
Aku berlari ke arah Mamaku yang sedang tergeletak tak berdaya di lantai dengan darah bercucuran di tangan kanannya. Aku sangat panik sampai tidak bisa berpikir dengan jernih. Aku hanya bisa menangis di dekat Mamaku, sebelum Papaku memanggil dari arah belakang.
"Killa, apa yang sedang terjadi! Kenapa kamu berteriak?" katanya dengan panik.
Aku menoleh, lalu berkata dengan pelan. "A-aku juga tidak tau ... tiba-tiba Mama ...." Aku tidak sanggup lagi untuk berkata. Aku juga tidak tahu kenapa Mama bisa seperti ini, kenapa dia terluka, apa ada yang menyerangnya? tapi di sekitar tidak ada siapapun.
Papaku segera mengerti, wajahnya langsung menegang. "K-kamu tunggu di sini, jaga Mama. Papa akan pergi mengambil kotak P3K." Papaku segera berlari untuk mengambil kotak P3K, tak butuh waktu lama Papa kembali.
Papa langsung menghampiri Mama, membuka kotak P3K dan langsung mengelap darah di tangan Mama– itu luka sayatan yang cukup dalam– setelahnya Papa mengoleskan obat merah sebelum mengikatnya dengan perban. Sementara Mama, dia masih terbaring lemas sambil merintih kesakitan.
Melihat itu hatiku ter-iris, tangisku pecah. Tubuhku terasa sangat panas, seperti akan meledak. Mama berusaha untuk bangun–di bantu oleh Papaku– lalu, Papa menggenggam tangan Mama dengan erat.
"Kenapa Mama bisa seperti ini?" tanya Papaku dengan ekspresi penuh khawatir.
Mama mengencangkan genggaman tangan Papa, kemudian tersenyum getir. Seolah tahu maknanya, Papa langsung terdiam. Tubuhnya menjadi lemas– mulutnya ternganga.
"Pa, kita harus bawa Mama ke rumah sakit sekarang!" Aku tidak tahu lagi, hanya ini yang bisa aku pikirkan sekarang.
Namun, sebelum Papaku menjawab, tangan Mama tiba-tiba menggenggam tanganku. Lalu Mama tersenyum. "Ti-tidak perlu ke rumah sakit segala, sayang. Mama hanya tergores karena jatuh tadi." Suara Mamaku terdengar lemas.
"A-apa maksud Mama, kita harus bawa Mama ke rumah sakit sekarang. Ya, kan, Pa?" Aku menoleh menatap Papaku berharap mendapat dukungan.
Namun, Papaku hanya terdiam dengan wajah yang seakan menahan kepedihan yang teramat.
"Pa, kenapa Papa cuman diam!"
Tangisku semakin menjadi, akan tetapi Papaku justru menggeleng pelan. "Ki-killa, turuti apa kata Mama."
Duniaku seperti terguncang. Kenapa Papaku tiba-tiba menjadi seperti ini, sama sekali tidak peduli dengan keadaan Mama.
Mama menggenggam tanganku semakin kencang, wajahnya berkaca-kaca. "Dengarkan dulu penjelasan Mama, sayang. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Mama baik-baik saja, sungguh." Mama menatap Papa, kemudian keduanya saling mengangguk.
Mama membelai pipiku, lalu mengusap air mataku. Tangan Mama hangat, seperti senyumannya sekarang. Mama menghela nafas panjang. "Sayang, umur kamu sekarang berapa?"
Di saat seperti ini kenapa Mama malah bertanya pertanyaan konyol seperti itu. Tapi aku menjawabnya dengan pelan. "Enam belas tahun ...."
Mama menghela nafas untuk kedua kalinya. Mama kembali membelai pipiku, seperti ingin mengucapkan salam perpisahan.
"Dengarkan Mama, sayang. Mama ingin memberi tahumu sesuatu yang sangat penting. Mungkin terdengar konyol, akan tetapi ini benar adanya ... Killa, kamu ini sebenarnya bukanlah manusia biasa, kamu adalah mahluk yang spesial. Dan ...." Perkataan Mama terhenti, kepalanya tertunduk.
Papa mengelus-elus punggung Mama, berusaha untuk menenangkannya. Mama menghela nafas panjang. "... Dan kamu sebenarnya bukanlah anak kandung Mama."
Pernyataan itu seakan menusuk hatiku, memecahkannya hingga berkeping-keping. Aku menggeleng, tidak mungkin! Mama pasti bercanda, kan?
"Ke-kenapa tiba-tiba Mama berkata seperti itu? Mama sedang bercanda, kan?" kataku parau.
__ADS_1
Mama hanya tersenyum. "Meskipun begitu Mama, tidak, maksudku Papa dan Mama sangat menyayangimu, nak. Kamu adalah anak kebanggaan Mama."
