
Pukul empat pagi aku sudah terbangun. Sial! aku mengalami mimpi buruk, aku yakin meskipun aku tidak ingat mimpi apa barusan. Ini masih sangat pagi dan aku mencoba untuk tidur kembali. Namun, setelah lima belas menit menutup mata aku tak kunjung tidur.
Jadi aku memutuskan untuk bangun. Aku pergi menuju ke dapur untuk minum segelas air putih. Saat aku menuju ke dapur aku tidak sengaja mendengar Mamaku dan Papaku sedang mengobrol. Lamat-lamat percakapan mereka terdengar.
"Ma, ini sudah hampir bulan merah. Apa yang mesti kita lakukan?" Papaku terdengar panik. Aku memutuskan untuk menguping.
"Emm ... seperti biasanya saja, Pa. Berpura-pura seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku tidak ingin membuatnya khawatir."
Dahiku terlipat. Apa yang sebenarnya Mama dan Papa bicarakan? dan apa maksudnya bulan merah? Saat aku ingin menguping lebih lama tiba-tiba ada oyen menghampiriku. Dia adalah kucing peliharaanku–berbulu lebat dan berwarna oranye dan putih, sehingga aku menamainya oyen.
Oyen menyundul-nyundul manja kakiku lalu mengeong-ngeong. Aku memberi isyarat kepada Oyen untuk diam, dengan menempelkan jariku di bibir.
"Sst.. Oyen, diamlah!"
Namun, hal itu di ketahui oleh Mama dan Papaku. "Killa, apa kamu di sana?" Mama berujar. Akhirnya akupun memutuskan untuk keluar dari persembunyian.
"Iya, Ma, ini aku," kataku.
Mama melirik ke arah Papa sebelum menanyaiku. "Lho, kok kamu sudah bangun?"
Sambil berjalan mendekat aku menjawab. "Mimpi buruk, Ma. Jadi aku tidak bisa tidur lagi."
Aku meraih gelas yang ada di meja, mengisinya dengan air putih lalu meminumnya dalam sekali tegukan.
"Yasudah, Ma, Papa berangkat dulu." Papa buru-buru berangkat setelah menghabiskan kopi hitamnya. Ini masih sangat pagi dan Papaku sudah berangkat bekerja. Papa memang orang yang sangat rajin.
Setelah Papa pergi aku bertanya kepada Mama. "Ma, kok Papa berangkatnya pagi sekali?" Aku penasaran.
"Itu karena tempat Papa cukup jauh dari sini," jawab Mama sambil membereskan alat makan yang tadi digunakan Papa.
"Begitu ya. Apa enggak capek ya, Ma?"
"Tentu saja capek ... tapi itu demi kita, sayang." Mama mengelus rambutku.
Mama benar. Jadi aku tidak boleh mengecewakan Papa!
···
Hari ini pelajarannya Pak Ferdi—Wali kelasku—pelajaran Geografi. Dia mengajar di depan kelas dengan ramah. Pak Ferdi orang yang menyenangkan, dia mengajar sambil sesekali bercanda dengan murid-muridnya.
Tapi ada satu yang menggangguku kali ini. Di tengah-tengah pelajarannya ada seorang murid yang justru malah tidur. Dia adalah Justin.
Meskipun tahu begitu Pak Ferdi membiarkannya begitu saja, dia sudah kelewatan baik. Seharusnya dia lebih tegas dengan anak-anak seperti itu.
Aku merasa sedikit terganggu, tapi aku membiarkannya begitu saja karena aku tidak ingin terlibat masalah lagi dengannya.
Sampai pelajarannya Pak Ferdi selesai Justin masih saja tidur. Dia bangun ketika bel istirahat berbunyi.
Karena ini waktu istirahat aku mengajak Faki untuk pergi ke kantin. Aku sudah lapar. "Faki, ayo ke kantin," ujarku. Namun, Faki tidak merespon, dia malah menidurkan tubuhnya di atas meja.
__ADS_1
Aku mengguncang-guncang tubuhnya sambil berkata. "Ayo buruan, keburu ramai!"
