
Tubuhku terasa sangat sakit. Aku tidak tahu apakah ini akhir dari hidupku, maksudku kedua sosok berjubah hitam itu mendekat ke arah dan aku tidak bisa melawan balik, seranganku percuma.
Namun, saat itu tiba-tiba muncul suara teriakan seseorang dari balik pohon yang ada di belakangku.
"Yuhuuu!"
Muncul tiga orang dari balik pohon, melompat, dan mendarat persis di depanku. Mataku terbelalak karena ketiga sosok itu pernah aku temui. Mereka adalah tiga anak laki-laki kembar yang kutemui di sekolah, tepatnya di tempat pembuangan sampah–pertemuanku dengan mereka bertiga sangat tidak menyenangkan.
Mereka adalah laki-laki berkulit pucat dengan rambut hitam legam dan iris mata berwarna oranye, seperti mata kucing.
"Bantuan telah tiba." Salah seorang dari mereka menatapku sambil tersenyum lebar. "Jangan khawatir, mulai sekarang kami yang akan mengurusnya."
"EL, Li! kita habisi mahluk jelek itu!" kata laki-laki yang di tengah.
"Baik, kak!" jawab dua yang lainnya serempak.
Sosok berjubah hitam yang tadinya ingin menyerangku, mereka berdua menggeram. Tanpa aba-aba tiga anak kembar itu langsung melesat menyerang dua sosok itu, formasi yang sempurna, mereka menyerang secara bergiliran dan tanpa ampun. Ada yang menyerang dari depan, menendang dari belakang, lalu ada yang melempari batu. Mereka bertiga tertawa seperti sedang terhibur.
Sementara Justin yang melihat dari kejauhan tersenyum. Meskipun dia melawan sangat banyak sosok berjubah hitam, tetapi dia masih bisa mengimbanginya.
Setelah mereka menyerang kedua sosok berjubah hitam secara bertubi-tubi, kedua sosok itu menggeram sebelum akhirnya terbang pergi.
"Pergilah monster pengecut! pulanglah ke rumah dan minumlah susu," kata salah satu laki-laki itu.
"Kak, kita harus membantu Justin," kata laki-laki yang lain.
"Ah, kau benar. Ayo kita bantu dia," jawab laki-laki sebelumnya. "Dan untukmu. Tetaplah di sini," katanya kepadaku.
Aku mengangguk. Setelah itu mereka bertiga langsung berlari ke arah Justin yang sedang sibuk mengurusi para Black slyther. Setelah bergabungnya ketiga anak laki-laki kembar itu, situasi berubah, kini para sosok berjubah itu yang gantian terpojokkan. Meskipun secara jumlah mereka menang, akan tetapi kemampuan bertarung mereka kalah jauh dibandingkan tiga anak laki-laki kembar itu dan Justin. Sosok berjubah hanya menyerang menggunakan kukunya yang tajam.
Pertarungan hebat terjadi, aku seperti menyaksikan adegan film sungguhan. Pertarungan mereka seperti pertunjukan akrobatik; Melompat-lompat, menendang sambil berputar, gerakan mereka sangat gesit. Hanya dalam beberapa menit mereka berhasil membuat para Black slyther itu terbang kabur.
Aku langsung menghampiri mereka. Ketiga anak laki-laki kembar itu tertawa.
"Lihatlah mahluk tadi, mereka kabur seperti pengecut," kata salah satu anak kembar itu.
Justin menatapku lalu menatap tiga laki-laki kembar itu. "Mereka adalah teman-temanku, yang di samping kanan itu namanya El...."
"Itu aku," El tersenyum.
"Yang di samping kiri namanya Al ...."
"Itu aku," Al tertawa.
"Dan yang di tengah namanya Li."
"Itu aku," Li tersenyum.
__ADS_1
Tiga anak laki-laki itu sungguh sangat mirip. Aku kesulitan membedakan mana yang El, Al, dan Li. Bukan hanya rupanya yang mirip, tapi tingkah mereka juga sangat mirip.
"Kurasa kamu sudah pernah bertemu dengan mereka, Killa," kata Justin. Mendengar itu aku langsung mengernyit.
El, Al, dan Li saling tatap sebelum berkata, "Kami minta maaf untuk yang waktu itu. Sebenarnya kami hanya bermaksud menakut-nakuti kamu, tapi malah ada babi gemuk datang dan sangat menjengkelkan." El memutar bola matanya saat menyebutkan "Babi gemuk".
"Siapa yang kau maksud babi gemuk!" kataku.
Al menonyor kepala El. "Maksud El itu temanmu yang gemuk seperti babi itu ... eh!"
Li menonyor kepala dua saudara kembarnya. "Jangan hiraukan mereka berdua. Maksud kami temanmu yang tiba-tiba datang waktu itu. Waktu itu El hanya ingin bercanda dengan temanmu itu, tapi dia lupa untuk mengontrol kekuatannya."
"Sudahlah, kita tidak boleh membuang-buang waktu. Kita harus bergerak sekarang," kata Justin. "Killa, apa kamu masih sanggup berjalan?"
"Yah... Kurasa aku masih sanggup berjalan," kataku pelan.
Justin mengernyit. "Naiklah," katanya sambil menunjukkan punggungnya.
Aku menggeleng. "Aku masih bisa berjalan sendi–"
"Hei! apa kamu selalu keras kepala seperti ini!" Justin membentak.