"Maaf, sepertinya saya mengganggu di saat waktu penting seperti ini, tapi waktu kita tak banyak." Tiba-tiba ada seseorang yang muncul di dekat pintu. Aku menoleh ke arah sumber suara, lalu, aku tercengang katena aku melihat Pak Ferdi dengan pakaian berwarna serba hitam.
Wajah Pak Ferdi terlihat serius, dan juga auranya terasa berbeda dibandingkan biasanya. Terlintas di benakku tentang bagaimana Pak Ferdi bisa masuk ke dalam rumah padahal pintu terkunci dengan rapat.
Pak Ferdi berjalan ke arah Mama, lalu berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan tubuh Mamaku. Dia kemudian memperhatikan ikatan perban yang ada di lengan Mamaku. "Maafkan saya atas kelalaian ini, saya tak menyangka akan ada orang yang bisa menerobos masuk ke dalam."
Pak Ferdi menundukkan kepalanya kepada Mamaku. sebenarnya, ada hubungan apa Mama dengan Wali Kelasku?
"Pak Ferdi, sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini? kenapa mendadak Bapak bisa ada di rumah ini?' Akhirnya aku memberanikan diri untuk angkat suara.
Situasi ini begitu membingungkan.
Pak Ferdi menatapku serius. "Akan ku jelaskan itu nanti. Untuk sekarang, kamu harus ikut dengan Bapak. Waktu kita sudah tidak banyak." Pak Ferdi kembali berdiri, mengulurkan tangannya ke arahku.
Aku mengernyit. "Apa maksud Bapak?"
Aku harus ikut dengan Pak Ferdi dan meninggalkan Mama begitu? sungguh pemikiran yang konyol.
Tiba-tiba Mama memegang kedua tanganku, menyatukannya menjadi satu. "Dengarkan Mama ... sekarang, kamu harus ikut dengan Pak Ferdi. Tempat ini sudah tidak aman lagi untukmu. Mama mohon, dengarkan Mama sekali saja."
"Kenapa tidak aman? Apa ada seseorang yang mengincarku?" Hatiku berdetak begitu cepat. Situasi ini sangat membingungkan. "Bisakah Mama jelaskan yang sebenarnya? Kenapa aku harus ikut dengan Pak Ferdi?"
Mama hanya terdiam, sepertinya tidak mau menjawabnya.
Pak Ferdi memukul tengkukku dengan sangat cepat. Seketika pandanganku menjadi buram. Akupun terjatuh pingsan.
.........
Di tempat yang semuanya serba gelap, aku berdiri di sini. Aku tidak tahu di mana ini dan aku tidak tahu bagaimana caranya aku bisa ke sini. Aku mencium bau anyir– bau darah– yang sangat menyengat. Tempat ini tiba-tiba berubah, semuanya berganti menjadi warna merah darah.
Kakiku di rendam oleh genangan air berwarna merah sampai betis. Tubuhku gemetar. Sebenarnya tempat apa ini? Aku ketakutan setengah mati, aku mencoba untuk bergerak, tetapi tidak bisa. Kakiku terasa berat, seperti ada yang menahan kakiku. Aku mencoba untuk berteriak, tapi lagi-lagi suaraku tidak bisa keluar.
Sebuah tetesan air jatuh dari langit dan jatuh tepat di hadapanku, menciptakan gelombang kecil pada genangan air di bawah kakiku. Angin berhembus menerpa wajahku dan terasa sangat dingin, diikuti munculnya suara gelakan tawa dari belakangku, suara itu terdengar sangat dekat.
Aku ingin berbalik untuk melihat siapa yang tertawa, akan tetapi tubuhku tidak bisa bergerak sama sekali. Jantungku berdegup kencang, rasanya ini seperti sedang menonton film horor, tidak, ribuan kali lebih menyeramkan dari itu.
Tak berselang lama aku mendengar suara jeritan yang amat memekakkan telinga dari arah belakang, di susul oleh suara-suara lain seperti: tangisan; dentuman; koyakan; seperti sedang ada aksi penyiksaan di belakang sana. Sebenarnya apa yang sedang terjadi di belakang sana?
Setelah beberapa menit, suara-suara itu berhenti. Seketika suasana menjadi senyap. Mataku mengerjap setelah setetes air– jatuh dari atas– menimpa hidungku. Seperti keajaiban, tubuhku kembali bisa di gerakan. Segera aku berbalik ke belakang untuk memastikan suara-suara tadi. Namun, di sana tidak ada apa-apa, hanya ada hamparan kegelapan yang luas dengan genangan air berwarna merah. Lalu, di mana suara tadi berasal?
Keringat dingin mulai membanjiri keningku, tubuhku gemetar ketakutan. Aku menelan ludah. "Apa ada seseorang di sini?" Suaraku bergema memenuhi sekitar.
Tetesan air kembali jatuh dari langit, terus menerus jatuh, sampai menjadi gerimis kecil. Aku mendengar suara langkah kaki dari arah depan, tetapi aku tidak melihat siapapun.