"Kamu saja sana. Sekarang ... aku sedang tidak enak badan," katanya dengan nada lemah. Memang semenjak pagi Faki terlihat pucat, aku tidak menyangka dia akan sakit beneran. Biasanya begitu jam istirahat berbunyi dia langsung semangat seolah semua penyakit di tubuhnya menghilang.
Aku menghela nafas, terpaksa aku harus pergi ke kantin sendirian. Aku memang kurang bersosialisasi dengan teman sekelas, jadi aku hanya berteman baik dengan Faki.
"Sebaiknya kamu pergi ke UKS," kataku kepada Faki sebelum keluar dari dalam kelas. Faki tidak menjawabnya sama sekali.
Aku sendirian pergi ke kantin, berdesak-desakan dengan murid lain hanya demi roti bungkus. Setelah aku mendapatkannya aku kembali ke kelas. Aku sengaja membeli banyak roti untuk sebagian aku berikan kepada Faki. Harap-harap dia akan langsung sembuh dengan memakannya.
Namun, sesampainya di dalam kelas aku tidak menemukan Faki. Kemana dia? apa jangan-jangan dia pergi ke UKS?
Aku bertanya kepada murid lain yang sudah ada di dalam kelas. "Teman-teman, apa kalian melihat kemana Faki pergi?"
Lalu seorang murid perempuan berkacamata menjawab. "Dia tadi pergi, katanya mau ke UKS." Perempuan itu adalah ketua kelas. Namanya Nina. Rambutnya berponi dan penampilannya sangat cocok dengan jabatannya sebagai ketua kelas.
Aku duduk kembali di kursiku, lalu membuka kantong plastik yang berisi lima bungkus roti dengan berbagai varian rasa.
"Aku akan memberikannya nanti saat aku bertemu dengannya. Faki pasti akan senang."
Saat aku melahap rotiku tiba-tiba aku mendengar keributan dari luar kelas. Murid yang tadinya berada di dalam kelas langsung berbondong-bondong keluar. Keributan itu berasal dari kelas sebelah.
Karena penasaran aku menghentikan kegiatan makanku dan langsung pergi keluar. Saat di luar aku melihat banyak sekali murid-murid berkerumun menyaksikan sebelum ada seorang guru yang datang. Dan seketika kerumunan itu langsung bubar. Kita disuruh kembali ke dalam kelas.
Akupun ikut masuk ke dalam kelas tanpa tahu keributan apa barusan. Padahal aku sangat penasaran.
"Justin berkelahi dengan anak kelas sebelah."
"... Katanya sekarang dia di bawa ke ruang guru."
Aku tidak sengaja mendengar percakapan anak-anak lain. Jadi keributan tadi adalah ulah Justin rupanya. Kenapa anak itu selalu saja buat masalah.
Bel berbunyi menandakan waktu masuk. Dalam hitungan menit kelas menjadi ramai kembali. Aku menyimpan roti yang tadi aku beli di dalam tas dan sesaat kemudian Justin masuk ke dalam kelas bareng Arka dan Alicia.
Ada sedikit luka lebam di sudut bibir Justin. Rupanya benar, dia tadi berkelahi, entah apa motifnya. Saat dia berjalan masuk semua pasang mata tertuju padanya. Suasana kelas langsung hening.
Justin berjalan ke mejanya dan setelah duduk dia langsung tidur dan tidak memperdulikan pandangan sekitar. Selang beberapa menit Pak Ferdi masuk dengan tampang garang.
"Mana Justin?" katanya begitu masuk di dalam kelas.
Semua mata langsung menatap ke arah Justin yang sedang tidur di mejanya. Pak Ferdi langsung menghampiri Justin dan saat dia tiba di depannya Pak Ferdi hanya menghela nafas.
"Justin, bangun!" seru Pak Ferdi dengan tegas.
Sementara yang di panggil segera bangun. Dia mengerjapkan matanya sebelum menatap Pak Ferdi. "Ada apa, Pak?" tanyanya santai.
Pak Ferdi langsung memelototinya. "Sekarang juga ikut bapak!"
"Kemana?" Justin memiringkan kepalanya, dia terlihat tidak perduli.
__ADS_1
"Sudah ikut saja!" jawab Pak Ferdi tegas. Ini pertama kalinya aku melihat Pak Ferdi marah.