Pada akhirnya aku di gendong di punggung Justin. Kami kembali melanjutkan perjalanan–tiga anak kembar itu juga ikut. Setelah beberapa menit berjalan kami sampai di ujung jalan yaitu tepi jurang. Kami berhenti di sana dan aku turun dari punggung Justin.
Jalan buntu? pikirku. Justin kelihatan bingung, dia terus memperhatikan sekitar.
"Killa, apa kamu bisa berenang?" Justin tiba-tiba bertanya.
"Em.. kurasa bisa," jawabku.
"Bagus," respon Justin. "Sekarang kalian bertiga terjunlah lebih dahulu," kata Justin kepada tiga kembar itu.
Yang dimaksud terjun ternyata: tiga anak kembar itu beneran melompat ke jurang sambil berteriak "Yuhuu!". Itu adalah atraksi yang gila. Aku melangkah mundur sebelum Justin menatapku tajam.
"Killa, sekarang giliranmu!"
"Apa kamu gila? aku tidak mau melompat ke jurang! aku tidak mau mati."
"Cepatlah! kamu tidak akan mati, aku berani menjaminnya. Kamu keturunan Slyther spesial, jadi tidak mungkin aku akan membiarkanmu mati."
Aku menelan ludah sebelum berjalan ke tepi jurang. Aku menatap Justin dengan wajah memelas. "Apa sungguh tidak masalah?" Justin hanya mengangguk.
Sekarang aku benar-benar berada di tepi jurang. Aku melihat ke bawah sana, dasarnya tidak terlihat sama sekali, hanya ada kegelapan di ujung bawah jurang.
"Apa kamu mau menunggu sampai Black slyther datang kembali?" kata Justin.
Aku menggeleng. "Tunggulah sebentar. Aku sedang mengumpulkan keberanian. Apa kamu benar-benar yakin kalau di bawah sana aman?"
__ADS_1
"Ya, aku yakin. Paling tidak kamu akan patah tulang," kata Justin setelah itu dia langsung mendorongku.
Aku yang belum siap berteriak dengan lantang saat aku sedang terjun ke dalam jurang. Tubuhku melesat ke bawah dengan cepat dan setelah itu aku melihat sebuah sungai berarus deras, tubuhku tercebur ke dalam sungai, terbawa arus. Tubuhku timbul tenggelam ke dalam sungai, arus membawaku dengan cepat, aku tidak bisa berenang dengan benar.
Di depan sana aku melihat ranting pohon yang menjulur ke arah sungai. Aku berusaha berenang sebisa mungkin untuk meraih ranting itu. Berhasil! akhirnya aku berpegang kepada ranting pohon itu. Namun, ranting ini tiba-tiba mengeluarkan bunyi gemeratak. Ranting ini tidak bisa menahan tubuhku yang sedang terbawa arus yang deras.
Krakk!
Ranting ini patah, aku kembali berteriak, tubuhku kembali terseret arus. Tubuhku tenggelam ke dalam sungai sebelum ada seseorang yang tiba-tiba mencebur ke dalam sungai dan menyelamatkanku. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, tapi yang pasti tubuhku di angkat ke atas permukaan, lalu menyeret tubuhku ke daratan.
Aku terbatuk-batuk saat sudah berada di daratan, beberapa kali mulutku mengeluarkan air. Di bawah tebing ini ternyata ada hutan lagi, dan sekarang aku sedang duduk di tepi sungai.
"Bisakah kamu bertahan sedikit lagi, Killa," kata Justin, dialah yang tadi menyelamatkanku.
Aku menatapnya. "Entahlah." Aku mengangkat bahu. Aku kembali menoleh ke arah sungai berarus deras itu lalu mendongak menatap tebing yang barusan aku loncati. Aku masih tidak menyangka aku melompat dari tebing setinggi itu.
"Kita bisa beristirahat di sini sejenak." Justin duduk di sebelahku, menatap ke arah sungai.
Hening, aku dan Justin tidak berkata sepatah kata apapun, hanya suara hujan yang dapat di dengar sekarang dan bunyi derik binatang di dalam hutan sana.
"Terimakasih," kataku memecahkan keheningan. "Maksudku untuk yang tadi."
"Tidak masalah, lagipula aku sudah menduganya" kata Justin seolah mengejek.
Dahiku berkerut. "Setidaknya bilang dong kalau di bawah tebing ini ada sungai. Jadi, aku sedikit lebih siap."
"Kurasa sama saja," kata Justin.
Aku menghela nafas. "Yah, terserahlah. Eh, ngomong-ngomong dimana ketiga anak kembar itu? apa mereka hanyut terbawa arus sungai? Aku belum melihat mereka."
"Mereka tidak selemah dirimu, jadi, tidak mungkin mereka akan hanyut terbawa sungai."
Aku memelotot ke arah Justin, dia melihatku, kami saling beradu pandang.
"Apa?" kata Justin.
Aku langsung memalingkan wajah. "Em... Sebenarnya kita ini mau kemana?"
Aku terpekik saat tiba-tiba ada bunyi gemeresik dari arah belakang. Aku langsung menoleh ke belakang. Dari dalam semak-semak, muncul tiga orang laki-laki.
"Kak Justin, di sini kamu rupanya," kata El.
"Dari mana saja kalian?" tanya Justin.
"Kami habis jalan-jalan dari hutan ... dan ... kami menemukan sesuatu yang sangat menarik. Apa kakak ingin melihatnya?"
"Sesuatu yang menarik? tunjukan jalannya."
__ADS_1