__ADS_1
Suara kaki itu terus mendekat ke arahku yang kemudian memunculkan seseorang dari kegelapan. Mataku terbelalak, pasalnya di depan sana Aku melihat seseorang yang sangat mirip denganku, mungkin bisa dikatakan itu adalah duplikat diriku. Dia berhenti beberapa meter di depanku, matanya terpejam, pakaiannya serba hitam, dan kulitnya sangat pucat seperti orang mati.
Tubuhku kembali bergetar, suasana di sekitar menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Sesosok itu membuka mata menampakan bola mata berwarna hitam dengan pupil mata berwarna merah pekat. Ia kemudian tersenyum lebar ke arahku, memperlihatkan gigi taringnya yang panjang.
"Siapa kamu?" kataku.
Sesosok itu tiba-tiba tertawa. "Bukankah sudah jelas ... aku ... adalah ... kamu!" Kemudian dia menerjang ke arahku lalu mencekik leherku dengan kencang.
Aku kesulitan bernafas. Aku berusaha melepaskan cengkraman tangannya, meronta-ronta, tapi cengkraman tangannya tak kunjung lepas. Sesosok itu justru tersenyum lebar, seperti sedang menikmatinya.
"Matilah!!"
Mimpi buruk. Aku terbangun dengan nafas memburu, rupanya tadi hanyalah mimpi. Aku terbangun di dalam kamar yang tampak asing. Kamar ini bernuansa kuno, hanya ada sedikit barang-barang di kamar ini. Lemari kayu besar diletakkan dekat dengan pintu masuk, serta meja belajar yang terletak di pojok dekat dengan jendela, dengan tirai berwarna coklat.
Aku memposisikan diriku duduk sambil berusaha mengingat kembali kenapa aku bisa berada di sini. Sekelebat ingatan muncul di dalam kepalaku. Mama! Aku terakhir kali sedang bersama Mamaku yang sedang terluka. Lalu Pak Ferdi menyerangku. Ah, mungkin waktu aku pingsan Pak Ferdi membawaku ke sini.
"Pasti ada rahasia yang disembunyikan oleh Mamaku. Aku harus segera mencari tahunya. Tapi pertama-tama aku harus keluar dari tempat ini."
Aku turun dari ranjang– berderit, sebelum telapak kakiku menyentuh lantai yang terbuat dari kayu. Aku berjalan ke arah pintu, lalu mencoba membukanya. Pintu ini terkunci.
"Sial! aku terkunci di ruangan ini."
"Kamu tidak akan bisa kemana-mana." Tiba-tiba muncul suara dari arah jendela. Aku langsung menoleh.
Aku melihat seorang anak laki-laki sedang duduk di bingkai jendela yang terbuka dengan lebar– cahaya matahari menyinarinya dari belakang. Angin berhembus, menyibakkan tirai jendela coklat itu serta membuat rambut hitam laki-laki itu terombang-ambing. Aku benci mengakuinya, tapi laki-laki itu terlihat sangat tampan sekaligus cantik.
Dan yang pasti, aku mengenal siapa laki-laki itu. "Justin, bagaimana bisa kamu berada di sana?" Aku mengernyit. Aku yakin sekali bahwa tadinya jendela itu terkunci.
Justin tidak menjawabnya, dia justru melompat masuk ke dalam kamar lalu berjalan ke arahku. Justin berdiri tepat dihadapanku sambil menatap sinis, sebelum pintu terbuka, lalu, ada dua orang masuk ke dalam, seorang laki-laki dan perempuan. Aku sangat mengenal siapa mereka.
"Justin, di sini kamu rupanya," kata perempuan itu.
"Aku mencarimu kemana-mana tau," kata laki-laki di sebelahnya kepada Justin.
Justin tak menghiraukannya, dia berjalan keluar dari ruangan lewat pintu– sangat aneh– padahal masuknya tadi lewat jendela.
Sementara dua orang itu menghampiriku. "Kamu pasti bingung dengan situasi sekarang, tapi nantinya kamu juga akan tau, kok," kata perempuan itu.
Aku mengernyit. "Bisakah kalian jelaskan, sekarang ini kita sedang berada di mana?"
"Perumahan Rumput Hijau, tempat yang paling aman untuk mahluk seperti kita."
Dahiku semakin berkerut. "Mahluk seperti kita? apa maksudnya?" Aku semakin penasaran. Apa sebenarnya aku ini mahluk jadi-jadian?
"Itu akan di jelaskan nanti. Untuk sekarang, ayo kita turun ke lantai bawah. Kita akan sarapan. Fredic sudah menunggu kita, kamu pasti akan senang bertemu dengannya," kata laki-laki itu.
__ADS_1
Aku mengerti, jadi aku mengikuti mereka berdua, Alicia dan Arka untuk menemui Fredic. Sebelum tahu yang sebenarnya, bahwa Fredic adalah orang yang sangat aku kenal.