruni jalanan yang landai, tanahnya becek, jadi pergerakanku sedikit lambat. Hujan tidak berhenti malah justru tambah mengamuk. Gelegar petir mulai bermunculan.
Tanaman-tanaman yang berukuran raksasa mulai terlihat. Saat itu aku melihat ada jamur besar di bawah sana. Aku memikirkan hal yang sedikit gila. Aku melompat ke atas tudung jamur yang kemudian memantulkan tubuhku, melayang di udara, yang kemudian meleset ke bawah dengan cepat.
__ADS_1
Aku mendarat dengan sempurna dan karena itu aku berhasil menyalip Justin yang sedari tadi berada di depanku.