Special Blood: Slyther

Special Blood: Slyther
Aku berpindah tempat dan sendirian


__ADS_3

Sosok kerdil itu berdiri tegas di depan kastil dengan kedua tangan di depan badan sambil bertopang di atas tongkat. Patung ular raksasa itu–atau mungkin ular asli–berdesis, sebelum kembali ke tempatnya seperti semula. Sosok kerdil itu mengangkat tongkat di depan badannya tinggi-tinggi setelah itu menghentakkannya ke atas lantai dengan keras, sehingga memunculkan bunyi berderak yang mengisi seisi ruangan raksasa ini.


Ukiran-ukiran yang terdapat di lantai yang ternyata mengarah ke kastil, mengeluarkan cahaya, dan obor yang ada di kastil juga ikut menyala. Mataku terbelalak saat melihat pemandangan sekitar yang seketika berubah. Ruangan ini sekarang berubah menjadi terang padahal tadinya gelap, ukiran-ukiran yang ada di lantai juga berubah menjadi lebih menakjubkan karena mengeluarkan cahaya.


"Aku tegaskan sekali lagi, siapa kalian wahai anak-anak muda?" suara sosok kerdil itu bergema.


Kami berlima saling bertatapan sebelum akhirnya Justin angkat bicara. "Kami adalah anak-anak dari Perumahan Rumput Hijau. Kami di suruh untuk mencari tempat persembunyian yang sangat aman untuk menyembunyikan keturunan darah Istimewa."


Sosok kerdil itu terdiam sesaat sebelum akhirnya tertawa lepas. "Sudah lama sekali aku tidak kedatangan tamu. Dan sekarang lihatlah, aku kedatangan anak-anak bangsa Slyther," kata si kerdil itu. "Ditambah ada keturunan darah Istimewa. Apakah ramalan itu akhirnya tiba?" dia mengucapkan kalimat terakhir dengan sedikit pelan.


"Siapa kamu?" kataku.


Si kerdil itu tertawa kecil sebelum berkata, "Namaku adalah Aulus. Aku adalah penjaga tempat ini ... dan mungkin... aku juga akan menjadi pemandu kalian." Aulus kembali tertawa. "Kemarilah wahai anak-anak muda."


Aku menarik nafas sebelum berjalan ke Aulus bersama yang lainnya. Kurasa Aulus mengetahui tentang sesuatu, atau mungkin dia tahu segalanya. Menurutku, kayaknya Aulus sudah berumur sekitar ribuan tahun, dan dia sudah menduduki tempat ini sangat lama–bersama ular raksasa itu.


Setelah aku dan yang lainnya tiba di hadapan Aulus, dia tersenyum, lalu menatapku tajam. "Ah.. tak kusangka aku akan berjumpa kembali dengan anak dengan darah Istimewa."


"Apakah anda sudah pernah bertemu dengan darah Istimewa sebelumnya? kapan? dan seperti apa pertemuan kalian?" Justin langsung membanjiri Aulus dengan pertanyaan.


Aulus mendengus. "Itu pertanyaan yang tidak ingin aku bahas. Itu adalah masa-masa kelam." Aulus menghela nafas.


Mendengar itu membuatku merinding. Apakah dulunya anak dengan darah Istimewa mengalami nasib buruk? Ah, tidak! memikirkannya saja membuatku merinding. Apakah keturunan darah Istimewa adalah kutukan?


"Tenanglah anak muda," kata Aulus kepadaku. "Jangan cemas. Darah istimewa bukan seperti yang kamu pikirkan. Yah.. memang banyak yang mengincar anak dengan keturunan darah Istimewa, tapi bukan itulah bagian terburuknya." Aulus terdiam. Sepertinya dia tidak ingin melanjutkan ceritanya.


"Sepertinya sulit untuk kalian agar sampai ke tempat ini. Dan kamu, anak dengan darah istimewa, siapa namamu?"


"Ee.. namaku Killa," jawabku gugup.


Aulus mendengus. "Nama yang bagus. Lalu, bolehkah aku melihat kalung yang kamu kenakan?"

__ADS_1


"Eh... Tentu saja." Aku melepas kalung di leherku lalu menyerahkannya kepada Aulus.


Aulus menggenggam kalung itu sambil memejamkan mata, dia seperti sedang merasakan sesuatu dari kalung itu. Dia kembali menyerahkan kalung itu kepadaku. "Jangan sampai kamu menghilangkan kalung ini, Killa."


Aku mengangguk. Memangnya se-spesial apa kalung ini?


Aulus mengernyit. "Tak kusangka akan secepat ini ... Baiklah, kita langsung saja. Cepat masuk ke dalam kastil."


Aulus memimpin masuk ke dalam kastil. Tanpa pikir panjang kami juga segera mengikuti Aulus. Sampai di dalam kastil aku mengernyit. Di sini tidak ada apapun, hanya ruangan kosong dengan obor yang menyala di setiap sudut ruangan.


Aulus berdiri di tengah-tengah ruangan. "Persiapkan diri kalian," Aulus memperingati. Aulus mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Udara di sekitarnya berputar. Sekilas, ada cahaya biru yang mengitari tongkat Aulus.