Setelah itu Pak Ferdi berjalan keluar dari dalam kelas diikuti Justin di belakangnya. Begitu mereka menghilang dari balik pintu suasana kelas langsung ricuh. Mereka langsung membicarakan kejadian barusan.
Namun, tidak lama kemudian seorang guru masuk ke dalam kelas. Pelajaran pun kembali di mulai.
.........
Sampai waktu pulang tiba, Faki masih berada di UKS. Karena aku sedikit penasaran dengan apa yang sedang dia lakukan akupun memutuskan untuk pergi ke UKS.
Aku berjalan sampai tiba di sebuah bangunan dengan pintu kaca yang terbuka sebelah. Aku terdiam sejenak di depan bangunan itu dengan sebuah plank di atas pintu bertuliskan "UKS". Aku terdiam sejenak menatap bangunan itu.
Aku sedang membayangkan akan seperti apa ekspresi Faki begitu melihatku. Akupun masuk ke dalam. Saat di dalam aku mengedarkan pandang ke sekitar. Ada sekitar enam ranjang di ruangan ini dengan dibatasi oleh tirai hijau.
Setelah beberapa saat mencari akupun menemukannya. Aku melihat seorang anak laki-laki sedang tertidur sambil mendengkur di salah satu ranjang. Faki sepertinya sedang tertidur pulas.
Di dalam UKS ini tidak ada siapapun selain Faki, begitu hening. Aku menghampirinya, berdiri memperhatikannya saat tiba di sampingnya.
Aku hampir tertawa melihat wajah Faki saat sedang tertidur, pasalnya wajahnya ketika tidur terlihat lucu. Mulutnya terbuka lebar, air liur menerobos keluar dari dalam, mengalir membentuk sebuah aliran di pipinya.
"Hei, bangun!" Aku mengguncang-guncang tubuh Faki.
Sekali percobaan langsung berhasil. Faki langsung tersadar. Dia menatapku dengan wajah linglung.
"Tidak mau pulang kamu?" tanyaku.
Faki memposisikan dirinya duduk sambil bersandar di ranjang–menggaruk-garuk kepala seperti orang gila. Dilanjutkan dengan mengusap air liur di pipinya.
Dia menatap ke sekitar lalu menghela nafas. "Asal kamu tau ya, Killa. Tadi ada cewek yang cantik banget di sini. Enggak nyesel aku sakit," katanya sambil cengar-cengir.
Aku menonyor kepala Faki. "Baru bangun langsung bahas ngomongin cewek. Dasar kamu!" Faki hanya tertawa. "Mau pulang tidak?" sambungku.
"Memang sudah jam berapa?"
Aku menggeleng. "Tidak tahu, pokoknya ini sudah waktunya pulang."
"Hm, baiklah." Faki bangkit beranjak dari ranjang kemudian dia merangkul pundakku. "Terimakasih ya, sudah membangunkanku," katanya sambil tersenyum.
Aku menepis rangkulan tangannya. "Tidak usah pegang-pegang nanti aku ketularan sakit juga."
Setelah itu kamipun pulang bersama. Mamaku sudah menunggu di depan sekolah sementara Faki pulang menggunakan angkutan umum. Mamaku tersenyum lebar menyambutku.
Kamipun pulang menggunakan motor, berjalan sangat lambat, dan tanpa kusadari aku melupakan sesuatu–aku melupakan roti yang tadinya ingin aku berikan kepada Faki.
Saat di pertengahan jalan tiba-tiba Mama bertanya. "Nanti ulang tahun, kamu mau apa, La?"
"Kan, masih lama, Ma," jawabku, "Masih satu bulan lagi. Memangnya kenapa, Ma?"
"Enggak apa-apa, Mama cuman ingin ngasih kamu hadiah spesial saja. Soalnya kamu sudah buat Mama senang."
__ADS_1
Dalam hati aku bertanya-tanya. Kok Mama aneh?
Akupun berkata, "Terserah Mama saja nantinya mau ngasih hadiah apa." Mama diam tidak menjawab. Setelah itu tidak ada lagi percakapan sampai kami sampai di rumah. Anehnya lagi sore ini Papaku sudah berada di rumah. Biasanya Papa pulang malam.