Aulus menghentakkan tongkatnya ke lantai, bunyinya dua kali lebih keras dari sebelumnya–saat Aulus membuat ruangan raksasa bercahaya. Lalu tiba-tiba ruangan ini bergetar dengan hebat.


Gempa bumi! tubuhku terhuyung-huyung tidak bisa menjaga keseimbangan, begitu juga dengan yang lain. Namun, itu tidak berlaku untuk Aulus, dia seperti sudah terbiasa dengan ini.


Guncangan ini hanya terjadi beberapa detik sebelum tiba-tiba lantai di depan Aulus masuk ke bawah. Aku tidak bercanda! lantai di depan Aulus jeblos. Setelah itu muncullah anak tangga pada lantai yang tadi jeblos, muncul secara berkala dari dasar. Kukira ruangan ini kosong, ternyata ada tangga bawah tanah rahasia.


Kami berlima segera bergerak menuruni tangga bawah tanah itu, Aulus juga mengikuti dari belakang.


Kami terus menuruni tangga di mana obor di tembok kanan kiri menyala begitu kami melewatinya. Nafasku memburu saat menuruni tangga, rasanya begitu menegangkan. Setelah beberapa menit lamanya, akhirnya kami sampai di dasar tangga, dimana terdapat ruangan berukuran sepuluh meter persegi.


Di dalam ruangan ini terdapat sebuah ukiran pada setiap dinding. Terlihat begitu indah meskipun aneh.


"Sekarang, Killa, kamulah yang harus membuka jalannya," kata Aulus.


Aku menggeleng. "Aku benar-benar tidak tahu caranya. Sungguh."


"Gunakanlah kalungmu itu untuk membuka jalan. Hanya kamulah satu-satunya yang bisa menggunakannya," Aulus kembali menjelaskan.


Aku masih tidak mengerti, tapi aku tetap mencobanya. Aku menggenggam gantungan kalung berbentuk persegi ini sambil memejamkan mata, meniru seperti apa yang Aulus lakukan sebelumnya.

__ADS_1


Aku mencoba merasakan gantungan kalung ini, untuk sekian lama, tetapi tidak terjadi apapun. Aku merasa kalung ini hanyalah kalung biasa.


"Aku tidak bisa melakukannya," kataku.


Namun, tiba-tiba ruangan ini bergetar, debu-debu berjatuhan dari langit-langit. Dan tiba-tiba muncul cahaya yang menyilaukan mataku. Aku refleks menutupi mata menggunakan telapak tangan sambil menyipitkan mata. Dan saat cahaya yang menyilaukan itu padam, aku mengerjapkan mata, setelah itu mataku membelalak.


Aku sudah bukan lagi berada di ruangan persegi dengan ukiran-ukiran aneh, akan tetapi sekarang ini aku berada di sebuah hutan yang tidak aku kenali.


Aku mendongak menatap langit yang berwarna oranye, dengan gumpalan-gumpalan awan yang memudar. Matahari di ujung barat sana mulai tenggelam. Sendirian. Aku disini sendirian!


Ini bukan lagi hutan misterius di belakang halaman Perumahan Rumput Hijau, pepohonan di sini bahkan tanaman-tanaman yang lainnya semua normal. Hujan tidak mengguyur dengan deras, bahkan di tempat ini tidak ada tanda-tanda habis terjadinya hujan.


Untuk sementara aku merasa damai saat angin berhembus dan menyibakkan rambutku. Di tempat ini–meskipun sendirian–aku merasa sangat aman dan damai. Perasaan ini ... perasaan yang tidak pernah aku rasakan seumur hidup.


Aku mengedarkan pandangan ke sekitar. Kakiku mulai melangkah, aku tidak tau kemana arah tujuanku, tapi kakiku terus melangkah dengan sendirinya. Aku mengikuti jalan setapak di dalam hutan ini.


Kicauan burung terdengar di mana-mana, kupu-kupu bersayap biru berterbangan kesana-kemari, aku tertawa kecil. Sudah lama sekali aku tidak melihat pemandangan normal seperti ini. Tapi, aku merasakan sesuatu yang aneh.


Entah mengapa ... Aku merasa semua yang aku lihat di dalam hutan ini terasa palsu. Apakah aku sedang bermimpi? Jika memang begitu, aku harap aku tidak bangun untuk sementara.


Aku belum menyadari kalau mantel hujan yang kukenakan itu tidak ada. Saat aku menyadarinya, aku langsung meraba-raba seluruh tubuhku, aku kembali ke tempat dimana pertama kali aku muncul.


Aku tahu, meskipun sekarang tidak hujan, tapi mantel hujan itu sangatlah berharga bagiku. Mantel hujan itu serba guna, jadi tidak mungkin aku membuangnya begitu saja.


Aku tidak menemukannya di manapun. Apa jangan-jangan mantel itu tertinggal saat aku berpindah di tempat ini?


Pikiranku semakin kacau.


Kenapa bisa aku di tempat seperti ini? Mengapa harus di tempat seperti ini? Sendirian? Bagaimana dengan Justin dan yang lainnya? Kenapa bisa aku ini memiliki darah istimewa? Siapa sebenarnya aku ini?


Kepalaku terasa sangat pusing. Duniaku terasa berputar-putar, darahku mendidih, nafasku tersengal-sengal. Perutku ... aku sangat lapar!

__ADS_1


__ADS_2